Dinasti Bush Dinasti Saud

Penulis : Craig Unger
Penerbit: Diwan Publishing ( www.diwanpublish.com )


....Dengan Gayanya yang sekuler, flamboyan dan penuh percaya diri, 
Bandar selalu lumpuh oleh teror, dan selama 48 jam, tidak ada 
seorang pun yang dapat melakukan penerbangan. Tidak seorang pun, 
kecuali warga Arab Saudi. 
Pada waktu yang sama saat tim medis Brian Cortez harus men-darat, 
Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Azis, Duta Besar Arab Saudi 
untuk AS, sedang mengatur pengungsian 140 orang Saudi yang tersebar 
di seluruh AS. Termasuk di antara mereka adalah anggota dua 
keluarga: yang pertama adalah keluarga kerajaan Dinasti Saud, yaitu 
keluarga yang menguasai kerajaan Arab Saudi, yang berkat cadangan 
minyaknya yang berlimpah, tanpa diragukan lagi, menjadi dinasti 
terkaya di dunia. Keluarga kedua adalah kerabat dekat dan sekutu 
Dinasti Saud yaitu keluarga Binladenyang selain merupa-kan 
konglomerat pembangunan bernilai multi-milyaran dolar, juga telah 
melahirkan tokoh yang "terkenal ", Osama bin Laden. 
Pada usianya yang ke-52, Pangeran Bandar telah lama menjadi tokoh 
Arab Saudi yang paling dikenal di Amerika. Pangeran Bandar, yang 
lebih dikenal sebagai "The Saudi Gatsby" dengan ciri khas jang-gut 
dan jas rapih, merupakan pribadi yang sangat kontradiktif; sebagai 
anggota kerajaan Dinasti Saudi ia bergaya hidup modern, berada di 
kalangan jet set, dan belajar di Barat. 
mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh 
dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan 
melewati batas aturan ketat agama Islam yang dianut-nya, ia 
mengabaikan ajaran agama Islam dengan meminum brandy dan mengisap 
cerutu Cohiba. Pada saat mengikuti budaya Barat yang tak mengenal 
Tuhan, Bandar bisa mengalahkan siapa pun, bahkan para pengikut 
peradaban Barat yang paling fanatik sekalipun. Bandar 
juga merupakan orang yang menggemari pertandingan football dari tim 
Dallas Cowboys bersama temannya Jerry Jones, sang pemilik tim 
tersebut. Bagi pengikut fundamentalis Islam yang sudah jijik ter-
hadap perilaku multi-milyuner anggota kerajaan Arab Saudi pro-Barat, 
tidak ada seorang pun yang lebih pantas untuk dibenci selain Bandar. 
Namun di balik penampilannya sebagai seorang playboy dunia Barat, 
jauh dalam dirinya, Pangeran Bandar merupakan tokoh utama dalam 
dunia Islam. Ayahnya, Menteri Pertahanan Pangeran Sultan, merupakan 
orang kedua yang berhak atas mahkota kerajaan Arab Saudi. Bandar 
adalah kemenakan dari Raja Fahd, pemimpin kerajaan Arab Saudi yang 
saat itu sudah lanjut usia. Ia juga merupakan cucu dari almarhum 
Raja Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi modern yang memulai sejarah 
hubungan "minyak untuk keamanan" antara Arab Saudi dan AS saat ia 
bertemu Franklin D. Roosevelt di kapal USS Quincy di Terusan Suez 
pada tanggal 14 Februari 1945.4 Dinasti kerajaan yang sangat besar 
itu, tempat Bandar memiliki peran yang sangat besar, menjaga dua 
tempat paling suci agama Islam, yaitu Masjid suci di Madinah dan 
Makkah. 
Sebagai seorang diplomat internasional yang cerdik, Ban-dar dengan 
jelas juga mengetahui betapa berbahaya posisi keluarganya. Selama 
puluhan tahun. Dinasti Saud berhasil mempertahankan kendali atas 
Arab Saudi dan cadangan mi-nyak terbesarnya di dunia yaitu dengan 
cara menjaga keseim-bangan antara dua pihak yang telah bersumpah 
untuk meng-hancurkan satu sama lain. 
