Assalamualaikum wr wb.
Ini ada sedikit pemikiran tentang ekonomi. Semoga bermanfaat. Mohon maaf
apabila kurang berkenan.
http://www.republika.co.id/koran/24/14369.html
untuk detailnya,
Koran » Opini
Senin, 17 November 2008 pukul 09:44:00
Menggugat Tafsir (Makro) Ekonomi Barat
Hendri Tanjung
Dosen UIKA Bogor dan Kandidat Doktor Ekonomi Islam IIU Pakistan
Irfan Syauqi Beik
Dosen FEM IPB, Kandidat Doktor IIUM dan Ketua PPI Malaysia
Krisis keuangan global yang berkepanjangan dan belum menunjukkan titik terang,
bagi penulis telah menimbulkan keraguan akan keampuhan teori-teori ekonomi
konvensional menjawab persoalan kontemporer. Saatnya Indonesia mendesain ulang
kebijakan makro ekonominya karena yang ada belum sepenuhnya berpihak pada
kepentingan rakyat banyak.
Kegagalan ekonomi kapitalisme seharusnya dijadikan momentum dan pelajaran
secara bertahap mengubah paradigma kebijakan pembangunan ekonomi nasional dari
orientasi akumulasi kapital pada orientasi keadilan sesuai dengan prinsip
syariah Islam dan realitas sosial masyarakat yang bersumber dari akar sejarah
bangsa. Tidak ada satu pihak pun yang meragukan pendekatan makro diperlukan
dalam pembangunan suatu negara. Pendekatan makro diperlukan untuk menganalisis
perilaku ekonomi masyarakat. Misalnya, mengapa banyak pengangguran? Mengapa
inflasi tinggi?
Pada 1958 ekonom Inggris Sir Philips menemukan hubungan antara inflasi dan
pengangguran yang akhirnya dikenal dengan Philips Curve. Dengan menggunakan
data dari 1861 sampai 1957, Philips menemukan ada trade off antara inflasi dan
pengangguran di Inggris. Artinya, jika pengangguran rendah, inflasi tinggi.
Sebaliknya, jika pengangguran tinggi, inflasi rendah.
Akhirnya pemerintah mencari solusi dengan melakukan fine tuning. Artinya, jika
pemerintah ingin menurunkan pengangguran dua persen, harus siap menerima
inflasi (misalnya) sebesar lima persen. Jelaslah teori ekonomi ini ditemukan
dari realitas yang terjadi pada masyarakat Inggris dalam kurun waktu hampir
seabad itu.
Contoh lain ketika masyarakat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, ke mana
masyarakat menghabiskan pendapatan tambahannya itu? Apakah untuk konsumsi atau
menabung?
Dari sini Hutcheson mengeluarkan teorinya yang akhirnya dipakai sebagai rumus
umum dalam classical economics bahwa pendapatan (Y) pada dasarnya sama dengan
tingkat konsumsi (C) ditambah dengan tabungan (S). Adakah yang salah dalam
teori ekonomi makro ini? Tidak ada yang salah dalam teori tersebut karena
perilaku masyarakat Inggris saat itu memang seperti itu.
Yang salah, tidak ada fondasi pendekatan mikro dalam menerangkan realitas makro
tersebut. Philips tidak mengetahui mengapa ada trade off antara inflasi dan
pengangguran. Sama halnya dengan Hutcheson yang tidak mengetahui mengapa hanya
melalui konsumsi dan tabungan masyarakat menghabiskan pendapatannya. Mengapa
tidak ada cara ketiga atau keempat seperti mengeluarkan infak, zakat, dan
sebagainya?
Dari sini dapat disimpulkan bahwa teori ekonomi yang berkembang di Barat yang
dipelajari oleh ekonom kita adalah teori yang didasarkan pada fakta dan sejarah
masyarakat Barat. Begitu fakta dan sejarah itu berubah, berubah pulalah teori
itu.
Misalnya, ketika masyarakat Barat semakin pintar menelaah kebijakan pemerintah,
maka kebijakan-kebijakan ekonomi makro pemerintah saat itu tidak memiliki
dampak sedikit pun. Lihatlah bagaimana Lucas dengan teori Rational
Expectation-nya, mematahkan teori Philips. Lucas menyatakan dengan rational
expectation, inflasi akan terus tinggi tanpa mengurangi jumlah pengangguran
sedikit pun.
Pertanyaan menarik yang penting, mengapa konsep ekonomi Barat diterapkan secara
utuh di negara kita yang notabene memiliki sejarah yang berbeda? Apalagi
kehidupan bangsa Indonesia sarat dengan nilai agama.
Masyarakat Barat maju seperti sekarang karena meninggalkan agamanya. Mereka
tidak percaya dengan konsep Tuhan yang menjadi doktrin gereja saat itu.
Ketidakpercayaan mereka bukan tanpa alasan. Ketika itu gereja mengatakan bumi
datar. Kemudian, datanglah Galileo Galilei yang menyatakan bumi ini bulat. Apa
yang terjadi adalah gereja sangat marah dengan Galileo karena melawan
konsepnya. Akhirnya, Galileo digantung hingga menemui ajalnya. Tetapi, begitu
dapat dibuktikan bahwa bumi bulat, masyarakat Barat mulai tidak percaya dengan
gereja. Mereka kemudian membuang keimanan mereka dan menjadikan sains sebagai
'Tuhan' alternatif.
