Tetapi kapan pendapatan masyarakat bisa 50% (saja) dari rata-rata
pendapatan pasaran?

mungkin bukan itu tugasnya pemerintah tetapi tugas masyarakat sendiri
memperjuangkan

nasibnya untuk tetap bisa bertahan hidup ya..memancing kriminalitas dengan
memperbesar

gap kebutuhan dasar dengan pendapatan maksimum..
  -----Original Message-----
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  Sent: Wednesday, March 02, 2005 11:28 AM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [ekonomi-nasional] Kenaikan BBM Cekik Rakyat Kecil



  Harga BBM dinaikkan dari yang tadinya 64% dari harga pasar jadi 85% dari
harga pasar, jadi 15%  lagi (sekali 'penyesuaian' lagi?) maka tidak lagi
ada alasan kenaikan BBM karena subsidi.....

  ----- Original Message -----
  From: Ambon <[EMAIL PROTECTED]>
  Date: Wednesday, March 2, 2005 2:59 am
  Subject: [ekonomi-nasional] Kenaikan BBM Cekik Rakyat Kecil

  > 
  > http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=104209
  > 
  > 
  >            Kenaikan BBM Cekik Rakyat Kecil
  >            @ Kompensasi Gagal, Penduduk Miskin Collapse
  >            Oleh Ricky Rachmadi 
  > 
  > 
  >             
  >            Rabu, (02-03-'05)
  >            Tepat pukul 00.00 WIB, 1 Maret 2005, pemerintah 
  > mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam 
  > negeri. Walaupun banyak kalangan keukeuh menentang, kenaikan tetap 
  > dilakukan rata-rata secara keseluruhan mencapai 29%. Tak pelak 
  > lagi, terjadi pro-kontra antara pemerintah dan masyarakat yang 
  > menolak kebijakan itu. 
  > 
  >            Maka, pada hari-hari ini, pasca kenaikan harga BBM pun 
  > penuh diwarnai dengan aksi-aksi unjukrasa oleh berbagai elemen 
  > masyarakat. Kita berharap, aksi-aksi protes dan demonstrasi di 
  > berbagai tempat yang merata di seluruh Tanah Air itu tetap berada 
  > dalam koridor yang benar dan tetap murni menyuarakan jeritan hati 
  > nurani rakyat. 
  > 
  >            Pemerintah harus sungguh-sungguh mendengar suara 
  > rakyat. Kenaikan harga BBM ini memang pil pahit dan sungguh pahit 
  > bagi masyarakat miskin di negeri ini. Untuk meminimalisasi dampak 
  > negatif atas kenaikan harga BBM ini, pemerintah melancarkan 
  > program pemberian dana kompensasi pengurangan subsidi BBM yang 
  > jumlahnya sebesar Rp 17,8 triliun yang dijabarkan dalam berbagai 
  > program, terutama bidang pendidikan, kesehatan masyarakat, dan 
  > pemenuhan kebutuhan pokok. 
  > 
  >            Sebelum terjadi kenaikan harga BBM ini, sesungguhnya 
  > ada beberapa skenario kenaikan harga yang direkomendasikan. 
  > 
  >            Pertama, kenaikan harga berdasarkan kecenderungan 
  > fluktuasi harga minyak internasional. Ini, antara lain, untuk 
  > menghindari potensi penyelundupan BBM ke negara tetangga. Skenario 
  > kenaikan harga BBM yang mungkin direkomendasikan adalah naik tiga 
  > kali lipat dari harga sekarang. 
  > 
  >            Kedua, jika defisit anggaran dijadikan referensi maka 
  > skenario kenaikan harga BBM yang mungkin direkomendasikan adalah 
  > dua kali lipat dari harga sekarang. 
  > 
  >            Ketiga, jika faktor dampak sosial, ekonomi, dan 
  > politik yang dipertimbangkan, maka kenaikan harga BBM yang mungkin 
  > masih dapat ditoleransi adalah kenaikan sebesar 40% dengan proses 
  > dua tahap kenaikan, yakni rata-rata 20% setiap tahapan. 
  > 
  >            Kini pemerintah telah memutuskan kenaikan harga BBM 
  > rata-rata secara keseluruhan sebesar 29%. Padahal, kenaikan yang 
  > diperkirakan sangat wajar adalah bertahap sebesar 20%, bukan lebih 
  > dari itu, karena diperkirakan akan sangat mencekik rakyat kecil. 
  > 
  >            Langkah menaikkan harga BBM ini merupakan keputusan 
  > yang berani dengan risiko yang tidak kecil. Sebab, apabila salah 
  > perhitungan dampaknya akan seperti tsunami dahsyat yang 
  > meluluhlantakkan kehidupan dan perekonomian di dalam negeri, 
  > bahkan mungkin juga dapat "menjatuhkan" pemerintah (citra, 
  > kredibilitas, dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah). 
  > 
  >            Collaps
  > 
  > 
  >            Tentang kenaikan harga BBM ini, mari kita tinjau 
  > berdasarkan faktor daya survival masyarakat miskin, khususnya 
  > masyarakat miskin yang berpendapatan 2 dolar AS dan 1 dolar AS per 
  > hari atau dalam konversi rupiah sekitar Rp 20.000,- dan Rp 10.000 
  > per hari. Menurut World Bank Report dalam sebuah laporan berjudul 
  > "East Asia Update 20 April 2004," jumlah penduduk miskin di 
  > Indonesia yang perlu mendapatkan perhatian atas kenaikan harga BBM 
  > adalah penduduk yang berpendapatan 1 dolar AS per hari (standar 
  > garis kemiskinan World Bank) yang di Indonesia berjumlah 15.5 juta 
  > pada tahun 2002, 13.6 juta pada tahun 2003, dan 12.9 juta pada 
  > tahun 2004. Selain itu, penduduk yang berpendapatan 2 dolar AS per 
  > hari yang di Indonesia berjumlah 115.6 juta pada tahun 2002, 109.9 
  > juta pada tahun 2003, dan 107 juta pada tahun 2004. 
  > 
  >            Data-data itu menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin 
  > di Indonesia terus berkurang setiap tahun. Jika harga BBM tidak 
  > dinaikkan atau subsidi BBM tidak dicabut, maka diprediksikan 
  > penduduk yang berpendapatan 1 dolar per hari akan turun menjadi 
  > 12.3 juta pada tahun 2005. Sedangkan yang berpendapatan 2 dolar 
  > per hari akan turun menjadi 104 juta pada tahun 2005. Jadi jelas 
  > menunjukkan bahwa penduduk miskin berkurang sekitar 3.6 juta jiwa. 
  > 
  >            Namun, apabila harga BBM dinaikkan lebih dari 20%, 
  > misalnya, sebesar 30-40%, dapat diprediksikan - melalui metoda 
  > simulasi melalui program komputer dari model ekonomi nasional - 
  > bahwa setiap bulannya pendapatan penduduk miskin akan berkurang 
  > sebesar 10%. Artinya, jika pada Maret harga BBM dinaikkan maka 
  > dapat diramalkan pada beberapa bulan ke depan, misalnya, bulan 
  > Juni 2005, penduduk yang tadinya berpendapatan 2 dolar AS per hari 
  > akan merosot menjadi penduduk miskin dengan pendapatan 1 dolar AS 
  > per hari. 
  > 
  >            Situasi dan kondisi penduduk miskin ini akan makin 
  > berat manakala faktor kebutuhan biaya pendidikan akibat tahun 
  > ajaran baru yang akan berlangsung pada Juli-Agustus 2005 juga 
  > diperhitungkan dan dimasukkan sebagai faktor yang memerosotkan 
  > daya beli dan kemampuan pembayaran per individu kepala keluarga. 
  > Jika upaya-upaya "penyelamatan" penduduk miskin dengan terobosan 
  > lewat dana kompensasi BBM tidak tepat sasaran, maka diprediksikan 
  > beberapa bulan ke depan masyarakat miskin Indonesia akan makin 
  > menderita, bahkan mungkin collapse. 
  > 
  >            Dari pengamatan lapangan (survey) dapat diketahui 
  > bahwa komposisi pengeluaran keluarga yang berpendapatan Rp 600.000 
  > per bulan atau 2 dolar AS per hari adalah 80% untuk biaya makan 
  > dan kebutuhan pokok lainnya. Sedangkan yang 20% digunakan untuk 
  > biaya transportasi, kebutuhan anak sekolah dan kesehatan. Jika 
  > harga BBM naik 40%, dapat diprediksikan bahwa biaya transportasi 
  > meningkat, demikian juga harga-harga kebutuhan pokok lainnya. 
  > Dengan demikian maka setiap bulannya kurang lebih 10% pendapatan 
  > akan ditelan oleh dampak kenaikan harga-harga itu. Atau, jika 
  > tidak, setiap keluarga harus melakukan program pengaturan jadual 
  > bepergian ke tempat kerja atau anak-anak harus menyesuaikan 
  > pengeluaran biaya transportasi dengan modus transport yang lebih 
  > murah atau berjalan kaki jika hendak ke sekolah atau ke tempat 
  > lainnya. 
  > 
  >            Proses penyesuaian pengeluaran ini pada gilirannya 
  > akan melahirkan daya beli yang merosot dari kondisi sebelumnya 
  > atau secara bertahap terjadi proses pemiskinan kembali, sehingga 
  > yang miskin bertambah miskin. Demikianlah, apabila kalangan 
  > penduduk miskin tidak sungguh-sungguh terjangkau program 
  > kompensasi kenaikan harga BBM, mereka akan makin menderita hidup 
  > di bawah standar minimum, dan akhirnya menuju collapse. Karena 
  > itu, pengawasan yang ketat oleh semua pihak mutlak dilakukan agar 
  > program kompensasi yang dicanangkan pemerintah tepat sasaran. 
  > 
  >            Untuk itu pula, sudah selayaknya DPR menggunakan hak 
  > konstitusinya, yaitu "Hak Angket" untuk mencari solusi politik 
  > terhadap masalah ini. Aneh, di tengah tingginya harga minyak dunia 
  > saat ini, produksi minyak kita kurang dari 1 juta barel per hari. 
  > Mengapa kita tidak berupaya meningkatkannya? *** 
  > 
  >            (Penulis adalah Kepala Litbang
  >            Harian Umum Suara Karya)  
  >     
  >     
  > 
  > ++++
  > 
  >            http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=104153
  > 
  > 
  >            Dampak Politis Kenaikan Harga BBM
  >            Oleh Thomas Koten 
  > 
  > 
  > 
  >            Rabu, (02-03-'05)
  >            Ada sebuah persoalan serius bagi bangsa ini dan sangat 
  > ramai dipersoalkan oleh publik negeri ini, yaitu persoalan harga 
  > bahan bakar minyak (BBM). Bahwasanya, harga BBM di negeri ini 
  > masih terlalu rendah dibandingkan dengan harga BBM di luar negeri. 
  > Di samping itu, dikatakan, subsidi pemerintah terhadap BBM terlalu 
  > tinggi dan sangat membebani APBN (Anggaran Pendapatan Belanja 
  > Negara), sehingga pengurangannya menjadi sesuatu yang tidak bisa 
  > ditawar-tawar lagi. Dan, konsekuensi dari itu adalah menaikkan 
  > harga BBM. Upaya menaikkan harga BBM ini dilakukan secara bertahap 
  > hingga mencapai target ideal dari berbagai aspek ekonomi. 
  > 
  >            Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mengumumkan 
  > kenaikan harga BBM sebesar rata-rata 29% secara keseluruhan per 1 
  > Maret 2005. Seperti dijelaskan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, 
  > kenaikan harga BBM ini akan diikuti dengan pemberian dana 
  > kompensasi pengurangan subsidi sebesar Rp 17,8 triliun lewat 
  > berbagai program bidang pendidikan, kesehatan masyarakat, dan 
  > pemenuhan kebutuhan pokok. (Suara Karya, 1 Maret 2005). Yang 
  > jelas, kenaikan harga BBM kali ini merupakan bagian dari upaya 
  > yang dilakukan secara bertahap untuk mencapai target ideal dari 
  > berbagai aspek ekonomi. 
  > 
  >            Namun, apa yang terjadi? Setiap kali tatkala rencana 
  > kenaikan harga BBM itu digulirkan, langsung menunai protes keras 
  > di mana-mana. Sekarang pun, ketika pemerintah berencana hendak 
  > menaikan harga BBM pada awal pekan bulan Maret 2005 ini, aksi 
  > penolakan sudah mulai terlihat dan terdengar di mana-mana. Aksi 
  > demonstrasi pun sudah mulai marak digelar, baik di gedung DPR di 
  > Senayan, maupun di Istana Negara. Kini, setelah kenaikan BBM benar-
  > benar diumumkan, berbagai aksi protes dan demo merebak kian keras 
  > di hampir seluruh bumi Nusantara. 
  > 
  >            Pertanyaannya, bagaimana jika kenaikan harga BBM kali 
  > ini memicu aksi penolakan lewat demonstrasi yang berkembang 
  > menjadi aksi massal yang sangat serius? Bagaimana kita melihat dan 
  > menelaah persoalan ini secara lebih menyeluruh sambil menimbang 
  > apa yang seharusnya dilakukan? 
  > 
  >            * * *
  > 
  >            Inti penolakan itu adalah mengurangi subsidi BBM yang 
  > secara langsung menaikkan harga BBM tidak relevan dengan kondisi 
  > ekonomi saat ini yang masih megap-megap. Jadi, keputusan 
  > pemerintah mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM sama saja 
  > dengan aksi "bunuh diri ekonomi". Sebab, social cost yang harus 
  > ditanggung oleh bangsa dan masyarakat terlalu tinggi. Misalnya, 
  > sebagai komoditas dengan sifat price leader, BBM tentu akan 
  > menyeret harga-harga barang dan jasa, seperti kenaikan harga 
  > sembilan bahan pokok (sembako) dan kenaikan biaya transportasi. 
  > Semua itu, bagi rakyat kecil berarti, harus menambah lobang ikat 
  > pinggangnya untuk dapat mengikat perutnya yang semakin lapar. 
  > 
  >            Alasan pemerintah sangat klise setiap kali hendak 
  > menaikkan harga BBM, misalnya, terhadap beban subsidi yang kini Rp 
  > 73,55 triliun setahun. Jadi, pemerintah mengajak rakyat seluruhnya 
  > untuk ikut meringankan beban APBN 2005 yang sedang payah. Ini 
  > untuk melanjutkan pembangunan nasional yang kini sudah mati suri. 
  > 
  >            Dan, untuk itu, rakyat miskin yang selama ini dianggap 
  > dirugikan dengan adanya subsidi BBM diberikan kompensasi khusus 
  > untuk meringankan beban dari efek domino kenaikan harga BBM. 
  > Misalnya, pemerintah menetapkan delapan program kompensasi 
  > kenaikan harga BBM itu. Dalam APBN 2005 dicantumkan dana 
  > kompensasi itu Rp 7,3 triliun, dan masih akan ditambah lagi hingga 
  > Rp 17,9 triliun. Antara lain pemberian beasiswa, jaminan pelayanan 
  > kesehatan, pemberian beras rakyat miskin dan sebagainya. 
  > 
  >            Menggunakan logika dan tafsir awam, kita dapat 
  > mempertanyakan bobot kebijakan tersebut. Apakah sudah tepat 
  > kebijakan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan cara itu? Apakah 
  > pendidikan yang katanya gratis dalam program wajib belajar 9 
  > tahun, dan beasiswa bagi rakyat miskin, dan biaya 
  > kesehatan/pengobatan gratis pada kelas ekonomi setiap rumah sakit 
  > seperti yang pernah dikatakan Menteri Negara Perencanaan 
  > Pembangunan Nasional Sri Mulyani Indrawati, benar-benar terwujud? 
  > 
  >            Ingat bahwa rakyat hingga saat kini terus-menerus 
  > merasa dicekoki dengan berbagai janji manis alias janji gombal 
  > dari pemerintah. Janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri 
  > tentang perubahan yang sudah dapat terlihat pada 100 hari pertama 
  > masa kekuasaannya, khususnya mengenai pemberantasan korupsi, yang 
  > pernah disampaikannya pada masa kampanye pemilihannya, hingga saat 
  > ini belum direalisasikannya pula. Belum lagi janji kosong 
  > pemerintah setiap kali hendak menaikkan harga BBM, yaitu 
  > meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil lewat dana kompensasi 
  > kenaikan harga BBM, tetapi dalam kenyataannya rakyat kecil semakin 
  > terbebani hidupnya dengan kenaikan harga BBM itu. 
  > 
  >            Jadi, menurut hemat kita, menaikkan harga BBM memang 
  > perlu, namun tidak diharuskan sekarang ini saat di mana pemerintah 
  > belum mengatakan secara jujur dan penuh tanggung jawab bersedia 
  > menanggung konsekuensi politik. Misalnya, pemerintah termasuk 
  > presiden harus mundur atau turun dari kekuasaannya bila kembali 
  > membohongi rakyat. Jadi, pemerintah melakukan kontrak politik 
  > dengan rakyat. Mengapa? 
  > 
  >            Sebab, di samping rakyat tidak mau dibohongi lagi, 
  > perlu dicatat bahwa "wajah" APBN bukan rakyat penyebabnya, namun 
  > penyelenggara dan pengelola negara. 
  > 
  >            * * *
  > 
  >            Perlu dicatat bahwa kebijakan pemerintah menaikkan 
  > harga BBM, akan mendapat implikasi sosial-politik yang sangat 
  > tinggi. Ia akan semakin membuka mata kita bahwa tafsir aksiomatis 
  > tentang sifat kekuasaan yang selalu menekan, tidak dapat 
  > terbantahkan lagi. Gaung tentang pemerintahan yang otoriter yang 
  > selama ini melekat pada "kening" Orde Baru pun kini muncul lagi 
  > pada kening Pemerintahan Yudhoyono. 
  > 
  >            Dengan demikian, kenaikkan harga BBM dapat dipastikan 
  > akan lebih memanaskan suasana demonstrasi yang dilakukan secara 
  > simultan oleh masyarakat. Apabila masyarakat sudah mengalami 
  > keresahan secara kolektif, kemudian terjangkiti pada apa yang oleh 
  > Ted Guur (1979) sebagai collective relative deprivation, maka 
  > bukan mustahil masyarakat yang resah itu akan bergabung melakukan 
  > aksi demonstrasi secara besar-besaran. 
  > 
  >            Sebenarnya, setelah Presiden Yudhoyono terpilih dengan 
  > legitimasi yang tinggi lewat pemilu langsung, rakyat tidak lagi 
  > melakukan aksi demonstrasi secara besar-besaran. Ada aksi 
  > demonstrasi tetapi secara sektoral. Ini barangkali mengikuti alur 
  > teori sastra bahwa untuk tahap tertentu aksi demonstrasi dapat 
  > mencapai titik jenuh atau tingkat peleraian dan antiklimaks ketika 
  > aktivitas itu kehabisan energi atau karena mengalami masa jenuh 
  > sambil ingin melihat perkembangan lebih lanjut. 
  > 
  >            Tetapi, kenekadan pemerintah tetap menaikkan harga 
  > BBM, bukan tidak mungkin, mengakibatkan rasa jenuh itu menjadi 
  > hilang dan energi masyarakat untuk berdemo dapat muncul lagi. 
  > Pemicunya adalah perilaku pemerintah yang nekad itu. Artinya, 
  > sikap nekadnya pemerintah merupakan titik awal bagi maraknya 
  > kembali unjuk rasa untuk mengkritisi pemerintahan Yudhoyono. 
  > 
  >            Jadi, apa yang semestinya dilakukan? Rencana menaikkan 
  > harga BBM dalam waktu dekat seharusnya ditunda dulu mengingat 
  > beberapa alasan. 
  > 
  >            Pertama, selama belum ada jaminan apa pun dari 
  > pemerintah bila pemerintah kembali gagal memenuhi janjinya 
  > mensejahterakan rakyat lewat dana kompensasi kenaikan harga BBM. 
  > 
  >            Kedua, selama sosialisasi secara intensif belum 
  > dilakukan, khususnya terhadap segmen masyarakat yang melakukan 
  > resistensi. 
  > 
  >            Ketiga, selama belum dilakukan kontrol efektif 
  > terhadap berbagai penyelewengan yang berhubungan dengan keberadaan 
  > BBM seperti penimbunan BBM, jaringan penyalur dana kompensasi dan 
  > sebagainya. 
  > 
  >            Keempat, selama belum dilakukan distribusi subsidi 
  > langsung kepada rakyat yang berhak dengan mekanisme yang baik, 
  > tepat sasaran dan transparan. 
  > 
  >            Kelima, selama pemerintah belum melakukan kontrak 
  > politik bahwa mereka bersedia menanggung akibatnya secara politis 
  > bila kembali membohongi rakyat. 
  > 
  >            Tetapi, apakah pemerintah sanggup melakukan ini? 
  > Barangkali tepat bila kita "tanyakan pada rumput yang bergoyang!" 
  > mengikuti syair sebuah lagu dari Ebiet G Ade. *** 
  > 
  >            (Penulis adalah Direktur The Justice Advocates 
  > Indonesia).  
  >     
  >     
  > 
  > 
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  > 
  > 
  > 
  > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------
  > ~--> 
  > Has someone you know been affected by illness or disease?
  > Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
  > http://us.click.yahoo.com/Rcy2bD/UOnJAA/cosFAA/GEEolB/TM
  > -------------------------------------------------------------------
  > -~-> 
  > 
  > Bantu Aceh! Klik:
  > http://www.pusatkrisisaceh.or.id 
  > Yahoo! Groups Links
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 



  Bantu Aceh! Klik:
  http://www.pusatkrisisaceh.or.id 


        Yahoo! Groups Sponsor 
              ADVERTISEMENT
             
       
       


------------------------------------------------------------------------------
  Yahoo! Groups Links

    a.. To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/
      
    b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]
      
    c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/Tcy2bD/SOnJAA/cosFAA/GEEolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Bantu Aceh! Klik:
http://www.pusatkrisisaceh.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke