Senin, 30/07/2007 14:16 WIB

Pasar Syariah Indonesia Bagai Raksasa Tidur

Wahyu Daniel - detikfinance

 

Jakarta - Potensi pasar syariah Indonesia dinilai sangat menggiurkan dengan
jumlah penduduk yang besar. Sayang potensi ini belum tergarap sehingga pasar
syariah Indonesia seperti raksasa tidur.

 

Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Central Malaysia Dato Mohd.
Razif Abdul Kadir dalam konferensi pers usai seminar berjudul 'A Synergy of
Islamic Financing in The Nusantara: Prospects and Challanges' di Hotel Grand
Hyatt, Jakarta, Senin (30/7/2007).

 

"Sangat ramai investor yang berminat untuk investasi kepada perbankan di
Indonesia, karena potensinya besar demikian juga dengan pasarnya, untuk
syariah Indonesia adalah sleeping giant," ujarnya.

 

Razif melihat pasar konsumer di Indonesia sangat besar. "Jadi menarik jika
Islamic Financing dapat berkembang pesat di Indonesia," ujarnya.

 

Untuk Islamic Financing, Razif mengatakan perusahaan-perusahaan di Indonesia
harusnya bisa berkembang dengan pembiayaan dari sukuk.

 

"Financing dari capital market seperti sukuk ini banyak manfaatnya
dibandingkan dengan pinjaman bank, contohnya dengan capital market maka kita
bisa mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi," jelasnya.

 

Malaysia merupakan penerbit sukuk terbesar di dunia. Sebanyak dua pertiga
sukuk di dunia diterbitkan di Malaysia. 

 

"Indonesia dapat belajar dari kita dimana hasil penerbitan sukuk juga dapat
digunakan untuk pembangunan sukuk," ujar Razif.

 

Razif pun membeberkan bahwa dalam 10 tahun ini di Malaysia tidak ada tax
holiday dan tidak ada pajak ganda (double taxation).

 

"Bahkan ada kemudahan bagi institusi finansial internasional untuk masuk ke
Malaysia," jelasnya. (dnl/ir)

 

Source :
http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/30/
time/141626/idnews/811074/idkanal/5

 

 

 

Senin, 30/07/2007 14:05 WIB

Rasio Kredit Macet Bank Syariah Semester I Naik 

Wahyu Daniel - detikfinance

 

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan rasio kredit macet atau Non
Performing Financing (NPF) gross,--yang dalam istilah bank konvensional
NPL,-- dari bank syariah pada semester I-2007. 

 

Tingkat NPF gross perbankan syariah hingga Juni 2007 adalah 6,2 persen, yang
meningkat dibandingkan posisi akhir 2006 sebesar 4,8 persen.

 

Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Fadjrijah
dalam konfrensi pers usai seminar berjudul 'A Synergy of Islamic Financing
in The Nusantara: Prospects and Challanges' di Hotel Grand Hyatt, Jakarta,
Senin (30/7/2007).

 

Namun meski NPF gross naik, menurut Fadjrjiah NPF net bank syariah masih
rendah. 

 

"NPF 2006 lalu meningkat, paling banyak pada bulan Maret, tapi saat ini saya
kira biasa saja, karena net-nya masih di bawah 5 persen yaitu sekitar 3-3,5
persen," jelasnya.

 

Fadjrjiah mengatakan bahwa dari perbincangan dia dengan pelaku perbankan
syariah, kenaikkan NPF gross pada Juni 2007 ini adalah karena bisnis yang
kurang baik. 

 

"Pelaku perbankan syariah mengatakan bahwa banyak pembiayaan yang
kecil-kecil kurang lancar pembayarannya," jelasnya.

 

Sementara dari sisi aset, perbankan syariah mengalami kenaikan menjadi Rp
29,2 triliun (1,69 persen dari total aset industri perbankan) jika
dibandingkan akhir 2006 yang berjumlah Rp 26,7 triliun (1,55 persen dari
total aset industri perbankan).

 

Untuk dana pihak ketiga (DPK), posisi Juni 2007 adalah sebesar Rp 22,71
triliun, meningkat dibandingkan akhir 2006 yang sebesar Rp 20,67 triliun.
Pembiayaan atau kredit per Juni 2006 adalah sebesar Rp 22,97 triliun, naik
dibandingkan akhir 2006 yang sebesar Rp 20,44 triliun. 

 

Sedangkan untuk FDR (Financing to Deposit Ratio/LDR) per Juni 2007 adalah
101,1 persen, naik dari posisi akhir 2006 yang sebesar 98,9 persen.

 

BI menargetkan pada 2007 ini total aset perbankan syariah tumbuh menjadi 2,8
persen dari total aset industri perbankan. Serta pada tahun 2008 mencapai 5
persen dan akan tumbuh pada 2015 menjadi 15 persen.

 

Pada Juni 2007, dibanding akhir 2006 jaringan bank syariah juga terus
meningkat. Untuk Unit Usaha Syariah meningkat menjadi 23 buah, sementara
jumlah kantor bank umum syariah dan unit usaha syariah meningkat menjadi 565
buah serta office chanelling tumbuh menjadi 984 buah. (dnl/ir)

 

Source :
http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/30/
time/140559/idnews/811064/idkanal/5

 

 

Kirim email ke