Menurut WHO 146 juta rakyat Indonesia perokok. Seandainya mereka setiap hari beli sebungkus rp 10.000, maka setahun Rp 533 trilyun dibelanjakan untuk rokok. Kalau PPN 10% berarti Rp 53 trilyun pajaknya.
Tapi seandainya rokok dilarang apakah uang Rp 533 trilyun itu akan lenyap begitu saja? Tidak juga. Bisa jadi uang itu akan dibelanjakan untuk susu anaknya sehingga anaknya gizinya cukup dan tidak kelaparan. Peternak susu dan pabrik susu akan berkembang hingga lapangan pekerjaan yang halal terbuka. Bisa jadi uang itu dibelanjakan untuk sekolah dan buku anak2nya sehingga sekolah2 dan percetakan buku berkembang. Banyak orang bisa kerja jadi guru dan penulis buku. Para pekerja di pabrik rokok bisa beralih ke bidang2 tersebut yang lebih baik dan lebih terhormat. Bisa jadi uang tsb dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat daripada rokok. Jadi tidak ada alasan untuk ragu menutup pabrik rokok. 2008/6/12 Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED] com>: > > Data Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mencatat bahwa pada 1990-an > usia awal merokok pada anak-anak dimulai saat usia menginjak 15 tahun namun > pada 2004 diperkirakan usia awal merokok pada anak-anak dimulai pada saat 7 > tahun. > > Iklan, promosi dan sponsor rokok memang dinilai berperan penting dalam > menciptakan budaya merokok pada remaja. Berdasarkan penelitian dampak > keterpajangan iklan dan sponsor rokok terhadap kognitif, afeksi dan perilaku > merokok remaja yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) > pada 2007 tercatat 46,3 persen menunjukkan pengaruh besar iklan dan sponsor > rokok untuk memulai merokok. > > Semakin sering remaja dan anak-anak menyaksikan iklan rokok yang bernilai > miliaran rupiah per tahunnya dan berorientasi mengajak generasi muda > merokok, maka peluang mereka untuk mulai merokok pun meningkat. Upaya > imbauan dan pembatasan iklan rokok yang baru hanya menjangkau 5 persen > populasi dunia hampir dipastikan tidak dapat bersaing dengan usaha gencar > perusahaan-perusaha an tembakau untuk terus saja mempromosikan rokok sebagai > komoditi yang identik dengan glamor, energi, dan ketertarikan seksual. > > Dalam survei WHO yang dilakukan di 100 negara secara serentak pada 2004-2006 > termasuk Indonesia, terungkap bahwa 12,6 persen pelajar setingkat SMP adalah > perokok dan sebanyak 30,9 persen pelajar perokok tersebut mulai merokok > sebelum usia 10 tahun dan 3,2 persen dari mereka sudah kecanduan. Hasil lain > dari survei itu adalah 64,2 persen pelajar SMP menyatakan terpapar asap > rokok orang lain --perokok pasif-- di rumah sendiri dan 81 persen pelajar > SMP terpapar dari tempat-tempat umum. > > Pada setiap bungkus rokok dan dalam setiap iklan rokok dicantumkan kalimat > peringatan "merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi > dan gangguan kehamilan dan janin". Namun, sepertinya orang tidak pernah > takut dengan peringatan tersebut meski menyadari bahwa rokok tersebut > merupakan racun yang akan membahayakan dirinya. > > Berbeda dengan sejumlah racun lainnya, puluhan jenis racun yang terkandung > dalam satu batang rokok memang tidak bekerja secara langsung, antara lain > gas karbon monoksida, nitrogen, hidrosianiada dan ammonia begitu juga dengan > 43 jenis zat penyebab kanker yang dapat terhirup perokok pasif dan tentu > saja aktif. Sifat puluhan racun yang bekerja perlahan-lahan itu juga yang > membuat sebagian besar --jika tidak dapat dikatakan seluruh-- perokok tidak > mempedulikan bahaya rokok sekalipun mengetahuinya. > > Meskipun rokok ditengarai telah membunuh jutaan manusia, tetapi pemerintah > tidak dapat mengadili penyebab pembunuh tersebut. Pemerintah diuntungkan > oleh pendapatan negara yang sangat besar dari sumber pembunuh tersebut. > Disadari atau tidak, pemerintah terkesan enggan melepas > keuntungan-keuntung an yang dihasilkan dari industri rokok, mulai dari > penyerapan tenaga kerja hingga pajak. > > Jika selama ini pajak yang telah disumbangkan oleh perusahaan rokok di > Indonesia memang benar digunakan untuk membiayai pembangunan --salah satunya > mungkin pembangunan rumah sakit kanker dan jantung-- maka jangan-jangan > rakyat Indonesia harus berterima kasih pada jutaan perokok di Indonesia yang > sudah rela mengorbankan kesehatannya demi kelangsungan industri rokok dan > pajak dari mereka. > > Jangan-jangan pula para perokok tersebut layak mendapat julukan pahlawan > pembangunan karena rela mengorbankan kesejahteraan keluarganya untuk tetap > menghisap rokok yang jelas-jelas sudah mereka ketahui akibat buruknya.Tapi, > satu yang jelas diuntungkan tentu saja para taipan rokok yang menduduki > deretan 10 orang terkaya di Indonesia. Simalakama industri rokok itu > terpotret jelas dalam film satir unggulan Golden Globe Award 2006 karya > Jason Reitman yang berjudul Thank You for Smoking. > > MERZA GAMAL > (Disadur dari Antara News tgl. 11/06/2008) > > Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah > Silahkan klik > http://asia. groups.yahoo. com/group/ ekonomi-islami/ surveys?id= 2366675 > Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di > Indonesia > > -- === Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel http://www.media- islam.or. id [Non-text portions of this message have been removed]
