Jalan Sulit Saat Si Miskin 
Sakithttp://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=586
  
  
      Pemerintah telah menyediakan layanan  berobat gratis bagi penduduk 
miskin. Namun, mereka yang hendak  memanfaatkan layanan itu harus melalui 
'kesulitan' tersendiri. Untuk  mendapatkan fasilitas ini, mereka harus 
menyediakan waktu cukup lama.  Mereka dituntut untuk bisa bersabar dengan 
waktu, serta tahan mental  untuk menghadapi proses yang seringkali berbelit.
  
  
    
    
      Loket-loket pengurusan pasien miskin di Rumah Sakit Cipto  Mangunkusumo 
(RSCM) Jakarta, selalu dipadati antrean panjang. Wiwi,  seorang ibu pemegang 
Kartu Keluarga Miskin (Gakin), mengatakan dia  harus bersabar menunggu setiap 
kali berobat. Ia harus merawat anaknya  yang menderita hemofilia. Untunglah, 
dia tidak termasuk orang yang  begitu banyak aktivitasnya. Dengan mudah, dia 
bisa berkompromi dengan  waktu, asalkan bisa mendapatkan layanan kesehatan 
gratis.
  
    
''Nggak ada masalah waktu mengurus. Hanya memang harus sabar,''  kata dia. 
Setiap kali datang berobat, ia harus mengurus ke Unit  Pelayanan Pasien Jaminan 
alias UPPJ (unit untuk pelayanan pasien tidak  mampu). Wiwi mengakui waktu 
antrenya cukup lama karena amat banyak  penduduk miskin yang juga memanfaatkan 
pengobatan gratis. Untuk  mendapatkan pelayanan bagi anaknya, Wiwi mengaku 
harus berangkat pukul  05.00 WIB dari rumahnya di daerah Cengkareng dan 
biasanya baru selesai  pukul 20.00 WIB.
  
    
Hal yang sama juga diakui Zaenal, salah satu pengguna Askeskin  yang ditemui 
Republika juga di RSCM Jakarta. Warga Bogor itu mengatakan  untuk mengurus 
Askeskin memakan waktu lama dan membingungkan. Ia harus  selalu memfotokopi 
sejumlah berkas dan kadang harus bolak-balik untuk  bisa menikmati layanan 
tersebut. Jika bukan karena didesak rasa sakit,  mungkin dia sama sekali tidak 
berminat menjalani proses tersebut.
  
    
Hal yang sama juga dirasakan pengguna Kartu Gakin. Dewi (35  tahun) mengaku 
hampir termakan calo ketika akan mengurus Kartu Gakin  untuk adiknya yang harus 
dioperasi karena kecelakaan. ''Saya disuruh  bayar, padahal sebenarnya 
gratis,'' ungkap Dewi. Untunglah, dia  kemudian sadar orang yang menyuruhnya 
itu calo. Dia pun kemudian  mengurus sendiri kartu tersebut. Setelah diproses 
selama sepekan,  barulah kartu yang diperlukan untuk bisa berobat secara gratis 
itu  diterimanya. Para keluarga miskin yang ingin mendapatkan Kartu Gakin  itu 
pastilah tidak semuanya seperti Dewi. Bisa jadi, sebagian mereka  tergiur 
dengan langkah praktis, sehingga akhirnya menjadi sasaran para  calon.
  
    
UPPJ sendiri, setiap hari harus melayani sedikitnya 1.000  pasien miskin, 
sehingga bisa dibayangkan antreannya. Mereka bisa  mendapatkan layanan 
pengobatan gratis karena memang ada pihak yang jadi  penjamin. Menurut Manager 
Unit Pelayanan Pasien Jaminan (UPPJ), dr  Achmad Subagio, ada dua penjamin yang 
menanggung pelayanan kesehatan  bagi masyarakat miskin. Penjamin itu adalah PT 
Askes bagi warga di luar  Jakarta, dan bantuan langsung dari Dinas Kesehatan 
DKI Jakarta untuk  penduduk Jakarta. PT Askes sebenarnya hanya berperan sebagai 
perantara.  Sumber dananya adalah Depkes. Untuk warga miskin Jakarta terdapat 
dua  pelayanan yang disediakan, yaitu Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)  dan 
Gakin. Untuk SKTM, pasien diperbolehkan membayar semampunya,  sementara untuk 
Gakin dibebaskan dari semua biaya. Pasien Gakin ini  kerap juga disebut Gakin 
Penuh.
  
    
Menurut Soebagio, masyarakat yang ingin berobat dengan Gakin  harus mempunyai 
Kartu Gakin terlebih dahulu. Kartu ini pernah  dikeluarkan oleh Pemprov DKI 
Jakarta. Warga DKI Jakarta juga bisa  menggunakan Kartu Bantuan Langsung Tunai. 
Kalau sudah mempunyai kartu  ini, pasien tinggal mengurus Surat Jaminan 
Pelayanan (SJP) di UPPJ.
  
    
Namun, jika belum mempunyai Kartu Gakin, jalannya harus cukup  berliku. Pasien 
wajib mengurus surat keterangan tidak mampu dari RT,  RW, dan kelurahan, 
kemudian diverifikasi puskesmas setempat. Kemudian  dari verifikasi puskesmas 
itu hasilnya diajukan ke Dinkes. Selanjutnya  Dinkes akan menentukan jenis 
jaminan yang akan diberikan, apakah  jaminan sebagian (SKTM) atau jaminan 
sepenuhnya (GAKIN penuh). Surat  dari Dinkes itu dibawa ke rumah sakit.
  
    
Mengenai proses yang memakan waktu cukup lama, Subagio  mengatakan kemungkinan 
warga yang mengalami nasib seperti itu adalah  mereka yang persyaratannya 
kurang lengkap, sehingga ketika tiba di  Dinkes dikembalikan lagi, dan diminta 
melengkapi. Karena gratis,  pelayanan ini selalu penuh. Pelayanan untuk warga 
miskin, menurut dia,  tidak dibedakan dari pelayanan pasien lain pada umumnya.
  
    
Tiap tahun, menurut dia, jumlah pasien yang datang berobat  terus melonjak. 
''Sekarang sudah banyak yang tahu, jadi ada  peningkatan,'' ungkap dia. Untuk 
rawat jalan, misalnya, setiap hari  RSCM melayani 500-600 pasien Gakin. Jumlah 
yang hampir sama juga untuk  pasien yang memanfaatkan Askeskin. Jika ditotal, 
maka pasien keluarga  miskin yang ingin menikmati layanan tersebut sekitar 
1.000 orang.
  
    
Jumlah yang membludak inilah yang menurut Subagio menjadi  faktor penyebab 
lamanya waktu bagi keluarga miskin bisa mendapatkan  layanan kesehatan secara 
cuma-cuma. ''Melayani 1.000 orang tiap hari  tentu beda dengan melayani 10 atau 
50 orang,'' ungkap dia. Jadi, demi  pelayanan gratis ini para pasien dari 
keluarga miskin memang butuh  kesabaran berlebih. mg02/mg04
  
    
Sumber Republika, 24 Juli 2007

    
      Republika
  24-Jul-2007
  
  
  
  
       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

Kirim email ke