MENGGAGAS BISNIS ISLAMI
  Karya: M. Ismail Y & M. Karebet W.
Oleh : Dwi Condro Triono
  PENDAHULUAN
  Saat ini persoalan ekonomi merupakan persoalan yang paling berat dirasakan 
oleh ummat manusia di belahan bumi manapun. Terlebih lagi di Indonesia, sudah 
lebih dari 50 tahun Indonesia merdeka, dengan 5 kali rejim yang pernah 
berkuasa, namun tanda-tanda menuju ke arah perbaikan ekonomi belum juga pernah 
dirasakan oleh segenap rakyat Indonesia ini. Terlebih lagi semenjak Indonesia 
dilibas oleh bencana krisis moneter yang telah meluluhlaktakkan segenap 
sendi-sendi ekonomi Indonesia. Padahal kita semua tahu bahwa hamparan bumi 
Indonesia menyimpan segenap kekayaan alam yang tak ternilai besarnya dibanding 
dengan negara-negara lain di dunia ini.
  Jika kita mau menilik ke belakang, terutama di saat Islam masih jaya dan 
berkuasa di atas muka bumi ini dengan system kekhilafahannya, cerita tetang 
derita rakyat akibat kesulitan ekonomi amat jarang kita dengar, atau bahkan 
mungkin tidak pernah terjadi. Padahal kekuasaan Islam hampir meliputi 
duapertiga belahan bumi, dari Maroko sampai Merauke, dari Eropa sampai Afrika 
Tengah. Hamparan negara yang super luas tersebut tidak pernah mengalami cerita 
bencana kelaparan sebagaimana yang dialami Ethiopia saat ini, bencana 
pengangguran massal akibat depresi ekonomi besar sebagaimana yang dialami 
Amerika pada tahun 1929, inflasi besar yang melanda Turki, termasuk badai 
krisis moneter yang hampir menerpa negara-negara di belahan manapun di dunia 
ini di penghujung abad 20 lalu.
  Informasi yang terdengar dari masa itu justru bagaimana mudahnya rakyat untuk 
bersekolah, karena tidak ada sekolahan yang bayar, mudahnya rakyat berobat 
karena tidak ada rumah sakit yang tidak gratis. Yang dipikirkan rakyat hanyalah 
bagaimana dia belajar, menuntut ilmu, berprestasi, memajukan sains dan 
teknologi, berkarya dan berjuang untuk izzul Islam wal muslimin. Jika ada 
seorang pelajar yang berhasil menulis sebuah buku, maka negara akan menimbang 
buku tersebut dan akan mengganti dengan emas seberat buku tersebut. Mahasiswa 
dibebaskan untuk menguasai berbagai disiplin ilmu yang dia minati tanpa harus 
berfikir keras dengan uang SPPnya. Oleh karenanya kita tidak pernah mengenal 
ulama tempo dulu yang hanya menguasai satu disiplin ilmu saja. Imam al Ghazali, 
misalnya yang dikenal saat ini sebagai ahli tasawuf, sebenarnya beliau juga 
ahli fisika, kimia, aljabar, kedokteran, ilmu Hadits maupun ilmu fikih.
  Betapa indahnya kehidupan waktu itu, begitu makmurnya kondisi rakyat saat 
itu, tidak ada cerita inflasi, suku bunga yang mencekik, pengangguran yang 
merajalela, anak putus sekolah, berobat yang mahal, upah yang begitu rendah dan 
lain sebagainya. Namun mengapa keadaan itu sekarang telah berbalik? Persoalan 
ekonomi saat ini benar-benar telah menjadi momok bagi setiap manusia. Setiap 
mahasiswa yang kuliah selalu dihantui oleh masa depan yang kelabu, karena 
mereka harus berjuang kuliah dengan biaya yang mahal untuk disiapkan menjadi 
pengangguran-pengangguran intelaktual yang siap antre mengais pekerjaan. Yang 
menjadi pertanyaan tentu adalah: apanya yang salah dari semua ini? Apakah itu 
hanya karena sumber daya alam yang tersedia untuk ummat manusia sudah sangat 
terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagaimana yang digembar-gemborkan 
para pakar ekonomi konvensional (kapitalis) saat ini?
  SEJENAK MENENGOK KE BELAKANG
  Ketika sistem ekonomi kapitalisme lahir dari bumi Eropa melalui buku yang 
sangat monumental yang telah ditulis Adam Smith (1776) “The Wealth of Nations” 
duniapun menyambutnya dengan gempita. Ummat manusia saat itu yakin bahwa sistem 
ekonomi yang akan membimbing manusia ke arah kesejahteraan dan keadilan 
hanyalah sistem ekonomi kapitalisme. Ekonomi kapitalisme sangat yakin, jika 
seluruh mekanisme ekonomi dikembalikan pada mekanisme pasar bebas tanpa campur 
tangan pemerintah, maka perekonomian akan berjalan dengan mekanisme yang 
seadil-adilnya, karena the invisible hands akan datang dan mengatur sendiri 
mekanisme ekonomi tersebut (Deliarnov, 1997: 35).
  Oleh karena itu ekonomi kapitalisme mempersilakan pada sektor swasta untuk 
bergerak sebebas-bebasnya dalam mengembangkan perekonomiannya, niscaya laju 
pertumbuhan ekonomi suatu negara akan dapat terus dicapai secara mengesankan. 
Benarkah kondisi itu benar-benar akan terus dapat dicapai?
  Karl Heindrich Marx (1818-1883), saat itu telah mencium gelagat yang tidak 
beres dari ekonomi liberalnya yang digagas oleh Smith seperti diatas. Pada 
tahun 1867, Marx dengan dibantu oleh Engels menerbitkan buku Das Kapital. Dalam 
buku tersebut Marx mengkritik habis-habisan ekonomi kapitalisme yang waktu itu 
tengah marak berkembang. Marx yakin bahwa ekonomi kapitalisme hanya akan 
menimbulkan jurang kelas yang makin lebar antara kaum juragan (pemilik kapital) 
dan kaum buruh. Melalui teori “upah besi”nya Marx menggambarkan bahwa kaum 
buruh tidak akan pernah naik derajatnya – “pasar bebas memang telah menakdirkan 
demikian” demikian menurut Marx (Deliarnov, 1997: 65). Secara lebih cermat lagi 
Marx mengkritik ekonomi kapitalisme dengan menggunakan teori “surplus labor and 
value”. Marx dalam mengembangkan teorinya tersebut berangkat dari teori-teori 
nilai (value)-nya Adam Smith dan David Ricardo, yang intinya menyatakan bahwa 
“nilai suatu barang apapun sangat tergantung kepada
 usaha yang telah dikorbankan untuk menghasilkannya”. Dari teori nilai itulah 
Marx lantas menuduh bahwa kaum majikan (yang dalam proses produksi tidak 
terlibat sama sekali dalam menghasilkan suatu barang) telah merampok hak buruh 
karena hanya memberi upah yang kecil sementara laba yang besar justru hanya 
dinikmati oleh para pemilik kapital (modal) tersebut. Rumus yang diberikan 
Marx, S’ = S/V, dimana S’ adalah tingkat eksploitasi, S adalah nilai surplus 
dan V adalah upah yang diberikan.
  Dengan berbagai teorinya tersebut itulah Marx telah meramalkan kejatuhan dari 
ekonomi kapitalisme. Jika keadaan tersebut terus berlanjut maka Marx 
memprediksi bahwa akan ada pemberontakan kaum yang tertindas (buruh) terhadap 
para pemilik kapital. Jika hal itu tidak segera diatasi maka kehancuran 
peradaban kapitalisme tidak terhindarkan lagi. Oleh sebab itu, sebelum bencana 
itu terjadi, Marx telah memberi solusi, diantaranya adalah (An-Nabhany, 1996: 
30):Penghapusan kepemilikan individu (private property), Mewujudkan kesamaan 
(equality) secara riil, Mengatur produksi dan distribusi secara kolektif.
  Dengan adanya serangan kritik yang pedas dari kaum sosialisme/komunisme 
tersebut, kaum kapitalis berupaya membela mati-matian teori-teori yang telah 
dikembangkannya. Melalui tokohnya seperti Jevons, Walras, Menger dan Marshall 
mereka mencoba memperbaharui teori-teorinya Smith (yang oleh Marx dianggap 
sebagai aliran klasik) sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai teori 
neo-klasik.
  Apa yang dikhawatirkan oleh Marx melalui teori-teorinya berhasil dijawab satu 
per satu oleh aliran neo-klasik ini. Sehingga ekonomi kapitalisme terus melaju 
dengan perbaikan sana sini. Akhirnya dengan tetap berpijak pada hukum Jean 
Baptiste Say yang menyatakan: supply creates its own demand (setiap penawaran 
akan menciptakan permintaannya sendiri) (Deliarnov, 1997: 46), ekonomi 
kapitalisme terus mengembangkan dirinya dengan optimisme yang tinggi. Benarkah 
optimisme tersebut dapat terus tergapai?  
  NASIB EKONOMI KAPITALISME
  Dengan tetap berpijak pada hukum Say seperti di atas, ekonomi kapitalisme 
bergerak bagai tak terkendali. Sejak tahun 1920-an di negara-negara kapitalis 
tiap-tiap perusahaan berlomba-lomba mengahsilkan barang sebanyak-banyaknya. 
Masyarakat berpacu untuk menanamkan sahamnya di berbagai pasar bursa. Semua 
terus dibuai mimpi akan semakin tingginya perolehan deviden dari sahamnya yang 
terus menanjak kerena terus meningkatnya produksi.
  Suatu keadaan yang tiba-tiba berbalik benar-benar telah terjadi dan tidak 
pernah terperkirakan sebelumnya. Akibat produksi terus-menerus dilakukan, 
ternyata telah menyebabkan peningkatan produksi yang tidak terkendalikan. Pada 
tahun 1930-an terjadi malapetaka yang sangat dahsyat (depresi besar-besaran). 
Perekonomian ambruk, pengangguran merajalela, inflasi terus membumbung naik tak 
terkendali (Koesters, 1987). Seluruh ummat manusia terpana, seakan tak percaya, 
sehingga sempat bertanya-tanya: apakah ramalan Karl Marx benar-benar telah 
terjadi?
Walaupun akhirnya ekonomi berhasil terselamatkan dengan munculnya pahlawan 
ekonomi baru John Maynard Keynes (1883-1946) dengan bukunya yang sangat 
terkenal “The General Theory of Employment, Interest and Money”. Munculnya 
teori Keynes memang telah membawa perubahan-perubahan yang cukup besar dalam 
dunia kapitalisme, dimana Keynes justru menganjurkan agar pemerintah ikut 
berperan dalam perekonomian agar ekonomi tidak semakin ambruk. Namun demikian, 
teori-teori Keynes hanya bertahan sampai tahun 1970-an. Kemudian terus 
bermunculan teori-teori baru seperti aliran menetaris, aliran sisi penawaran 
(supply siders) dan yang paling akhir adalah aliran “Ratex” atau Rational 
Expectation.
  Ekonomi Kapitalisme sesungguhnya terus-menerus dihadapkan pada kenyataan akan 
terjadinya kegagalan-demi kegagalan dalam menyelesaikan problem ekonomi dunia. 
Ekonomi Kapitalisme sesungguhnya telah putus asa dengan berbagai teorinya, 
paling tidak hal itu nampak sekali pada aliran “Ratex” yang paling akhir, yang 
inti teori yang sesungguhnya hanyalah menganjurkan agar pemerintah tidak perlu 
lagi ikut campur dalam perekonomian, dengan demikian biarkan saja swasta 
menjalankan ekonominya secara bebas dan sebebas-bebasnya. Berarti hal itu telah 
mundur lagi ke belakang. Jika demikian, haruskah ummat manusia mengulang 
tragedy 1930-an?
   
  MENGGAGAS BISNIS ISLAMI
  Jika kita memperhatikan perjalanan sejarah ekonomi kapitalisme, maka kita 
dapat mengambil kesimpulan bahwa sejak munculnya kritik oleh Marx, kapitalisme 
tidak pernah melakukan perubahan apapun terhadap sistem ekonomi yang telah 
mereka praktikkan. Mereka hanya melakukan pembelaan yang hanya bernuansa 
apologetik. Di sisi lain, Marx yang telah dengan jeli menatap kekeroposan 
potensial yang menghinggapi ekonomi kapitalisme telah memberikan solusi yang 
amat radikal sehingga buahnya telah dirasakan dengan tumbangnya Uni Soviet 
tahun 1990-an yang baru lalu.
  Buku “Menggagas Bisnis Islami” karya M. Ismail Yusanto dan Karebet W. ini 
patut kita cermati dengan agak teliti dan hati-hati. Barangkali di dalamnya 
dapat kita temukan “sesuatu” yang “baru” yang sungguh berbeda dengan apa yang 
ada dalam ekonomi kapitalisme maupun sosialisme. Setelah mencermati buku ini, 
penulis dapat memberikan beberapa catatan penting yang layak untuk diperhatikan 
lebih lanjut.
  Walaupun buku ini tidak menyajikan solusi yang global terhadap persoalan 
besar yang sekarang tengah dihadapi oleh ummat manusia di dunia ini, namun 
penulis menemukan adanya gagasan alternatif tentang sistem perusahaan yang 
islami yang sangat berbeda dengan bentuk perusahaan yang ada dalam ekonomi 
kapitalisme.
  Bentuk perusahaan yang dalam buku ini disebut dengan organisasi bisnis yang 
penulis maksudkan adalah Syirkah Islam yang mempunyai beragam bentuk 
sebagaimana telah dijelaskan di hal. 127 – 132. Walupun tidak diberikan 
pembahasan yang spesifik dan spesial dalam buku ini, penulis yakin bahwa bentuk 
perusahaan seperti inilah yang mampu menjawab kegusaran yang pernah dialami 
oleh Karl Marx ketika menatap kedzaliman yang pasti akan terjadi akiban bentuk 
perusahaan kapitalisme.
  Jika Marx pernah mengusulkan untuk menghadapi kedzaliman yang akan dihasilkan 
oleh perusahaan kapitalisme dengan solusi yaitu menghapuskan kepemilikan 
individu secara total, dalam bentuk perusahaan syirkah ternyata solusi yang 
diberikan tidak radikal dan Insya Allah lebih memberikan keadialan.
  Syirkah, sebagaimana didefinisikan sebagai “transaksi atau akad antara dua 
orang atau lebih, yang dua-duanya sepakat untuk melakukan kerja yang bersifat 
finansial dengan tujuan untuk mencari keuntungan” (Hal. 126), memberi 
pengertian bahwa tidak sah kerjasama yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih 
yang tidak ada unsur kerja yang bersifat finansial. Hal ini memberi batasan 
yang jelas bahwa bentuk-bentuk perusahaan kapitalisme seperti PT (Perseroan 
Terbatas) atau syirkah musahamah tidak sah secara syar’iy karena hanya 
merupakan kumpulan pemilik modal saja untuk membentuk perusahaan. Dari sinilah 
kedzaliman yang dikhawatirkan Karl Marx dapat terjawab.
  PENUTUP
Demikianlah beberapa catatan penting yang dapat diberikan penulis terhadap buku 
ini, oleh karena itu sebagai masukan untuk buku ini penulis berharap porsi 
penulisan syirkah dalam buku ini agak lebih besar dan lebih spesifik dengan 
memperbandingkan dengan bentuk perusahaan-perusahaan yang ada sehingga dapat 
memberikan nilai lebih dalam buku ini. Semoga bermanfaat. Amin. 
(www.syariahpublications.com) 

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

Kirim email ke