Investor Timur Tengah Jajaki Bisnis Bank Syariah Selasa, 12 Desember 2006
Sejumlah investor asal Timur Tengah berniat mengembangkan bisnis perbankan syariah. Bisnis syariah di Indonesia lebih menjanjikan? Hidayatullah.com-Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Ch Fadjrijah, sudah ada tiga investor dari Timur Tengah yang berminat mengembangkan bisnis bank syariah di Indonesia. Ketiga investor tersebut adalah Sedco, Kuwait Finance House, dan Al-Barokah. Mereka sudah mengutarakan minatnya kepada BI dan melakukan penjajakan. "Mereka masih melakukan penjajakan, apakah akan langsung mendirikan bank syariah atau mengakuisisi bank konvensional untuk dikonversi menjadi bank syariah," kata Fadjrijah. Hal itu disebabkan banyaknya proyek yang harus dibiayai di Indonesia saat ini. Jadi, para investor tersebut tertarik menggarap bisnis syariah bukan karena alasan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim. Apalagi bisnis syariah di Indonesia semakin menarik dengan adanya kebijakan Program Akselerasi Perbankan Syariah 2007-2008 oleh BI. "Bisnis syariah akan lebih menjanjikan," jelas Adi. Sementara itu, BI menargetkan pertumbuhan bank syariah sebesar 5% pada 2008 melalui kebijakan program akselerasi. Hingga saat ini pertumbuhan syariah hanya 1,5%, tetapi sudah ada tiga investor asing yang tertarik untuk mendirikan bank syariah di Indonesia. Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI Harisman mengatakan, pihaknya akan menerapkan kebijakan dual banking untuk mendorong percepatan pertumbuhan bank syariah nasional. Sebagai wujud perhatian serius terhadap perbankan syariah, BI telah meluncurkan penyempurnaan cetak biru (blue print) pengembangan bank syariah dan kamus istilah keuangan perbankan syariah. Hasil survei 2000- 2005 menunjukkan potensi yang cukup besar, ditambah dengan perkembangan pesat bank maupun keuangan syariah nasional. "Tahap I mencanangkan akselerasi sebesar 5% di tahun 2008, dengan total aset sebesar Rp91,57 triliun. Meski begitu, (kami) tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prinsip syariah," tegas Harisman. Hingga akhir tahun 2006, kata dia, BI menargetkan pangsa pasar perbankan syariah sebesar 1,68% dengan aset Rp27,14 triliun dan akhir Desember 2007 sebesar 2,84% dengan aset Rp47,94 triliun. Sementara sasaran kebijakan dan program akselerasi tahun 2007-2008 adalah mendorong pertumbuhan dari sisi pasokan (suplai) dan permintaan (demand) secara seimbang, memperkuat permodalan, manajemen maupun sumber daya manusia (SDM) bank syariah. Lainnya adalah mengoptimalkan peranan pemerintah (otoritas fiskal) bersama BI sebagai penggerak pertumbuhan hingga melibatkan seluruh pihak perbankan syariah untuk lebih aktif dalam mendukung program akselerasi. "Potensi dan keinginan untuk menjalankan bank syariah sangat tinggi. Namun, belum ada yang terwujud secara riil sehingga membutuhkan dukungan dari bank maupun masyarakat," ujar dia. Dorongan dari sisi perbankan, tambah Harisman, adalah dengan menambah modal dan meningkatkan pembiayaan. Selain itu, menarik investor baru ke Indonesia. Sementara dari sisi masyarakat memperbaiki SDM bank syariah dan menambah produk bank syariah yang ditawarkan. Bak Asing Sejumlah bank asing dikabarkan sedang mengincar bank-bank local di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Fadjrijah Senin, (11/12) kemarin. Bank-bank itu antara lain; Bank of India (BoI) yang akan membeli Bank Swadesi dan Bank Commonwealth yang akan membeli Bank Artha Niaga Kencana (ANK). "Rencananya, BoI akan merealisasikan pembelian saham Bank Swadesi tahun depan, sedangkan Commonwealth sudah melakukan SPA dengan ANK," kata dia di Jakarta, kemarin. Bank-bank asing tersebut, lanjut Fadjrijah, tidak akan membeli seluruh saham bank lokal sebab mereka ingin mempertahankan mitra lokal. "Kita berharap, mereka bisa menjalankan operasional dengan baik dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional," terang dia. Namun ekonom UGM Revrisond Baswir sebagaimana dikutip Koran Sindo mengatakan, banyaknya bank nasional yang dikuasai bank asing tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dan BI dalam rangka 'liberalisasi perbankan.' Menurut dia, kondisi ini akan berdampak buruk terhadap perkembangan perbankan dan perekonomian nasional. "Mereka hanya memikirkan keuntungan dan tidak memedulikan kepentingan masyarakat bawah. Bank akan kehilangan fungsi intermediasinya," ujar dia. [ts/sindo] Source : <http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3971&Item id=65> http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3971&Itemi d=65
