----- Original Message -----
From: Caroline Tirtasudira
Sent: Tuesday, January 18, 2005 10:07 PM

 

 

 

ini saya sudah kembali ke Jakarta. 5 Hari kami bekerja efektif di Nias. Sedih saya melihat apa yang terjadi di sana. Tapi sebaiknya saya ceritakan bagaimana dan apa yang kami lihat dan kami kerjakan di sana dan apa planning kami ke depan.

 

Selama 5 hari kami melihat betapa "sinetron " drama dimainkan dengan baik oleh para pejabat dan aparat. Pada hari Minggu sore ketika kami berkunjung ke desa Sirombu, kami tidak melihat pengungsi, yang ada hanya beberapa warga yang mulai membereskan rumah atau bekas puing rumahnya. Menurut warga yang kami tanyai, banyak dari mereka yang menumpang pada keluarganya yang tidak terkena musibah.

 

Hari Senin kami melaksanakan pengobatan 2 kali, pagi hari di posko kesehatan, sorenya di Gereja Tetesua (tempat kami bermalam).

 

Selasa pagi kami melanjutkan pengobatan dan sorenya kami pindah lokasi ke Kecamatan Mandrehe yang berjarak sekitar 3 km dari Tetesua.

 

Selasa pagi Bpk Gubernur SumUt datang berkunjung, kami diminta untuk menunda pengobatan (oleh pejabat setempat) karena masyarakat diminta un tuk menyambut Gubernur. Pimpinan kelompok menolak karena jadwal kami sangat ketat.

 

Sore di Mandrehe, kami baru melihat lokasi pengungsian yang sebenarnya. Para pengungsi tinggal di Gereja dan gedung sekolah. Kami melakukan pengobatan 1 hari bagi para pengungsi karena hari kedua paea pengungsi dipindahkan ke Sirombu untuk menyambut bpk Presiden yang berkunjung.

 

Hari ke 5 kami pindah ke Teluk Dalam, disana mereka bukan terkena gelombang tsunami tapi terkena banjir (efek tsunami juga).

 

Yang saya maksud dengan sinetron dari para pejabat adalah ketika bpk gubernur datang, pengungsi dimobilisasi untuk menyambut. Dan ketika Gubernur menanyakan obat apa yang habis atau tidak ada, ketika kami sebutkan... petugas puskesmas mengeluarkannya.

 

Menurut masyarakat, mereka dikenai biaya Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) perkali berobat. Hari selasa sore ketika kami datang ke Mandrehe dan mendirikan tenda di sana, tidak banyak tenda berdiri, tetapi karena ada berita bahwa ibu Mega akan datang, dalam semalam... lapangan penuh dengan tenda sumbangan dari Arab Saudi. Sayang Bu Mega tidak datang, yang datang cuma sumbangannya. Kecewa deh semaleman ngebangun tenda.

 

Hari Kamis Pak SBY berkunjung ke Sirombu, pagi hari para pengungsi diangkut dengan truck ke sana berikut dapur umumnya. Rabu malam, di Sirombu dibangun tenda pengungsi sehingga ketika presiden datang, akan tampak seperti ada kumpulan pengungsi di sana.

 

Hari Jumat di Teluk Dalam, ketika kami melakukan pengobatan, datang anggota DPRD dan pejabat pemda didampingi oleh kelompok Gereja (?) bernama Alpha Omega yang merencanakan pembangunan kembali daerah tersebut, tanpa ba bi bu... langsung kami di shooting... ( berdasarkan pengalaman rekan-rekan, paling juga nanti dilaporkan sebagai kegiatan mereka).

 

Ada lagi satu hal, ketika kami minta bantuan obat, petugas puskesmas menolak dengan alasan bahwa kami harus mengajukan seminggu dimuka ( mana mungkin) sehingga kami membeli sendiri (kebetulan jarak ke kota cukup dekat. Dan lagi-lagi cerita masyarakat bahwa mereka diminta membayar bila berobat di puskesmas.

 

Kami sangat prihatin dengan keadaan di Nias. Bukan karena tsunami (korbannya tidak terlalu banyak) tetapi Nias sangat tertinggal. Sehingga salah seorang rekan sempat nyeletuk, "Nias ini sudah merdeka belum sich?". Penduduk banyak yang miskin, malnutrisi, dan buta huruf. Mereka memiliki coklat, karet dan kelapa tetapi pemasaran sangat sulit atau hasil mereka dibeli dengan harga murah. Derajat kesehatan yang buruk, dengan program Kb dan imunisasi yang bisa dikatakan gagal total. Rata-rata mereka memiliki anak 9 orang. Bagaimana bisa bangkit dari kemiskinan?

 

Rencananya kami dalam beberapa bulan ke depan kami akan kembali ke sana dan akan melaksanakan program KB dan program lainnya



Ketawa dot Com - http://ketawa.com/
CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke