It's Harder to unlearning than learning. Memang sulit untuk menerima sesuatu diluar kebiasaan kita selama ini. Kita ingin ber-"syariah" tetapi pikiran kita masih mengacu pada lembaga keuangan konvensional, dan bayangan kita terhadap sesuatu yang mengandung kata syariah maka image-nya adalah "Gratis" dan atau "Sosial", sehingga ketika mendapatkan yang lebih mahal dianggap tidak syariah.
Bank konvensional bisa lebih murah kreditnya dibanding bank syariah karena jaringan-nya yang besar dan kadang subsidi silang antar produknya, misalnya dari Fee Based Income. Seperti BCA, dari biaya Administrasi tabungan dan biaya transaksi lainnya saja dikurangi biaya bunga simpanan dan biaya hadiah sudah bisa untung, jadi buat apa bunga kredit tinggi ? Sedikit lebih rendah dari bank lain saja, pasti berebut. BCA bisa besar karena apa ? Karena jutaan nasabahnya yang mempercayainya. Lalu bagaimana dengan bank syariah ? saya pikir lebih banyak yang mempertanyakan ke-"syariah"annya daripada percaya dan ikut membesarkan sistem perekonomian yang islami. Padahal bank syariah seharusnya bisa lebih kuat dari BCA jika banyaknya umat islam di indonesia menjadi nasabah. Saya bekerja di perbankan konvensional, dan di lingkungan kerja saya minoritas (mayoritas nasrani). Tetapi saya kagum dengan kehidupan beragama mereka karena mereka justru lebih suka mencari persamaan diantara berbagai golongan umat nasrani dan sebisa mungkin untuk menghindari perbedaan paham yang berakibat kurangnya persatuan diantara mereka. Yang lebih kagum lagi, seorang pendeta ternama pernah menulis tentang betapa adilnya sistem ekonomi syariah (perbankan syariah yang dikenal oleh kebanyakan umat islam), walau tulisan tersebut dari sudut pandang Nasrani. Apakah kita maunya hanya jadi penonton lagi, melihat umat lain yang mengembangkan sistem kita ? saya tidak mau, dan saya berusaha dimulai dari diri saya sendiri. Ekonomi syariah bukan masalah Mahal atau murah, tapi masalah keadilan, adil bagi bank dan adil bagi nasabah. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Taufiq Firmansyah
