Dalam bisnis memang sudah lumrah istilah komisi, fee, atau kick-back.
Tapi Menhan tidak setuju karena jika jatuh ke tangan swasta asing, bisa jadi
harga baja naik dan Indonesia akhirnya tergantung pada asing untuk
persenjataannya.
Sepertinya di Indonesia ini banyak makelar yang suka menjual BUMN kepada pihak
asing.
--- On Thu, 5/22/08, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-nasional] Re: Mental Mittal
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, May 22, 2008, 8:34 PM
Quote:
"..
Drajat Wibowo, yang datang terlambat ke diskusi yang sebagian besar dihadiri
kalangan jurnalis itu
di Jakarta itu, menegaskan memang hanya satu Kepala BKPM dan Menteri
Perindustrian yang getol
untuk menjual PT Krakatua Steel. Drajat tak menampik mengapa ada pejabat
yang begitu antusias
menjual. "Karena di dalam jual menjual asset, ada yang disebut *success fee*.
Angkanya berkisar satu
hingga dua setengah persen. Dan angka itu dibenarkan dalam hukum perdagangan
internasional.
Dilaporkan dalam laporan keuangan, dalam transaksi," tutur Drajat.
Drajat berandai-andai, jika PT Krakatau Steel dijual 40 % kepada Mittal
senilai US $ 5 miliar, maka
1% komisi sudah mencapai US $ 50 juta. Dalam kerangka inilah, tak bisa
dipungkiri, bahwa M. Lutfi,
Kepala BKPM dan Fahmi Idris, Menteri Perindustrian, tampak bergeming.
..
Kendati demikian, jika saya diizinkan membuat sebuah proposal mengembangkan
PT Krakatau
Steel, usulan saya sebagai berikut: Penambahan modal dengan menjual 20% saja
saham
PT Krakatau Steel. Lalu PT Krakatau akan mengambil alih PT Perkasa
Engineering, perusahaan
yang mempunyai lisensi membuat mesin kendaran 300 HP ke bawah dari Steir,
Austria.
Beban hutang PT Perkasa yang Rp 26,5 triliun itu akan saya tutup dengan
mengeluarkan obligasi.
Dari Perkasa akan keluar berbagai blok mesin. Besinya akan disuplai oleh *pig
iron* PT Krakatau
Steel. Ingat tahun ini order panser TNI ke Pindad sebanyak 150 unit, tetapi
mesinnya hanya mampu
30 unit dibuat oleh Renault, Perancis, seharga Rp 5 miliar/unit.
.."
Pantesan.. jual aja bleh.. urusan nasionalisme kan udah ditampilin di
Stadion Senayan. :-)
Kantong pribadi tebel.. dana kampanye 2009 rebes.. :-P
Wassalam,
Irwan.K
---------- Forwarded message ----------
From: iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com>
Date: 2008/5/22
Subject: Mental Mittal
Kamis, 22 Mei 2008
*Mental Mittal*
SIANG pukul 11.30, *Diamond Room Hotel Nikko*, Rabu 21 Mei 2008. Deretan
kursi masih tampak kosong. Sesuai undangan yang disebar kepada beberapa
milis internet, akan ada diskusi tentang Strategic Sales atau IPO PT
Krakatau Steel, yang diadakan oleh INDEF dan Investor Daily. Di pintu masuk,
penerima tamu menbagikan kotak putih berlogo Hotel Nikko. Di dalamnya berisi
nasi dengan lauk pauk, dan sebutir jeruk, mirip nasi kotak Padang. Bagi saya
inilah pengalaman pertama datang ke hotel bintang lima, disambut sebuah
kotak nasi.
Hingga pukul 12.30 acara tak kunjung mulai. Barulah 10 menit kemudian M.
Ikhsan Modjo, ekonom INDEF, tampil ke depan. Ia sebagai moderator langsung
memimpin diskusi. Hadir Zaki Anwar Makarim, komisaris PT Krakatau Steel,
Said Didu, Sekretaris Menteri Negara BUMN. Dua pembicara lain, Drajat
Wibowo, anggota Komisi XI DPR dan Faisal Basri, pengamat ekonomi, belum
muncul. Konon mereka terkena macet akibat demonstrasi mahasiswa yang
menyemut, menolak kenaikan harga BBM, membuat macet total ruas jalan MH
Thamrin, menuju Istana Negara, Jakarta Pusat.
Said Didu sebagai pembicara pertama. Tampil sebagai "bintang" adalah Mantan
Direktur A Badan Intelijen ABRI (BIA) Mayjen Zaki Anwar Makarim. "Kita di
negara ini sudah sedianya tidak melihat sesuatu dari uang semata. Bukan
uang, uang dan uang saja dalm menentukan segalanya," ujarnya Zaki.
Suara Zaki meninggi. Ia lalu memaparkan bahwa pada 1957, Bung Karno
mengembangkan industri baja nasional: pabrik Besi Baja Dwikora, kini menjadi
PT Krakatau Steel. Tujuannya untuk mengembangkan kebutuhan industri yang
berbasiskan besi baja di dalam negeri. "Maka dipilihlah lokasi yang paling
strategis, di dekat selat Sunda, pelabuhan yang dapat dirapati oleh kapal
berbobot 170.000 DWT, sebuah pelabuhan terbaik, terdalam, terbesar untuk
ukuran Indonesia di Cigading, Cilegon, Banten," tutur Zaki.
Asset PT Krakatau Steel saat ini Rp 13 triliun. Sebuah angka yang belum
dire-evaluasi.
"Jika setelah dilakukan evaluasi ulang, kami yakin bahwa asset Krakatau
Steel bisa mencapai lebih US $ 5 miliar."
"Jika dijual kepada Mittal, kami yakin dia begitu senangnya. Bisa
menari-nari dia kegirangan."
Begitu keterangan Zaki.
Di dalam *print out* presentasinya yang dibagikan ke pengunjung diskusi,
terlihat jelas, bahwa Arcelor-Mittal, juga mencari dan membeli bahan baku ke
Brazil, tempat di mana PT Krakatau Steel juga melakukan kontrak jangka
panjang dengan CVRD Group, Brazil dan CMP, Chile, yang membuat harga produk
PT Krakatau Steel menjadi terjamin kepastiannya.
Sehingga logika menjual PT Krakatau Steel di mata saya, hanyalah laksana
menyerahkan sebuah permata bernilai mahal, di saat kita berkelimpahan uang
dan berkelebihan keunggulan.
Dilihat dari struktur keuangan, PT Krakatau Steel juga cukup sehat. Target
laba perusahaan pada 2008 Rp 850 Miliar. Hingga April 2008, sudah mencapai
Rp 420 miliar labanya. Artinya tahun ini keuntungan bersih bisa mencapai Rp
1 triliun lebih.
Belum pula menyimak kemampuan industri dan asset SDM yang dimiliki PT
Krakatau Steel, yang umumnya anak negeri yang mumpuni. Sehingga logika
menjual PT Krakatau Steel, memang menabalkan sebuah logika kepentingan.
Sebaliknya, dengan IPO, bisa pula membukaka diri perusahaan untuk tampil
lebih profesional.
Drajat Wibowo, yang datang terlambat ke diskusi yang sebagian besar dihadiri
kalangan jurnalis itu di Jakarta itu, menegaskan memang hanya satu Kepala
BKPM dan Menteri Perindustrian yang getol untuk menjual PT Krakatua Steel.
Drajat tak menampik mengapa ada pejabat yang begitu antusias menjual.
"Karena di dalam jual menjual asset, ada yang disebut *success fee*.
Angkanya berkisar satu hingga dua setengah persen. Dan angka itu dibenarkan
dalam hukum perdagangan internasional. Dilaporkan dalam laporan keuangan,
dalam transaksi," tutur Drajat.
Drajat berandai-andai, jika PT Krakatau Steel dijual 40 % kepada Mittal
senilai US $ 5 miliar, maka 1% komisi sudah mencapai US $ 50 juta. Dalam
kerangka inilah, tak bisa dipungkiri, bahwa M. Lutfi, Kepala BKPM dan Fahmi
Idris, Menteri Perindustrian, tampak bergeming.
Drajat juga menyayangkan sikap Menteri Negara BUMN. "DPR sudah menyarankan
untuk menjual PT Krakatau secara bertahap melalui IPO," ujarnya. Namun surat
Sofjan Djalil, Menteri BUMN kepada DPR, justeru menambah opsi, menjual
melalui *Strategic Sales* atau IPO di pasar modal. Dalam keadaan demikian,
ditambah dengan datangnya Mittal, Blue Scoop, menjadikan isu penjualan
strategis menjadi bola panas.
Said Didu, menjelaskan sesuai dengan Undang Undang Nomor 19 tentang Badan
Usaha Milik Negara, privatisasi memang bisa melalui IPO dan *Strategic sales
*. Itu artinya jika PT Krakatau Steel dijual dengan cara *strategic sales*,
tidak akan menyalahi undang-undang.
Namun dalam praktek hidup berbangsa, bukan saja urusan legal dan tidak.
Industri baja, bila belajar ke sejarah bangsa-bangsa yang sudah duluan maju,
menjadi industri strategis.
Dari industri baja, mengalir produk-produk turunan ke peralatan angkut,
peralatan tempur meiliter. Sehabis perang dunia kedua, Jerman, Jepang,
bahkan Korea belakangan, memperkuat basis industri baja mereka. Lihatlah
kekuatan industri dalam negeri mereka, baik untuk otomotif, industri blok
mesin berbagai kendaraan, didukung oleh industri baja dalam negeri. Dengan
demikian, menjual PT Krakatau Steel, melalui *Strategic Partner*, sama saja
menggadai kekuatan bangsa ke tangan pihak asing, yang memang melihat
menggunung madu di sana.
PADA tulisan Steel: http://presstalk. info/tajuk/ detail.php? no=83, pada 22
April 2008 juga tulisan Besi: http://presstalk. info/tajuk/ detail.php? no=73,
pada 15 April 2008, saya telah memaparkan bagaimana industri *pig
iron*sangat dibutuhkan bagi mengembangkan kebutuhan industri otomotif
nasional,
termasuk mesin-mesin kecil, mesin tempel bagi perahu nelayan, yang lucunya
saat ini banyak yang bergarga murah tetapi mesin bekas dari Cina yang telah
direkondisi Singapura, lalu dijual mahal ke nelayan kita. Sebuah kedaan yang
yang amat kontras, jika membandingkannya dengan logika yang seharusnya
meningkatkan kemampuan produksi PT Krakatau Steel, guna mendukung kekuatan
industri dalam negeri.
Seperti dipaparkan Zaki Anwar Makarim, hingga saat ini, jika pun langkah
menjual melalui IPO apalagi *strategic sales* tidak dilakukan pemerintah,
"Citibank, HSBC, Standar Chartered Bank, dan banyak bank lain menawarkan
uangnya untuk dipakai Krakatau Steel."
Itu artinya lembaga perbankan asing begitu percaya akan aset, kemampuan dan
peluang pasar perusahaan baja lokal yang yang besar. Sebelum Zaki
menyampaikan hal ini, saya di dalam hati sudah ingin mengacungkan tangan.
Saya ingin melontarkan kata: Jika pemerintah memberikan saya kepercayaan
untuk mencarikan *loan*, pastilah dengan mudah saya mendapatkan *off shore
loan* dari berbagai lembaga keuangan. Eh, faktanya, sebagaimana Zaki, tanpa
bantuan siapapun PT Krakatau Steel, memang ibarat gadis cantik yang dilirik
banyak pihak.
Sehingga entah mengapa wacana menjual asset negara, kini menjadi menggila?
Jika logika uang komisi, sebagaimana yang dipaparkan Drajat Wibowo memang
ada, inilah sebuah indikasi, di banyak laku menjual asset BUMN yang telah
lalu, yang telah "memperkaya" segelintir manusia Indonesia, terindikasi
memang ada. Fakta ini dapat dijadikan alat memverifikasi penjualan
bank-bank, penjualan perusahaan telekomunikasi yang juga sangat strategis
itu, termasuk penjualan dua tanker PT Pertamina semasa Laksamana Sukardi
sebagai Menteri Negera BUMN, bahwa indikasi pelaku penjualnya berkepentingan
dengan tambunnya komisi.
Sehingga saya katakan dalam acara diskusi itu, Indonesia masih beruntung
masih punya manusia macam Zaki Anwar Makarim. Namun seorang Zaki yang cuma
anggota komisaris, tentu tak akan bisa berbuat banyak.
Kendati demikian, jika saya diizinkan membuat sebuah proposal mengembangkan
PT Krakatau Steel, usulan saya sebagai berikut: Penambahan modal dengan
menjual 20% saja saham PT Krakatau Steel. Lalu PT Krakatau akan mengambil
alih PT Perkasa Engineering, perusahaan yang mempunyai lisensi membuat mesin
kendaran 300 HP ke bawah dari Steir, Austria. Beban hutang PT Perkasa yang
Rp 26,5 triliun itu akan saya tutup dengan mengeluarkan obligasi.
Dari Perkasa akan keluar berbagai blok mesin. Besinya akan disuplai oleh *pig
iron* PT Krakatau Steel. Ingat tahun ini order panser TNI ke Pindad sebanyak
150 unit, tetapi mesinnya hanya mampu 30 unit dibuat oleh Renault, Perancis,
seharga Rp 5 miliar/unit.
Padahal di Perkasa, dengan Rp 750 juta/perunit, kualitas lebih baik dari
Renault, buatan dalam negeri. Hal ini pernah disampaikan secara pribadi oleh
staf ahli Panglima TNI, bidang perdagangan dan ekononomi kepada saya.
Market yang lebih besar bagi unit usaha di Perkasa, bisa dari order berbagai
mesin peralatan TNI, mulai alat angkut, truk berpenggerak roda empat, tank,
panser, semuanya membutuhkan besi.
Bukan mustahil, rencana macam proposal saya ini, akan masuk dalam strategi
pengembangan oleh Mittal. Bisa Anda bayangkan, dengan aset lahan, aset
pelabuhan, juga aset bahan baku *iron ore* (batu besi) yang masih banyak
belum tereksploitasi di dalam negeri, juga pasar besi yang rata-rata
dikonsumsi orang Indonesia baru 20 kg saja - -bandingkan dengan Malaysia
yang sudah mencapai 150 kg perkepala pertahun.
Bukan mustahil bukan, jika dalam suatu kesempatan setelah menguasai Krakatau
Steel, Mittal dengan paparannya menguasai "Indonesia", melalui prospektus
yang dicetak berkertas emas, akan bisa menangguk dana segar lebih dari US $
25 miliar lagi di bursa dunia?!
Itu artinya kehadiran *strategic partner* untuk Krakatau Steel, ibarat
menarukkan tangga, mengangkat kaki, mendudukan ke atas kuda, lalu seseorang
dengan mudah menembak dari atas kuda. Bila sudah begini, apa tidak
*nauzubillahi
minzalik* namanya?
Saya terhibur, ketika Zaki mengatakan, "Arcelor di Perancis, dibeli Mittal.
Tiga tahun Perdana Menteri memprotes bentuk perjanjian penjualan hingga
turun demo ke jalan. Tetapi apa lacur, Arcelor yang banyak melahirkan
bangsawan Eropa itu, kini sudah tergadai kepada Mittal."
Itu artinya, apakah kita juga akan menggadaikan Krakatau Steel? "Tahun 1998
Mittal gagal mengambil Krakatau Steel. Tahun 2004 mereka juga gagal. Nah
tahun ini mereka mencobanya lagi," tutur Zaki.
Melihat kalimat ini, Arcelor-Mittal dengan komandan Lakhsmi Mittal, yang
memulai berdagang besi dari Surabaya, Jawa Timur dari 31 tahun lalu dengan
bendera PT Apatindo, yang kini menjadi raja baja dunia itu, memang memiliki
mental dan kegigihan baja berusaha.
Alhamdulillah, Puji Tuhan, petang ini saya mendengar Menteri Pertahanan
Republik Indonesia, Juwono Sudarsono, menghimbau pemerintah membatalkan
penjualan PT Krakatau Steel, yang memang strategis untuk bangsa ini.
Kendati kedengaran agak "lucu", Juwono orang pemerintah lalu sesama
pemerintah menghimbau membatalkan penjualan Krakatau Steel, berpihak bagi
kepentingan Negara, berpihak bagi kepentingan warga kebanyakan.
Maka saya tak tahu lagi harus memberikan kalimat apa kepada sepuluh orang
wartawan yang konon dari media besar mau pula berkeliling Eropa dibiayai
Mittal, yang diorganisir oleh perusahaan public relation (PR) yang bermarkas
di Kemang, Jakarta Selatan.
Saya kembali teringat kalimat Zaki Anwar Makarim, jangan melulu segalanya
melihat uang, karena uang. Mungkin pula di kepala perusahaan PR yang ada
cuma uang. Tetapi jika di kepala wartawan yang juga ada cuma uang, maka,
memang, kiamatlah kekuatan pilar keempat dalam berdemokrasi di Indonesia.
Iwan Piliang, presstalk.info
[Non-text portions of this message have been removed]