Dear,
 
Emang anak jaman sekarang pinter2,
Tapi pinternya "gak pake The" :))
 
Thanks
zall 
 
-------Original Message-------
 
Date: 9/17/2006 10:26:34 AM
Subject: RE: e-ketawa :-) Si pemburu tata surya
 
Wuiiiih hebat euuyy.... anak jaman sekarang teh pinter2 nya'...
 
________________________________
 
From: [email protected] on behalf of tinu
Sent: Sat 9/16/2006 11:22
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: e-ketawa :-) Si pemburu tata surya
 
 
 
 
 
MBM Tempo - Edisi 29/XXXV/11 - 17 September 2006
 
Pendidikan
 
Si Pemburu Tata Surya
 
Seorang bocah desa berhasil mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat
sekolah dasar. Dia ingin menemukan tata surya baru.
 
Irfan berkutat mengerjakan soal-soal eksperimen biologi dan fisika.
Sesekali ia membolak-balik kamus agar lebih memahami beberapa soal yang
disajikan dalam bahasa Inggris. Bocah 10 tahun itu merupakan satu dari
hampir 200 siswa tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang
mengikuti Olimpiade Sains Nasional V di Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu.
 
Dibuka Wakil Presiden Jusuf Ka­lla, olimpiade itu juga diikuti 378
siswa tingkat sekolah menengah pertama dan 700 pelajar tingkat sekolah
menengah atas. Bagi mereka, ajang ini merupa­kan pembuka jalan untuk
mengikuti olim­piade-olimpiade internasional di bidang ilmu eksakta yang
kini ngetren.
 
Soal-soal yang harus Irfan selesai­kan terlihat muskil untuk
dimengerti­ bocah seusianya. Lihat saja. Ia harus meng­ukur sudut
sinar pantul dan sinar datang. Mengukur jarak matahari melalui lubang jarum.
Menjelaskan bagian bunga dan mengukur luas daun. Atau, menghitung banyaknya
molekul CO2 yang diisap daun dalam satu pohon selama 1,5 jam. Soal-soal itu
lazimnya di­sajikan untuk tingkat sekolah menengah per­tama dan
sekolah menengah atas.
 
Dibanding peserta lain, tongkrongan Irfan terlihat kurang meyakinkan.
Tubuh kecilnya yang kurus dengan kulit kehitaman hampir tenggelam dalam
seragam putih-merah yang ia kenakan. Anak itu kelihatan kontras dengan
ba­nyak peserta lain yang gemuk, bugar, dengan kulit cerah berseri. Toh,
ia meng­aku bisa menjawab 80 persen soal biologi dan 60 persen soal
fisika yang diajukan.
 
Bocah bernama lengkap Tri Amat Irfan itu memang berasal dari keluarga
ber­sahaja. Ia tinggal bersama orang tuanya nun di pelosok Boyolali,
Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Gunung, Simo, yang berjarak 40 kilometer dari
pusat kota.
 
Dinding rumah mereka yang mungil cuma seukuran 4x6 meter, terbuat dari
bambu. Setiap malam Irfan biasa tidur beralas tikar. Rumah itu pun tak
memiliki televisi. Bila ingin menyaksi­kan ta­yangan satwa dan film
kartun kesuka­annya, Irfan pergi ke rumah kepala desa yang berseberangan
dengan rumahnya.
 
Ekonomi keluarganya sangat pas-pasan. Slamet, 50 tahun, ayah Irfan,
bekerja sebagai buruh pembelah batu. Ibu­nya, Sumiyem, 50 tahun, mencari
nafkah tam­bahan dengan membantu pekerjaan rumah di tempat Pak Lurah.
"Ibarat orang sakit, ekonomi keluarga kami sudah sangat kritis," kata
Slamet. Buku pelajaran Irfan pun tidak terbeli. "Untung, sekarang ada dana
bantuan BOS di sekolah."
 
Irfan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya hanya tamat
sekolah teknik menengah. Kakak laki-lakinya kini mengais rezeki di
ne­geri jiran Brunei Darussalam. Adapun kakak perempuannya sedang
mencari pekerjaan di Jakarta.
 
Kendati Slamet dan Jumiyem tak tamat sekolah dasar, seluruh warga Desa
Gunung mengenal anak-anak mereka sebagai bintang kelas. Kedua kakak Irfan
menjadi langganan peringkat pertama di SD Negeri Gunung. Begitu pula Irfan
yang selalu menjadi juara kelas di sekolah yang sama. Nilainya untuk semua
mata pelajaran rata-rata 9.
 
Perjalanan Irfan mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam Olimpiade Sains
Nasional cukup berliku. Ia meng­ikuti seleksi dari tingkat kecamatan
sampai kabupaten dengan predikat nomor 1. Di tingkat provinsi, Irfan
menempati pe­ringkat ke-6 dari 70 peserta. Pada seleksi selanjutnya
untuk memilih 10 besar, ia mendapat nomor 9. Pada tahap akhir untuk memilih
6 wakil Jawa Tengah, ia lolos kendati menempati urutan buncit.
 
Sampai seleksi di tingkat provinsi, Irfan sama sekali tidak mendapat
tambahan les pelajaran dari luar sekolah. Satu-satu­nya bimbingan cuma
diperoleh dari guru kelasnya. Setelah lolos seleksi Jawa Te­ngah,
barulah ia mendapat kursus intensif selama beberapa minggu. Tutor kursus
yang diselenggarakan di Balai Diklat Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Dinas
Pendidikan Jawa Tengah adalah beberapa dosen dari Universitas Negeri
Semarang dan Universitas Diponegoro.
 
Prestasi Irfan mengundang sim­pati para guru dan tetangganya. Beberapa
guru sering membelikan buku bacaan baru. Saat harus mengikuti kursus di
Semarang, salah seorang guru memberikan sebuah telepon seluler. Alat
ko­munikasi itu menjadi obat penghibur karena Irfan sangat suka bermain
game. Tentu juga untuk bertukar kabar de­ngan orang tua dan gurunya.
 
Tri Hartati, guru kelas yang selalu mendampinginya, menceritakan muridnya
itu sangat hobi membaca dan amat kreatif. Ke mana-mana ia tak lepas dari
buku. Di sekolah, jam istirahat, terutama jam istirahat kedua, ia habiskan
de­ngan membaca di perpustakaan sekolah yang sangat sederhana. "Kalau
istirahat pertama saya lebih suka jajan," ujarnya. Uang sakunya cuma Rp 500.
Ia juga gemar membuat mainan dari tanah dan ran­ting yang menyerupai
komputer, pesawat telepon, pesawat terbang, dan hewan.
 
Rasa ingin tahu bocah itu pun sangat tinggi. Ia kerap membuat para guru
kelabakan dengan berondongan pertanyaan. Misalnya, ia bertanya kenapa
sebagian besar hewan, kulit atasnya berwarna gelap dan bagian bawah badannya
berwarna putih? Atau, pertanyaan ini: me­ngapa Pluto didepak dari
gugusan pla­net tata surya? "Terus terang, saya belum bisa menjawabnya
karena itu masalah baru," kata Tri.
 
Boleh jadi, Irfan cuma mengetes gu­ru­nya. Soalnya ketika Tempo
menyinggung tentang planet kerdil itu, dengan lancar dia menyerocos. "Karena
sejak ditemukan, Pluto belum melengkapi satu revolusi pun terhadap matahari
sebagai salah satu syarat planet. Selain itu, ukuran Pluto terlalu kecil,
hanya sekitar 2.300 km persegi. Padahal, syarat menjadi planet harus
memiliki luas lebih dari 4.000 km persegi." Dia juga hafal di luar kepala
luas planet-planet lain dan satelit, serta berapa kali mereka sudah
mengitari matahari.
 
Kendati menyukai semua pelajaran, Irfan memilih mengikuti lomba fisika dan
biologi dalam olimpiade. Mengapa bukan matematika? Ia menilai pelajaran itu
membosankan karena hanya berkutat pada rumus. Lain halnya dengan
bio­logi dan fisika yang, meski banyak rumus, kerap berhubungan dengan
alam sekitar. "Sehingga kita belajar bisa sambil refreshing," ujarnya.
 
Pengalaman hidup sebagai anak ke­luarga tidak mampu agaknya mendidik
Irfan bersikap realistis. Dalam olimpia­de kali ini, misalnya, ia tak
mau mematok target menjadi juara. "Bukannya­ sa­ya tidak optimistis,
tapi kalau terlalu­ op­timistis, ternyata tidak juara, kan
ma­­lu. Peserta yang lain juga pintar-­pintar."
 
Pada awalnya ia juga tak bersedia meng­ungkap cita-citanya. "Cita-cita
bisa tinggi, tapi apakah orang tua bisa membiayai saya sekolah?" katanya
polos. Ke­tika diberi tahu bahwa bila berhasil menjadi juara olimpiade
ia akan mendapat beasiswa, barulah ia berani menuturkan mim­pinya. "Saya
ingin menjadi profesor atau astronom." Ia berhasrat menemukan sis­tem
tata surya baru. Kenapa?
 
Ia mengatakan alam semesta terdiri atas jutaan galaksi. Dalam galaksi kita
saja terdapat jutaan bintang. Matahari sebagai pusat tata surya kita
merupa­kan bintang yang paling kecil, luasnya hanya 1,5 juta kilometer.
"Jadi, sangat mungkin ditemukan satu sistem tata surya yang baru," ujarnya.
 
Bocah kelahiran 19 Februari 1996 ini tak minder bergaul. Ia ramah dan
mudah berteman. Saat orang tua dan guru-gurunya menjenguk di arena
olimpiade, ia mengajak mereka berkunjung ke kamarnya di Hotel Patra,
Semarang. Kamar itu ia tempati selama sepekan bersama tiga peserta lainnya.
 
Irfan memberanikan orang tuanya yang cuma bersandal jepit dan semula
canggung memasuki hotel berbintang empat tersebut. "Ayo Pak, Mak, lihat
ka­marku. Bagus kok." Seolah ia ingin me­nunjukkan, meski anak desa,
ia bisa mencicipi hotel berbintang.
 
Puas bercengkerama dengan sang anak, Slamet dan Jumiyem pamit pulang. Saat
meninggalkan hotel, mereka tak bisa menyembunyikan keharuan kepada anaknya.
"Bapak hanya bisa mendoa­kan, yo, Le...," kata Slamet. Bergantian mereka
memeluk sang anak. Kendati menggantungkan harapan tinggi, me­reka
mengaku tidak akan kecewa jika ternyata Irfan gagal. "Mewakili Jateng saja
sudah bagus. Lha, wong kami tidak pernah mengarahkan," ujarnya.
 
Setelah orang tua dan guru-guru­nya pulang, Irfan bertutur lirih
kepada Tempo, bila dewasa kelak ingin membuat­kan rumah yang bagus untuk
orang tuanya. "Tidak seperti rumah gedeg yang kami tinggali saat ini."
Cita-cita yang tak terlalu muluk untuk anak yang memiliki otak secemerlang
dia.
 
Nugroho Dewanto, Sohirin ( Semarang )
Free Halloween Emoticons for your email - By IncrediMail! Click Here! __._,_.___

Milis e-ketawa : tempat orang2 keren yg NO SARU & NO SARA

peace yo..!!

Ketawa dot Com - http://ketawa.com/




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke