MENGENAL KARAKTER ZAKAT
   
  Kenalilah karakter zakat sedini mungkin sebelum menunaikannya. Karena jika 
tidak, jangan-jangan kita akan tergolong orang ketiga seperti yang diceritakan 
dalam salah satu hadistnya yang berbunyi  "Pada hari kiamat Allah akan 
menghukum semua makhluk dan semua makhluk bertekuk lutut. Pada hari itu orang 
yang pertama sekali akan dipanggil ialah orang yang mengerti Al-Quran, kedua 
orang yang mati fisabilillah dan ketiga ialah orang kaya. 
  
  Allah akan bertanya kepada orang yang mengerti Al-Quran: "Bukankah Aku telah 
mengajar kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusan-Ku?. Orang itu menjawab: 
"Benar Ya Tuhanku. Aku telah mempelajarinya di waktu malam dan mengerjakannya 
di waktu siang." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya mau digelar sebagai Qari 
dan Qariah, malaikat juga berkata demikian." Datang orang kedua, lalu Allah 
bertanya: "Kenapa kamu terbunuh?." Jawab orang itu: "Aku telah berperang untuk 
menegakkan agama-Mu." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya ingin disebut 
pahlawan yang gagah berani dan kamu telah mendapat gelaran tersebut, malaikat 
juga berkata demikian." Dan kemudian datang orang ketiga pula: "Apa kamu buat 
terhadap harta yang Aku berikan kepadamu?." Jawab orang itu: "Aku gunakan untuk 
membantu kaum keluargaku dan juga untuk bersedekah." Lantas Allah berfirman: 
"Dusta! Kamu hanya ingin disebut dermawan dan kamu telah dikenali, malaikat 
juga berkata demikian." Rasulullah SAW pun menambahkan:
 "Ketiga-tiga orang inilah yang pertama-tama akan dibakar dalam api neraka." 
   
  Ramadhan kerap dijadikan oleh sebagian besar kaum muslim untuk berlomba-lomba 
menggapai rahmat dan maghfirah-Nya. Selain dengan mengisi setiap jengkal siang 
dan malamnya dengan ibadah  fardhu dan sunnah, tak sedikit dari mereka juga 
coba menggapai kebahagiaan di akhirat dengan menyisihkan sebagian dari harta 
yang dimiliki dengan berzakat. Memang zakat adalah salah satu bukti ketaatan 
kepadaNya yang sarat akan tingkat kesalehan vertikal seorang hamba kepada Yang 
Maha Kuasa, juga tidak lepas dari dimensi horizontal. Karena  di dalamnya 
terhubung sebuah rantai besar kepedulian antar sesama, dimana kaum the have 
dapat merajut cinta yang sangat erat dengan kaum the needy (yang memerlukan). 
Bahkan jika zakat dikelola dengan profesional, ia akan mampu menghadirkan 
sebuah sketsa kemandirian dan keberdayaan bagi sebagian orang yang selama ini 
kerap merasakan lapar tak hanya di bulan Ramadhan namun juga di bulan-bulan 
lainnya. 
   
  Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, bahwa Zakat hendaklah dipungut 
kepada setiap kaum yang telah jatuh wajib (nishab dan haul) untuk  
mengeluarkannya melalui salah seorang yang sebelumnya telah mendapat amanah, ia 
kemudian disebut sebagai amilin. Tersimpan sebuah makna, bahwa dengan demikan 
Zakat akan lebih mampu berperan sebagai sebuah instrument pengukir 
kesejahteraan ummat di zamannya. Karena dengan dikelola oleh seorang 
amilin/lembaga, bagi kaum yang memberi (muzaki) sudah pasti akan terhindar dari 
perasaan riya di hadapan orang lain sedang bagi kaum yang memerlukan (mustahik) 
akan tetap terjaga dari rasa malu untuk menerimanya.
   
  Namun kini, masih ada sebagian orang yang lebih memilih memberikan zakat 
secara direct kepada banyak orang miskin di sekitarnya secara karitatif, 
apalagi kala Ramadhan menjelang. Bahkan antrian panjang orang miskin di depan 
rumahnya menjadi pemandangan biasa kala perhelatan pembagian zakat dimainkan. 
Pertanyaan mungkin terlontar oleh kita di dalam lubuk, “kalau dengan cara 
demikian, berapa hari sebenarnya orang miskin tersebut dapat menikmati paket 
zakat yang sudah dibagikan?” lalu “apakah mereka yang mengantri saat itu 
dijamin tidak akan kembali ke dalam barisan antrian serupa di tahun depan?”. 
Dan apakah mereka juga menginginkan jika salah satu kerabatnya justru bakal 
menjadi korban kala berebut paket dengan orang lain yang lebih kekar dan kuat? 
Tentu siapapun tidak akan menginginkannya. Cara ini sebenarnya tidak sepenuhnya 
keliru hanya kurang tepat sasaran, bertolak belakang dengan karakter serta 
fungsi zakat sesungguhnya. Karena jika hal ini tetap
 dipertahankan, jangan kaget jika akan menjadi senjata makan tuan. Ingatlah, 
setiap manusia pada dasarnya mempunyai potensi untuk selalu ingin menunjukkan 
eksistensinya  sebagai insan yang sholeh dan peduli secara terbuka. Jangan 
sampai kita terpeleset karenanya. Cukuplah sabda Rasulullah di awal tulisan ini 
menjadi ‘tanda seru’ untuk kita meniti hidup ini.  
   
  Cerita akan berkata lain, jika drama kepedulian tersebut dihindari dengan 
diberikannya zakat kepada sebuah lembaga sosial yang memang berfungsi untuk 
mengkolektifkan lalu mendayagunakannya menjadi sebuah program kemandirian umat 
yang berkelanjutan. Lembaga tersebut juga tidak akan ‘mencuri’ kebahagiaan dan 
keuntungan orang yang telah percaya untuk menyisihkan hartanya. Yakinlah 
terhadap apa yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya  “Barang siapa yang 
menghendaki keuntungan di  akhirat  akan  Kami  tambah keuntungan  itu  baginya 
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya 
sebagian dari keuntungan  dunia  dan  tidak ada baginya suatu bahagianpun di 
akhirat” (QS. 42:20). Allah SWT tidak akan keliru memberikan ganjaran setimpal 
bagi setiap hamba yang dikehendaki. Dan Zakat pun tetap menjadi tinta untuk 
menorehkan cerita senyum ummat yang terbedayakan olehnya. Semoga potret 
kegemilangan zakat yang telah diukir oleh Khalifah Umar
 bin Khatab dan Umar bin Abdul Azis beberapa abad silam tidak sulit untuk 
terulang kembali. Insya Allah. [ alfarisi]
   
   
   
   
   
   
   

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke