Pak RR yth. Silahkan click www.tenaga.com.my dimana akan tampil bahwa Tenaga Nasional Berhad merupakan salah satu dari sepuluh besar perusahaan masuk bursa malaysia.
http://www.tnb.com.my/tnb/highlights.php?Id=280 Jadi tanpa mengurangi rasa hormat kepada kaum "anti neo-lib" .. Sudah saatnya bagi warga NKRI untuk mendorong agar saham2 PLN bisa diperjualbelikan di bursa efek indonesoa .. Yang akan memberikan kesempatan bagi seluruh "pelanggan PLN" menjadi "pemilik PLN" sehingga "manajemen PLN" akan bisa "lebih cepat tanggap" terhadap "keluhan pelanggan2 sekaligus pemilik2 PLN" .. Di dunia modern mau itu yg neo-lib atau bukan perusahaan pemasok listrik dan air yang tidak beroperasi via "mekanisme pasar rasional" tidak akan pernah optimal kinerjanya .. Sudah waktunya bagi PLN untuk belajar dari TELKOM bagaimana menjadi BUMN raksasa yang menguntungkan sekali dan akhirnya masuk bursa efek indonesia. Lebih Cepat Lebih Baik! Bersama Kita Bisa Lanjutkan! PT PLN (Persero) Tbk. dengan persentase saham yang diperdagangkan di bursa minimal 40% .. Mau?! Salam Keadilan Distribusi Listrik dan Akses Informasi NKRI! HM Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -----Original Message----- From: <[email protected]> Date: Tue, 10 Nov 2009 04:54:27 To: <[email protected]> Subject: bumn semestinya andalan bangsa:publik service/infrastruktur [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir? dear all: ada kalanya memang liberalisasi perusahaan BuMN dan ada listrik swasta misalnya... namun semestinya seperti dinegara lain singapura, malaysia dll... biasanya public service adalah monopoli dan dipegang oleh negara... semestinya negara punya kedaulatan dan rakyat sebagai pembayar pajak punya suara dan punya hak untuk minta pertanggung jawab pada PLN..bukan sebaliknya dimana rakyat harus mengemis dan hanya jadi mainan oknum saat tagihan listriknya telat bayar misalnya... disini sebetulnya peran leadership dari pemerintah kita...semestinya bisa menegur PLN agar membrikan servis yang baik kepada yang sudah bayar melalui pajak dan melalui abonemen listrik. itulah tugas BUMN dan itulah hasil dari UUD 1945 pasal 33 mengenai hak masyarakat atas public services and public goods dan SDA semuanya harus untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat bukan sebaliknya. jadi semestinya memang publik infrastruktur tetap dikelolah oleh negara , namun rakyat, DPR dan pemerintah harus bisa mengontrol BUMN yang bergerak dibidang publik infrastruktur... seperti halnya PT Telkom dll... yang sudah lebih profesional. semestinya ini prioritas utama pada national summit 2009 dan program 30 hari atau 100 hari pemerintah SBY. salam, rr - apwkomitel --- ________________________________ From: Adhytia Wisnu Sasmita <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, November 10, 2009 7:41:59 PM Subject: Re: [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir? Untung nya Telkom punya kompetitor ya bu :) Adhytia Wisnu Sasmita Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT ________________________________ From: "Sri Safitri" <safi...@telkom. co.id> Date: Tue, 10 Nov 2009 09:58:34 +0700 To: <dpr...@yahoogroups. com>; <apwkomi...@yahoogro ups.com> Subject: [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir? Setuju Papa Fariz. Ini juga diskusi pagi ini dengan suami di perjalanan menuju kantor. Karena tanpa adanya kompetisi, PLN cuek bebek listrik byar pet, hotline gak angkat, lampu penerang jalan mati padahal tiap pelanggan ditagih 3% atas total tagihan untuk membiayai lampu jalan… ________________________________ From:dpr...@yahoogroups. com [mailto: dpr...@yahoogroups. com ] On Behalf Of Papa Fariz Sent: Tuesday, November 10, 2009 9:49 AM To: undisclosed- recipients: Subject: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir? Assalaamu 'alaikum, 7 tahun tinggal di Singapore , baru sekali saja saya ngalamin mati lampu. Waktu itu tahun 2002, dimana pasokan gas LNG dari Natuna yang jadi sumber listrik di sini tersendat. Dan ketika alirannya coba dipindahkan ke pipa cadangan, ternyata valve-nya macet. Alhasil, selama 2 jam, setengah dari Singapore mati lampu total. Wew, surprise, saya keluar rumah dan lihat-lihat, ternyata memang gelap total. Besoknya ihak PLN sini minta maaf. Orang pun banyak yang komplain, karena dengan 2 jam saja, pengauh secara ekonomis ada. Gimana dengan industri yang lagi bikin adonan, trus tiba-tiba mati listrik? Hancur dong tuh adonan. Lalu tempat maknan yang menyediakan makanan semacam sushi begitu, bisa busuk dong ikannya. Yang punya es krim, kalo gak siap es cadangan, bisa meleleh dong. Bla bla bla, yang pasti ada kerugian ekonominya. Saya sendiri lupa berapa taksiran kerugian saat itu. Baru 2 jam Black Out saja, orang-orang sini sudah rame dan komplain. Gimana kalo mereka tinggal di Jakarta yah? Akhir-akhir ini di Jakarta sedang diadakan pemadaman bergilir setiap malam. Apa, pemadaman kok digilir? Emangnya istri muda, pakai acara digilir-gilir segala? Ck ck ck. Emang gendeng PLN kita, tiap hari mati lampu. Jakarta Selatan yang katanya kemarin gak mati lampu, ee tiba-tiba mati juga. Kok bisa-bisanya PLN dengan seenak udelnya melakukan pemadaman bergilir, apalagi tanpa jadwal yang jelas, yakni jam berapa sampai jam berapa. Ini IBUKOTA brur, bukan daerah terpencil. Andaikan ibukota saja sudah kondisinya kayak gini, jangan tanya gimana dengan daerah terpencil? Apakah PLN gak menghitung besar kerugian akibat pemadaman listrik itu? Apakah mereka mau mengganti kerugian kalau ada kerusakan di peralatan elektronik kita? Tapi di satu sisi, mereka langsung memutuskan aliran listrik ketika kita telat bayar, begitu komplain di sana-sini. Sebenarnya capek juga teriak-teriak, karena percuma tidak akan didengarkan oleh mereka. Alasan mereka banyak banget, yang trafo ini rusak lah, besok trafo yang satu lagi rusak. Besoknya PLT yang ini rusak bla bla bla. Sampe capek dengernya. Kata orang Jepun, "ii wake ikura demo tsukureru" alias alasan, berapa banyak pun bisa di buat. Kita sebagai pelanggan gak mau tau alasan mereka, yang penting mereka kudu menjalankan kewajibannya memasok listrik kitsa sesuai kebutuhan. Mereka minta supaya kita berhemat saat beban puncak. Ya susah dong, kalau kita mau hemat, tapi yang lain gak hemat, percuma dong? Masak kita yang kudu berkorban. Itu kan tugas PLN menyediakan pasokan listrik. Kalau memang alasan tarif yang ada terlalu murah, bukankah kini tarif sudah mulai naik? PLN kan punya PR yang bisa menjelaskan secara gamblang sebab-sebab kenaikan andaikan mereka ingin menaikkan tarifnya. Dengan tarif yang tinggi, orang pun akan dipaksa berhemat, dan itu terjadi dengan sendirinya. Tinggal pinter-pinternya mereka menjelaskan kepada masyarakat. Tentang alasan banyak pencurian listrik, kenapa hal itu gak diurus dan dibahas denga pihak kepolisian, karena hal itu sudah menyangkut kriminal? Gak bisa dong dengan alasan banyak listrik bocor, lalu mereka pengen mengadakan pemadaman bergilir. Dan di masyarakat juga ada cibiran, bahwa justru petugas PLN sendiri yang main mata untuk membantu pencurian listrik. Ini urusan internal mereka juga dan dengan sub-con mereka. Bener-bener gak habis pikir, kenapa semua ini bisa terjadi dan di ibukota negara pula. Trafo yang tiba-tiba meletus, itu karena maintenance- nya gak bener. Jangan ngeles dengan bilang takdir yah? Kasian yang punya nama takdir, dijadikan kambing hitam melulu. PLN sendiri seperti amatiran saja, menunggu sampai terjadi sesuatu, semisal trafo bermasalah dll, baru menanganinya. Kenapa mereka gak berpikir tindakan preventifnya dulu. Mereka bisa bikin list masalah yang ada trus merumuskan pencegahannya. Siapkan pula spare parts cadangan dll, jadi begitu ada kejadian bisa langsung dibetulkan tanpa perlu banyak waktu. Yang beginian mah, gak seharusnya diajarkan lagi. Tentang listrik mati, ada kejadian memalukan bulan lalu, saat saya bersama rekan Japanese saya berkunjung ke Cibitung. Di satu perusahaan manufatkturing besar, ternyata sedang mati listrik, terkena pemadaman oleh PLN, sehingga meeting kami pun terpaksa dibatalkan. Sialnya, ini pabrik gede gak punya genset pula. Manufakturing pun tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang Presdir, ngamuk bukan kepalang, dan mengumpulkan seluruh manajer. Dia tanya, apakah memang PLN yang salah karena gak ngasih tau ada pemadaman bergilir, ataukah ada stafnya yang lalai dengan tidak menyampaikan informasi dari PLN tentang pemadaman bergilir. Ini kaitannya dengan manufakturing, shipping, upah karyawan, hari pengganti dll. Kalau diduitin ya gak sedikit. Bulan sebelumnya di Cibitung juga, saat saya sedang rapat dengan seorang Japanese, tiba-tiba mati lampu. Rapat pun bubar karena sama sekali gelap dan panas banget karena AC mati. Orang Jepun pun pasrah dan cuma bisa geleng-geleng kepala. Memang seharusnya PLN dikasih kompetitor. Di salah satu kawasan industri di Batam, ada perusahaan swasta yang menangani pasokan listrik ke situ. Mereka men-charge lebih mahal, tapi mereka punya gareement dengan para perusahaan bahwa mereka akan dituntut ganti rugi dengan hitungan sekian-sekian, kalau ada mati lampu dan menyebabkan kerugian di industri manufakturing. Di Cikarang saya dengar juga begitu. Dengan kondisi seperti ini, akhirnya perusahaan swasta itu mati-matian untuk mensuplai listrik sebaik-baiknya dan bersikap profesional. Beda banget sama PLN yang gak mau tau kerugian akibat pemadaman bergilir. Mereka punya hotline, tapi saya pernah coba menelpon hotline mereka, gak ada tuh yang ngangkat. Busyet dehh, kalau gitu ngapain ada nomor hotline, bila ada ada yang mau ngangkat. Mungkin petugas resepsionisnya tau bahwa mereka cuma jadi bemper PLN yang bakal dimaki-maki oleh para pelanggang. Kasian petugas yang orang kecil itu karena kena semprot melulu. Solusinya tak lain dan tak bukan, PLN harus di"Swastanisasi". Bukan dalam artian didivestasi, melainkan kinerjanya diperbaiki seperti swasta, sehingga benar-benar bagus dan profesional. Lihat deh PLN Singapore, bener-bener bagus kerjanya dan profesional, padahal mereka itu BUMN milik Pemerintah juga. Alternatif lain, PLN harus dikasih kompetitor. Tapi saya gak yakin ini solusi yang baik. Malah justru ini akan mematikan PLN karena mereka belum siap ke sana dan orang-orang, terutama petingginya boleh jadi belum punya konsep yang jelas untuk bersaing, apalagi selama ini enak-enakan saja. Liat tuh kasus TVRI dan RRI. Begitu TV swasta dibolehkan jadi kompetitor mereka, habislah TVRI dan RRI. Di Singapore, kadang saya masih liat TVRI, di TV cable channel 160. Jauhhh banget kualitas, pemilihan dan pengelolaan acaranya dibandingkan RCTI dan SCTV. Wajarlah kalau kini TVRI tertinggal jauh oleh TV-TV swasta kita. PLN paling kayak begitu nantinya. Aye yakin banget. Karenanya kasih chance mereka dulu dengan men-swastanisasikan kinerjanya. Kalau memang masih ndableg, barulah dibuka pintu untuk listrik swasta masuk. Biar tau rasa mereka nantinya. Biar mereka gak seenaknya menggilir, karena sudah punya saingan. Wassalaam, Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet Web Blog: http://papafariz. blogspot. com Face Book: boedoe...@gmail. com ============ ========= ========= === Mau GRATIS TELPON LOKAL, DISCOUNT 50% SMS, DISCOUNT 20% SLJJ, dan DISCOUNT FLEXI MILIS? Ikuti Dahsyatnya FLEXI KOMUNITAS. Ketik CREATE<spasi>[NAMA GRUP], sms ke 345. Contoh: CREATE SMU2, sms ke 345. Informasi selanjutnya : - hubungi 147 - http://www.telkomfl exi.com - ketik INFO, sms ke 345 ============ ========= ========= === This Email has been scanned : Anti Virus ============ ========= ========= === ============ ========= ========= ====== Mau GRATIS TELPON LOKAL, DISCOUNT 50% SMS, DISCOUNT 20% SLJJ, dan DISCOUNT FLEXI MILIS? Ikuti Dahsyatnya FLEXI KOMUNITAS. Ketik CREATE [NAMA GRUP], sms ke 345. Contoh: CREATE SMU2, sms ke 345. Informasi selanjutnya: - hubungi 147 - http://www.telkomfl exi.com - ketik INFO, sms ke 345.
