Dear All,

Info dari milis sebelah.Semoga bermanfaat.

Cheers,
Nevid


--- On Mon, 9/15/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Belajar Masakan] JANGAN BIARKAN "SI PUTIH" DATANG BERKUNJUNG
To: [EMAIL PROTECTED]

Date: Monday, September 15, 2008, 11:17 PM







JANGAN BIARKAN "SI PUTIH" DATANG BERKUNJUNG


Keputihan memang cukup mengganggu karena menimbulkan gatal dan berbau tak 
sedap. Ingat, jangan asal mengobati karena pengobatan yang tidak benar malah 
menimbulkan dampak berat. Keputihan, dalam istilah kedokteran disebut flour 
albus atau leukorrhea, adalah keluarnya cairan vagina yang berlebihan dan 
menimbulkan keluhan. Keputihan paling banyak dialami wanita usia produktif. 
Tapi, tak menutup kemungkinan bisa terjadi pada anak-anak dan usia tua.

Sesungguhnya cairan yang keluar dari vagina tak selalu berarti keputihan. 
Sebab, pada saat-saat tertentu vagina akan mengeluarkan cairan yang mutlak 
diperlukan guna membasahi dinding vagina agar selalu bersih. Cairan tersebut 
berasal dari selaput lendir rahim, rembesan kulit luar vagina, dan saluran 
kelamin bagian atas. Gunanya, selain untuk mempertahankan keasaman vagina agar 
tidak terjadi infeksi, juga sebagai pelumas pada saat berhubungan intim.

Keluarnya cairan dikatakan normal jika terjadi sebelum haid, sesudah haid, pada 
pertengahan siklus atau pada saat ovulasi, serta saat mendapat rangsangan seks. 
"Hal ini normal terjadi pada semua wanita di masa produksi. Baik yang bertubuh 
kurus maupun gemuk," terang dr. Chairulsjah Sjahruddin, Sp.OG dari RSIA Hermina 
Jatinegara, Jakarta.

Cairan yang keluar di masa-masa itu akan berupa cairan berbentuk jernih, agak 
kental, tidak berbau, tidak mengalir, dan pH keasamannya antara 3,5 hingga 4,5. 
Cairan ini biasanya akan hilang dalam beberapa hari tanpa keluhan apa pun.

Cairan dikatakan abnormal atau keputihan jika terjadi di luar masa-masa 
tersebut disertai perubahan warna, bau, dan keluar dengan jumlah yang agak 
berlebihan. "Gejalanya terasa gatal atau panas di daerah vulva/vagina, terasa 
pedih saat hendak kencing, atau sakit saat bersenggama. " Rasa gatalnya bisa 
muncul terus-menerus atau kadang-kadang saja, sehingga tak aneh bila keputihan 
mengakibatkan penderitanya gelisah. Belum lagi akibat bau yang tak sedap yang 
ditimbulkannya.

ANEKA PENYEBAB
Lantas, mengapa keputihan bisa muncul? Ada empat hal yang menyebabkan 
keputihan. Pertama, konstitusional/ kondisi tubuh. Misalnya, akibat penyakit 
kronis yang menahun. "Sebab, penyakit menahun bisa melemahkan daya tahan tubuh 
orang tersebut, sehingga menyebabkan keluarnya cairan keputihan secara 
berlebihan." Keputihan juga bisa terjadi pada wanita yang senantiasa 
tegang/stres dan astenia/kurus.
Kedua, kelainan endokrin/hormon. Misalnya, pada saat hamil, kan, terjadi 
perubahan hormonal; terjadi suasana asam jadi basa. Hal ini mengakibatkan 
banyak ibu hamil mendapat jamur. "Nah, kalau jamur ini tak segera diobati, ia 
bisa naik ke atas menyebabkan ketuban pecah dini."

Ketiga, infeksi. Sebagian besar karena infeksi dari macam-macam organ 
reproduksi. Bisa infeksi vulva, vagina, mulut rahim, selaput lendir rahim, dan 
saluran telur. "Semua infeksi itu memberikan gambaran berupa keputihan." 
Infeksi vulva umumnya disebabkan oleh kuman GO (gonorrhea/gonore) , chlamydia, 
dan herpes simpleks. Infeksi lain disebabkan jamur/candida (candidiasis) , 
bakteri (vaginosis ), dan parasit trichomonas vaginalis (trikomoniasis) .