Pada satu pihak, Dinasti Saud menganut sistem teokrasi Islam yang 
mendapat kekuatan dari persekutuannya dengan kelompok
fundamentalis Wahabi, sebuah kelompok aliran Islam yang berusa-ha 
mempertahankan keaslian ajaran agamanya dan menjadi lahan subur bagi 
tumbuhnya jaringan garis keras dunia untuk melakukan jihad kekerasan 
terhadap AS. 
Di lain pihak, sekutu terpenting Dinasti Saud adalah sang "Setan 
Besar" itu sendiri, Amerika Serikat. Dengan pengamatan sekilas 
terhadap hubungan itu, terungkap adanya kontradiksi yang 
mengejutkan: Amerika sebagai negara sumber demokrasi, harus 
melindungi dan mempersenjatai negara kerajaan teokratis absolut. 
Amerika Serikat sebagai negara yang bersumpah untuk membela Israel, 
ternyata juga merupakan penjamin keamanan bagi negara pengayom Islam 
Wahabi, sebuah aliran Islam fundamentalis yang merupakan salah satu 
musuh abadi Israel dan Amerika. 
Juga secara mengejutkan, hubungan yang sensitif tersebut bukan hanya 
bisa bertahan, tetapi berlangsung sangat sukses. Dalam waktu hampir 
tiga dasawarsa sejak embargo minyak pada tahun 1973, AS telah 
membeli minyak, dengan harga yang masuk akal bernilai ratusan milyar 
dolar. Pada periode waktu yang sama pula, Arab Saudi telah membeli 
senjata bernilai ratusan milyar dolar dari AS. Arab Saudi juga telah 
mendukung AS dalam menangani masalah keamanan regional di Iran dan 
Irak, serta menahan diri untuk tidak bermain agresif melawan Israel. 
Anggota keluarga kerajaan Arab Saudi, ter-masuk Bandar, telah 
menjadi milyuner dari waktu ke waktu, dan dengan proses diam-diam 
mereka telah menjadi pemain utama di pasar Amerika dengan investasi 
ratusan milyar dolar pada saham-saham di perusahaan AS.5 Sementara 
itu harga minyak, sebagai penentu utama dalam ekonomi, politik dan 
kegelisahan budaya di Amerika, bisa terjaga cukup rendah sehingga 
kendaraan bermotor
seperti SUV yang rakus bensin tetap bisa ditemui di jalanan Amerika. 
Selama era Presiden Reagan dan Clinton, kondisi itu menyebabkan 
perekonomian berhasil meningkat. 
Hubungan tersebut merupakan jalinan antara uang, kekuasaan, dan 
kepercayaan. Hubungan itu bertahan karena dua pihak yang berlawanan 
yaitu fundamentalis Islam dan AS saling menutup mata. Militer 
Amerika mungkin menyebutnya sebagai kebijakan "jangan bertanya, 
jangan bicara". Al -Quran juga mempunyai versinya sendiri, 
yaitu: "Janganlah kau bertanya tentang hal-hal yang, jika dijelaskan 
kepadamu, bisa menyebabkan kesulitan untukmu."6 
Namun sekarang, segera setelah peristiwa 9/11, rahasia ter-sembunyi 
mengenai hubungan itu telah terbuka. Karena ribuan orang tak berdosa 
telah terbunuh dan sebagian besar pembunuhnya dikatakan sebagai 
orang Saudi. Itu membuat Bandar harus meyakin-kan pemerintah Amerika 
bahwa hubungan antara Amerika dan Arab Saudi baik-baik saja. Bandar, 
yang selama ini selalu menjadi seorang perantara yang baik, kini 
dengan sikapnya yang tenang harus menghadapi ujian berat, yang tak 
pernah terjadi sebelumnya. 
Bandar berharap bahwa laporan awal yang menyatakan tentang peran 
orang Arab Saudi dalam serangan teror itu hanyalah berita yang 
dibesar-besarkanterlebih lagi, agen Al-Qaeda diketahui menggunakan 
paspor palsu. Tetapi pada pukul 10:00 malam 12 September 2001, 36 
jam setelah serangan tersebut, seorang agen tingkat tinggi CIAyang 
menurut majalah Newsweekmungkin adalah Direk-tur CIA, George 
Tenetmenelpon Bandar di rumahnya dan membe-ritahukan kabar buruk7 
bahwa 15 dari 19 orang pembajak adalah orang Arab Saudi. Setelah itu 
Bandar berkata, "Rasanya Menara Kem-bar itu baru saja jatuh di atas 
kepalaku."
