|
Dari pada milis sepi,
mendingan baca ginian, siapa tahu bisa diceritain buat anak-anak loe
pade
Oleh: Maria Erliza
(Bobo No. 8/XXX)
Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara
seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup
rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan
penghuni rimba. Ia berkata, “Anak-anakku, Sang Pencipta telah
menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa
manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan
untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”
Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa
tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta. < BR > “Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang
Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami
pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-temannya. “Aku
mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi
disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu,
pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.” Maka
pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir
keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.
Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari
su ara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan
sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara
mengaum. “Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya.
Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas
benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah. Tapi tidak semua hewan
senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.
“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa
terbahak-bahak. Singa sangat malu m endengarnya. Begitulah, hari
berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk
mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan. “Hahaha, seperti suara
pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara
berderik. “Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda.
“Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan
menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru.
Teman-temannya tidak dapat ber bu at apa-apa. Mereka malu dan langsung
menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan
suara mereka. “Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing.
“Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi. Tak terasa sudah satu
minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara
yang mereka pilih. Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per
satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh,
karena suara yang mereka temukan lucu-lucu. Tibalah giliran Beo untuk
mengumumkan suara b ar unya. Ia maju ke depan. “Mbeeeek,” jeritnya.
“Hei itu suaraku,” kata Kambing. Yang lain tertawa. Beo
tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek
teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah
ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf
kepada t eman-temannya. Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan
berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai
pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan
ditertawakan selamanya.” Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo
selalu menirukan suara-suara.
|