Dear Mas Ihwan, Ibu Rahma dan milister lain..
ide2 advokasi dari antum sangat dekat dengan ide kecil saya, bedanya 
saya berkaca sebagai orang kampung yang tidak tahu hiburan,,,dan 
masih berittiba kepada ormas NU pedesaan.

Sepanjang yang saya ketahui, nasabah-nasabah bank syariah saat ini 
baru menyentuh masyarakat level perkotaan dan yang berpendidikan 
tinggi saja. Sementara yang di daerah, dan saudara-saudara kita yang 
kaya raya didaerah belum sepenuhhya mengerti apa itu ekonomi syariah, 
apalagi bank syariah/ lembaga keu. syariah lain.

Saya ambil contoh daerah kelahiran saya (daerah Kecamatan Bumiayu, 
Brebes, Jawa Tengah), muslim taat, kota santri sejak dahulu hingga 
sekarang, tempat para petani dan pedagang-pedagang makmur sehingga 
terkenal istilah Pasar Sepanjang Jalan ; yang dahulu jika lebaran 
macetnya puluhan kilo; KARENA PADATNTA AKTIVITAS DAGANG. Disana, yang 
saya rasakan sampai detik ini, gaung ekonomi syariah/ edukasinya 
masih asing. Disana, masyarakat mempercayai bahwa bank adalah pakai 
bunga...sehingga ketika saya coba edukasi sdikit, yang ada adalah 
keheranan. Di Bumiayu, yang menguasai intermediasi keuangan adalah 
BRI Unit (segmen pedagang, petani), Bank Jateng (Segmen pegawai 
negeri), Koperasi Pegawai Negeri, Bank Kredit Kecamatan, dulu ada 
Danamon dan Lippo, tapi nampaknya tak diminati, dan sekarang BNI yang 
terbaru. Semua mereka konvensional...

Saya cukup merasa wajar, jika kota santri seperti Bumiayu belum 
tercerahkan oleh ekonomi syariah. Barisan Kyai dan Ulama disana, 
adalah pengguna setia sistem konvensional. Sehingga pasti ummat pun, 
ikut itu...Sepengetahuan saya, pondok2 pesantren disana, berhubungan 
baik dengan Bank. (Saya tidak men-jugdje pondok adalah pendukung 
setia, lho..pak...mungkin mereka pake karena memang tidak ada bank 
syariah disana, dharuri)

Dalam tradisi NU (sebagai mayoritas ormas), apa kata 
Kyai.....diyakini baik..ini kenyataan Pak...saking ta'dzimnya dengan 
ulama.. Inilah tugas dan pekerjaan besar yang menanti...MEMAHAMKAN 
PARA ULAMA TENTANG EKONOMI SYARIAH, AGAR UMMAT IKUT..ulama yang ada 
sekarang bisa jadi (mohon maaf) tidak paham apa itu teori distribusi, 
ekonomi mikro makro...yang sering saya dengar........adalah ungkapan: 
Bank juga ada mashlahat, bunga juga ada manfaatnya kok...jadi konsep 
ISTIHSAN dan MASLAHAH MURSALAH yang banyak dikedepankan...saya 
pribadi sebeanrnya menangkap adanya KEJENGAHAN yang tersimpan ketika 
mereka pake bunga, namun, kondisi yang ada hanya itu...ya sudah 
lah..pake saja asal tidak berlebihan (disana, kalau rentenir sudah 
tahu, dan bahkan dikecam sebagai DAGANG UANG,RIBA JAHILIAH tapi 
tentang bunga bank dan turunannya, edukasi belum sampai). Intinya 
sampai hari ini, harus diakui, lembaga keu syariah hanya milik orang 
kota saja...kota besar maksudnya dan kita semua KURANG MELAKUKAN 
PENDEKATAN KOMUNAL BERBASIS TRADISI.

