UMURKU 24 ketika aku lulus SMA, enam tahun
lebih tua ketimbang usia rata-rata kawan sekolahku yang lulus di
tahun yang sama. Setelah itu, tanpa pekerjaan dan tidak
melanjutkan sekolah, umurku cepat sekali menjadi 25 dan langit
terasa makin gelap dan makin rendah. Aku ingin meninggalkan kota
yang sumpek karena langitnya gelap dan rendah. Meninggalkan ayah
dan ibuku yang jarang ada di rumah. Meninggalkan para pelacur
yang mangkal di seberang kuburan. Merekalah orang-orang yang
paling dekat denganku. Mereka selalu menyenangkan dan, bagiku,
mereka adalah penerang jalan. Kau tahu, aku tak akan pernah
sesat jika berada di antara mereka. Sebab, pada malam segelap
apa pun, muka mereka menyala seperti pantat kunang-kunang.
Tak ada air mata yang mengucur ketika suatu
malam aku berpamitan dan menyatakan keinginanku ke Jakarta. Ayah
dan ibuku tidak terharu ketika aku berpamitan. Para pelacur
tidak tersedu-sedu oleh perpisahan.
"Mudah-mudahan kau tidak mampus di Jakarta,"
kata salah seorang pelacur yang dengannya aku begitu dekat; jika
bersamanya selalu kubayangkan lebih dari dua pertandingan sepak
bola dalam semalam.
"Doakan aku," kataku.
"Kudoakan agar kau terlunta-lunta di
Jakarta."
"Berdoalah yang baik."
"Kudoakan yang terburuk dan kau akan
mendapatkan yang terbaik," katanya. "Tuhan tidak akan
mengabulkan doa seorang pelacur. Ia akan memberikan yang
sebaliknya dari segala yang kuminta."
Malam itu kami menyelesaikan tiga
pertandingan yang semuanya berlangsung mengecewakan; aku merasa
seperti bermain sepak bola di lumpur-lumpur sawah yang menguras
tenaga. Permainanku sungguh kocar-kacir. Bolaku terasa berat
sekali dan malam itu tak ada satu gol pun yang bisa
kusarangkan.
"Permainanmu buruk sekali," katanya.
O, bibirnya seperti sosis.
Gincu merahnya menyala di kamar yang
remang-remang. Aku tiba-tiba menjadi seorang gelandangan yang
kelaparan dan ingin melahap sosis itu sampai habis. Namun ia
selalu melengos jika aku memagut bibir sosisnya. Gincunya
menggores pipi, kening, dan kelopak mataku. Kuuber terus bibir
yang selalu menghindar itu. Muka dan leherku penuh goresan merah
gincu.
Aku lupa pada pertandinganku dan tidak bisa
membayangkan cara memainkan bola dengan baik selama memburu
bibirnya. Kini aku menjadi anjing pemburu yang kedodoran dan
habis napas karena selalu menerkam tempat-tempat kosong. Ketika
napasku makin memburu, ia menepis mukaku dengan tangan kanannya.
Tepisan itu membuat mukaku tepat berhadapan dengan poster artis
sinetron yang kubenci. Si bibir sosis menyukai orang itu --artis
yang suka menendang dan tendangannya selalu menyemburkan debu--
dan ia memajang poster orang itu di kamarnya karena tahu bahwa
aku membencinya.
"Tidak ada ciuman," kata bibir sosis itu
sambil terus menepiskan mukaku.
Tapi aku kelaparan. Mestinya ia tahu bahwa
malam itu aku bukan lagi pemain bola yang baik melainkan seorang
gelandangan yang sangat kelaparan dan akan mampus jika tidak
melahap bibir sosisnya. Aku mencoba menyodorkan ke hadapannya
paras muka yang menyedihkan; kubayangkan seperti burung pelatuk
--atau mungkin pengemis-- yang akan mati lima menit lagi jika
tidak mendapatkan sosis.
"Ini malam terakhirku denganmu," kataku.
"Apa bedanya dengan malam-malam yang lain?"
tanyanya. "Malam tidak akan pernah berakhir."
"Berikan bibirmu. Aku ingin mencium
bibirmu."
"Kau tidak membayar untuk bibirku."
"Akan kubayar."
"Aku tidak menjualnya."
Setelah tiga pertandingan di lumpur sawah,
ia berbenah. Merapikan rambut dan pakaiannya. Aku ingin tinggal
lebih lama di kamarnya.
"Kau akan melacur sampai tua?" tanyaku.
"Siapa yang mau pakai kalau aku sudah
kempot?" balasnya.
"Lalu?"
"Jadi germo, kalau punya modal."
Ia merapikan gincu dan pupurnya.
Apa lagi yang akan kutanyakan? Aku ingin
tinggal lebih lama. Kulihat arlojiku. Kulihat cecak yang
merambat di dinding kamar. Kulihat sarang laba-laba. Kusapukan
mataku ke apa saja yang ada di kamarnya. Kuperas otakku untuk
membuat sebanyak mungkin pertanyaan. Aku tidak ingin segera
keluar kamar.
"Kenapa kau tak mau kucium?" hanya
pertanyaan itulah yang akhirnya keluar dari mulutku.
***
Aku meninggalkannya dengan rasa lelah dan
kalah dan langkah yang gelisah. Menyusuri deretan warung dan
lagu-lagu dan lelaki setengah mabuk dan perempuan yang menunggu,
di kepalaku berkubang segala yang tidak jelas. Malam yang sayu.
Tempat inilah yang merawat pertumbuhanku, memelukku, dan
mengajariku kefasihan yang dibenci orang-orang saleh. Mereka
mengajarkan kepadaku nama benda-benda. Aku belajar membaca peta
tubuh mereka yang terbuka dan menjelajahi segala ceruk dan
perbukitan yang mereka bentangkan. Kuhisap puting-puting susu
mereka kuat-kuat, seperti bayi berumur tiga bulan yang kelaparan
tiap setengah jam, dan aku menjadi sehat dan berpengalaman oleh
puting-puting susu mereka.
Tulang-tulangku mengeras oleh dekapan
mereka.
Malam itu juga aku berangkat dengan bis
bobrok yang menguapkan sengak keringat dan bau apak ayam-ayam.
Sosis bergincu merah itu lengket di pelupuk mataku. Tak bisa
kuusir benda yang malam itu telah mengubahku dari seorang pemain
bola yang tangkas di setiap persetubuhan menjadi anjing yang
kedodoran.
Bis melaju meninggalkan tembok-tembok kota,
pagar-pagar rumah, batang-batang pohon, dan trotoar jalanan yang
suatu hari pernah berwarna kuning. Aku mencoba mengusir warna
merah yang menyiksaku dengan warna kuning yang pernah merepotkan
banyak orang. Kau ingat, suatu ketika pernah ada seorang
gubernur yang bermimpi mengubah seluruh kota menjadi emas.
Batang-batang pohon menjadi emas, pagar-pagar menjadi emas,
pembatas jalan menjadi emas, namun ia tak menyentuhkan
kehendaknya di rumah sendiri sehingga tembok rumah yang
ditempatinya tetap berwarna putih.
Beberapa waktu kemudian di tembok rumah
gubernur yang putih bersih itu muncul gambar-gambar penis dengan
coretan arang. Namun cuma sebentar, sebab kabarnya gubernur yang
menyukai warna kuning itu terbatuk ketika sedang menyantap
sarapan paginya. Mungkin ada duri ikan arwana yang melintang di
tenggorokannya. Aku bersungguh-sungguh tentang ikan arwana ini.
Gubernur memang menyukainya sebagai lauk untuk sarapan pagi. Dan
seorang wartawan koran Semarang pernah menulis tentang hal
itu.
"Pak Gubernur, pada setiap pidato Anda
selalu menganjurkan pola hidup sederhana, namun anda sendiri
mengakui paling menyukai lauk ikan arwana. Bukankah hal ini
bertentangan dengan apa yang selalu anda ucapkan? Bukankah ikan
arwana harganya jutaan?" tanya wartawan tersebut.
"Jadi bagaimana pantasnya menurut
pendapatmu?" gubernur balik bertanya. "Apakah seorang gubernur
sebaiknya makan dengan lauk belut listrik?"
Pagi itu, sebelum gubernur terbatuk sekali
lagi atau muntah-muntah, para pegawai gubernuran segera
membersihkan tembok dan mengecatnya menjadi putih bersih
kembali. Gambar-gambar itu masih muncul lagi beberapa kali,
tetapi para pegawai gubernuran adalah orang-orang yang cekatan.
Tembok tersebut sudah akan bersih kembali sebelum ada duri apa
pun tersangkut di tenggorokan gubernur.
Beberapa minggu setelah peristiwa itu, di
sebuah lapangan, di bawah matahari, orang-orang bertanya kenapa
sebuah kota harus dijadikan gumpalan warna kuning. Aku ada di
lapangan itu bersama orang-orang yang mukanya merah terbakar
matahari dan dipanggang rasa kesal; tapi aku tidak bertanya.
Gubernur menjawab pertanyaan mereka, dan besoknya dijadikan
berita di koran-koran, bahwa kuning adalah warna kebanggaan
kota. "Seperti warna kepodang, seekor burung yang cantik," kata
gubernur. "Dan kepodang yang cantik dan kuning itu adalah roh
kota kita."
"Kenapa roh sebuah kota harus berwarna
kuning?" gugat seseorang.
"Roh tentu boleh berwarna apa saja, tapi
kepodang selalu berwarna kuning. Dan kepodang adalah roh kota
kita. Karena itu harus kuning," jelas gubernur.
(Tentang kepodang, roh, dan warna kuning
ini, sekelompok paranormal dan cendekiawan kampus pernah
membicarakannya dalam sebuah seminar menjelang pemilihan umum.
Sebenarnya apa yang disampaikan oleh gubernur tidak lain adalah
pendapat salah seorang paranormal di seminar tersebut.
Perdebatan tentang tiga hal ini kemudian menjadi panjang, dan
melibatkan berbagai kalangan yang lebih luas, melalui
pemberitaan dan sejumlah artikel yang dimuat koran-koran di
Semarang waktu itu.
Orang-orang yang kesal tak mudah dipuaskan
dengan jawaban apa pun.
"Tahi juga berwarna kuning, seperti
kepodang, tapi tidak cantik!" jerit yang lainnya.
Kau tahu, dua orang itu sudah biasa
berteriak di lapangan dan gubernur tidak menyukai orang-orang
yang berteriak.
"Jangan berpolitik," gubernur
mengingatkan.
Malam harinya bulan dikurung lingkaran.
Katanya akan ada orang hilang jika di langit ada bulan purnama
yang terperangkap dalam sebuah lingkaran. Karena itu orang-orang
yang berkumpul di lapangan tidak terperanjat ketika dua orang
yang menyebut-nyebut soal roh kepodang dan warna tahi, yang
kemudian diingatkan oleh gubernur agar jangan berpolitik, tak
pernah kelihatan lagi setelah itu. Mereka hilang dan orang-orang
mafhum sebab bulan sudah menurunkan isyarat pada malam
sebelumnya.
Orang-orang tidak melihat siapa yang telah
membuat kedua orang itu hilang, namun mereka tahu siapa yang
melakukannya. Melalui selebaran, mereka mengumumkan apa yang
mereka ketahui.
Gubernur bilang, "Jangan suka menuduh."
***
Bis bobrok yang kutumpangi memutari sebuah
bundaran di tepi kota. Duduk di kursi belakang, aku tetap
seorang gelandangan yang lelah dan lapar dan terus-menerus
mengutuk diri sendiri setelah gagal melumat bibir yang bagai
sosis itu. Ingatan tentang warna kuning tak meredakan
gelisahku.
Lantas apa yang bisa menyingkirkan sosis itu
dari pelupukku?
Mungkin seekor sapi. Dan ketika bis
melintasi bundaran itu, ingatanku terbang ke patung sapi.
Setahun sebelum kota berwarna kuning, di bundaran itu ada patung
sapi yang dibangun di atas rumputan di sebelah tugu pahlawan.
Walikota yang membangun patung itu, dengan biaya besar, dan pada
saat membuka selubung kain penutup sapi itu ia bilang: "Agar
setiap warga kota tidak melupakan asal-usulnya."
Apa maksudnya?
Senyum wali kota mengembang di bawah siraman
cahaya lampu kilat para wartawan dan tukang foto tua yang
sehari-hari adalah karyawan di kantor kota madya. Orang-orang
menangis di halaman balai kota, meratapi asal-usul mereka.
Berhari-hari mereka menangis meratapi patung
sapi yang dibangun di sebelah tugu pahlawan dan meratapi alasan
walikota membangun patung itu, sampai kemudian bulan purnama
muncul lagi di langit bersama lingkaran yang mengungkungnya.
Patung sapi itu hilang tiga bulan kemudian. Tidak ada yang
terkejut karena bulan di langit telah memberikan isyaratnya.
Orang-orang tidak melihat siapa yang mengangkut patung sapi itu,
tapi mereka tahu siapa yang melakukannya. Sebab walikota tetap
tersenyum kendati patung asal-usulnya hilang.
Bis meninggalkan kota. Bibir sosis itu tidak
terhalau oleh ingatan tentang patung sapi atau kenangan tentang
apa saja.
Kau tahu, semula aku hanya berangkat begitu
saja ke Jakarta. Entah untuk apa. Tapi, ketika pagi-pagi bis
bobrok memasuki kota ini, aku tahu saat itu juga apa yang
kuinginkan. Bibir sosis. Kurasa aku akan menemukan yang lebih
empuk di sini. Aku telah melihatnya di tepi-tepi jalan. Tapi,
aku berjanji, jika suatu hari kota ini dilabur warna kuning dan
di taman-tamannya didirikan patung sapi, aku akan
meninggalkannya. Sebab setelah itu pasti akan ada lingkaran yang
mengepung bulan dan akan ada orang-orang yang hilang. Akan
kucari sosis yang lebih empuk di kota lain; aku tak suka pada
patung sapi dan warna kuning dan bulan yang dikepung
lingkaran. |