Sistem hubungan masyarakat tidak pernah terasa begitu penting bagi 
Arab Saudi sebelumnya. Namun kini Bandar segera menyewa Burson-
Marsteller, perusahaan public relation raksasa untuk memasang iklan 
di seluruh surat kabar di AS yang isinya mengutuk serangan tersebut 
dan menyatakan bahwa Arab Saudi tidak ada hubungannya dengan 
serangan itu.8 Dia pergi ke CNN, BBC dan jaringan stasiun TV utama 
lain untuk terus mengatakan hal yang sama: hubungan Arab Saudi 
dengan AS masih kuat. Arab Saudi akan membantu AS dalam memerangi 
terorisme. 
Pangeran Bandar juga memprotes laporan media yang menyebut pihak-
pihak yang terkait dengan terorisme sebagai "orang Saudi". Saat 
menegaskan bahwa tidak ada teroris yang bisa disebut sebagai "warga 
negara Arab Saudi", ia mendesak media dan politisi agar me-nahan 
diri dari membuat tuduhan terhadap orang Arab dan kaum Muslim. "Kami 
atas nama kerajaan, pemerintah dan warga Arab Saudi menolak bahwa 
siapa pun yang berkaitan dengan terorisme disangkut-pautkan dengan 
negara kami," kata Bandar9. Itu juga ter-masuk Osama bin Laden, yang 
disebut-sebut sebagai pelaku serangan tersebut dan telah diusir oleh 
keluarganya. Ia juga sebenarnya bukan orang Saudi, lanjut Bandar, 
karena pemerintah telah mengambil paspornya akibat aktivitas 
terorisme yang ia lakukan. 
Tetapi Osama bin Laden tadinya, tentu saja, memang orang Arab Saudi, 
dan ia juga bukan sembarang orang Saudi. Keluarga Binladen adalah 
salah satu keluarga kaya yang sangat dekat dengan Dinasti Saud 
sehingga mereka bisa bertindak seakan bagian dari Dinasti kera-jaan 
itu. Lebih dari lima dasawarsa, mereka telah membangun kera-jaan 
konstruksi bernilai multimilyaran dolar berkat kedekatannya dengan 
keluarga kerajaan. Bandar sendiri juga sangat mengenal
mereka. "Mereka adalah orang-orang yang sangat penyayang," katanya 
kepada CNN. "[Osama] adalah satu-satunya, saya hanya pernah ber-temu 
dia satu kali. Sementara lainnya adalah pengusaha sukses yang 
terpelajar dan terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Ini, ini 
sungguh tragis. Saya dapat merasakan kepedihan mereka, karena ia 
telah me-nyebabkan timbulnya banyak kepedihan." 10 
Sama seperti Bandar, keluarga bin Laden merupakan contoh perkawinan 
antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Perusahaan kons-truksi besar 
milik mereka, Saudi Binladin Group (SGB)* menyimpan uang di bank 
Citigroup, berinvestasi dengan Goldman Sachs dan Merrill Lynch.11 
Selama ini keluarga Binladen melakukan usaha ber-sama dengan ikon-
ikon dunia Barat,12 seperti Disney, Hard Rock Cafe, Snapple, dan 
Porsche. Pada pertengahan tahun 90-an mereka bergabung dengan 
berbagai anggota Dinasti Saud dan menjadi rekan bisnis mantan 
menteri luar negeri James Barker dan mantan Presiden George H. W. 
Bush dengan berinvestasi pada Carlyle Group, sebuah perusahaan 
raksasa yang berlokasi di Washington DC. Seperti di-katakan oleh 
Charles Freeman, mantan duta besar AS di Arab Saudi, kepada Wall 
Street Journal, "Jika ada perusahaan yang sangat dekat dengan AS di 
Arab Saudi, itu adalah Saudi Binladen Group."13 ........



Kirim email ke