Keempat, sebab-sebab lain, misalnya, masuknya corpus alienum (benda asing). 
Benda asing ini bisa berupa apa saja; kondom, benang IUD yang tertinggal di 
dalam vagina, ada kelainan fistula akibat persalinan/tindakan operasi, ada 
hubungan antara reptum/tempat kotoran dengan vagina atau antara kandung kencing 
dengan vagina, serta karena tisu pembasuh. "Yang paling sering karena tisu." 
Hal ini karena wanita memiliki kebiasaan mengelap vagina dengan tisu setiap 
habis buang air kecil. Bila menggunakan tisu yang gampang hancur terkena air, 
maka saat mengelap akan ada sebagian tisu yang masuk ke dalam vagina. Lama-lama 
tisu ini akan menumpuk. "Saya pernah mengeluarkan endapan tisu sebesar bola 
pingpong, lo. Nah, endapan inilah yang menyebabkan keputihan."

WARNA KEPUTIHAN
Kendati namanya keputihan, warnanya justru tidak selalu putih. Perubahan warna 
keputihan sangat beragam, tergantung kuman penyebabnya. Bila kumannya berupa 
trikomonas, maka akan berwarna putih kehijauan dengan bau amis. "Jika penderita 
mengalami keputihan jenis ini, liang vaginanya akan tampak kemerahan, nyeri 
bila ditekan, dan terasa pedih saat buang air kecil." Sedangkan bila akibat 
kandida/jamur, biasanya berwarna putih seperti nasi yang terkena air, vagina 
tampak merah dan membengkak, disertai rasa gatal yang hebat.

Lain halnya bila keputihan disebabkan vaginosis. Cairan yang keluar biasanya 
berwarna putih keruh, baunya pun terasa amis. Tapi, tak menimbulkan rasa sakit 
atau gatal. Sedangkan kalau keputihan berwarna agak kemerahan, maka menandakan 
adanya kelainan yang lebih serius lagi. "Bisa jadi karena kanker mulut rahim. 
Ingat, lo. gejala paling dini kanker mulut rahim pun keputihan."

Jadi, lanjut Chairulsjah, keputihan bukan suatu penyakit. Tapi, merupakan 
gejala penyakit tertentu; baik kanker maupun infeksi. "Kalau terjadi pada 
anak-anak, maka kita curiga karena ada corpus alienum . Misalnya, masuknya biji 
kacang atau jagung. Walaupun tak tertutup juga karena infeksi. Sedangkan pada 
orang tua dicurigai karena keganasan."

Kendati hanya berupa gejala penyakit, keputihan dapat menular, lo. Misalnya, 
pada suaminya saat berhubungan seksual. "Tular-menular berlangsung timbal 
balik. Itulah mengapa, kalau istri diobati keputihannya, maka suami harus 
diobati pula. Jangan sampai istri sudah sembuh, kemudian berhubungan lagi 
dengan suaminya, maka suami yang belum diobati akan menularkan kembali 
keputihan tersebut. Demikian juga sebaliknya."

PENGOBATAN SEJAK AWAL
Tentu saja Ibu tak bisa menganggap enteng keputihan. Karena pengobatan wajib 
dilakukan. Sebelum dilakukan pengobatan, dokter biasanya memeriksa cairan 
keputihan di laboratorium. "Pemeriksaan keputihan akan melihat warna, bau, dan 
bagaimana keadaan vagina secara keseluruhan. "

Lebih lanjut, pengobatan dilakukan dengan terlebih dulu menyingkirkan 
faktor-faktor yang mempermudah timbulnya penyakit tersebut. Misalnya, penyakit 
diabetes, maka akan diobati diabetesnya. Sebab, kondisi terlalu banyak gula 
pada penderita diabetes juga akan menumbuhkan kandidiasis. Usai itu, barulah 
penderita diberi obat yang sesuai dengan jenis infeksi penyebab keputihan. 
"Kalau akibat jamur, maka akan diberi obat anti jamur. Baik pada sang suami 
ataupun pada istrinya."

