Kawan2 Milis Yth, Era Ganyang-Mengganyang bukan eranya lagi kini.
Yang kita perlukan adalah kehebatan Strategi Kita dalam menghadapi Malaysia dalam memperebutkan penentuan wilayah2 perbatasan Indonesia-Malaysia. Diperlukan kecerdasan otak untuk dapat memenangkan persaingan, keunggulan strategi Indonesia. Saat ini Malaysia sudah punya strategi jitu, yang pernah ia gunakan untuk memenangkan persaingan di tingkat Mahkamah Arbitrasi Internasional beberapa tahun yang lalu, karena kekalahan kita dalam persiapan strateginya, yaitu terlepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena pada akhirnya pihak Arbitrator melihat kenyataan dilapangan, yaitu di pulau2 itu secara de-fakto sudah dikuasai oleh Malaysia secara sosial, budaya, bisnis dan perekonomiannya. Rakyat di pulau2 itu sudah memamakai uang Ringgit Malaysia sebagai alat perdagangan mereka, bahasa melayu logat Malaysia, administrasi wilayah sudah ada secara de-fakto, layanan biro-biro wisata Internasional untuk mengunjungi wilayah2 itu juga sudah dipromosikan oleh Biro2 Perjalanan di Malaysia ke luar negeriĀ .. jadi praktis kedua pulau itu adalah wilayah Malaysia. Perundingan dua-pihak Indonesia-Malaysia yang sekarang sedang berlangsung hanyalah bagian dari taktik Malaysia untuk mengulur-ulur waktu, sebab dipastikan tidak akan ada kesepakatan pembagian wilayah diperbatasan kedua negara itu, sebab wilayah yang di-klaim Indonesia adalah berdasarkan kesepakan PBB tentang ZEE, sedangkan Malysia tidak mengakuinya, sebab ia tidak ikut tandatangan kesepakatan PBB itu. Malaysia memakai perbatasan wilayahnya berdasarkan aturan yg ada sebelumnya, yang sangat menguntungkannya. Karena pada akhirnya perundingan yang hanya melibatkan dua-pihak Indonesia-Malaysia akan menemui jalan buntu. Akhirnyaperistiwa Sipadan-Ligitan akan terulang lagi. Kedua negara akan meminta bantuan Arbitator Internasional untuk memecahkan jalan buntu itu, yang akan memenangkan Malaysia lagi, bilamana kita tidak mau belajar dari pengalaman masa lalu, tidak punya strategi dan taktik yang lebih jitu dari pada Malaysia! Strategi dan Taktik kita untuk memenangkan penguasaan wilayah2 perbatasan harus lebih baik dari pada Malaysia. Kita dapat mengerahkan pemuda-pemudi Indonesia sebagai pionir2 untuk membangun wilayah2 perbatasn itu secara cepat dengan dukungan dana dan semangat membangun dari para Pengusaha Indonesia dan segenap 250-juta Rakyat Indonesia. Kita ciptakan wilayah2 perbatasan itu menjadi lebih makmur dari pada wilayah Malaysia diseberangnya, dengan fasilitas2 telekomunikasi, TV, Radio, transportasi yg baik, wisata, hiburan dan sarana2 penunjang lainnya. Dengan demikian, bukannya para TKI yang akan mencari kerja ke Malaysia, malah sebaliknya para TK Malaysia yang akan mencari kerja di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu yg sudah makmur. Lalu siapakah para pemuda-pemudi Indonesia yang akan jadi pionir pembangunan Wilayah Perbatasan itu? Yang petama adalah para TKI yang sekarang sedang bekerja di Malaysia yg sudah punya pengalaman dilapangan ber-tahun2 untuk membangun negeri Malaysia (contoh: Twin Tower di Kuala Lumpur adalah karya para TKI Indonesia). Para TKI itu tentu akan lebih memilih bekerja di wilayah perbatasan, dari pada di Malaysia, sebab mereka sekarang diperlakukan sebagai Warga Kelas Tiga, diperlaukukan kasar, bekerja tanpa jam kerja, digaji sangat minim, dibentak, dicambuk, disetrika, disiksa sampai cacad, atau sampai meninggal dunia (sudah banyak kasus2nya). Tentu para pionir2 pemuda-pemudi Indonesia akan mendapatkan imbalan jauh lebih baik dari pada kalau bekerja sebagai TKI di Malaysia, ditambah mereka sangat bangga sebagai pionir yang dihormati oleh segenap Rakyat Indonesia! Perundingan bilateral yang ada tetap saja dijalankan, tetapi bukan lagi menjadi tujuan utama atau harapan utama. Ini hanya seperti yang dilakukan oleh Malaysia, sebagai taktik untuk mengulur-ulur waktu saja! Silahkan saran saya ini segera diteruskan ke Bapak Presiden SBY untuk segera di-implementasikan, sehingga kita bisa mantap dan tenang, sebab sudah ada Strategi dan Taktik yg jitu untuk memenangkan persaingan perbatasan Indonesia-Malaysia. Tidak perlu lagi demo2 yang hanya menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktu, serta dapat merugikan perekonomian Indonesia. Semoga bermanfat bagi kemajuan bangsa dan negara. Wassalam, Sumitro Roestam
