PUJI TUHAN....KASIH ALLAH....

AMPUNI HAMBAMU YANG sangat berdosa ini....

salam saking jogja dab!

 --- may rosi wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dengan Modal Dengkul ke Eropa
> 
>   Pada saat krismon sekarang ini, banyak sekali
> orang yang di PHK alias di
> berhentikan dari tempat pekerjaannya. Mereka putus
> asa, banyak yang tidak
> punya keyakinan, keberanian maupun kepercayaan
> terhadap diri sendiri lagi
> untuk bagkit. Apalagi untuk usaha sendiri! Apakah
> mungkin dengan modal
> "dengkul" kita bisa maju dan bangkit lagi?! Oleh
> sebab itulah saya coba
> untuk menulis berdasarkan pengalaman hidup saya
> sendiri, siapa tahu tulisan
> ini, bisa membantu untuk mendorong dan membangkitkan
> kepercayaan diri
> sendiri. Dengan bantuan Tuhan "pasti" kita akan
> berhasil!
> Cita-cita sudah dari sejak kecil ingin jadi
> "Juragan" - alias orang kaya,
> oleh sebab itu tersirat di pikiran saya ingin
> mencari ilmu di negeri yang
> banyak juragannya, entah di Amerika entah di Eropa,
> pokoknya saya harus
> berangkat kesana, maka dari itulah akhirnya saya
> mengambil keputusan untuk
> melanglang buana.
> 
> Di tahun 1960, pada saat itu usia saya baru 18
> tahun, saya berangkat ke
> Jakarta dengan bekal uang hasil penjualan kentang
> yang di panen orang tua.
> Maklumlah orang tua saya miskin, jangankan untuk
> membiayai studi ke luar
> negeri untuk membiayai uang sekolah sayapun mereka
> tidak mampu. Berhari-hari
> saya "kasak-kusuk". Berbagai cara dan usaha sudah
> dilakukan. Akhirnya, saya
> diterima bekerja sebagai kelasi kapal dagang.
> 
> Bekerja di atas kapal yang mengarungi samudera,
> tentu saja memerlukan
> keberanian, ketabahan, dan kecekatan. Selepas sibuk
> menjalankan tugas,
> sempat mengenang kampung halaman. Air mata
> berlinang, karena harus berpisah
> dengan orang tua dan saurada-saudara, kawan-kawan
> akarab, guru-guru, dan
> Indonesia tercinta.
> 
> Entah kapan akan berjumpa lagi. Angan-angan melayang
> serasa di alam mimpi.
> Meluncur dalam pusaran terowong masa (time tunel).
> 
> "Apakah saya akan berhasil meraih sukses di Negri
> Orang? Atau apakah saya
> akan jadi anjing jalanan, mainan orang-orang bule?
> Hanya debur ombak dan
> lengking burung-burung camar yang mendengar gejolak
> dalam jiwa saya."
> 
> Singapore hanya saya singgahi sebentar. Tidak ada
> minat untuk hidup di
> daratan Asia Tenggara. Tanggung!"
> 
> Pelayaran pun dilanjutkan. Sesampai di Negara Eropa,
> saya memutuskan untuk
> tidak kembali ke kapal. Tekad saya sudah bulat. Saya
> yakin, sebagai anak
> jalanan kota Bandung, akan lebih mudah menyesuaikan
> diri dengan iklim
> kehidupan di Eropa. Dan ketika untuk pertama kali
> menginjak daratan Eropa,
> dengan jiwa Nasionalisme tinggi saya berseru: "Hai,
> Jerman! Sekarang luh gue
> injak!!!"
> 
> Dengan sisa uang yang tinggal beberapa dollar saja,
> selangkah demi selangkah
> kaki saya menginjak-injak tanah airnya orang bule.
> Seibarat mesin komputer,
> dalam benak saya sudah terprogram bagaiman saya
> harus mencari makan sebelum
> kebahisan uang.
> 
> Kalau di Bandung saya sudah terbiasa menjual jasa
> dengan peranan sebagai
> tukang catut karcis bioskop. Ya, di Jerman Barat pun
> saya mencoba memulai
> memperjuangkan hidup saya dengan cara menjual jasa.
> Tapi, bagaimana dengan
> bahasa untuk memperlancar komunikasi? Akh, orang
> gagu saja dapat hidup di
> tengah-tengah masyarakat normal. Maka saya pun
> berani berkomnunikasi dengan
> bahasa isyarat alias bahasa Tarzan untuk memperjelas
> kata-kata bahsa Jerman
> yang baru sepatah dua kata.
> 
> Saya ingat betul, kata-kata bahasa Jerman yang
> meluncur pertama kali dalam
> menjual jasa: "Helfen!" (bantu). Justeru kata-kata
> itulah sebgai kunci untuk
> mendapat upah dari orang-orang atau para pedagang
> yang membutuhkan tenaga
> untuk memikul barang-barang berbelajaan atau
