Setelah membaca kisah hidup dari sahabat mba titah rahayu membuat sy seMakin
yakin akan dampak dari merokok begitu besar bagi kesehatan, serta tiada yang
bernilai selain kesehatan karena sehat itu sangat mahal ,semoga kisah tersebut
bisa menjadi inspirasi Buat sy maupun semua yang mempunyai niat sama dengan sy
ntuk berhenti merokok selamanya, ataupun buat semua yang membaca milist ini
,untuk bisa selalu menjaga & menghargai kesehatan yang diberkikan oleh allah
swt.amin..
* Regards ,
"it's a good to be important But
More important to be a good "
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: "Titah Rahayu" <[email protected]>
Date: Thu, 15 Jan 2009 14:00:58
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Dokter Umum] Re: perokok berat
Dear !pan9,
Selamat atas tekad bulat anda untuk berhenti merokok. Untuk seterusnya anda
bisa mendapat informasi dan dukungan lebih jauh dalam upaya anda berhenti
merokok dari sahabat saya Berthie Sompie. Dia yang tadinya merokok 60 batang
sehari berhasil berhenti total, bahkan kini aktif melakukan kampanye antirokok,
karena telah memetik hasil rokoknya: kanker paru dan kanker usus besar.
Berthie menuliskan kisahnya:
Cintaku Pada Rokok Berbuah Kanker Paru dan Kanker Usus
Bulan November 2005 adalah bulan kelabu dimana aku divonis dokter terkena
kanker paru-paru dan harus dilakukan pengangkatan sebagian paru kanan atasku
yang ada kankernya. Kejadiannya setelah Hari Raya Idul Fitri 2005 aku merasakan
badanku yang kurang sehat dan cenderung setiap hari berat badanku turun 1/4 kg
sementara aku makan seperti biasa.
Dari situlah aku memeriksakan diri ke laboratorium untuk melakukan general cek
up, karena sejak berhenti sebagai atlit nasional, aku belum pernah cek up lagi.
Dan hasil dari cek up itulah ketahuan kalau di paru sebelah kanan atasku ada
tumor sebesar 6 (enam) sentimeter. Sebelumnya aku sudah ada perasaan kalau
terkena kanker paru karena aku adalah perokok berat (satu hari rata-rata bisa
sampai 60 batang rokok). Saat itu aku menerima dengan tegar karena aku merasa
penyakit tersebut akibat dari kebiasaanku merokok sejak remaja.
Ironis memang, sementara aku adalah seorang mantan pemain bahkan kapten tim
nasional di cabang softball era tahun 1980-1990, yang seharusnya hidup tanpa
tembakau/rokok. Padahal sudah gak bosan-bosannya lingkungan di sekitarku
menganjurkan aku untuk berhenti merokok tetapi aku menjawab dengan sombong
bahwa aku kan atlit, jadi ada alasan untuk merokok tapi sehat. Memang saat itu
tidak terlihat akibat dari rokok yang katanya bila seseorang itu merokok maka
dia tidak akan kuat untuk berlari jauh, atau dengan kata lain perokok napasnya
jadi pendek. Itu tidak terjadi pada diriku. Dan memang aku buktikan di setiap
latihan atau dalam pelatnas (pemusatan latihan nasional) kondisi badanku
oke-oke aja, jadi buat aku merokok tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Kebetulan dokter yang memeriksaku setelah ada hasil dari foto rontgen adalah
kakakku sendiri yang dokter spesialis paru (Dr. Menaldy Rasmin SpP(K) ).
Setelah melalui pemeriksaan yang lebih mendetail yaitu dilakukan broncoscopy
dan biopsy, tidak ada jalan lain kecuali dilakukan operasi pengangkatan paru
kanan bagian atas yang telah terkena kanker.
Saat itulah aku mulai takut karena terus terang selama hidup aku belum pernah
yang namanya sakit berkepanjangan apalagi operasi dan harus diopname. Aku mulai
menghindar setiap kali kakakku menanyakan kapan siap dioperasi. Aku hanya
menjawab besok, besok, dan besok, yang sebenarnya sih aku amat sangat ketakutan
untuk operasi. Malahan aku sempat lari ke pengobatan alternatif. Ternyata tidak
membuahkan hasil yang aku harapkan.
Aku lalu datang ke tempat praktek kakakku dan menanyakan akibatnya bila aku gak
mau operasi (sewaktu aku ke pengobatan alternatif kakakku gak tau). Kakakku
bilang kalau aku gak dioperasi akan terjadi pembengkakan di tubuh bagian kanan,
mulai dari tangan kanan terus ke dada kanan. Nah kalau sudah terjadi
pembengkakan maka tidak bisa dilakukan operasi, yang ada hanya bila sakit akan
diberi obat anti sakit, bila sesak napas akan diberi obat sesak napas, dengan
kata lain aku tinggal menghitung hari untuk mati. Di situlah aku makin
ketakutan, menyerah serta pasrah untuk dioperasi.
PARU-PARUKU DIPOTONG
Operasi mulai disiapkan dan dijadwalkan karena operasi paru adalah operasi
besar yang perlu persiapan yang mendetail, mulai dari periksa jantung, paru,
gigi, tekanan darah, dan lain-lain yang memerlukan waktu beberapa hari. Di sini
aku masih menawar pada kakakku, bahwa aku mau dioperasi tapi pemeriksaan
persiapan operasi aku lakukan sambil jalan, jadi aku gak mau opname sejak
pemeriksaan persiapan operasi dilakukan. Sebenarnya begini ini gak boleh, tapi
karena fasilitas dari kakakku aku diijinkan melakukan pemeriksaan pra operasi
tidak dengan nginap di rumah sakit.
Aku dijadwalkan dioperasi di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta. Kebetulan
lagi istriku kerja di RS Persahabatan sebagai dokter, dan memang RS
Persahabatan adalah rumah sakit untuk paru-paru. Hampir semua pakar paru-paru
ada di RS Persahabatan.
Aku baru masuk rumah sakit dua hari menjelang operasi yaitu tanggal 24 Desember
2005, dan operasi dilakukan tanggal 27 Desember 2005 jam 08.00 pagi. Operasi
diperkirakan memakan waktu sekitar 5 (lima) jam. Saat itu aku merasakan takut
yang amat sangat sehingga istriku diijinkan ikut masuk didalam kamar operasi
untuk memberi semangat.
Aku baru sadar setelah operasi kira-kira jam 07.00 malam. Yang pertama aku
lihat adalah istriku, anak-anakku, saudara-saudaraku, juga kakakku yang
termasuk dalam tim dokter biarpun dia gak ikut menangani langsung. Kenapa semua
orang-orang terdekatku bisa masuk kedalam ICU, karena dapat fasilitas dari
direktur RS Persahabatan, sebab kakak dan istriku adalah dokter di RS tersebut.
Begitu sadar yang pertama kali aku tanya pada kakakku yaitu apakah penyakitku
sudah hilang, yang dijawab dengan anggukan oleh kakakku. Aku sangat gembira
mendengar bahwa aku sudah terbebas dari penyakit kanker paru yang telah
mencapai stadium 3B (setelah potongan paru diperiksa di laboratorium).
Ternyata untuk pemulihan kondisiku yang diperkirakan sekitar lima hari di dalam
ICU (intensive care unit) cukup aku jalani dua hari saja. Kondisi ini sangat
menggembirakan baik untuk aku sendiri maupun keluarga dan tim dokter. Ini
disebabkan masa laluku yang mantan seorang atlit nasional, jadi secara umum
kondisi badanku bagus dan cepat melakukan pemulihan, di samping semangatku
untuk sembuh sangat besar sekali.
Jadi aku dirawat di rumah sakit sejak masuk, operasi, dan pemulihan total
selama 10 hari, padahal sebenarnya aku sudah siap mental untuk 20 hari.Bisanya
pulang lebih awal mungkin karena kondisi fisikku saat dioperasi sangat baik
sehingga pemulihannya lebih cepat dari yang diduga.
Di rumah aku mulai menyesuaikan dengan keadaanku yang baru yaitu harus
melakukan fisioterapi atau rehab medik untuk memulihkan kondisiku dan juga
menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk stadium penyakit kanker paruku.
KANKER LAIN DI USUS BESARKU
Dalam penantian yang lumayan lama aku mulai dijalari rasa takut akan hasil dari
laboratorium tentang sudah stadium berapa kankerku ini. Selama penantian aku
diharuskan berolahraga ringan, salah satunya berenang, dan itu aku lakukan.
Saat mulai agak enakan kondisi badanku, aku merasakan sakit perut yang sangat
hebat yang datangnya sesekali dan itu tidak aku hiraukan.
Semua keluargaku mengira sakit perutku akibat dari bertahun-tahun aku adalah
pemakan cabai berat, yang apabila membuat sambal cabenya bisa mencapai 20 biji.
Aku juga punya pikiran sama karena sakitnya hanya datang sesekali saja biarpun
saat sakitnya datang aku merasakan sakit yang amat sangat. Hingga pada awal
bulan kedua sejak aku dioperasi paru sakit perutku makin menjadi-jadi dan
datang lebih sering sehingga aku sudah gak kuat menahannya dan aku minta
diantar oleh istriku untuk ke dokter internis yang sudah pernah menangani aku.
Oleh dokter aku langsung diperiksa dengan USG dan dokter menaruh curiga didalam
usus besarku ada sesuatu. Besoknya dilanjutkan dengan pemeriksaan colonoscopy
(foto usus yang dilakukan lewat anus) dan ternyata benar dugaan dokter bahwa
didalam usus besarku ada lagi tumor yang besarnya hampir menyumbat jalannya
makanan di usus.
Sehari setelah aku di colonoscopy aku membawa hasilnya ke dokter internis dan
saat itu juga dokter mengatakan kalau aku harus menjalani operasi besar lagi
yaitu pemotongan dua pertiga dari usus besarku, sementara hari itu adalah baru
genap dua bulan pasca operasi paru-paruku.
Saat berada di ruang dokter aku tegar dan mengiyakan semua anjuran dokter, tapi
setelah pulang aku shock yang amat sangat karena mengira sudah terbebas dari
penyakit kanker paru eeee... ternyata aku masih harus berjuang untuk menghadapi
operasi lagi yang kurang lebih akan memakan waktu 4-5 jam.
Aku sempat menolak untuk dioperasi karena terus terang aku sangat takut, tetapi
sakit perut yang aku rasakan mengalahkan rasa takutku sehingga aku pasrah.
Apalagi menurut hasil CT Scan kanker ususku sudah menyebar ke ginjal dan otot
tulang belakang. Yang dikuatirkan oleh tim dokter adalah jika ginjalku juga
harus dibuang satu apabila kankernya telah berakar di dalam ginjalku. Bersyukur
sekali ternyata kanker yang ada di ginjalku hanya menempel, dan bisa dibuang
tanpa memotong satu ginjalku.
Soal penyebaran kanker ususku dokter tidak memberitahuku, hanya istri dan
beberapa keluargaku yang diajak rapat untuk menentukan langkah-langkah apa aja
yang akan dilakukan oleh tim dokter yang mengoperasiku. Situasi dan kondisi
penyebaran kanker ususku memberikan empat kemungkinan operasi. Yang pertama
dilakukan pemotongan usus besar sepanjang duapertiga panjang usus terus
disambung, dan yang menempel di ginjal serta otot belakang dibuang dengan cara
dilepaskan begitu saja. Yang kedua sama dengan yang pertama tapi usus tidak
bisa disambung sehingga aku harus memakai kantong yang ditempelkan di perut
untuk buang air kecil maupan besar. Yang ketiga sama dengan yang pertama cuma
ginjalku dipotong/dibuang satu karena kankernya sudah mengakar dalam. Dan yang
keempat dilakukan operasi atau dibuka perutku tetapi karena sudah menyebar
kemana-mana maka tidak bisa diadakan tindakan sehingga ditutup kembali dan
hanya diobati dengan jalan dikemoterapi saja.
Sekali lagi aku bersyukur bahwa aku dioperasi potong usus besar dan bisa
disambung kembali tanpa memakai kantong. Lamanya aku dioperasi usus sama dengan
saat operasi paru yaitu sepuluh hari aku berada di rumah sakit Mitra
Internasional Jatinegara.
Pasca operasi usus baru aku merasakan sakit yang luar biasa karena bekas
operasi paru yang belum sembuh ditambah dengan luka baru akibat operasi usus.
Sampai-sampai aku gak kuat menahan rasa sakit itu yang datang hampir tiap malam
menjelang tidur, dan tiap mau tidur malam aku berdoa (karena gak kuat menahan
sakit) untuk diambil saja nyawaku, aku sudah pasrah dan siap. Tapi istriku
memberi aku keyakinan untuk bangkit dan melawan rasa sakit itu mengingat aku
masih punya anak dua yang belum mentas/mandiri (masih butuh bimbingan).
Kemudian aku mengajukan permohonan kepada Allah untuk diijinkan menjaga dan
mendidik anakku sampai dewasa, dan ternyata aku masih diberi kesempatan kedua
oleh Allah SWT untuk hidup. Aku bersyukur mempunyai istri dan anak-anak serta
keluarga yang memberi dukungan yang sangat besar kepadaku untuk bangkit dan
semangat dalam melawan penyakit kanker.
KEMOTERAPI 58 JAM
Satu bulan pasca operasi usus aku mulai dijadwalkan untuk menjalani pengobatan
dengan cara kemoterapi yang merupakan momok bagiku, karena selama ini aku
sering mendengar tentang efek samping kemoterapi, tetapi aku gak bisa menolak
karena penyakit kankerku obatnya hanya dengan dikemoterapi dan radiasi.
Bulan April mulailah aku menjalani kemoterapi yang pertama dilakukan di rumah
sakit Mitra Internasional Jatinegara. Pengobatan kemoterapi ternyata sama saja
dengan obat-obat lainnya yang dimasukkan lewat infus, cuma campuran obat
kemoterapi sangat keras sehingga saat mencampur obat harus di ruangan khusus
dan susternya memakai baju khusus juga seperti layaknya pakaian seorang
astronot. Karena di badanku ada dua macam kanker yaitu kanker paru dan kanker
usus besar maka obat kemoterapi yang dimasukkan ke dalam badanku lewat infus
selama 58 (lima puluh delapan) jam. Saat dikemoterapi aku selalu masuk RS Mitra
International Jatinegara hari Jumat pagi dan baru pulang ke rumah hari Minggu
malam. Aku dijadwalkan kemoterapi selama 6 (enam) kali per dua minggu sekali.
Berat badanku saat mulai sakit sampai dioperasi hilang 20 kg, yang tadinya 70
kg menjadi 50 kg, sampai-sampai aku gak mau ngaca karena kalau ngaca aku makin
stress melihat badanku yang sangat kurus.
Berthie Sompie
Sekarang aku rajin kampanye antirokok. (Foto: Siti Aniroh)
Sepulang dari pengobatan perdana kemoterapi aku tidak merasakan efek samping,
tapi dua hari setelah di rumah baru merasakan efek dari obat kemoterapi di mana
badanku tiba-tiba lemas dan gak bisa ngapa-ngapain, dan ini datang secara
tiba-tiba setelah aku makan pagi.Aku jadi bingung gak tau harus gimana
sampai-sampai istriku pulang lebih cepat dari kantornya karena takut juga.
Disini aku mau cerita sedikit tentang pengobatan untuk penyakit kanker yang
dinamakan kemoterapi, di mana obat yang dicampurkan itu sangat mahal dan
mempunyai efek samping yang sangat ganas, karena semua obat yang dicampurkan
itu adalah obat keras. Saat pertama aku dan istriku berbicara dengan dokter
tentang program kemoterapi yang harus aku jalani, dokter tersebut menanyakan
padaku apa aku siap dengan dananya karena akan sangat besar sekali dana yang
dibutuhkan untuk kemoterapi. Aku hanya bilang saya sudah siap moril maupun
materiil.
Ternyata di tengah jalan aku gak siap secara moril karena efek samping dari
kemoterapi amat sangat tidak enak, macam-macam yang aku rasakan mulai dari mual
yang hebat dan diare yang sehari bisa sampai 3-4 kali serta kepala yang amat
sangat sakit yang rasa-rasanya mau pecah sampai kepalaku aku ikat dengan kain.
Apalagi setelah selesai kemoterapi yang pertama kira-kira satu minggu kemudian
aku terserang demam berdarah yang membuatku shock, karena itu akan membuat
jadwal kemoterapiku jadi tertunda, karena setiap kali kita akan dikemoterapi
kondisi badan harus fit benar. Jadi aku harus menunggu sembuh dulu dari demam
berdarah baru bisa dikemoterapi.
Di sinilah ujian mental untuk pasien kanker dengan pengobatan kemoterapi karena
efek samping dari obat kemoterapi selalu berubah-ubah sehingga fisik dan mental
harus kuat saat menjalani pengobatan kemoterapi.
Banyak penderita kanker yang menjalani kemoterapi berhenti di tengah jalan
karena tidak kuat fisik dan juga mental. Di sini dibutuhkan dorongan atau
support dari keluarga dan orang-orang terdekat untuk memberi semangat hidup
untuk melawan sakit akibat kemoterapi.
Banyak hal yang aku alami saat menjalani proses enam kali pengobatan kemoterapi
yaitu perasaan dan kondisi badan yang tidak menentu yang membuat kita menjadi
depresi mental dan aku juga sudah mengalami jatuh mental yang sangat dalam
sampai-sampai aku sudah mohon untuk berhenti untuk dikemoterapi, tetapi istri
dan keluarga besarku memberi semangat untuk melawan dan tetap semangat yang
akhirnya aku dapat melalui tahap yang sangat krusial tersebut.
Aku selesai menjalani pengobatan kemoterapi pada bulan Desember 2006 dan sampai
sekarang aku tetap melakukan cek up setiap tiga bulan sekali. Alhamdullilah
berat badanku sudah kembali seperti semula bahkan sekarang lebih gemuk. Untuk
menjaga kondisi aku menghindari daging merah dan hampir tiap hari minum jus
buah, buah apa saja, kadang-kadang jus sayuran. Selain itu aku kembali bermain
softball karena vitamin paling mujarab buat aku ya lapangan softball, tapi
mainnya bersama para pensiunan, yang penting kan olahraga....
Untuk masalah pembiayaan selama sakit antara dioperasi dua kali sampai
pengobatan kemoterapi sebanyak enam kali aku kira-kira menghabiskan dana
sekitar Rp 400 jutaan.
Dari pengalamanku selama sakit baru aku merasakan kalau SEHAT ITU MAHAL dan
semua penderitaan ini akibat dari rokok/nikotin. Jadi kesimpulannya ROKOK ITU
TERNYATA GAK ADA BAGUS-BAGUSNYA selain membuat si perokok menjadi sakit yang
ujungnya mengakibatkan penyakit nomer dua yang mematikan setelah penyakit
jantung, yaitu penyakit kanker paru.
Jadi dengan tulisan ini aku menghimbau pada semua yang kebetulan membaca untuk
berhenti merokok karena akibat dari merokok sudah jelas. Dan untuk para
penderita kanker (apa aja) yg penting harus semangat dan punya kemauan hidup
besar, jangan menyerah n putus asa, juga jangan lupa berdoa karena Tuhan tidak
akan memberikan cobaan pada umat-Nya di luar kemampuan kita.
Salam,
Albert Charles Sompie (Berthie Sompie)
Survivor kanker paru dan kanker usus besar
Telp. Rumah: (021) 424 7010 - 425 7052
HP: 0812 826 0749
http://rumahkanker.com/content/view/62/96/
Salam,
Titah
----- Original Message -----
From: !pan9
To: [email protected]
Sent: Wednesday, January 14, 2009 2:19 PM
Subject: [Dokter Umum] Re: perokok berat
Dear all,
Selamat sore
Sy seorang perokok aktif ,sejak seminggu lebih sdh berhenti total merokok dan
insyaalah untuk seterusnya, pertanyaan saya:
1.Kenapa setiap bangun pagi tenggorokan saya terasa pahit sekali ,apakah ini
normal ?
2.secara otomatis Pola makan ,pola tidur,serta yang lain berubah setelah
berhenti merokok,pergaulan ma orang2 yang merokok jadi dikurangi, Bagaimana
mengatasi hal tersebut?
3.Bagaimana Pola hidup yang sehat buat seorang eks perokok & pekerja swasta
yang pulang ktr setiap jam 5 sore bahkan kadang lembur sampai malam?
Terima kasih,atas info dan bantuannya.
" Regards ,
" its a good to be important But
more important to be a good "
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
[ Forum Kesehatan : http://www.medisiana.com ]Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/