Kemungkinan akan ada perang dalil...apakah kita selaku "ilmuwan 
syariah sudah fasih betul"? saudara kita dari pesantren, lama di 
pesantren..mengkaji ilmu agama, menikmati sistem bunga (yang memang 
secara mikro, secara pribadi, tampaknya membantu), dia sudah nyaman 
dan merasa BENAR dengan itu...tiba-tiba misal datang officer kita, 
mungkin hanya bekal training 2 minggu, lalu berbicara tentang bunga 
dll...pembahasan ini sudah halal haram, dosa tidak dosa...dia 
tersentak adalah hal wajar...dia membela dirinya..celakanya..sang 
officer kita kurang bisa berdalil, mungkin juga kurang fasih, dan 
cenderung ketika terpojok menisbatkan pada MUI, entah DSN, atau 
pendapat ahli yang oleh mereka tidak kenal (yang di kitab kuning 
tidak ada)..jadi bukan menolak ilmu, tapi sedang meyakinkan diri 
dengan hujjah officer kita.

Menurut saya, tidak akata lain kecuali harus memberdayakan para ulama 
yang sudah berurat akar di hati ummat, lalu bekerjasama mengedukasi 
mesyarakat. Saya pribadi, kebetulan sedang kuliah Bisnis Keu. Islam, 
sedang ingin buat tesis tentang Marketing Dakwah, memadukan unsur 
dakwah dan marketing secara terpadu dalam industri syariah...

Jika milister hendak diskusi , saya sangat senang. Ini kontak saya 
021- 9920 4520/ 0813-8090 6068

Jazakumullah

AKHSIN MUAMAR
Mahasiswa S2 Bisnis dan Keuangan Islam 
Paramadina Fellow



--- In [email protected], Nuradli Ridzwan Shah Bin Mohd 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bagus cara marketing nie walaupun saya tidak tahu lagu itu
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Nuradli Ridzwan Shah Bin Mej (B) Hj Mohd Dali
> 
> Lecturer
> Ultra Consulting:  Business Affiliate: Blog: 
> 
> --- On Wed, 7/16/08, rahmatina kasri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: rahmatina kasri <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: RE: Bls: [ekonomi-syariah] TANTANGAN ADVOKASI PERBANKAN 
SYARIAH - Bank Syariah Idol?
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, July 16, 2008, 4:10 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalamualaikum wr.wb
>  
> Perkenalkan nama saya Rahmatina. Saya baru aktif bergabung di milis 
ini. Mudah2an bisa belajar banyak ttg ekonomi syariah dari rekan2 
semuanya.
>  
> Sangat menarik melihat perkembangan diskusi isu advokasi perbankan 
syariah di milist ini. Menurut saya, setiap stakeholders harusnya 
berpartisipasi dalam program advokasi ini sesuai dengan kapasitasnya.
>  
> Kalo kapasitasnya sebagai ulama, ya sebarkan ajakan2 untuk lebih 
paham mengenai EI/BS di lingkungan terdekat, partisipasi aktif dalam 
(misalnya) diskusi mengenai aspek shariah compliant produk BS 
baru,dll.  Kalo kapasitasnya sebagai pegawai BS, cukup jelaslah. Kalo 
sebagai insan media, bantulah BS berkembang dengan menuliskan berita2 
mengenai BS, mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam BS, 
dll. Intinya, mulai dari diri sendiri (dan komunitas terdekat) dan 
sesuai dengan kapasitas diri...gitu lho :)
>  
> nah, masalah strategi marketing... menurut saya usulan Mas Ikhwan 
sangat menarik sekali. saya setuju bahwa strategi marketing harus 
disesuaikan dengan masyarakat yang menjadi sasaran sosialisasi. Kalo 
yang ditargetkan adalah komunitas penggemar dangdut (dan bang Haji), 
akan sangat baik menggunakan ikon2 terkait sebagai media advokasi. 
keuntungannya jelas, komunitas yang dituju sudah punya 'ikatan batin' 
lebih dulu dengan ikon tersebut, sehingga dapat diharapkan bahwa 
masukan2 dari sang ikon bisa lebih mengena dan cepat mencapai 
sasaran. Ini juga sesuia dengan trend marketing saat ini, dimana kita 
lihat 'ikon' menjadi sarana untuk lebih mendekatnya suatu produk/jasa 
dengan penggunanya. Contoh umum lainnya di masyarakat, dimana2 ada 
yang namanya 'Idol' (american idol, Indonesian idol, dll). Kenapa 
tidak ada 'Bank Syariah Idol' atau yang sejenisnya?
>  
> Mungkin ini saja dari saya sebagai perkenalan. Semoga diskusi2 
bermanfaat bisa terus bergulir di milist ini.
>  
> Wassalam,
>  
> Rahma
> (Bukan pegawai BS, apalagi penggemar Bang Haji :D)      
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
> From: ikhwan.iqtishady@ gmail.com
> Date: Tue, 15 Jul 2008 17:46:17 +0700
> Subject: Re: Bls: [ekonomi-syariah] TANTANGAN ADVOKASI PERBANKAN 
SYARIAH
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  Terlepas dari masalah pengertian advokasi, sosialisasi dan 
promosi. Berikut kami sampikan beberapa fakta menarik seputar ekonomi 
syariah dan kehidupan masyarakat Indonesia. 
> 
> 
> Fakta 
> 
> Banyak sekali para pemikir, pengkaji ekonomi Islam dan perbankan 
Syariah mengaitkan pelarangan riba (bunga) dengan pelarangan khamr 
alias MIRAS. Analisa mengenai hal ini dapat dilihat misalnya pada 
buku Dr. Syafi'i Antonio Bank Syariah, Dari Teori ke Praktek. 
> Masyarakat Indonesia dari yang kecil sampai yang muda, dari pelosok 
desa sampai ke perkotaan besar sangat menyukai musik dangdut. Dangdut 
adalah musik negeri ini, setidaknya ini diakui oleh Project Pop yang 
menelurkan album, Dangdut Is The Music of My Country…..my country 
….oh my Country (lho kok jadi nyanyi :P
> Rhoma Irama adalah Ikon Musik Dangdut. Dia adalah Raja Dangdut yang 
sangat disegani oleh para pendekar dangdut negeri ini. Semua 
masyarakat Indonesia tahu siapa itu Bang Rhoma, klo rekan di milis 
ini ada yang ga' tahu siapa itu Rhoma Irama berarti itu "TERLALU"
> Yang perlu dicatat adalah Bang Rhoma pernah menciptakan sebuah lagu 
yang judulnya MIRAS (Minuman Keras). Bang Rhoma lantang sekali 
menyuarakan bahwa MIRAS adalah HARAM. Dan keliatannya perilaku bang 
Haji sangat Islami sekali. Misalnya ia mengkritik keras penyanyi-2 
yang bergoyang seronok yang jauh dari nilai-nilai Islami. 
>  
> Rekomendasi
> Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka sistem Advokasi dan Edukasi 
Perbankan Syariah mau tidak mau harus menyertakan Musik dangdut 
sebagai alat marketingnya. Tentu saja Bang Rhoma Irama sebagai Duta 
Syariahnya. Bayangkan, klo Bang Rhoma menciptakan lagu yang kisahnya 
adalah tentang haramnya riba dan bunga bank, wah... insya Allah 
edukasi bagi masyarakat akan lebih "Nendang"!!! . Dan saya kira dari 
segi biaya juga tidak terlalu tinggi untuk merekrut Bang Rhoma 
sebagai Duta Ekonomi Syariah. Karena dari segi visi dan misinya yang 
berkali-kali didendangkan sangat jelas bahwa musik dangdut baginya 
adalah Nada dan Dakwah. Mendakwahkan bunga adalah Riba dan bunga 
merupakan sesuatu yang haram juga merupakan dakwah, BETUL??!
>  
>  
> Salam,
>  
>  
> Ikhwan
> Minuman Keras Miras....MIRAS Apapun bentukmu.... ... 
> tak akan kusntuh lagi dan tak akan kuminum lagi walau 
secuil....secuil
> Bunga Bank Konvensional. ....HARAM Apapun Produkmu.... . 
> tak akan kusentuh lagi dan tak akan kupakai lagi walau 
sedikit....sedikit
> 
> 
> 
> Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live 
Messenger
>


Kirim email ke