Apa yang terjadi berikutnya adalah perkembangan yang luar biasa dalam sains
khususnya matematika dan logika. Teori logical positivism mengatakan sesuatu
yang tidak dapat diobservasi (seperti ilmu agama) adalah ilmu yang lemah, tidak
dapat diterima. Mulai saat itu, ilmu sains berkembang berdasarkan observasi
dan pengamatan.
Pada 1950-an, teori positivisme itu ditemukan salah sebab banyak hal nyata yang
tidak dapat diobservasi seperti atom. Meskipun demikian, ilmu sains seperti
fisika dan engineering mendapat kemajuan yang pesat.
Rumus Newton yang ditemukan ratusan tahun lalu kini dapat menerangkan segala
fenomena alam. Inilah yang membuat pakar ekonomi ketika itu berpikir, kenapa
tidak dibuat satu rumus ekonomi yang dapat menerangkan segala fenomena ekonomi?
Mereka berpikir sudah seharusnya ilmu ekonomi disamakan dengan ilmu fisika.
Akhirnya lahirlah teori yang menyatakan bahwa manusia itu selfish (hanya
mementingkan diri sendiri). Dari teori ini, muncullah sejumlah teori lain
seperti profit maximization dan pareto optimality.
Mulai dari sini, ekonomi membedakan antara normatif dan positif. Ekonomi
normatif adalah ekspresi dari nilai-nilai, sedangkan ekonomi positif adalah
pernyataan yang ditentukan oleh fakta. Nilai-nilai tidak dapat ditentukan oleh
fakta. Ia datang dari agama. Karena masyarakat Barat menolak agama, yang
berkembang berikutnya adalah ekonomi positif.
Monopoli penafsiran
Tampaknya Barat memonopoli penafsiran ekonomi saat ini. Kita tidak menemukan
penafsiran lain dalam memahami fenomena ekonomi.
Mari kita lihat beberapa asumsi yang digunakan Barat menafsirkan fenomena
ekonomi. Pertama, terlalu menyederhanakan masalah. Terlalu banyak variabel yang
diabaikan dan dimasukkan dalam asumsi ceteris paribus, artinya dianggap tetap
dan tidak berubah.
Mereka pun terkadang salah kaprah dalam menggunakan matematika, padahal
terkadang matematika tidak dapat menjelaskan keseluruhan faktor yang melandasi
terjadinya sebuah fenomena. Contohnya adalah fungsi kepuasan (utility
function), di mana penggunaan matematika ternyata belum mampu menerangkan
secara utuh keseluruhan faktor yang menjelaskan tingkat kepuasan masyarakat.
Kedua, manusia seperti partikel dan hanya menuruti satu hukum, yaitu
mementingkan diri sendiri (selfish). Ini tidak benar. Mari kita lihat ultimatum
game yang dijelaskan melalui eksperimen. Dari ultimatum game, dapat dijelaskan
bahwa manusia itu tidak selfish. Manusia memiliki motivasi lain dalam perilaku
ekonomi seperti keinginan berkorban, mencintai, dan keinginan menolong.
Inilah nilai-nilai yang dianjurkan Islam. Sampai sekarang ekonom Barat tidak
mengerti mengapa hal ini terjadi. Kesimpulannya, ekonomi yang mengandung
nilai-nilai, seperti pengorbanan dan kasih sayang merupakan bagian integral
dari sifat alami manusia dan bukan sesuatu yang terpisah.
Ketiga, ekonomi Barat menganut falsafah bebas nilai (positivism). Agama (baca:
Islam) mengatur nilai-nilai (baik-buruk, halal-haram). Barat tidak memiliki
pilihan karena mereka tidak punya wahyu. Sementara bagi kita, kita tidak bisa
menjalankan ekonomi tanpa nilai-nilai. Terbukti salah satu penyebab utama
terjadinya krisis saat ini adalah akibat tidak adanya peran etika dan moralitas
(akhlakul karimah) dalam ekonomi.
Keempat, ada hukum-hukum tertentu dari perilaku ekonomi. Sebenarnya, manusia
bebas dan dapat memilih hukumnya sendiri. Contohnya, mengajari anak-anak dengan
nilai-nilai agama.
Jika dari kecil anak-anak diajari mencintai manusia khususnya orang miskin,
tidak akan ada kemiskinan dan kesenjangan sosial yang dahsyat seperti sekarang
ini. Tetapi, jika anak-anak diajari untuk egois, akan terdapat orang yang
kelaparan. Agama Islam mengajarkan bahwa kemiskinan itu adalah akibat tidak
bertanggung jawabnya orang-orang kaya di dalam masyarakat.
Penafsiran ekonomi Barat pada ekonomi positif tidak memberi ruang bagi ekonomi
normatif. Ekonomi normatif dipasung dalam pakem nilai-nilai agama yang tidak
diakui oleh Barat. Mereka mengatakan tidak ada hubungan antara ekonomi dan
agama. Tidak ada hubungan antara pengangguran dan agama. Tidak ada hubungan
antara kemiskinan dan agama. Tidak ada hubungan antara gejolak pasar modal
dengan agama.
Haruskan kita percaya pada penafsiran Barat yang jelas-jelas menolak Tuhan
dalam memecahkan fenomena ekonomi? Haruskah kita menunggu kematian ekonomi
seperti kematian Galileo di tiang gantungan?
Ikhtisar:
- Sangat berbahaya jika fenomena ekonomi dimonopoli penafsirannya oleh
Barat.
- Teori ekonomi Barat yang dipelajari oleh ekonom kita adalah teori yang
didasarkan pada fakta dan sejarah masyarakat Barat.
- Teori tersebut sangat rentan karena tak sesuai dengan budaya lokal.