[ Sabtu, 18 Oktober 2008 ]
Dokter Indonesia, ke Mana Aku?
Oleh Pribakti B.
Berita kedaluwarsa yang ringan itu menyebutkan bahwa rumah sakit di Singapura
dipenuhi pasien dari Indonesia. Tetapi, tidak banyak atau bahkan tidak ada
pasien negara tetangga yang berobat ke Indonesia. Ternyata, kita bukan saja
mengekspor TKI, tetapi juga mengekspor pasien.
Beberapa waktu lalu, laporan khusus majalah Tempo menyatakan bahwa orang sakit
biasa saja menjadi komoditas ekonomi. Mulai 2012, Singapura Medicine
menargetkan sejuta pasien dari luar negeri berobat di sana.
Kini, kalau dipukul rata, baru 200 ribu pasien asing (45 persen dari Indonesia)
yang berobat di Singapura. Peningkatan jumlah pasien Indonesia yang berobat ke
negeri tetangga itu menyulut banyak pertanyaan.
Benarkah kualitas pelayanan rumah sakit dan dokter di Indonesia lebih rendah?
Ada apa dokter Indonesia? Entahlah. Kita tidak tahu persis. Namun, harus
diakui, negeri pulau tesebut sukses dengan program pelayanan kesehatan. Rasio
dokter: penduduk di Singapura (1:700) yang setara dengan Amerika Serikat itu
(1:500), ternyata jauh lebih rendah daripada di Malasyia (1:2.000) dan
Indonesia (1:6.000) (Tempo, September 2007).
Semula kita menduga, orang-orang yang berobat ke luar negeri hanyalah
orang-orang bergaya cuma karena banyak uang. Namun, cerita seorang sahabat
berduit yang bersahaja, tetapi tidak bergaya, menggeser pandangan kita.
Misalnya, penderita kanker ganas dengan keinginan sembuh yang jauh melampaui
keingginannya untuk bergaya itu, suatu ketika bertandang kepada seorang dokter
yang merasa paling jago di kotanya. Dokter itu bukan saja tidak merasa perlu
membaca seluruh hasil laboratorium yang dibawa, tapi lebih dari itu, dia
merendahkan pasiennya.
Dia merasa ahli karena hanya dengan satu lirikan dirinya yakin dapat memahami
penyakit pasien. Untuk itu, dia merasa punya hak untuk merendahkan pasien yang
membayarnya. Ini sungguh luar biasa!
Dokter itu jelas keliru. Sebab, betapapun ganasnya sakit kanker, tak sebanding
dengan sakit hati yang dibuatnya. Akhirnya, sahabat tersebut meninggalkan
dokter dengan kemarahan yang membahana, yang mendorongnya mencari kawan senasib
yang juga terdera kemarahan yang sama.
Dalam hal itu, tokoh dokter kita itu ternyata amat mahir menyakitkan hati
pasiennya. Ketika pasien menangis kesakitan, dia malah menghardik. ''Tak usah
menangis, kalau tidak sembuh paling juga mati,'' kata sahabat saya itu
menirukan kata-kata dokter yang memang akan dia kenang hingga mati.
Bahkan, dalam hatinya berjanji, bila mati rohnya gentayangan dan mengecup
ubun-ubun sang dokter yang menyakitinya. Rombongan pasien sakit hati itulah
yang sekarang memilih rumah sakit Singapura untuk mencari penyembuhan yang
benar-benar menyembuhkan, tanpa menyisakan kemarahan. Dokter yang pintar-pintar
itu bersedia membaca dengan teliti hasil laboratorium yang dibawa.
Segera setelah masuk ruang pemeriksaan, energi kesembuhan terasa mengalir deras
dari aroma keramahan yang merebak di seluruh ruangan. Singkat kata, dokter di
Singapura itu bukan saja mengobati, tetapi lebih jauh lagi memberikan hiburan
pelipur lara. Padahal, semua keramahan itu harus dibayar sehingga tidak ada
yang aneh.
Bukan hanya itu, seluruh staf hotel, dari manajer hingga cleaning service,
menampilkan keramahan yang mengagumkan. Namun, hati-hati, mereka segera akan
menendang pasien keluar ruangan jika ketahuan menginap tidak membayar.
Keramahan di Singapura itu adalah masalah sederhana untuk sebuah imbalan
pembayaran yang sesuai.
Begitu halnya dengan seorang ilmuwan akan menjadi amat ramah kepada siapa pun
jika tahu bahwa ceramah ilmiahnya dibayar tinggi. Tidak cuma ramah, bahkan dia
bersedia menampilkan sikap yang mulia. Namun, jika hanya dibayar dengan ucapan
terima kasih plus plakat dan piagam, dia siap menjadi orang yang paling kecewa
di dunia.
Prosedur Standar
Dengan demikan, keramahan dokter di Singapura bukanlah sesuatu yang aneh dan
istimewa. Dia hanya menjalani prosedur standar yang sengaja diciptakan untuk
menarik minat orang banyak. Dokter yang dibayar, tetapi menghina pembayarnya
mungkin saja mampu mengobati kanker, tetapi untuk apa jika hanya meninggalkan
luka dihati yang jauh lebih berbahaya.
Dokter seperti itu pasti sedang mengalami intoksikasi logika. Sudah bersikap
angkuh, minta dibayar pula. Jangan-jangan sudah angkuh, minta dibayar, masih
gagal menyembuhkan pula. Sebetulnya angkuh tidak mengapa asal gratis. Anggap
saja impas. Ini tidak. Sudah sakit, disakiti, diminta untuk membayar pula. Luar
biasa!
Dokter seperti itu berperan dalam membuat negara semakin miskin karena
merangsang orang menghamburkan devisa yang menyebabkan capital flight. Di
tengah kondisi negara yang prihatin seperti sekarang, dokter seperti itu layak
disejajarkan dengan penjahat negara. Maka, sangkaan semula bahwa orang yang
berobat ke luar negeri itu angkuh tidak terbukti. Sesungguhnya, mereka adalah
orang-orang yang terluka di negeri sendiri.
Kita mungkin perlu belajar "ramah" dari dokter Singapura. Bukan saja karena
dibayar pantas, tetapi jauh dari itu, ramah karena ikhlas. Jika tidak, kita
harus bersedia menerima jamaah strata ekonomi menengah atas berbondong-bondong
berobat ke luar negeri.
* Pribakti B ., dokter juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unlam,
Banjarmasin
http://jawapos. com/halaman/ index.php? act=detail& nid=30143
[Non-text portions of this message have been removed]
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]