Bila diagnosis menunjukkan penyakitnya tidak akut, maka biasanya dokter 
menyarankan untuk mencuci daerah vagina dengan obat antiseptik. "Sayangnya, 
seringkali setelah tahu obatnya, pasien tak datang lagi, tapi membeli sendiri 
obat tersebut, lantas dipakainya terus untuk mencuci vaginanya." Akibatnya, 
bakteri doderlein di vagina -yang membuat vagina selalu asam- pun akhirnya jadi 
mati. Maka, suasana asam pun terganggu menjadi basa, sehingga muncullah 
berbagai penyakit, entah itu kandida/jamur, infeksi dari luar vagina, dan 
sebagainya.

Terlebih lagi bila penderita mengobati sendiri keputihan dengan obat-obatan 
yang dijual bebas di pasaran. "Yang dikhawatirkan pemakaian obat bebas tersebut 
menyebabkan bakteri doderlein mati, sehingga vagina berubah menjadi basa. 
Padahal vagina harusnya asam dengan pH antara 3,5 hingga 4,5."

Dari segi medis pun, tidak disarankan menggunakan cairan pembersih vagina demi 
mencegah timbulnya keputihan. Sering, kan, kita menggunakannya, ya, Bu? "Kalau 
pun ingin memakai harus dilihat kandungannya. Apakah akan membuat vagina basa 
atau tidak? Sebab, kalau akhirnya nanti jadi basa, maka sama saja dengan 
mendatangkan masalah. Sebenarnya asalkan yakin suami-istri bersih, kenapa harus 
pakai cairan segala macam untuk membersihkannya? "

Pendek kata, terang Chairulsjah, jangan sembarangan mengobati keputihan. "Bila 
muncul keluhan keputihan, lebih baik segera konsultasikan ke dokter." Satu hal 
lain yang perlu diingat, jangan menundanya sampai parah. Mengingat dampaknya, 
infeksi bisa naik ke atas. Yang tadinya sekadar di vulva bisa naik ke vagina 
(vaginitis), naik lagi ke saluran telur (cervicitis) , naik lagi ke endometrium 
(endometritis) , naik lagi ke saluran tuba (salpingitis) , bahkan bisa keluar 
dan masuk ke rongga abdomen (perutenitis/ radang dari selaput lendir perut. 
"Nah, kalau hal ini sudah sampai pada kondisi salpingitis, maka ibu akan 
kesulitan untuk mendapatkan anak."

PENCEGAHAN
Tentu saja bukan berarti keputihan tidak bisa dicegah, Bu. Justru pencegahan 
menjadi langkah terbaik. Yang utama dilakukan dengan menjaga kebersihan 
pribadi, terutama organ reproduksi. "Dengan membasuhnya secara bersih setiap 
kali habis ke belakang. Saat membasuh harus lihat-lihat juga kondisi air. Kalau 
kotor, ya, jangan dipaksakan. Sebab, air yang tak bersih bisa menyebabkan 
adanya kuman dan jamur yang akhirnya menimbulkan keputihan." Bila perlu basuh 
pakai tisu yang tidak mudah hancur.

Yang kedua, begitu ada keluhan keputihan di luar waktu yang alamiah, segera 
periksa ke dokter. Yang ketiga, sadari penuh bahwa keluarnya cairan itu memang 
wajar terjadi, terutama pada waktu-waktu tertentu. "Jangan justru menjadi 
gelisah. Karena adakalanya pada orang yang gelisah, stres, atau kecapekan, akan 
muncul keputihan."

Yang keempat, jangan memakai pakaian yang ketat. "Minimal tidak terlalu sering 
karena pakaian ketat hanya akan membuat suasana di daerah reproduksi menjadi 
lembab. Sementara kelembaban bisa membuat suasana asam menjadi basa. Selain 
itu, kelembaban juga bisa menjadi tempat bersemayamnya jamur dan kuman." Itulah 
mengapa, panty liner pun tidak disarankan digunakan terlalu sering. "Karena 
akan membuat vagina tambah lembab. Bukankah rambut-rambut di kemaluan 
mengeluarkan keringat atau kelenjar sebasea? Nah, kalau ditekan terus, maka 
akan tambah keluar keringat."

Yang tak kalah penting, kendati keluhan keputihan tidak muncul, kaum wanita 
tetap melakukan pemeriksaan pap smear secara berkala. "Minimal setahun sekali, 
terutama pada orang-orang yang telah menikah."
Jadi, tunggu apa lagi, Bu. Daripada nanti keburu keputihan merembet ke 
mana-mana, iya enggak?

Indah Mulatsih
tabloid- nakita.com





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke