Begin forwarded message: > From: "ghozansehat" <[EMAIL PROTECTED]> > > fyi > > Banyak Obat Bermutu Menghilang > > > > Beberapa tahun ini perlahan-lahan banyak obat yang baik hilang dari > pasar karena dua hal. Pertama, karena secara sistematis berbagai > obat tidak dibuat lagi oleh pabrik obat yang biasa memproduksinya. > Alasannya, obat itu tidak laku, alias tidak ada resep masuk, karena > ia obat resep golongan G. Namun, banyak obat yang sangat berguna > bila suatu obat tidak bisa dipakai karena suatu keadaan medis > tertentu. Anehnya, nama mereknya itu tercantum dalam MIMS (pedoman > daftar obat yang berasal dari data pabrik obat). Jika diberi > resepnya, tidak ada satu pun apotek di Jakarta ini yang > menyediakannya. Sedangkan seperti saya katakan, itu merupakan obat > penting sebagai alternatif (yang kadang-kadang diperlukan). > > Apakah boleh suatu pabrik farmasi, yang notabene berfungsi melayani > pasien dan dokter, mematikan obat itu hanya karena kurang laku? Di > antaranya malahan "obat hilang" itu termasuk "obat esensial". POM > tidak punya hati untuk mengatur pabrik obat. Pepatah mengatakan > bahwa "the drug company is as good or as bad as the regulators". Di > antara obat hilang itu terdapat, misalnya, probenecid (Benemid, > Probenid), dicloxacillin (Floxapen), sulbenisilin (Unasyn), dan > banyak lagi. Selain itu, banyak obat yang tidak terbukti efektif > justru banyak di pasar. > > Alasan kedua, mungkin pabrik obat mau menggantikan obat hilang ini > dengan obat produksinya, yang lebih mahal tapi sering lebih jelek. > Sering mereka memproduksi dua jenis obat ini bersamaan atau bisa > berasal dari pabrik lain misalnya, probenecid(Probenid) dimatikan > oleh allopurinol (Zyloric), walaupun probenecid lebih baik dan > berguna untuk penyakit pirai (gout) untuk menurunkan kadar asam > urat (probenecid 65 persen vs allopurinol 35 persen). > > Farmako-politik telah merusak pengobatan yang rasional di negara > kita dan menimbulkan naiknya biaya pengobatan secara signifikan. > > Prof Dr Iwan Darmansjah > Mantan Ketua Pan. Penilai Obat Jadi > POM Departemen Kesehatan RI > > Sumber : Kompas >
[Non-text portions of this message have been removed]

