Senin, 09 April 2007
Taktik Pukul Balik Iran M Luthfi Hamidi Pemerhati Masalah OKI, Penulis Buku Gold Dinar Mana yang lebih berbahaya, Iran yang dicurigai mengembangkan program nuklir atau keterlibatan AS di Irak? Masyarakat dunia, memilih yang kedua. Tak kurang 17 ribu orang dari 15 negara yang berbeda, melihat polah AS lebih mengancam perdamaian dunia ketimbang Iran (The Guardian, 15 Juni 2006). Namun dengan pendekatan diplomatisnya, AS berhasil menggiring opini 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan Resolusi 1747 yang berisi sanksi untuk Iran. Selain sanksi yang terkait larangan ekspor senjata, sebagian atau menyeluruh dan pembekuan aset, Resolusi 1747, juga membatasi Iran untuk memperoleh bantuan keuangan. Pertanyaannya, apakah resolusi ini bakal mempersempit ruang gerak Iran atau malah sebaliknya? Fundamental ekonomi kuat Menteri Keuangan dan Ekonomi Iran, Davoud Danesh-Jaafari dalam berbagai kesempatan menegaskan, sanksi itu tidak akan berdampak bagi ekonomi Iran. Sebaliknya, Jaafari menjelaskan, sanksi itu akan memukul partner dagang utama Iran. Jaafari sepertinya bukan sedang main gertak. Boleh jadi, sanksi ekonomi yang dikenakan oleh DK PBB tidak akan efektif mempengaruhi kinerja ekonomi Iran. Fundamental ekonomi Iran sangat bagus bila dibandingkan dengan 58 negara Organisasi Konferensi Islam (OKI). Pada tahun 2006, menurut data resmi CIA World Fact Book, Iran membukukan surplus rekening semasa (current account) sebesar 13,27 miliar dolar AS. Jumlah ini berarti kenaikan 531,9 persen dari tahun sebelumnya yang hanya mencatat surplus 2,1 miliar dolar AS. Dibanding Indonesia, surplus rekening semasa Iran sangat gemuk. Pada tahun yang sama, Indonesia hanya membukukan surplus sekitar 2 miliar dolar AS (penurunan sekitar 72 persen dari tahun 2005 yang sempat membukukan surplus 7,3 miliar dolar AS). Sementara itu, utang Iran (external debt) juga cukup rendah. Pada tahun 2006, utang luar negeri Iran mencapai 19 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 42 persen dari tahun sebelumnya. Meskipun mengalami peningkatan akumulasi utang yang signifikan, jumlah ini masih jauh lebih manageable dibanding utang luar negeri Indonesia. Sebagai pembanding, total utang luar negeri Indonesia pada tahun 2006, mencapai 135 miliar dolar AS (turun 6,5 miliar dolar dari tahun 2005). Iran yang berpenduduk sekitar 80 juta orang, juga memiliki cadangan devisa yang cukup aman. Pertengahan tahun lalu, Bank Sentral Iran (CBI) mengumumkan cadangan devisa Iran sekitar 50 miliar dolar AS. Sementara, cadangan devisa Indonesia yang berpenduduk lebih dari 215 juta, per Februari 2007, tercatat sekitar 43,3 miliar dolar AS. Dengan melihat tiga indikator utama ekonomi ini, tak berlebihan menyebut Iran memiliki fundamental ekonomi yang bagus yang akan melindungi mereka dari kejutan ekonomi eksternal, seperti yang ditimbulkan oleh sanksi DK PBB. Menggembosi dolar Alih-alih meredam, sanksi DK PBB bak tambahan darah segar bagi Iran untuk 'melawan'. Jauh-jauh hari sebelum sanksi ini diputuskan, Teheran telah mengambil langkah-langkah antisipatif untuk mengamankan 'penjarahan' ekonomi yang dibungkus dalam bentuk sanksi resmi. Langkah dimaksud adalah, dengan mulai menurunkan ketergantungan kepada AS yang menjadi sponsor utama DK PBB dengan mendeversifikasi reserve-nya ke mata uang kuat lain, khususnya euro. CBI hanya menempatkan dolar tidak lebih dari 20 persen dari total reserve mereka. Kebijakan ini akan semakin terasa bagi AS, ketika Iran berhasil mengalihkan semua pembayaran minyaknya dalam mata uang selain dolar. Sebagai produsen minyak terbesar keempat dunia (cadangan minyak Iran terbesar ketiga), pada tahun 2004, Iran menghasilkan minyak 4,09 juta barel per hari. Dari jumlah itu, lebih dari 2,55 juta barel diekspor dan menempatkan Iran sebagai net exporter minyak terbesar