Quote:
"..
Setiap tahun, rata-rata 40 persen APBN dihabiskan untuk membayar cicilan
pokok dan
bunga utang luar negeri itu.

Kondisi tersebut membuat anggaran negara gagal menjalankan fungsinya sebagai

instrumen pemenuhan kebutuhan hak dasar rakyat seperti pendidikan dan
kesehatan.
"Tragisnya, demi menjamin kelangsungan pembayaran cicilan utang, pemerintah
sampai
hati merancang agenda pemiskinan rakyat dengan mengurangi alokasi subsidi
hingga
0,3 persen secara bertahap sampai 2009," katanya mengkritik.
.."

Kalau tidak salah, dalam email sebelumnya dari Koalisi Anti-Utang,
disebutkan mengenai
rencana pembangunan jangka menengah(?) soal pengurangan subsidi bagi
rakyat..

Jadi, klaim bahwa kenaikan harga BBM akibat 'force majeur' kenaikan harga
bbm di dunia
YANG TIDAK DIDUGA-DUGA, adalah bohong.. Begitu juga klaim bahwa kenaikan
harga bbm
(di 2005) akan mengurangi angka orang miskin/kemiskinan, juga BOHONG.. yang
terjadi
adalah kenaikan dari 35jt (2005) menjadi 39 jt (2006).. data BPS..

Kenyataaannya, pencabutan subsidi bertahap sampai 2009 merupakan sesuatu
yang
sudah direncanakan..cuma kebetulan ada kenaikan harga bbm dunia.. jadi
istilahnya,
'menunggangi' isu harga bbm dunia,  biar tidak dikatakan tega sama rakyat..
Mungkin ini yang dimaksud oleh kepala itu tuh.. soal tunggang-mengunggangi..
:-)

Ya beginilah kalau tinggal di negeri sinetron.. banyak sandiwaranya..
masalahnya,
banyak yang (lebih) milih sinetron.. gimana donk? :-p

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: yuyun harmono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/5/19
Subject: Terperosok Jadi Bangsa Kuli

*Terperosok Jadi Bangsa Kuli*
Senin, 19 Mei 2008,

Ketua Koalisi Anti-Utang Serukan Merdeka dari Utang
JAKARTA - Setiap memperingati Kebangkitan Nasional -tiap 20 Mei-, banyak
elemen bangsa ini yang terus menggugat kemandirian negerinya.

Kali ini pun sama saja. Menjelang peringatan seabad Kebangkitan Nasional
besok, kritik terus terlontar terhadap melemahnya semangat kebangsaan dan
pudarnya kemandirian, terutama jerat utang luar negeri yang ibarat terus
mencekik leher.

"Penjajahan lewat utang dan modal asing telah membuat bangsa ini menjadi
bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa," ujar Ketua Koalisi Anti-Utang
(KAU) Dani Setiawan di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jalan Jenderal
Gatot Subroto, kemarin (18/5).

Menurut dia, praktik penjajahan terus berlangsung melalui denasionalisasi
ekonomi. Apalagi, utang luar negeri di Indonesia per 2007 mencapai USD
136,640 miliar. Setiap tahun, rata-rata 40 persen APBN dihabiskan untuk
membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri itu.

Kondisi tersebut membuat anggaran negara gagal menjalankan fungsinya sebagai
instrumen pemenuhan kebutuhan hak dasar rakyat seperti pendidikan dan
kesehatan. "Tragisnya, demi menjamin kelangsungan pembayaran cicilan utang,
pemerintah sampai hati merancang agenda pemiskinan rakyat dengan mengurangi
alokasi subsidi hingga 0,3 persen secara bertahap sampai 2009," katanya
mengkritik.

Sementara itu, struktur perekonomian nasional sudah takluk di bawah dominasi
korporasi asing. Dani mencontohkan, penguasaan korporasi asing mencapai 85,4
persen konsesi pertambangan migas, 70 persen kepemilikan saham di Bursa Efek
Jakarta, dan lebih dari separo kepemilikan perbankan di Indonesia. "Bahkan,
sekitar 85,4 persen dari 137 konsesi pengelolaan lapangan migas di Indonesia
masih dikuasai korporasi asing," ungkapnya.

Beban utang luar negeri dan dominasi modal asing, kata dia, akan terus
menghantui perekonomian Indonesia pada masa mendatang. "Kecuali, pemerintah
berani menegosiasikan penghapusan utang," tegasnya.

Sejumlah aktivis turut hadir dalam acara yang digagas KAU. Di antaranya,
Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, mantan Direktur Eksekutif Walhi
Chalid Muhammad, Ketua Forum Umat Islam Mashadi, Ketua Federasi Serikat
Petani Indonesia Henry Saragih, dan Koordinator Aliansi Buruh Menggugat
Anwar Maruf.

Selain mendeklarasikan gerakan merdeka dari utang, acara itu sekaligus
merupakan serah terima kepengurusan KAU yang sebelumnya dijabat Kusfiardi
untuk periode 2004-2008 kepada Dani Setiawan untuk periode 2008-2012.
(pri/mk)

http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=342262




-- 
Yuyun Harmono
Koalisi Anti Utang (KAU)/Anti Debt Coalition Indonesia
Jl. Tegal Parang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 Indonesia
Telp. 021-79193363,Fax. 021-7941673,
Hp. 081807867506
website : www.kau.or.id
blog : antiutang.wordpress.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke