----- Forwarded Message ----
From: Hani Ardi <[EMAIL PROTECTED]>
To: CHAERUL <[EMAIL PROTECTED]>; Chaerul maksi <[EMAIL PROTECTED]>; Aulia 2 
<[EMAIL PROTECTED]>; pak Amakhi <[EMAIL PROTECTED]>; Rudy Pras <[EMAIL 
PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; pak Djakman <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 20, 2008 8:19:10 AM
Subject: ExxonMobil Cepu





Terjajah ExxonMobil di Cepu


Oleh: Kwik Kian 
Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah 
itu
sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal 
teknis
lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang 
menjadi
miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh 
penjajah
Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi 
sejak
1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, 
yang
ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu 
pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar
dibanding 
kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu
menggarap 
minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada
eksplorasi dan 
eksploitasi perusahaan-perusaha an asing.

Apa pekerjaan dan sampai 
seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi
kita sejak merdeka sampai 
sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para
kontraktor minyak asing yang 
sangat berkeinginan mengeksplorasi dan
mengeksploitasi minyak bumi di  Indonesia . Bung Karno menugaskan 
Chairul
Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, 
Megawati,
bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno 
kepada
putrinya yang baru berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan 
sendiri
semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur 
sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi 
dan
mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri.
Mengapa 
sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah
keputusan pemerintah 
memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon)
untuk blok Cepu selama 20 
tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy 
Soeharto untuk
mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon 
lalu
melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam 
sumur
yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan 
usul
untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di 
tangan
Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota
menolak. 
Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain
atas 
pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak 
berargumentasi dan juga sama sekali
tidak mau melihat angka-angka yang 
disodorkan Exxon beserta para
kroninya yang berbangsa Indonesia . Mengapa? Karena yang 
menjadi
pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri,
yang berarti 
bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya
sangat mendasar, 
tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60
tahun merdeka 
selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri
eksplorasi dan 
eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana
saja di dunia yang 
dianggap mempunyai kemungkinan berhasil. Menurut
peraturan yang berlaku 
(sebelum Pertamina berubah menjadi Persero),
kalau DKPP tidak bisa mengambil 
keputusan yang bulat, keputusan beralih
ke tangan presiden. Maka, bola ada di 
tangan Presiden Megawati
Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, 
sehingga Exxon kalang
kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya 
yang langsung
mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak". 

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota 
DKPP
ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. 
KKG
tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih 
terjangkit
mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar 
dengan mengemukakan semua angka
betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab 
bahwa kalau dia ngotot sampai
seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau 
dia tidak memperoleh
untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? 
Karena itu, kalau
mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan 
seluruhnya
dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan 
Exxon akan
jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG 
menjelaskan bahwa
sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia 
seperti Exxon.
KKG bertanya kepadanya, "Bukankah kami berhak mulai merintis 
supaya
menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada 
di
dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa 
mengerti bagaimana orang
berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak 
rasionalnya! Jelas KKG
muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa 
orang Barat sangat
memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan 
bukan hanya
IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ 
juga
mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri. 
Bung Karno 
juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan,
"Man does not live 
by bread alone." Dalam hal blok Cepu, dua argumen
berlaku, yaitu man does not 
live by bread alone, dan diukur dengan bread
juga menguntungkan Indonesia , karena laba yang akan 
jatuh ke tangan
Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih 
mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang
didasarkan materi 
juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu
dieksploitasi oleh Pertamina 
sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh
mantan Direktur Utama Pertamina 
Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika
itu bahwa Pertamina adalah organisasi 
yang telanjur sangat besar. Minyak
adalah komoditas yang tidak dapat 
diperbarui. Penduduk indonesia
bertambah terus seiring 
dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi 
nasional sudah lebih besar
daripada produksi nasional, di masa mendatang 
kesenjangan ini menjadi
semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang 
demikian besar itu
akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan 
dagang minyak, dan apakah akan mampu
berdagang saja dalam skala dunia, 
bersaing dengan the seven sisters?
Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, 
mumpung masih lumayan
cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan 
menggunakan
cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya 
yang
visiuner itu.Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan 
sambil
mengatakan, "Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat 
mutlaknya
ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class 
company,
Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah 
Anda."
Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu 
dia
kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio 
menjabat
anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya 
Pak
Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu 
juga
masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah 
sangat
lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain 
yang
mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi 
inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah 
berpengalaman
13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat
begitu 
Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir,
dia adalah 
sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang
diperlukan buat 
Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang
bobrok. Bayangkan, betapa 
inlander cara berpikirnya. Pertamina
diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah 
Mercedez Benz. Memang sudah edan
semua. Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah 
Amerika Serikat di
samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce,
sudah membuat 
janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala
Bappenas, karena 
protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut
mendengarkan pidato 
sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang
sikap,isinya pidato, dan nadanya 
bukan seorang inlander, janjinya
dibatalkan.Eh, mendadak dia minta bertemu 
kepala Bappenas. Dia membuka
pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara 
tentang Exxon. Kepala
Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP 
mengatakan bahwa segala
sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice 
president-ya Exxon,
dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.Sang Dubes 
mengatakan
sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. "I 
am
just doing my job". Kepala Bappenas mengatakan lagi, "Teruskan 
saja
kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya 
yang
diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat 
orang-orang
Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi 
dari kabinet karena adanya pemerintahan
baru, yaitu Kabinet Indonesia 
Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang
minyak di blok Cepu yang konon 
cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi
2 miliar barrel, oleh para inlander 
diserahkan kepada Exxon
penggarapannya. Saya terus berdoa kepada Bung 
Karno dan mengatakan, "Bung
Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. 
Janganlah gundah dan
gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah 
dengan tenang. Saya
juga sudah bermeditasi disalah satu vihara untuk 
menenangkan hati dan
batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan 
melakukan revolusi
lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk 
ini sudah
dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya 
sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas 
 
 
     



      

Kirim email ke