Pemberlakuan dinar emas & dirham, hanya akan berjalan efektif bila sudah di 
terapkan syariat Islam secara utuh dalam wujud negara kesatuan Khilafah 
Islamiyah, karena selama unsur-unsur yang membentuk sistem perekonomian masih 
bercampur aduk dengan sistem kapitalisme, maka yg terjadi adalah sekedar upaya 
tambal sulam yang belum mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan 
umat.


----- Original Message ----
From: Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, December 26, 2006 11:25:42 AM
Subject: {ekonomi-syariah} Dollar sudah jatuh, di mana Dinar?

Dollar sudah jatuh, di mana Dinar?          
Minggu, 24 Desember 2006 
 
Sekarang, dollar sudah jatuh. Kenapa Dinar-emas belum bangkit, sebagaimana yang 
diharapkan Mahathir dan banyak orang lainnya?
 
oleh : Dzikrullah W. Pramudya
 
Samurai veteran kapitalisme sudah mengakui, pedangnya sekarang tumpul, tak bisa 
lagi mengendalikan dunia. Minggu lalu, bekas direktur Federal Reserve Amerika 
Alan Greenspan menyatakan bahwa ia memperkiraqan, dollar akan semakin lemah 
dalam beberapa tahun ke depan, gara-gara defisit yang dialami neraca pembayaran 
utang Amerika Serikat.
 
"Saya kira dollar akan terus anjlok sampai ada perubahan dalam neraca 
pembayaran utang AS,"� kata Greenspan dalam sebuah konferensi bisnis jarak jauh 
AS-Israel. Menurutnya, keadaan pasar begitu rumitnya, bahkan susah meramal 
kondisi dollar dalam jangka pendek.
 
Dia juga menyebutkan, bangsa-bangsa yang tergabung dalam OPEC sedang 
mengalihkan cadangan uangnya dari dollar ke euro dan yen. "Adalah tidak 
bijaksana untuk menahan semua milik Anda dalam satu mata uang,"� katanya.
 
Yang tidak diakui secara terus terang oleh Greenspan adalah, fakta bahwa sudah 
sejak lama tidak bijaksana untuk menyimpan uang Anda dalam mata uang fiat 
apapun. Fiat money alias uang kertas adalah jenis uang yang dianggap legal dan 
bernilai oleh suatu hukum. Dollar, Euro, Franc, Mark, Poundsterling, Rupee, 
Ringgit, Peso, Rupiah, Bath tak ada satupun yang didukung oleh nilai nyata 
kertasnya sendiri. Fiat money tidak memiliki nilai intrinsik (instrinsic 
value), sebagai kebalikan dari uang komoditas (commodity money) seperti 
Dinar-emas, perak, atau perunggu.
 
Seandainya besok, karena alasan tertentu, pemerintah AS mengumumkan bahwa 
mereka akan mendevaluasi uang kertas US$ 100 menjadi bernilai US$ 10, maka 
miliaran orang di dunia tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dan menerima 
'kenyataan'� bahwa dalam 24 jam ke depan mereka akan jauh lebih miskin.
 
Hal seperti itu tidak akan terjadi dengan Dinar-emas. Bahkan kalau seluruh 
pemerintah di muka bumi menyatakan bahwa emas adalah "barang tidak berharga"�, 
orang tidak akan peduli dan tetap memburu emas. Emas tetap emas, orang selalu 
akan menganggapnya bernilai tinggi sampai kiamat.
 
Nilai sebuah koin Dinar-emas 22 karat di masa Nabi Muhammad SAW --lebih dari 
1400 tahun silam-- masih tetap sama dengan nilainya hari ini. Tidak ada 
devaluasi, tidak ada inflasi. Bakar dan cairkan sepotong emas, nilainya tetap 
sama. Cobalah bakar setas penuh dollar AS dan gunakan arangnya untuk beli 
sepiring nasi. Parahnya lagi, Anda tidak perlu membakar uang kertas untuk 
membuatnya tidak bernilai. Simpan saja semua uang Anda dalam dollar, rupiah, 
dan lain-lain; sesudah beberapa tahun nilai uang Anda pasti akan turun kalau 
tidak anjlok. Nyatanya, nilai dollar terhadap emas terus menurun sejak tahun 
1970-an sampai hari ini.
 
Kebanyakan orang akan mengira bahwa itulah sifat uang, selalu mengalami 
inflasi. Namun, kelompok masyarakat Amerika sendiri seperti FAME (Foundation of 
the Advancement of Monetary Education) atau GATA (Gold Anti-Trust Action 
Committee) berpikiran lain. Beberapa tahun belakangan ini mereka semakin keras 
bersuara tentang perlunya perombakan sistem moneter yang berbasis fiat money. 
Mereka mewakili masyarakat AS yang merasa dirugikan, karena nilai tabungan 
dollarnya yang didapat dengan kerja keras bertahun-tahun ternyata turun setiap 
tahun. "Karena kesalahfahaman dan tertutupnya sistem fiat dollar, maka ini 
suatu penipuan besar-besaran, " demikian pernyataan Lawrence Parks, direktur 
ekskutif FAME.
 
Kedua organisasi ini bekerja keras mendorong Kongres AS untuk mengubah sistem 
moneter di negeri itu (yang tentu saja berpengaruh luas kepada dunia 
internasional) . Menurut lembaran fakta resmi FAME, Kongres AS telah secara 
salah memberikan sebuah kekuasaan istimewa bagi sistem perbankan AS yang sama 
sekali tidak diatur oleh konstitusi AS. Kekuasaan itu dipakai oleh perbankan AS 
untuk menciptakan kertas-kertas yang dianggap legal dan mutlak sebagai uang 
tanpa dasar atau sandaran apa-apa.
 
Sejak tahun 1946 sampai 2005, dengan modal "hanya" US$ 150 miliar, sistem 
perbankan AS telah mencetak uang fiat senilai US$ 9,4 triliun. Sekitar US$ 700 
miliar dicetak oleh the Federal Reserve, dan sisanya sekitar US$ 8,7 triliun 
dicetak oleh perusahan-perusahaa n swasta, dalam hal ini bank-bank. Parks 
mempertanyakan, "Kenapa perusahaan-perusaha an swasta harus diberi kekuasaan 
untuk mencetak uang?"�
 
Kita biarkan saja orang Amerika berkutat dengan masalah fiat money yang 
membingungkan ini. Artikel ini ingin lebih memfokuskan diri pada jalan keluar 
dari masalah ini, yaitu commodity money. Dalam hal ini, mata uang Dinar-emas.
 
Kebanyakan orang di kawasan Asia Tenggara memandang Dinar-emas sebagai isu 
politik. Pada tahun 2003 Perdana Menteri Malaysia waktu itu Mahathir Mohammad 
mengangkatnya. Sesungguhnya, Mahathir angkat bicara sesudah selama belasan 
tahun berbagai kelompok Muslimin di Inggris, Spanyol, dan Afrika Selatan 
memulainya. Mahathir mengumumkan, bahwa Malaysia akan berinisiatif memperbaiki 
sistem keuangan internasional, dengan cara menjadikan Dinar-emas sebagai mata 
uang alternatif.
 
Dia mengkritik sistem keuangan masa kini karena 'sudah dipelintir oleh 
negara-negara kaya dan para spekulator'�. Dia juga menyatakan bahwa Malaysia 
akan berusaha keras menggunakan Dinar-emas dalam perdagangannya dengan Iran 
sebagai langkah awal. Kalau inisiatif itu berhasil, Malaysia akan memperluas 
kerja sama ini dengan 32 negara lewat pengaturan pembayaran bilateral (BPA).
 
Sekarang, dollar sudah jatuh. Kenapa Dinar-emas belum bangkit, sebagaimana yang 
diharapkan Mahathir dan banyak orang lainnya?
 
Jawabannya datang dari Presiden Dinar Club di Jakarta, Muhaimin Iqbal, yang 
juga presiden direktur sebuah perusahaan asuransi tertua di negeri ini. Menurut 
Iqbal, sulit bagi Dinar-emas menjadikan dirinya mata uang alternatif tanpa 
dukungan perbankan Islam atau syariah. Dia menyatakan, "Satu-satunya lembaga 
yang bisa memfasilitasi sistem pembayaran modern, transfer, dan lain-lain 
hanyalah bank syariah."�
 
Iqbal juga meyakinkan, bahwa langkah membuka rekening Dinar-emas akan 
menguntungkan bank-bank syariah karena akan lebih melindungi masyarakat yang 
hendak menabung dalam Dinar-emas dari riba. Dengan demikian tabungan mereka 
tidak akan tercampur dengan proyek pembiayaan yang masih mengandung riba. 
Bank-bank syariah juga akan mendapatkan bayaran jasa penyimpanan Dinar. Yang 
sekarang belum ada, menurut Iqbal, hanya niat dan political will dari perbankan 
syariah dan pemerintah.
 
Masyarakat sebaiknya mencermati terus jatuhnya dollar yang akan terus anjlok 
beberapa tahun ke depan. Euro dan yen juga, menurut Iqbal sama rentannya karena 
sama-sama fiat money. Yang paling bijaksana adalah menyimpan uang dalam 
Dinar-emas, karena sifatnya yang tahan gempa krisis moneter apapun. Dinar-emas 
sudah selama beberapa tahun ini diproduksi di Indonesia. Alternatifnya adalah 
emas murni batangan.
 
Bagaimanapun, Iqbal mengingatkan, bahkan Dinar-emas juga bukan tujuan akhir 
dari sistem ekonomi. Orang-orang kaya, khususnya jika mereka Muslim, seharusnya 
tidak menumpuk kekayannya dalam rekening-rekening bank dalam waktu yang lama. 
Akan lebih baik jika kekayaan itu diinvestasi ke dalam putaran usaha di sektor 
nyata sehingga membuka lapangan kerja dan lebih berkah. Alternatifnya adalah 
kekayaan yang disebarkan lewat infaq dan sadaqah di jalan Allah sebagai bentuk 
investasi yang lebih tahan krisis dan tidak akan bisa dirampok. Atas nama 
keadilan, Islam melarang kekayaan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya 
saja. Inilah jalan keluar terbaik dari sistem keuangan yang serba kacau.
 
* Kolomnis hidayatullah. com dan  kini sedang menulis untuk The Brunei Times
 
Source : http://hidayatullah .com/index. php?option= 
com_content&task=view&id=4021&Itemid=59
 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke