Tiket sudah ditangan, ndilalah pas adzan Dhuhur berkumandang. Gambir nggak jauh banget dari Istiqlal, jalan kaki di tengah panas matahari yang begitu bersahabat nggak papa juga kali. Jadilah Minggu siang itu aku shalat di Istiqlal.
Habis shalat ndilalah ada qultum, quliah tujuh menit. Topiknya menarik, pembahasannya menarik, tentang keterpurukan nasib ekonomi umat di tengah persaingan global. Wah, bagaikan mitraliur Pak Ustadz memaparkan betapa KDL (Kasihan Deh Lu) kondisi perekonomian umat. Dari berbagai sisi, berbagai contoh, berbagai analisis, berbagai data dan tak ketinggalan kata-kata berbau barat berhamburan. Betul, tak dapat dipungkiri betapa KDL-nya perekonomian kita. Rasanya, 54 hari Minggu tidak akan cukup di bahas betapa KDL-nya perekonomian kita. Apalagi jika berhadapan dengan keraksasaan ekonomi dan persaingan global. Lama aku merenung, kenapa ya koq bisa? Renung punya renung akhirnya keluar jawaban. Ya, kita nggak pernah membahas masalah ekonomi sejak dulu. Dari mulai belajar ngaji di surau kecil pojok kampung dengan lampu teplok hingga khubah berapi-api setiap Jumat jarang sekali kita bahas bagaimana sih kita memahami, mempraktekan konsep Islam dalam berekonomi? Masih ingatkah kita waktu kecil dulu, betapa takutnya kita absen mengaji karena dosa? Tetapi apakah kita sadari kalau kita tak belajar pelajaran sekolahpun itu suatu dosa? Apakah dalam kajian agama kita juga ditegaskan bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban? Sehingga hal itu mampu menjadi motor penggerak untuk lebih serius lagi kita belajar? Kita tak mungkin lupa bagaimana cara kita berwudhu, tetapi pahamkah kita bagaimana repotnya takmir masjid mengatur budget pembayaran rekening air atau rekening listrik ke perusahaan air bersih dan listrik? Dari mana air untuk kita berwudhu itu kita bayar? Boro-biri kita paham bagaimana air itu datang, dikelola, bagaimana konsep penggunaan sumber daya alam? Kita paham bagaimana kita berkewajiban membayar zakat bahkan berqurban? Tak sedikit ulasan, kajian mengenai kewajiban ini. Tapi tahukan kita, pahamkah kita bagaimana kita mendapatkan uang untuk membayar itu semua? Apalagi berhaji? Dari mana kita dapatkan sumber-sumber penghasilan untuk membiayai terlaksananya ibadah kita? Bagaimana seharusnya kita bekerja, membuka usaha atau apapun itu untuk mendapatkan uang? Uang menjadi tabu untuk dibahas padahal ini hal yang penting, bagaimana mungkin kita dapat beramal, membeli kambing, berzakat dan pergi haji tanpa uang? Uang disimplifikasi menjadi rejeki. Tapi bagaimana kita memperoleh rejeki itu yang tidak pernah atau setidaknya jarang dibahas, jarang disampaikan, jarang dikaji. Kita persis tahu kewajiban tangan kita untuk memberi, tapi kita terbata-bata bagaimana menjadi uang, memperkuat ekonomi untuk tetap dan terus dapat memberi. Nah, untuk memperbaiki "keseimbangan" neraca ini, rasanya harus ada program yang bersifat nasional, menyeluruh dan berkesinambungan agar dakwah tak semata bernilai sosial tapi juga "kapital". Tidak hanya bagaimana kita "bagi-bagi duit" tetapi juga bagaimana kita "nyari duit" supaya kita tetap bisa "bagi-bagi duit" bahkan lebih banyak, lebih besar dan lebih bermakna. Pemberdayaan ekonomi umat tidak selesai hanya dengan zakat, qurban atau sedekah tetapi sikap mental, ethos kerja, semangat dan bagaimana cara pandang umat terhadap ekonomi inilah yang juga harus dipersiapkan. Nah, bagaimana pendapat teman-teman? Terimakasih Eko Budisiswanto