> dagangan mereka.
> 
> Pekerjaan jadi kuli angkut barang di tempat-tempat
> perbelanjaan, saya
> lakukan dengan sungguh-sungguh dan kejujuran. Dari
> hari ke hari semakin
> banyak perbendaharaan kata-kata bahasa Jerman yang
> "dipungut" dari
> sana-sini. Sebagaimana kebiasaan ketika saya sekolah
> di Bandung, saya tidak
> pernah mencatat pelajaran-pelajaran yang diberikan
> guru saya di buku, tapi
> saya catat dalam ingatan saya dengan cara
> memperhatikan pelajaran yang di
> terangkan guru saya. Cara seperti itu merupakan
> keistimewaan tersendiri yang
> saya miliki. Tidak sulit bagi saya untuk
> mengingat-ingat artinya: "Herr,
> Entschulidgen, Essen, Danke, Guten Tag, Bitte
> Sch�n", dan sebagainya.
> 
> Untuk sementara saya bebas dari masalah makan, minum
> dan tidur, sekalipun
> tidurnya model anak jalanan dengan "open space" dan
> "interior" alam, karena
> saya belum mampu menyewa kamar dari hasil upah yang
> saya peroleh sebagai
> kuli angkut barang, terkecuali untuk makan. Apalagi
> memiliki rumah. Dan saya
> juga sadar, tidak mungkin untuk saya dapat belajar
> dalam keadaan masih
> sebagai anak jalanan.
> 
> Tidak diduga dari semula, rupanya gerak-gerik dalam
> kehidupan saya
> sehari-hari, menarik perhatian seorang pendeta. Sang
> Pendeta melihat, bahwa
> anak desa asal Jawa Barat ini menyimpan energi untuk
> mencapai sesuatu. Pucuk
> dicinta, ulam tiba. Saya diajak tinggal serumah
> dengan Sang Pendeta. Untuk
> menjadi (jongos) pembatu di rumah tangganya. Tentu
> saja kesempatan yang baik
> ini saya manfaatkan.
> 
> Walaupun pada saat itu arti agama masih jauh di
> dalam kehidupan saya, tetapi
> tanpa saya sadari saya mengucap syukur. "Tuhan,
> terima kasih Tuhan. Engkau
> jualah yang membawa saya ke tempat Pendeta ini,"
> bisik do'a syukur yang saya
> ucapkan atas nikmat yang saya peroleh.
> 
> Sang pendeta yang jadi "Bapak Asuh" sekaligus
> juragan saya menyayangi dan
> memberikan kebebasan memilih jalan hidup saya. Dan
> ia tidak pernah memaksa
> kepada saya untuk berdoa, karena dahulu saya masih
> jauh dari apa yang
> bersifat agama. Kendatipun demikian, saya masih
> rajin mencari tambahan biaya
> hidup.
> 
> Sekarang sudah alih "profesi", dari kuli angkut
> barang menjadi pengantor
> koran, loper. Bekerja sebagai loper, disamping
> mendapat uang, juga menambah
> pandangan sikap hidup dan kehidupan - dari
> orang-orang Jerman. Dan dari
> koran saya bisa menambah perbendaharaan kata,
> terutama yang berkaitan dengan
> bidang pekerjaan saya, seperti Zeitung lesen,
> Schriftsteller, Austeilung,
> sich abonieren dan banyak lagi.
> 
> Saya mempunyai kemauan keras untuk dapat berbicara
> dengan baik dan benar
> dalam bahasa Jerman. Untuk itu, setiap hari saya
> dapat menghafal sepuluh
> kalimat. Baik ketika mengantar koran, melakukan
> pekerjaan dalam rumah,
> maupun ketika sedang "nongkrong" dalam WC. Setelah
> saya yakin dengan
> penguasaan bahasa sehari-hari, maka saya
> memberanikan diri masuk sekolah
> tinggi ekonomi.
> 
> Pada awal mulanya saya agak "kikuk" alias canggung
> berada di antara
> pelajar-pelajar bule. Seumur hidup, baru sekali ini
> saya lakukan. Tapi, saya
> tidak merasa rendah diri. Pada mereka saya
> tunjukkan, "nih, gue anak
> Indonesia!" Dimana akhirnya saya bisa mengakhiri
> pendidikan saya dengan
> 
=== message truncated === 

________________________________________________________________________
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" 
your friends today! Download Messenger Now 
http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html


"TENGGO IS OUR WAY OF LIFE" - Komenk

Mau tebakan sama temannya?
Ketik TTH Kirim ke 3911 - IM3, Mentari, Matrix, ProXL, Telkom Fleksi
Rp. 1000,-/SMS

Ketawa dot Com - http://ketawa.com/
CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/e-ketawa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke