what ever who write this story is good , u hv good  sense
walau bahasa nya sangat tinggi tapi ini sangat bagu
tipikal sastra pembebasan , that is reality
bila melihat kemunafikan , aku kadang menyadari hidup itu harus munafik 
karena banyak kemunafikan itu menyenangkan hati orang
dan tanpa di sadari pun aku yakin anda suka kemunafikan
 
 
GOOD MORNING BRO
HAVE A NICE DAY
----- Original Message -----
From: Y2nk
Sent: Tuesday, January 25, 2005 5:47 PM
Subject: e-ketawa :-) CERPEN :-) Ada Lingkaran Mengepung Bulan (Karya: AS Laksana)

Upgrade your email with 1000's of cool animations
 
Ada Lingkaran Mengepung Bulan
Karya:  AS Laksana

UMURKU 24 ketika aku lulus SMA, enam tahun lebih tua ketimbang usia rata-rata kawan sekolahku yang lulus di tahun yang sama. Setelah itu, tanpa pekerjaan dan tidak melanjutkan sekolah, umurku cepat sekali menjadi 25 dan langit terasa makin gelap dan makin rendah. Aku ingin meninggalkan kota yang sumpek karena langitnya gelap dan rendah. Meninggalkan ayah dan ibuku yang jarang ada di rumah. Meninggalkan para pelacur yang mangkal di seberang kuburan. Merekalah orang-orang yang paling dekat denganku. Mereka selalu menyenangkan dan, bagiku, mereka adalah penerang jalan. Kau tahu, aku tak akan pernah sesat jika berada di antara mereka. Sebab, pada malam segelap apa pun, muka mereka menyala seperti pantat kunang-kunang.

Tak ada air mata yang mengucur ketika suatu malam aku berpamitan dan menyatakan keinginanku ke Jakarta. Ayah dan ibuku tidak terharu ketika aku berpamitan. Para pelacur tidak tersedu-sedu oleh perpisahan.

"Mudah-mudahan kau tidak mampus di Jakarta," kata salah seorang pelacur yang dengannya aku begitu dekat; jika bersamanya selalu kubayangkan lebih dari dua pertandingan sepak bola dalam semalam.

"Doakan aku," kataku.

"Kudoakan agar kau terlunta-lunta di Jakarta."

"Berdoalah yang baik."

"Kudoakan yang terburuk dan kau akan mendapatkan yang terbaik," katanya. "Tuhan tidak akan mengabulkan doa seorang pelacur. Ia akan memberikan yang sebaliknya dari segala yang kuminta."

Malam itu kami menyelesaikan tiga pertandingan yang semuanya berlangsung mengecewakan; aku merasa seperti bermain sepak bola di lumpur-lumpur sawah yang menguras tenaga. Permainanku sungguh kocar-kacir. Bolaku terasa berat sekali dan malam itu tak ada satu gol pun yang bisa kusarangkan.

"Permainanmu buruk sekali," katanya.

O, bibirnya seperti sosis.

Gincu merahnya menyala di kamar yang remang-remang. Aku tiba-tiba menjadi seorang gelandangan yang kelaparan dan ingin melahap sosis itu sampai habis. Namun ia selalu melengos jika aku memagut bibir sosisnya. Gincunya menggores pipi, kening, dan kelopak mataku. Kuuber terus bibir yang selalu menghindar itu. Muka dan leherku penuh goresan merah gincu.

Aku lupa pada pertandinganku dan tidak bisa membayangkan cara memainkan bola dengan baik selama memburu bibirnya. Kini aku menjadi anjing pemburu yang kedodoran dan habis napas karena selalu menerkam tempat-tempat kosong. Ketika napasku makin memburu, ia menepis mukaku dengan tangan kanannya. Tepisan itu membuat mukaku tepat berhadapan dengan poster artis sinetron yang kubenci. Si bibir sosis menyukai orang itu --artis yang suka menendang dan tendangannya selalu menyemburkan debu-- dan ia memajang poster orang itu di kamarnya karena tahu bahwa aku membencinya.

"Tidak ada ciuman," kata bibir sosis itu sambil terus menepiskan mukaku.

Tapi aku kelaparan. Mestinya ia tahu bahwa malam itu aku bukan lagi pemain bola yang baik melainkan seorang gelandangan yang sangat kelaparan dan akan mampus jika tidak melahap bibir sosisnya. Aku mencoba menyodorkan ke hadapannya paras muka yang menyedihkan; kubayangkan seperti burung pelatuk --atau mungkin pengemis-- yang akan mati lima menit lagi jika tidak mendapatkan sosis.

"Ini malam terakhirku denganmu," kataku.

"Apa bedanya dengan malam-malam yang lain?" tanyanya. "Malam tidak akan pernah berakhir."

"Berikan bibirmu. Aku ingin mencium bibirmu."

"Kau tidak membayar untuk bibirku."

"Akan kubayar."

"Aku tidak menjualnya."

Setelah tiga pertandingan di lumpur sawah, ia berbenah. Merapikan rambut dan pakaiannya. Aku ingin tinggal lebih lama di kamarnya.

"Kau akan melacur sampai tua?" tanyaku.

"Siapa yang mau pakai kalau aku sudah kempot?" balasnya.

"Lalu?"

"Jadi germo, kalau punya modal."

Ia merapikan gincu dan pupurnya.

Apa lagi yang akan kutanyakan? Aku ingin tinggal lebih lama. Kulihat arlojiku. Kulihat cecak yang merambat di dinding kamar. Kulihat sarang laba-laba. Kusapukan mataku ke apa saja yang ada di kamarnya. Kuperas otakku untuk membuat sebanyak mungkin pertanyaan. Aku tidak ingin segera keluar kamar.

"Kenapa kau tak mau kucium?" hanya pertanyaan itulah yang akhirnya keluar dari mulutku.

***

Aku meninggalkannya dengan rasa lelah dan kalah dan langkah yang gelisah. Menyusuri deretan warung dan lagu-lagu dan lelaki setengah mabuk dan perempuan yang menunggu, di kepalaku berkubang segala yang tidak jelas. Malam yang sayu. Tempat inilah yang merawat pertumbuhanku, memelukku, dan mengajariku kefasihan yang dibenci orang-orang saleh. Mereka mengajarkan kepadaku nama benda-benda. Aku belajar membaca peta tubuh mereka yang terbuka dan menjelajahi segala ceruk dan perbukitan yang mereka bentangkan. Kuhisap puting-puting susu mereka kuat-kuat, seperti bayi berumur tiga bulan yang kelaparan tiap setengah jam, dan aku menjadi sehat dan berpengalaman oleh puting-puting susu mereka.

Tulang-tulangku mengeras oleh dekapan mereka.

Malam itu juga aku berangkat dengan bis bobrok yang menguapkan sengak keringat dan bau apak ayam-ayam. Sosis bergincu merah itu lengket di pelupuk mataku. Tak bisa kuusir benda yang malam itu telah mengubahku dari seorang pemain bola yang tangkas di setiap persetubuhan menjadi anjing yang kedodoran.

Bis melaju meninggalkan tembok-tembok kota, pagar-pagar rumah, batang-batang pohon, dan trotoar jalanan yang suatu hari pernah berwarna kuning. Aku mencoba mengusir warna merah yang menyiksaku dengan warna kuning yang pernah merepotkan banyak orang. Kau ingat, suatu ketika pernah ada seorang gubernur yang bermimpi mengubah seluruh kota menjadi emas. Batang-batang pohon menjadi emas, pagar-pagar menjadi emas, pembatas jalan menjadi emas, namun ia tak menyentuhkan kehendaknya di rumah sendiri sehingga tembok rumah yang ditempatinya tetap berwarna putih.

Beberapa waktu kemudian di tembok rumah gubernur yang putih bersih itu muncul gambar-gambar penis dengan coretan arang. Namun cuma sebentar, sebab kabarnya gubernur yang menyukai warna kuning itu terbatuk ketika sedang menyantap sarapan paginya. Mungkin ada duri ikan arwana yang melintang di tenggorokannya. Aku bersungguh-sungguh tentang ikan arwana ini. Gubernur memang menyukainya sebagai lauk untuk sarapan pagi. Dan seorang wartawan koran Semarang pernah menulis tentang hal itu.

"Pak Gubernur, pada setiap pidato Anda selalu menganjurkan pola hidup sederhana, namun anda sendiri mengakui paling menyukai lauk ikan arwana. Bukankah hal ini bertentangan dengan apa yang selalu anda ucapkan? Bukankah ikan arwana harganya jutaan?" tanya wartawan tersebut.

"Jadi bagaimana pantasnya menurut pendapatmu?" gubernur balik bertanya. "Apakah seorang gubernur sebaiknya makan dengan lauk belut listrik?"

Pagi itu, sebelum gubernur terbatuk sekali lagi atau muntah-muntah, para pegawai gubernuran segera membersihkan tembok dan mengecatnya menjadi putih bersih kembali. Gambar-gambar itu masih muncul lagi beberapa kali, tetapi para pegawai gubernuran adalah orang-orang yang cekatan. Tembok tersebut sudah akan bersih kembali sebelum ada duri apa pun tersangkut di tenggorokan gubernur.

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, di sebuah lapangan, di bawah matahari, orang-orang bertanya kenapa sebuah kota harus dijadikan gumpalan warna kuning. Aku ada di lapangan itu bersama orang-orang yang mukanya merah terbakar matahari dan dipanggang rasa kesal; tapi aku tidak bertanya. Gubernur menjawab pertanyaan mereka, dan besoknya dijadikan berita di koran-koran, bahwa kuning adalah warna kebanggaan kota. "Seperti warna kepodang, seekor burung yang cantik," kata gubernur. "Dan kepodang yang cantik dan kuning itu adalah roh kota kita."

"Kenapa roh sebuah kota harus berwarna kuning?" gugat seseorang.

"Roh tentu boleh berwarna apa saja, tapi kepodang selalu berwarna kuning. Dan kepodang adalah roh kota kita. Karena itu harus kuning," jelas gubernur.

(Tentang kepodang, roh, dan warna kuning ini, sekelompok paranormal dan cendekiawan kampus pernah membicarakannya dalam sebuah seminar menjelang pemilihan umum. Sebenarnya apa yang disampaikan oleh gubernur tidak lain adalah pendapat salah seorang paranormal di seminar tersebut. Perdebatan tentang tiga hal ini kemudian menjadi panjang, dan melibatkan berbagai kalangan yang lebih luas, melalui pemberitaan dan sejumlah artikel yang dimuat koran-koran di Semarang waktu itu.

Orang-orang yang kesal tak mudah dipuaskan dengan jawaban apa pun.

"Tahi juga berwarna kuning, seperti kepodang, tapi tidak cantik!" jerit yang lainnya.

Kau tahu, dua orang itu sudah biasa berteriak di lapangan dan gubernur tidak menyukai orang-orang yang berteriak.

"Jangan berpolitik," gubernur mengingatkan.

Malam harinya bulan dikurung lingkaran. Katanya akan ada orang hilang jika di langit ada bulan purnama yang terperangkap dalam sebuah lingkaran. Karena itu orang-orang yang berkumpul di lapangan tidak terperanjat ketika dua orang yang menyebut-nyebut soal roh kepodang dan warna tahi, yang kemudian diingatkan oleh gubernur agar jangan berpolitik, tak pernah kelihatan lagi setelah itu. Mereka hilang dan orang-orang mafhum sebab bulan sudah menurunkan isyarat pada malam sebelumnya.

Orang-orang tidak melihat siapa yang telah membuat kedua orang itu hilang, namun mereka tahu siapa yang melakukannya. Melalui selebaran, mereka mengumumkan apa yang mereka ketahui.

Gubernur bilang, "Jangan suka menuduh."

***

Bis bobrok yang kutumpangi memutari sebuah bundaran di tepi kota. Duduk di kursi belakang, aku tetap seorang gelandangan yang lelah dan lapar dan terus-menerus mengutuk diri sendiri setelah gagal melumat bibir yang bagai sosis itu. Ingatan tentang warna kuning tak meredakan gelisahku.

Lantas apa yang bisa menyingkirkan sosis itu dari pelupukku?

Mungkin seekor sapi. Dan ketika bis melintasi bundaran itu, ingatanku terbang ke patung sapi. Setahun sebelum kota berwarna kuning, di bundaran itu ada patung sapi yang dibangun di atas rumputan di sebelah tugu pahlawan. Walikota yang membangun patung itu, dengan biaya besar, dan pada saat membuka selubung kain penutup sapi itu ia bilang: "Agar setiap warga kota tidak melupakan asal-usulnya."

Apa maksudnya?

Senyum wali kota mengembang di bawah siraman cahaya lampu kilat para wartawan dan tukang foto tua yang sehari-hari adalah karyawan di kantor kota madya. Orang-orang menangis di halaman balai kota, meratapi asal-usul mereka.

Berhari-hari mereka menangis meratapi patung sapi yang dibangun di sebelah tugu pahlawan dan meratapi alasan walikota membangun patung itu, sampai kemudian bulan purnama muncul lagi di langit bersama lingkaran yang mengungkungnya. Patung sapi itu hilang tiga bulan kemudian. Tidak ada yang terkejut karena bulan di langit telah memberikan isyaratnya. Orang-orang tidak melihat siapa yang mengangkut patung sapi itu, tapi mereka tahu siapa yang melakukannya. Sebab walikota tetap tersenyum kendati patung asal-usulnya hilang.

Bis meninggalkan kota. Bibir sosis itu tidak terhalau oleh ingatan tentang patung sapi atau kenangan tentang apa saja.

Kau tahu, semula aku hanya berangkat begitu saja ke Jakarta. Entah untuk apa. Tapi, ketika pagi-pagi bis bobrok memasuki kota ini, aku tahu saat itu juga apa yang kuinginkan. Bibir sosis. Kurasa aku akan menemukan yang lebih empuk di sini. Aku telah melihatnya di tepi-tepi jalan. Tapi, aku berjanji, jika suatu hari kota ini dilabur warna kuning dan di taman-tamannya didirikan patung sapi, aku akan meninggalkannya. Sebab setelah itu pasti akan ada lingkaran yang mengepung bulan dan akan ada orang-orang yang hilang. Akan kucari sosis yang lebih empuk di kota lain; aku tak suka pada patung sapi dan warna kuning dan bulan yang dikepung lingkaran.


 
(Sumber: Media Indonesia Online)


 Dove 
Maniezz ;-)
Y2nk
[EMAIL PROTECTED]


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

Ketawa dot Com - http://ketawa.com/
CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/




Ketawa dot Com - http://ketawa.com/
CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke