Bedanya di pecat dengan dilengserkan apa?
Kan sama diberhentikan dari posisi ketua umum....
Demokrasi dan kebebasan berpendapat memang mahal
bagi orang-orang dan kelompok yang sudah dipenuhi
syahwat kekuasaan.
----- Original Message -----
From: yudhistira
To: [email protected]
Sent: Friday, June 19, 2009 6:15 PM
Subject: RE: Re: [ekonomi-nasional] KAMMI anti Neolib : DIPECAT !.
Mahasiswa dari dulu selalu gitu, abis di tunggangi di sembelih, buat kurban
Pesta Demokrasi
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of dimas pamungkas
Sent: 18 Juni 2009 16:33
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Fw: Re: [ekonomi-nasional] KAMMI anti Neolib : DIPECAT !.
Bukan dipecat, tapi dilengserkan...mbok yang bikin berita jangan terlalu
heboh.
Sebenarnya, secantik apapun Ibu Mega, dia tetap wanita, yang HARAM jadi
pemimpin negara.
salam,
Dimas
--- On Thu, 6/18/09, [email protected] <mailto:kadarm%40gmail.com>
<[email protected] <mailto:kadarm%40gmail.com> > wrote:
From: [email protected] <mailto:kadarm%40gmail.com> <[email protected]
<mailto:kadarm%40gmail.com> >
Subject: Re: [ekonomi-nasional] KAMMI anti Neolib : DIPECAT !.
To: [email protected]
<mailto:ekonomi-nasional%40yahoogroups.com>
Date: Thursday, June 18, 2009, 5:21 AM
Yah wajar aja dipecat pak. Mustinya kalo tidak pro sby, mbok yah nge pro ke
jk msh lebih cocok lah ideologi nya daripada pro ke mega.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: rifky pradana <rifkyp...@yahoo. com>
Date: Wed, 17 Jun 2009 22:39:23
To: <syiar-islam@ yahoogroups. com>; <sab...@yahoogroups. com>;
<eramus...@yahoogrou ps.com>; <ekonomi-nasional@ yahoogroups. com>;
<Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com>
Subject: [ekonomi-nasional] KAMMI anti Neolib : DIPECAT !.
Bagi yang mengikuti peta pergerakan kemahasiswaan di era reformasi
pasti mengenal atau minimal pernah mendengar KAMMI, Kesatuan Aksi Mahasiswa
Muslim Indonesia.
Salah satu pilar pergerakan kemahasiswaan era reformasi ini dikenal
sebagai salah satu komunitas yang konsisten berdemonstrasi memperjuangkan
ideologi Islamnya dengan ciri khas ‘demo
santun‘ dan ‘lautan jilbab‘ nya.
KAMMI dan PKS.
Semua juga mahfum adanya, ketika kristalisasi gerakan reformasi
bergerak membentuk kuadran-kuadran politik pasca kejatuhan Soeharto, KAMMI
mendekat ke parpol yang ideologinya kongruen - sejalan sebangun. Dan partai
yang paling kongruen dengan misi politik mereka adalah PK yang kemudian
bermetamorfosis menjadi PKS, sebuah parpol Islam yang konstituennya sangat
beririsan dengan KAMMI, yang lahir dari rahim pendidikan tarbiyah atau
dakwah kampus.
Hingga kemudian, KAMMI dan PKS sulit dipisahkan dari stereotyp bahwa
keduanya ibarat satu keluarga. KAMMI adalah pemasok utama aktifis PKS, dan
PKS
adalah laboratoritum atau keran politik formal aktivis KAMMI. Sebagai
misal,
salah satu penggagas dan ketua KAMMI di awal berdirinya, Fakhri Hamzah kini
duduk di kursi teras pengurus pusat PKS.
KAMMI Anti-Neolib.
Namun demikian, KAMMI sebagai gerakan mahasiswa berbasis kampus, tetap
berusaha independen dalam bersikap dan mengusung ide-ide yang islami dan
keindonesiaan.
Independensi KAMMI dari magnitude keberpihakan politik PKS terlihat
jelas ketika di pertengahan Mei 2009, KAMMI bersikap tegas menolak kandidat
capres-cawapres yang ditengarai berpaham Neolib. Dalam situs resminya,
KAMMI
mengeluarkan pernyataan sikap bertajuk : TOLAK
CAPRES-CAWAPRES REZIM NEO-LIBERAL YANG TIDAK PRO RAKYAT.
Padahal, di saat yang sama bandul politik PKS mengarah ke pasangan
SBY-Boediono, meski sebelumnya PKS gerah karena sangkaan busana neolib
melekat
kuat pada sosok cawapres Boediono.
KAMMI tetap keukeuh mengusung ideologi anti-neolib, sedang PKS kemudian
berdamai dengan menerima SBY-Boediono.
KAMMI sevisi
dengan Mega-Prabowo ?.
Untuk menegaskan keberpihakannya pada rezim anti-neoliberalisme , Ketua
Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia, Rahman Toha, hadir dalam deklarasi Capres yang terkenal
pro-Rakyat
Mega-Prabowo di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, 10 Juni 2009.
Amang, demikian ia bisa dipanggil, bahkan menyampaikan orasi politik di
acara itu. “Sampai kapanpun kami akan
menolak neoliberal. Jika pemerintahan mendatang dipegang orang neolib, kami
akan berada di garda depan untuk menentang,” ujar Rahman dalam pidatonya
yang disimak langsung Prabowo Subianto, Rabu 10 Juni 2009.
“Kami di sini bukan dalam rangka
dukung-mendukung, tapi kita semua yang ada di sini satu visi, satu misi,”
ujar Rahman melanjutkan pidatonya. Prabowo pun tersenyum mendengarnya.
Semenjak itu, hubungan KAMMI dan PKS lantas berjarak makin menjauh.
Tidak lagi sehangat anak dan bapaknya, karena issue-issue politik yang
rupanya
berbeda haluan.
Badai issue kemudian menerpa para pimpinan KAMMI, yang diantaranya
adalah mereka didakwa merapat ke kutub politik yang lain selain
SBY-Boediono. Sebagaimana
kemudian tersiar dalam satu berita di Vivanews: “KAMMI Sevisi dengan
Mega-Prabowo.”
Nasib Naas
Pengurus KAMMI : DIPECAT !.
Kesenjangan jarak yang makin menjauh itu bisa diduga arah akhirnya.
Umur kepengurusan KAMMI dibawah pimpinan Rahman Toha, atau lebih akrab
dipanggil Amang rupanya dibayangi Malaikat
Maut yang dikirim para senior yang berafiliasi di Partai induknya.
Dalam sebuah Muktamar Luar Biasa yang digelar kemarin, 17 Juni 2009, di
Wisma Pemuda, Kuningan, Jakarta, Rahman
Toha resmi DIPECAT !.
Mudah ditaksir, KAMMI di beberapa hari mendatang akan berubah arah
kemudi.
Tidak lagi gesit mendengungkan lagu Anti-Neolib dan Pro-Rakyat !.
Mungkin malah akan riuh dengan slogan : Lanjutkan !, sambil tersenyum
miris..
Artikel ini dapat
dibaca di :
Nasib Naas KAMMI
yang Anti-Neolib !.
http://public. kompasiana. com/2009/ 06/18/nasib- naas-kammi- yang-anti-
neolib/
***
Membaca artikel lama sebuah blog di http://bundakirana. multiply.
com/review
dengan judul ‘SEBUAH IMPERIUM MENUNGGU RUBUH‘ Oleh
Amran Nasution, May 15 ‘08 sangat menarik hati.
Ada ungkapan di artikel tersebut yang menjelaskan satu kejadian, ketika
SBY tahun 2003 datang ke Amerika Serikat sana dengan kapasitas sebagai
Menko Polkam RI dan mengatakan :
“I Love United States with all
its faults. I consider it my second country”, yang terjemahan
bebasnya ”Saya Cinta Amerika Serikat
dengan Segala Kesalahannya, Saya menganggapnya Negeri Kedua Saya”.
Melihat apa yang dikatakan SBY di atas, maka tidak heranlah kita
apabila di masa pemilu Pilpres sekarang ini, segala style dan setting
kampanye SBY, memakai style dan setting kampanye ala Amerika
Serikat sana.
Bisa kita lihat waktu acara deklarasi capres-cawapres Partai Demokrat
di Sabuga ITB Bandung beberapa waktu yang lalu, sangat kental dengan
keamerikaannya. Dan bukan itu saja, konsultan politik SBY, The Fox
Indonesia
adalah All American Minded.
Tentu kita sebagai Bangsa Indonesia berharap, apabila pada
Pilpres mendatang, seandainya SBY terpilih lagi menjadi Presiden RI
2009-2014,
sesuai dengan kecintaan beliau terhadap Amerika Serkat , tidaklah
menjadikan
Amerika Serikat menjadi “Yang Utama”
di Indonesia ini, tapi tetap menjadikan Indonesia menjadikan “Yang Utama”,
yaitu Indonesia yang
mandiri, berharkat dan bermartabat.
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri kita, kita akan selalu
mengatakan “I love you, Indonesia”.
Artikel ini dapat
dibaca di :
SBY:”I Love
United States with All Its Faults. I consider It My Second Country”
http://public. kompasiana. com/2009/ 06/18/sbyi- love-united- states-with-
all-its-faults- i-consider- it-my-second- country/
***
Postingan saya kali ini –mohon maaf- hanya merupakan daur ulang dari
tulisan yang pernah saya tulis pada 10 Mei 2006 yang telah silam.. Namun
saya
kira tulisan itu ada hubungannya dengan situasi saat ini, yang ternyata
ada juga postingan perihal iktibar yang bisa diambil hikmahnya dari
peristiwa
terpilihnya kembali Ahmadinejad dihubungkan dengan keinginan dari sementara
pihak yang terkesan kok jadi sangat menggebu-gebu ambisinya untuk
memperpanjang
masa jabatannya. Bahkan -kata beberapa orang kenalan saya- terkesan tak
merasa cukup puas jika hanya sekedar menang saja. Ingin lebih dari itu,
menang
mutlak hanya dalam satu putaran saja.
Maka untuk mencapai itu bisa jadi dimungkinkan tak hanya cukup dengan
publikasi saja, mungkin saja juga disertai digelontorkannya sejumlah besar
dana
(paling tidak dana untuk biaya iklan ?) agar tercapai tujuannya,
pelaksanaan
Pilpres cukup hanya berlangsung dalam 1 putaran saja, sesuai kehendak
dirinya.
Postingan yang saya maksudkan itu dapat dibaca di Kompasiana dengan
judul ‘Belajar dari Iran : Pilpres Dua Putaran’ yang ditulis oleh Khusni
Mustaqim. Jika ingin membaca bolehlah mengklik disini.
Kembali ke soal tulisan postingan daur ulang yang saya maksudkan,
kebetulan saya jalan-jalan (istilah kerennya orang kota itu surfing, begitu
kali ya ?) menemukan kembali jejak tulisan itu di blognya kang Ade
Bachtiar. Eh rupanya saudara saya ini (maaf ya kang Ade, kita memang
belum pernah berkenalan apalagi ketemu kopdar, tapi saya telah lancang
menyebut
akang sebagai saudara) ternyata masih menyimpan tulisan itu di blognya
(makasih
ya kang Ade) jika anda ingin membaca tulisan itu langsung ke blognya
bolehlah
mengklik disini.
Untuk menyingkat waktu dan ceritanya, maka ijinkanlah saya mengcopy
pastekan saja tulisan itu. Selamat membacanya dan selamat menikmatinya
bagi yang menyukainya. Salam Kompasiana buat semua pembaca.
Tulisan daur ulang selengkapnya :
Presiden Republik Islam Iran, Ahmadinejad, sangat prihatin menyaksikan
ketidakberdayaan bangsa Indonesia yang pasrah menghadapi tindakan
penjarahan
negara-negara asing yang dimotori perusahaan-perusaha an negara maju,
terhadap
kekayaan alam Indonesia.
*
‘INDONESIA DIJARAH
ASING’
Presiden Republik Islam Iran, Ahmadinejad, prihatin dan menyangkan bangsa
Indonesia bersikap tidak berdaya dan pasrah menghadapi penjarahan bangsa
asing
terhadap kekayaan alam. Padahal, sebagai bagian terbesar umat Islam di
dunia,
bangsa Indonesia seharusnya mampu mendukung perjuangan menentang
kemungkaran
dan menegakkan keadilan.
“Kami telah melihat sosialisme dan marxisme ternyata gagal memberikan
solusi pada masalah-masalah dunia. Kini liberalisme dan demokrasi yang
diusung
negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, juga gagal karena
implementasinya
menggunakan standar ganda,” jelas Ahmadinejad saat mengunjungi kantor PP
Muhammadiyag dan PB NU, di Jakarta, Jumat (12/5)
Menurut Ahmadinejad, tanggungjawab umat Islam sangatlah jelas, yakni
menciptakan keselamatan dunia beserta seluruh isinya.
”Indonesia sangat potensial mengemban tugas itu, karena memiliki sumber
daya yang besar, termasuk jumlah umat Islam sebagai penduduk mayoritas,”
ujarnya.
Tidak Optimal.
Namun ia sangat prihatin setelah menyaksikan keadaan bangsa Indonesia
kini. Potensi sumber daya manusia dan alam yang dimiliki tidak dapat
dioptimalkan untuk mewujudkan tujuan mulia.
”Saya menyayangkan ketidakberdayaan bangsa Indonesia yang pasrah
menghadapi tindakan negara-negara asing yang dimotori perusahaan-perusaha
an
negara maju, mengeruk kekayaan alam Indonesia,” ungkap Ahmadinejad.
Ia yakin, perdamaian dan keadilan sejati hanya bisa terwujud di dunia
ini dengan menampilkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
”Iran akan menjadi negara yang terdepan menghadapi tekanan-tekanan
Barat,” ujarnya.
Mengenai hubungan kerjasama antara Indonesia dan Iran, Ahmadinejab
menyatakan, bukan hanya aspek budaya, pendidikan, pariwisata, bea cukai,
energi, dan teknologi. Tetapi, bisa meliputi seluruh aspek yang berpengaruh
bagi perdamaian, kemanusiaan, dan meningkatkan kemaslahatan warga kedua
negara.
Ahmadinejad juga mendukung keutuhan atau integrasi wilayah Republik
Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ia menandaskan, tidak akan pernah
menerima gerakan separatisme seperti di Papua.
Sementara Ketua Umum PB NU, KH Hasyim Muzadi, mengemukakan, dalam
pertemuan dengan Ahmadinejad, meminta Iran menjadi pelopor pengembangan
wacana
keislaman yang produktif. Paling tidak, Iran menjadi pihak untuk
mendamaikan konflik akibat perbedaan aliran keagamaan.
(Sumber :
Ahmmadinejad Prihatin Indonesia Dijarah Asing, Republika, Senin, 15 Mei
2006).
*
‘PRESIDEN SBY dan
PRESIDEN MAHMOUD AHMADINEJAD’
Presiden Republik Islam Iran semenjak hari Rabu tengah malam kemarin,
mengadakan kunjungan ke Indonesia, dan direncanakan akan mengadakan
pembicaraan
bilateral dengan Presiden Republik Indonesia. Pertemuan antara Presiden
Mahmoud
Ahmadinejad dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu mengagendakan
pembicaraan mengenai peningkatan kerjasama antara kedua negara di bidang
kebudayaan, ekonomi, energi, kepabeaan, dan investasi.
Presiden SBY dan Presiden Ahmadinejad ini memiliki kesamaan dimana
keduanya merupakan Presiden yang terpilih secara demokratis, dan keduanya
sama-sama meraih dukungan suara yang besar dalam pemilihan Presiden sebagai
modal dasar yang besar bagi legitimasi kekuasaannya.
Kedua Presiden ini juga memiliki kesamaan yang sama-sama mempunyai
komitmen yang kuat untuk membangun negaranya, dan sama-sama mempunyai tekad
yang kuat dalam memperjuangkan kebijakannya, serta sama-sama mempunyai
keteguhan sikap demi tercapainya tujuan dari programnya, serta sama-sama
pemberani dalam membela negaranya.
Presiden Ahmadinejad dalam rangka memajukan sektor energi nuklirnya
bagi kebutuhan negaranya demi kesejahteraan rakyatnya, sampai-sampai
bertekad
kuat untuk terus melanjutkan kebijakannya walau diintimidasi oleh Amerika
Serikat, dan teguh sikapnya dalam mempertahankan kemandirian negaranya,
serta
begitu pemberaninya sehingga tak ragu menghadapi resiko perang menghadapi
Amerika Serikat dalam sengketa energi nukirnya itu.
Presiden SBY demikian juga, dalam rangka memajukan sektor energi
migasnya bagi kebutuhan negaranya demi kesejahteraan rakyatnya,
sampai-sampai
bertekad kuat untuk terus melanjutkan kebijakannya menaikkan harga eceran
BBM
berlipat-lipat kali walau diprotes rakyatnya, dan teguh sikapnya dalam
menyerahkan pengelolaan sumur minyak blok Cepu kepada perusahaan minyak
Amerika
Serikat, serta begitu pemberaninya sehingga tak ragu untuk menghadapi
resiko
perang menghadapi Malaysia dalam sengketa blok Ambalat.
Kedua Presiden ini juga sama-sama memimpin sebuah negara dengan
mayoritas penduduknya beragama Islam.
Hanya dalam beberapa hal, Presiden Mahmoud Ahmadinejad seharusnya tak
segan dan tak malu untuk banyak belajar kepada Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.
Belajar, bagaimana caranya agar mayoritas penduduknya kretif dan mampu
melakukan kreasi baru dalam beragama. Belajar, bagaimana caranya agar
negaranya
mendapatkan pujian dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat karena dinilai
sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam yang moderat. Belajar, bagaimana
caranya agar berlaku ramah terhadap pengaruh kebudayaan barat. Belajar,
bagaimana caranya agar pemerintahannya tak melakukan intervensi pelarangan
terhadap penerbitan majalah Playboy yang merupakan salah satu majalah
lifestyle
peradaban barat yang berasal dari Amerika Serikat.
Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahnya mampu untuk senantiasa
bersikap ramah terhadap kemauan politiknya Amerika Serikat. Belajar,
bagaimana
caranya agar pemerintahannya tak ragu untuk menghukum penjara para ulama
yang
dituduh sebagai dalang teroris. Belajar, bagaimana caranya agar
pemerintahnya tak pernah menunda waktu untuk mengeksekusi dengan tembak
mati
ditempat bagi mereka-mereka yang baru disangka sebagai pelaku teroris dari
kelompok yang dinilai sebagai Islam Fundamentalis.
Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahnya dapat menunda waktu untuk
mengeksekusi hukuman mati bagi mereka-mereka yang telah divonis pengadilan
sebagai pelaku teroris dari kelompok agama bukan Islam.
Namun, Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono juga harus saling mengingatkan, agar masing-masing harus mulai
bersiap-siap.
Jika dalam pertemuan itu, Presiden SBY gagal membujuk Presiden
Ahmadinejad agar bersikap lunak serta menuruti kemauannya Amerika Serikat.
Maka
Presiden Mahmoud Ahmadinejad harus mulai bersiap, bagaimana akan bersikap
dan
bagaimana akan bertindak jika sebentar lagi negaranya diserang dan dirinya
di-Saddam-kan oleh Amerika Serikat.
Demikian juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus mulai
bersiap, bagaimana akan bersikap agar tak dinilai berpihak kepada Iran dan
tak
melukai hati Amerika Serikat, namun terlihat seolah tak sependapat dengan
kesewenang-wenangan Amerika Serikat sekaligus terlihat seolah peduli dan
berempati
terhadap nasib Iran disaat negara itu diinvasi oleh Amerika Serikat.
Wallahu’alambishawab.
Jakarta, 15 Mei 2006
Artikel ini dapat
dibaca di :
Mengambil Iktibar
dari acara pertemuan Dua Presiden, pak Ahmadinejad dengan pak SBY.
http://public. kompasiana. com/2009/ 06/17/mengambil- iktibar-dari-
acara-pertemuan- dua-presiden- pak-ahmadinejad- dengan-pak- sby/
***
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
----------------------------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.374 / Virus Database: 270.12.83/2191 - Release Date: 06/21/09
05:53:00
Pesan ini dikirim menggunakan SMTP.TELKOM.NET.
[Non-text portions of this message have been removed]