|
----- Original Message
-----
ini saya sudah kembali ke
Selama 5 hari kami melihat betapa
"sinetron " drama dimainkan dengan baik oleh para pejabat dan aparat. Pada hari
Minggu sore ketika kami berkunjung ke desa Sirombu, kami tidak melihat
pengungsi, yang ada hanya beberapa warga yang mulai membereskan rumah atau bekas
puing rumahnya. Menurut warga yang kami tanyai, banyak dari mereka yang
menumpang pada keluarganya yang tidak terkena musibah. Hari Senin kami melaksanakan
pengobatan 2 kali, pagi hari di posko kesehatan, sorenya di Gereja Tetesua
(tempat kami bermalam). Selasa pagi kami melanjutkan
pengobatan dan sorenya kami pindah lokasi ke Kecamatan Mandrehe yang berjarak
sekitar 3 km dari Tetesua. Selasa pagi Bpk Gubernur SumUt
datang berkunjung, kami diminta untuk menunda pengobatan (oleh pejabat setempat)
karena masyarakat diminta un tuk menyambut Gubernur. Pimpinan kelompok menolak
karena jadwal kami sangat ketat. Sore di Mandrehe, kami baru
melihat lokasi pengungsian yang sebenarnya. Hari ke 5 kami pindah ke Teluk
Dalam, disana mereka bukan terkena gelombang tsunami tapi terkena banjir (efek
tsunami juga). Yang saya maksud dengan sinetron
dari para pejabat adalah ketika bpk gubernur datang, pengungsi dimobilisasi
untuk menyambut. Dan ketika Gubernur menanyakan obat apa yang habis atau tidak
ada, ketika kami sebutkan... petugas puskesmas
mengeluarkannya. Menurut masyarakat, mereka dikenai
biaya Rp 5.000,- ( Hari Kamis Pak SBY berkunjung ke
Sirombu, pagi hari para pengungsi diangkut dengan truck ke Hari Jumat di Teluk Dalam, ketika
kami melakukan pengobatan, datang anggota DPRD dan pejabat pemda didampingi oleh
kelompok Gereja (?) bernama Alpha Omega yang merencanakan pembangunan kembali
daerah tersebut, tanpa ba bi bu... langsung kami di shooting... ( berdasarkan
pengalaman rekan-rekan, paling juga nanti dilaporkan sebagai kegiatan
mereka). Kami sangat prihatin dengan
keadaan di Nias. Bukan karena tsunami (korbannya tidak terlalu banyak) tetapi
Nias sangat tertinggal. Sehingga salah seorang rekan sempat nyeletuk, "Nias ini
sudah merdeka belum sich?". Penduduk banyak yang miskin, malnutrisi, dan buta
huruf. Mereka memiliki coklat, karet dan kelapa tetapi pemasaran sangat sulit
atau hasil mereka dibeli dengan harga murah. Derajat kesehatan yang buruk,
dengan program Kb dan imunisasi yang bisa dikatakan gagal total. Rata-rata
mereka memiliki anak 9 orang. Bagaimana bisa bangkit dari
kemiskinan? Rencananya kami dalam beberapa
bulan ke depan kami akan kembali ke Ketawa dot Com - http://ketawa.com/ CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/ Yahoo! Groups Links
|