setelah Arab Saudi (8,73 juta barel), Rusia (6,67 juta barel), dan Norwegia (2,91 juta barel). Sementara AS adalah konsumen terbesar minyak dengan konsumsi per hari mencapai 20,5 juta barel disusul Cina dan Jepang masing-masing sebesar 6,5 juta dan 5,4 juta barel. Sebelum sanksi DK PBB jatuh, Iran berencana mensponsori penjualan minyak, gas, dan hasil petrokimia mereka hanya dalam denominasi euro. Rencana itu dimatangkan dengan membentuk apa yang disebut sebagai Iran Petroleum Exchange atau lebih dikenal sebagai Iranian Oil Burse (IOB). Karuan, ini membuat gerah Washington karena terang-terangan keberadaan IOB akan menantang peran dua agen raksasa penjualan minyak internasional, New York Mercantile Exchange (NYMEX) yang berkantor di New York dan International Petroleum Exchange (IPE) yang berpusat di London. Sayangnya, rencana peluncuran IOB yang sedianya dieksekusi pada maret 2006 ini, entah kenapa tertunda. Namun, dengan adanya Resolusi 1747, diperkirakan langkah ke arah ini kembali terbuka lebar. Pelan tapi pasti, ajakan untuk 'menggembosi' dolar sebagai alat transaksi untuk penjualan minyak Iran mulai disambut oleh mitra dagang Iran. Tak tanggung-tanggung, Zhuhai Zhenrong Corp, salah satu pembeli terbesar minyak mentah Iran, sudah mulai beralih membayar minyak Iran dengan euro, tahun lalu. Pukul Balik Apa implikasi finansial bila IOB benar-benar berjalan sesuai rencana? Sebagai gambaran mudahnya, tahun 2006, harga pasaran minyak mentah menembus 60 dolar per barel. Katakanlah, harga minyak mentah di pasaran dunia 50 dolar per barel saja, maka pendapatan Iran dari ekspor minyak mentah bisa mencapai 46,5 miliar dolar AS. Dari segi jumlah, hasil penjualan minyak Iran tidak akan secara signifikan mempengaruhi demand dolar. Namun, bukan ini yang menjadi subtansi masalah. Sebab, bila rencana IOB ini berjalan lancar, persoalan akan lebih pelik bila model yang sama kemudian diadopsi oleh mitra Iran sesama penghasil minyak, atau bahkan negara anggota OPEC. Lawatan Presiden Mahmoud Ahmadinejad ke Venezuela, misalnya, bukan hanya berhasil membangun poros kerjasama ekonomi. Kedua negara sepakat untuk 'menggusur' dolar dari fungsi utamanya sebagai alat pembayaran minyak. Presiden Hugo Chaves, pada Oktober 2005, menyatakan kesiapan negerinya --pengekspor minyak terbesar ke-8-- untuk pelan tapi pasti beralih ke euro. Gerakan Iran 'menjauhi' dolar kemungkinan besar akan mendapat dukungan dari beberapa negara teluk. Motifnya mungkin bukan karena alasan politis, tapi lebih karena dolar terus terdepresiasi terhadap mata uang kuat lainnya. Arab Saudi yang menjadi pendukung tradisional AS, akan berpikir ulang bila harus menambah reserve-nya dalam bentuk dolar. Kalau tidak, mereka akan berhadapan dengan risiko kerugian. Bagi negara maju yang secara garis politik cenderung netral seperti Cina dan Jepang, gerakan menjauhi dolar akan menjadi kesempatan emas. Jepang dan Cina adalah negara terbesar pemegang treasury securities yang diterbitkan pemerintah AS dengan kepemilikan masing-masing sebesar 702 dan 196,5 miliar dolar AS. Karena itu, tawaran IOB akan menjadi semacam katarsis bagi mereka untuk segera mendiversifikasi cadangan devisa tidak lagi dalam dominasi dolar. Ikhtisar - Sanksi ekonomi yang dijatuhan Dewan Keamanan PBB atas dorongan AS, kemungkinan besar tak akan mengganggu stabilitas ekonomi Iran. - Dari berbagai alat ukur, fundamental ekonomi Iran terlihat cukup kuat. - Sanksi tersebut justru bisa menjadi bumerang buat AS, karena Iran terus mengganti cadangan dolarnya menjadi euro. - Langkah Iran ini sangat potensial diikuti oleh negara lain yang juga penghasil minyak. ( M Luthfi Hamidi) Source : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288796 <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288796&kat_id=16&kat_id1=&ka t_id2> &kat_id=16&kat_id1=&kat_id2=
