ass.ww.

alhamdulillah pak Merza turun gunung memberikan
perspektif yang baik. terimakasih pak, saya selalu
kagum dengan semangat dan keikhlasan pak Merza.

pada hemat saya yang masih awam, kalau kita mencari
keunggulan bank syariah dibanding konvensional, apakah
tidak lebih baik kita tampilkan konsep dan praktek
mudharabah musyarakahnya? insya Allah di sinilah
kelebihan praktek bank syariah, walaupun tentu saja
murabahah juga bisa unggul pada saat segala sesuatunya
mendukung (pajak- walau masih ditangguhkan, supply
chain, skala, sistem & prosedur, service quality,
dsb).

saya bahkan punya ide, gmn kalo ada lembaga pro
ekonomi syariah tertentu yang bersedia bikin award
(tidak harus event yang besar) di tahun ini untuk
mengapresiasi "bank dan nasabah pembiayaan mudharabah/
musyarakah terbaik"
berdasarkan kategori tertentu, misal < 1 M, 1M - 5 M,
> 5 M. setiap bank syariah mengirimkan 5 nomini di @
kategori.

tujuan award ini untuk mendorong sektor riil dan
pembiayaan mudharabah, tujuan akhirnya agar bisa
diekspose best practice pembiayaan2 mudharabah,
sehingga kita bisa menemukan berbagai contoh nyata,
untuk kemudian di'getok-tular'kan. insya Allah
beberapa rekan milis yang non personil bank syariah
(agar netral) bisa terlibat dalam penilaiannya.
mudah-mudahan ada yang mau menyeponsori, seperti BI,
asbisindo, perbanas syariah, kementerian UKM, dll..
wassalam.

hendy


--- Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
> Menarik memperhatikan disksusi sepekan terakhir
> mengenai pro kontra "Ekonomi Syariah Harusnya
> Mempermudah". Dari sekian banyak pendapat yang
> masuk, saya menemukan beberapa hal yang sebenarnya
> dapat kita kaji lebih dalam, sehingga diskusi kita
> tidak selalu tidak ada sesuatu yang dihasilkan. Dari
> pengalaman yang lalu, diskusi yang dilakukan hanya
> menyisakan pro kontra terhadap perkembangan aplikasi
> ekonomi syariah di Indonesia, bahkan terkadang
> terkesan malah melemahkan sesuatu yang telah susah
> payah dibangun oleh sebagian "orang-orang" yang
> punya niat besar mencari solusi sebuah aplikasi dari
> sistem ekonomi yang berkeadilan dan berkeseimbangan
> dengan nilai-nilai yang islami. Namun terkadang kita
> tidak siap mengahadapi tantangan kita bersama
> memajukan umat ini. Kita sering larut dalam
> kepentingan kita atau kelompok sendiri, sehingga
> ukhuwah yang ingin kita bangun bukan semakin kuat
> tetapi malah benih cerai-berai umat semakin subur.
>  
> Saya dengan kapasitas pribadi yang sangat kecil,
> yang tidak mempunyai bargaining apa-apa, mencoba
> mengajak semua anggota milis marilah bersama kita
> bahas permasalahan-permasalahan yang timbul dalam
> penerapan aplikasi ekonomi syariah di Indonesia
> dengan kepala dingin sehingga harapan kita membangun
> sebuah sistem ekonomi yang Islami dapat terwujud.
>  
> Untuk tahap awal, mari kita kaji lebih lanjut
> beberapa statement yang timbul dari beberapa anggota
>  milis ekonomi syariah saat diskusi pekan ini
> tentang "Ekonomi Syariah Harusnya Mempermudah" yang
> saya sarikan sebagai berikut:
>  
> ronald rulindo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pertanyaannya apakah kita mau berjuang bersama sama
> untuk ekonomi islam atau tidak? Jika iya marilah
> kita memberi kritik beserta saran dan bukan hanya
> kritik saja yang bahkan mungkin bisa melemahkan
> semangat rekan2 yang telah lelah berjuang. Tapi yang
> lebih bahaya lagi kritik saja tanpa saran bisa
> melemahkan semangat orang yang baru tertarik ekonomi
> Islam untuk bergabung dalam sistem ekonomi ini.
> Kalau begini cara nya jangan kan 2010, 2020 saja
> belum tentu share 5% bank syariah tercapai
>  
>  
> ali sakti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya sangat yakin semua ini karena industri kita
> masih di early stages pengembangannya, semua pihak
> masih terus belajar, baik praktisi, regulator maupun
> para Islamic scholars-nya sekalipun. Saya hanya
> ingin semua pihak berfikir positif dan optimis,
> tanpa mengorbankan idealisme, toleransi, daya
> inovasi dan kreasi. Kita bisa wujudkan industri ini
> bersama-sama. Jangan katidakpuasan dan
> ketidaknyamanan membuat kita berpaling dari bank
> syariah. Memang akhirnya dibutuhkan juga kesabaran
> dan pemakluman yang lebih besar, tapi bukankah itu
> juga salah satu bentuk pengorbanan dari sebuah
> perjuangan.Semua sudah memahami, profesionalisme dan
> kompetensi bankir syariah, pelayanan prima, inovasi
> pada penyediaan produk yang bervariasi sangat-sangat
> dibutuhkan oleh industri ini, ayo kita penuhi itu
> bersama. Tetapi juga dibutuhkan pemahaman bahwa
> usaha itu membutuhkan waktu. Waktu untuk banker
> familiar dengan nature bank syariah, waktu untuk
> tersedianya para sarjana-sarjana (SDM) perbankan
> syariah yang mumpuni karena mungkin sedang digodok
> di perguruan-perguruan tinggi, atau waktu untuk
> perguruan-perguruan tinggi untuk memahami, men-set
> program study, kurikulum, silabus untuk memproduksi
> SDM-SDM tangguh itu, waktu untuk praktisi, regulator
> dan Islamic scholars menemukan hikmah-hikmah dari
> apa yang saat ini tengah diusahakan. Atau waktu
> berapapun yang dibutuhkan oleh siapapun yang saat
> ini sudah mau bersusah payah untuk mengembangkan
> industri perbankan syariah ini. Untuk siapa? Untuk
> ummat yang suadah tak sabar merasakan
> praktek-praktek ekonomi sesuai dengan keyakinan
> mereka dengan mudah dan murah.Nah mungkin kita
> sebagai konsumen dituntut untuk memiliki pemahaman,
> kesabaran dan pemakluman untuk menyikapi itu.
>  
>  
> Insan Islami Islami<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kita harus sadar bahwa personal-personal yang ada di
> dalam lembaga keuangan berlabel syariah di Indonesia
> saat ini terdiri dari berbagai latar belakang dan
> motivasi. Ada personal yang dari awal memang
> mempunyai semangat untuk membangun ekonomi bernilai
> islam di Indonesia. Ada personal yang eks
> konvensional yang mempunyai semangat memperbaiki
> kondisi yang ada menuju ekonomi bernilai Islam. Ada
> anak-anak muda yang penuh semangat mempunyai
> cita-cita membangun ekonomi bernilai Islam. Ada pula
> anak muda yang penuh semangat di awal, namun patah
> arang ketika bersentuhan dengan realita. Ada pula
> personal oportunitis.Ada yang karena tidak atau
> belum mendapat tempat di unit konvensional (syariah
> hanya sebagai batu loncatan). Ada pula yang free
> rader. Ada pula yang kehadirannya justru merusak
> sistem yang telah susah payah dibangun sebelumnya.
> Dan berbagai latar belakang dan motivasi lainnya.
> Nah, mengapa kita-kita yang punya kemampuan baik
> dari segi kepintaran ataupun akses kepada kekuasaan
> untuk mebenahi ini semua. Bukan malah membiarkan
> atau malah menghancurkan yang sudah mulai bertunas.
>  
> Wawan Ruswanto<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Memang, dari studi yang pernah dilakukan, masyarakat
> kita (baik muslim maupun non muslim) belum
> sepenuhnya memilih bank itu karena syariah atau
> tidaknya, tetapi lebih karena pelayanan yang paling
> memberikan manfaat lebih. Jadi, masyarakat kita ini
> sudah benar-benar ter-edukasi oleh ilmu ekonomi
> konvensional... manfaat lebih dengan cost yang sama
> atau manfaat sama dengan cost yang lebih rendah
> selalu itu jadi prioritas utama di benak masyarakat.
> Apakah itu salah ? Paradigmanya ini memang harus
> dirubah. Yang utama harus sesuai syariah, tapi kalau
> bisa diusahakan memberikan manfaat lebih. Jangan
> dibalik, yang penting memberikan manfaat lebih,
> walaupun tidak sesuai syariah.
>  
>  
>  
> Agung Bijaksana<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mengelola Bank sesungguhnya tidak mudah, banyak hal
> dan banyak regulasi yang harus dipenuhi. Baik itu
> regulasi dari intern perusahan juga regulasi dari
> pihak otoritas yaitu pemerintah dan sayangnya
> regulasi tersebut kadang menghambat laju
> perkembangan bank syariah itu sendiri.
> Selain berhadapan dengan regulasi mereka juga
> dihadapkan untuk mengelola dana seefisien mungkin
> dan dapat memberikan deviden yang baik bagi pemegang
> saham. Belum lagi kewajiban untuk memberikan hidup
> layak bagi karyawannya (walaupun saya dengar, masih
> dibawah penghasilan bank konvensional). Belum lagi
> permintaaan dari para Nasabah maupun pengamat untuk
> memperoleh harga yang murah, tentunya ini hal yang
> sangat kompleks yang harus dipikirkan para Manager
> Banknya. Disatu sisi pangsa pasar masih kecil, modal
> juga kecil tentunya sulit untuk memenuhi harapan
> dari konsumen maaupun pengamat (sehingga setidaknya
> minimal sama, atau tambah mahal) dengan harapan
> begitu pasar luas, maka Dana pihak ketiga meningkat
> selanjutnya modal meningkat, nasabah membanjiri
> selanjutnya harga yang kompetitif atau lebih murah
> dapat diberikan. 
> Sekarang kita kembalikan bagaiamana baiknya untuk
> perkembangan Bank Syariah. Mau murah dulu, tapi
> nunggu lama dan mungkin jadi merugi dan akhirnya
> tidak ada penanam modal/saham maupun
> penabung/deposan karena bagi hasilnya rendah serta
> profesional islami banyak exsodus ke
> instansi/perusahaan lain. Atau biarkan seperti
> sekarang ini dengan didorong untuk memperbaiki sana
> sini serta banjiri bank syariah dengan penabung agar
> assetnya membesar yang akhhirnya bisa memberikan
> pricing yang rendah. Mau pilih mana?
>  
>  
>  
> Sekali lagi, marilah kita bahas bersama dengan hati
> yang lapang dan kepala yang dingin. Semoga kita
> dapat bersama-sama membangun sebuah sistem ekonomi
> benilai Islami di negeri kita tercinta Indonesia.
>  
> Mohon maaf atas segala ketidakberkenanan dan
> kekhilafan.
>  
> Wassalam
> MERZA GAMAL
> Pengkaji Sosial Ekonomi Islami 
> (Orang kecil yang punya kemauan besar)
> 
> 
> Got a little couch potato? Check out fun summer
> activities for kids. 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> ***********************Scanned By Bank Syariah
> Mandiri [TM-IMSS]***********************
>
_________________________________________________________________
> Live Search: New search found
> http://get.live.com/search/overview
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke