---------- Forwarded message ----------
From: Alfiqih Latief <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 23 Nov 2008 09:57
Subject: Pangkal dari krisis finansial dunia saat ini
To: [EMAIL PROTECTED]

Ghalabati Al-Dain : Pangkal Dari Krisis Finansial Dunia Saat Ini…

<http://i244.photobucket.com/albums/gg5/geraidinar/burden.jpg>Salah satu doa
yang *ma'tsur *atau dicontohkan untuk kita baca setiap hari pagi dan petang
adalah berlindung diri dari *Ghalabati Al-Dain *atau hutang yang melilit.

Selama ini saya kurang menghayati makna dari do'a ini, namun karena ini
dianjurkan oleh Rasullullah SAW , ya sering-sering saja saya baca.

Dimasa krisis financial global ini, ternyata do'a inilah yang mestinya
sangat relevan untuk kita baca rame-rame setiap hari oleh seluruh elemen
bangsa ini – sampai kita bener-bener menjiwai.

Lebih dari itu setelah kita menjiwai, ini juga harus mewarnai segala tindak
tanduk kita dalam menjalankan kehidupan kita sendiri maupun – yang jadi
pemimpin – ya menjalankan negara ini.

Kita tahu pangkal dari segala krisis ini adalah gaya hidup ngutang, yang
dilakukan individu secara rame-rame maupun yang dilakukan oleh pemerintah.
Kita telah keliru mengambil contoh!.

Ekonomi bangsa ini, gaya hidup bangsa ini mencontoh ekonomi barat khususnya
Amerika yang sebenarnya sama sekali tidak bisa kita contoh.

Dalam hal gaya hidup ngutang yang dilakukan oleh pemerintah misalnya;
Pemerintahan Amerika bulan ini mengajukan ijin ke Konggres untuk menaikkan
batas atas hutang negaranya. Dengan batas atas yang baru ini hutang Amerika
akan mencapai US$ 9.8 trillion. Hal ini berarti setiap wara negara AS dari
yang tua sampai yang baru lahir langsung punya hutang sekitar US$ 33,000
atau sekitar Rp 396,000,000,- !.

Kita 'beruntung' jadi WNI; negara kita konon 'hanya' punya hutang Rp 1,320
trilyun. Atau kalau dibagi rata kepada seluruh warga negara yang tua maupun
yang baru lahir ; masing-masing kita kebagian sekitar Rp 5,280,000 atau US$
440. (Untuk rekan-rekan wartawan jangan quote angka ini ya, saya nggak
terlalu yakin karena sulitnya cari data yang pasti di Indonesia).

Yang mengerikan sebenarnya bukan ukuran dari hutang tersebut, melainkan
trend kenaikannya. Karena AS sebagai gurunya juga terus menerus manambah
hutang – nilai hutang mereka 'baru' mencapai US$ 8.0 trilyun tiga tahun
lalu; demikian pula Indonesia, pada saat yang sama tiga tahun lalu hutang
kita 'baru' Rp 1,282 trilyun.

Inilah musibah itu; lilitan hutang diatas hutang yang membuat seluruh dunia
kalang kabut didera krisis finansial yang seperti sumur tanpa dasar - belum
kelihatan ujungnya sampai saat ini.

Dalam dunia finansial; ada dua jenis hutang yaitu yang disebut
*Self-Liquidating
Debt *saya sebut saja SLD dan yang satunya tentu sebaliknya yaitu
*Non-Self-Liquidating-Debt
*atau N-SLD.

SLD adalah hutang yang produktif yang bisa membayar dirinya sendiri. Contoh
kita berhutang 100 untuk kegiatan produksi barang atau jasa yang hasilnya
bisa kita jual 130. Dari penjualan ini, 10 kita pakai untuk biaya, 20 kita
bagi 50%-nya ke pemberi hutang. Kita bisa berproduksi dan pemberi hutang
juga mendapatkan hasil dari dananya. Hutang semacam ini banyak-banyak tidak
masalah karena akan mendorong produktifitas.

Sebaliknya N-SLD adalah hutang yang tidak bisa membayar dirinya sendiri.
Contoh pegawai dengan penghasilan Rp 10 juta/bulan mengambil kredit Kijang
baru dengan cicilan Rp 5 juta/bulan. Maka setiap bulan dia akan kesulitan
mencicilnya karena penghasilannya nggak cukup; untuk menutupi ketidak
cukupannya dia berbelanja bulanan dengan *credit card*. Maka menumpuklah
hutang tersebut dari waktu ke waktu semakin besar. Inilah *Ghalabati Al-Dain
*itu …yang kita diajarkan untuk berlindung terhadapnya.

Negara juga demikian; mereka berhutang bukan hanya untuk kegiatan produktif
tetapi lebih banyak untuk kegiatan konsumtif. Di Amerika kegiatan konsumtif
yang sangat besar adalah untuk membiayai perang Irak dan aksi-aksi yang
tidak membawa manfaat bagi penduduk mereka sendiri seperti kegiatan mereka
di Afganistan dslb.

Di negeri seperti Indonesia, hutang-hutang kita tersebut dipakai untuk
nambal APBN, untuk 'hidup sehari-hari'- nya negeri ini.

Jadi negeri-negeri seperti Amerika, Indonesia dan seluruh negara di dunia
saat ini – sama dengan rakyatnya – hidup rutinnya ditambal dari kartu
kredit. Ketika beban kartu kredit terus membengkak – maka bangkrutlah
negera-negara tersebut.

Untuk sementara kebangkrutan ini tidak nampak karena berbeda dengan
individu, negara bisa mencetak uang. Anak cucu kitalah nantinya yang harus
membayari kartu-kartu kredit yang dipakai negara-negara ini sampai sekian
generasi yang akan datang.

Mari sekarang kita rajin-rajinlah lafadzkan do'a pelepas hutang ini…

*Allahumma innii a'udzubika minal hammi wal khazan, wa a'udzubika minal
'adzji wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bukhl, wa a'udzubika min
ghalabati al-daini wa khohri al rijaal. *

*"Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan
sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku
berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung
kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain."*
Labels: al dain <http://geraidinar.com/labels/al%20dain.php>
sumber : www.geraidinar.com


posted by M. Iqbal at 8:12 AM
<http://geraidinar.com/2008/11/ghalabati-al-dain-pangkal-dari-krisis.php>

Kirim email ke