Kawan......coba baca ini deh. Aku sampai merinding, terharu, sampai2 meneteskan air mata..... Sorry ya kalo nggak bikin ketawa........
 
-------------------------------------------
 
Dia Membopongmu, Nunuk...


PANDANGAN pria bertopi hitam itu nanar. Wajahnya tegang mengeras.  Kedua
tangannya membopong Elizabeth Manuela Babina Muzu alias Nunuk, 5 tahun, yang
penuh luka. Setengah berlari dia menyibak kerumunan massa.

Wartawan mengabadikan aksinya. Foto itu esoknya menghiasi halaman depan
media massa.

Siapa pria penolong itu ?. Manuel Muzu, ayah Nunuk, pria asal Italia,
mencarinya ke mana-mana. Diantar mobil Toyota Kijang, sembari menenteng
koran buram yang memuat foto itu, Manuel menyusuri kawasan Kuningan,
Jakarta. Kerumunan tukang ojek di depan kampus Perbanas hanya menggeleng
ketika disodori gambar itu.

Jawaban sama didapat dari tukang ojek di samping Rumah Sakit MMC.  Wartawan
Gatra juga berupaya mencari pria yang menolong Nunuk itu.

Pedagang kaki lima di sekitar Kedubes Australia tidak ada yang mengenalnya.
"Mungkin orang jauh yang kebetulan lewat," kata seorang tukang ojek di depan
kampus Perbanas.

Seorang petugas satpam Kedubes Australia mengatakan, pria itu adalah anggota
Brimob. Memang, perawakan laki-laki berkumis itu kekar. Tapi,  ketika
ditanyakan pada anggota pasukan Brimob yang berjaga di kantor perwakilan
Australia itu, mereka serempak menggeleng. "Bukan anggota kami," kata
seorang dari mereka.

Lalu, siapa pria yang menolongmu, Nunuk?

Titik terang muncul ketika seorang tukang ojek di samping Rumah Sakit MMC
mengaku lupa-lupa ingat dengan wajah pria itu. Dia mengundang teman-temannya
untuk mencoba menggali ingatan. "Sepertinya pekerja proyek di Pasar
Festival," katanya. Yang lain menimpali bahwa pekerja di proyek itulah yang
pertama kali berlari menuju lokasi setelah  ledakan.

Akhirnya Gatra bertemu dengan Achmad Usman. Ya, inilah dia. Pria berusia 37
tahun ini adalah teknisi saluran udara air conditioner di lantai dasar Pasar
Festival, 300 meter dari Kedubes Australia. Achmad sedang asyik bekerja
ketika tiba-tiba ada suara ledakan.

"Tubuh saya bergetar. Saya kira ada lift jatuh," katanya. Ayah empat anak
itu kontan menghambur keluar bersama teman-temannya. Pekerja PT Trikarsa itu
mendekati lokasi ledakan. Ia mendapati tubuh-tubuh sudah bergelimpangan di
jalanan. Bau bahan kimia menyengat hidung.

Achmad Usman berusaha menolong orang-orang yang terluka. "Kami dahulukan
yang hidup," katanya. Ketika itu, dia melihat teman-temannya tengah menolong
korban bertubuh besar. "Saya berusaha membantu karena kelihatan berat,"
katanya. Saat itulah matanya mengarah pada Nunuk, bocah cilik yang penuh
luka.

Saat itu sebenarnya sudah ada orang yang memangku Nunuk. "Orang itu saya
dengar berteriak minta tolong," ia menjelaskan. Bocah itu lantas
direngkuhnya dalam gendongan. "Saya memilih jangan sampai menyentuh
lukanya," katanya. Karena itu, dia menyangga bagian kaki dan leher.

Saat itu, Nunuk pingsan. Pria asal Mangga Besar, Jakarta Barat, ini
membopong Nunuk ke sebuah mobil, karena mengira bocah cantik itu telah
meninggal. Begitu dibaringkan di jok mobil, tiba-tiba Nunuk bergerak.

Matanya terbeliak, tubuhnya mengejang.

"Mama, Mama...," Nunuk merintih lemah.

Pria yang membopongnya teringat anaknya yang tak tertolong.

Kontan air mata Achmad berlinang. "Mirip saat anak saya akan meninggal,"
katanya dengan raut muka sedih. Menurut dia, saat itu putri bungsunya baru
berusia tiga bulan. Tiba-tiba sakit panas, dan kejang. "Matanya terbeliak
persis dia," katanya. Saat itu, dia terlambat membawa anaknya ke rumah
sakit.

Tidak mau kehilangan "anak" kedua kalinya, Achmad menggendong Nunuk kembali,
dan setengah berlari menuju rumah sakit terdekat. "Allahu Akbar!" teriaknya
berulang-ulang. Orang-orang yang berkerumun menepi memberi jalan.
Orang-orang yang bergerombol di depan rumah sakit juga memberi jalan.
Akhirnya Nunuk dibaringkan di ruang gawat darurat.

Saat itu, Achmad baru sadar tangannya yang tadi menyangga leher Nunuk
berlepotan darah.

Sore harinya, ketika pulang kerja, Achmad langsung menuju pusara anaknya.
"Saya berdoa di sana," katanya. "Jika Nunuk hanya akan menjadi beban
keluarga, silakan ambil, ya, Allah. Namun, jika dia kelak berguna bagi
keluarganya, maka selamatkanlah."

Sejak itu, Achmad selalu terbayang pada Nunuk. "Anak itu selamat nggak, ya?"
tanya Achmad kepada Gatra.

"Alhamdulillah," katanya bersyukur ketika diberitahu bahwa Nunuk dirawat di
Singapura.


(Gatra)




--
http://ketawa.com/



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

<<attachment: pic07636.jpg>>

Kirim email ke