|
Bukan Calon Mantu Pilihan |
|
Sabtu,1/21/2006 7:53:03 AM
|
| - Robi, 23 tahun, memang kelewatan. Selaginya Teti, 20 tahun, diapeli saja orangtuanya melarang, kok malah dinodai sampai empat kali. Keruan saja Asman, 50 tahun, ayah si gadis naik pitam. Baru saja main
kuda-kudaan di hotel calon mantu tak direstui itu langsung dilaporkan ke polisi. "Masak mantuku sales motor, nggak level," kata Asman geregetan.
Ini kisah tentang politik cinta yang mengacu sistem komunis: menghalalkan segala cara! Bagaimana tidak? Jika orangtua gadis tak memberi restu, mestinya Robi mundur dari pencalonan. Bukankah gadis di Jakarta bukan hanya Teti seorang? Masih banyak yang bisa menerima cintanya. Ada Endang, ada Detik, ada Atikah, ada Barokah, ada Neneng dan masih seribu gadis yang sanggup menerima aspirasi arus bawah Robi. Namun pemuda dari Kemayoran Jakarta Pusat ini lain. Meski Pak Asman tak setuju dengan kehadirannya, dia masih ngglibet terus apel ke rumah doidi Sumur Batu. Alasannya, kan yang dipacari putrinya, bukan orangtuanya. Selaginya si gadis bersangkutan menerima aspirasi arus bawahnya, peduli setan dengan calon mertua. "Tanpa dukungan atas, cinta-cintaan jalan terus, ini jaman reformasi, Bung!," begitu tekadnya. Durhaka betul si Robi, masak calon mertua disetan-setankan. Dan memang itulah yang terjadi. Untuk menghindari sinar mata kebencian, sengaja Robi main backstreet dalam meneruskan agenda cintanya. Bila di rumah Pak Asman paling cium pipi dan remas tangan, di tempat lain bisa lebih dari itu. Dan si Teti melayani saja, karena dia memang kadung jatuh cinta pada sang salesman motor. Untuk memantapkan cintanya agar semakin lengket macam permen karet, Robi kemudian mengajak doinya masuk ke hotel di daerah Bungur. Di sana, salesman motor itu bisa memperoleh segalanya. Bila di rumah Pak Asman mencium tangan saja suka-suka ditahan Teti, kini minta apa saja semuanya diberikan dengan tulus. Maka Robi pun menikmatinya sambil merem melek, hingga pinggang mau putus rasanya. Apa yang dilakukan Robi, sama sekali tak pernah diperhitungkan Pak Asman. Menurut jalan pikirannya, setelah tak dikasih lampu hijau lagi, salesman motor itu tak pernah lagi menjalin hubungan dengan putrinya. Padahal kenyataannya, setelah tak pernah menampakkan batang hidungnya, justru kemudian "batangan" Robi merajalela ke mana-mana dan berbuat apa saja. Tak terasa, sudah kali Robi berhasil menggauli kekasihnya. Tempatnya selalu di hotel yang sama, sehingga sekali waktu ada tetangga Pak Asman yang memergoki kencan dua sejoli itu. Otomatis dia melaporkan temuan itu pada orangtua. Pak Asman pun naik pitam, tak menyangka si Robi sudah berani berbuat selancang itu. "Haram jadah, anak orang dikeloni sembarangan. Ini pembunuhan karakter namanya," kata Pak Asman mencak-mencak, meski dia tak bisa main pencak. Ini tak boleh dibiarkan, begitu kesimpulan Pak Asman,. Dia segera menyusul ke hotel yang dibuat kencan putrinya. Tapi usaha orangtua yang terluka hatinya itu tak serta merta kesampaian, karena pihak hotel melarang cara-cara seperti itu. Di samping kamar hotel bisa rusak, tamu-tamu yang lain bisa kabur karenanya bila ada orang ngamuk tiba-tiba. Keluarga Kasman lalu didampingi Satpam hotel. Pintu dibuka dengan sopan. Ternyata betul, di dalam ada Robi dan Teti. Mereka nampak belingsatan, karena sedang ketanggungan menjalankan ritual cintanya. Melihat pemandangan seperti itu Pak Asman kembali terbakar emosinya. Robi yang baru saja kerja keras itu dijotosnya keras, sehingga terjerembab. Untung Satpam hotel melerainya dan kasus ini lalu diserahkan ke polisi Polsek Kemayoran. Akan tetapi pihak polisi sendiri kebingungan hendak memberkas perkaranya. Sebab berdasarkan pemeriksaan, Robi menggauli Teti bukan sebagai tindak perkosaan, tapi mau sama mau dan berdasarkan cinta. Karenanya, paling-paling pasal yang bisa ditembakkan hanyalah soal perbuatan tidak menyenangkan. Hanya tak menyenangkan kan buat Asman, bagi Teti-Robi kan mengasyikkan.... |
--
()"" ' )
( ,'o' )")
(,,)(")(")
M'niez,
"Y2nk"
*CERIA 2006*
Ketawa dot Com - http://ketawa.com/
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "e-ketawa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
