Bretton Woods (I) Gagal, Bretton Woods II (Kalau Toh Akan Ada)  Juga Akan Gagal 
– Mengapa ?        
Written by Muhaimin Iqbal      
Monday, 24 November 2008 22:42  
Pertemuan
puncak 20 pemimpin negara yang memiliki focus pada financial market dan
ekonomi dunia di Wahington, D.C. pekan lalu rame disebut-sebut sebagai
cikal bakal Bretton Woods II.
Apa sih Bretton Woodsini ?, mari kita lihat kebelakang sejarahnya.
Cerita Bretton Woodsini bermula pada bulan July tahun 1944 ketika Amerika 
merasa telah
memenangi sebagian besar Perang Dunia II, maka mereka memprakarsai
konferensi di Bretton Woods yang kelak akan mengatur system keuangan dunia. 
Inti kesepakatan Bretton Woods awalnya
adalah janji Amerika Serikat untuk mendukung uang Dollar-nya secara
penuh dengan emas yang nilainya setara. Kesetaraan ini mengikuti
konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh Presiden Roosevelt yaitu
US$ 35 untuk 1 troy ons emas. Negara-negara lain yang mengikuti
kesepakatan tersebut awalnya diijinkan untuk menyetarakan uangnya
terhadap emas ataupun terhadap Dollar.  Dengan kesepakatan ini seharusnya 
siapapun yang memegang Dollar dengan mudah menukarnya dengan emas yang setara.
Namun kesepakatan Bretton Woodyang digagas oleh Amerika ternyata juga diingkari 
sendiri oleh Amerika.
Secara perlahan tetapi pasti mereka ternyata mengeluarkan uang yang
melebihi kemampuan cadangan emasnya, bahkan secara sepihak mereka tidak
lagi mengijinkan mata uang lain disetarakan terhadap emas , harus
dengan Dollar. 
Pemegang
Dollar juga tidak bisa serta merta menukarnya dengan emas yang setara,
tentu hal ini karena Amerika Serikat memang tidak memiliki jumlah
cadangan  emas
yang seharusnya dimiliki setara dengan jumlah uang yang dikeluarkan –
saat itu Amerika hanya memiliki 22% dari jumlah cadangan emas yang
harusnya mereka miliki !. 
Ketidakadilan ini mulai mendapatkan protes oleh sekutu Amerikat sendiri yaitu 
Generale De Gaulle dari Perancis. Pada tahun 1968 Degaulle menyebut 
kesewenang-wenangan Amerika sebagai mengambil hak istimewa yang berlebihan  
atau exorbitant privilege.
Tekanan
dan ketidak percayaan terus berlanjut dan Negara-negara sekutu Amerika
Serikat terus menukar Dollarnya dengan emas. Praktis saat itu hanya
Jerman yang tetap mendukung Dollar dan tidak menukar dollarnya dengan
emas.
Puncak
kesewenang-wenangan Amerika terjadi pada tahun 1971 ketika secara
sepihak Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan
Dollar-nya dengan cadangan emas yang mereka miliki – karena memang
mereka tidak mampu lagi !. 
Kejadian yang disebut Nixon Shock  tanggal 15 Agustus 1971 ini
tentu mengguncang dunia karena sejak saat itu sebenarnya Dollar Amerika
tidak bisa lagi dipercayai nilainya sampai sekarang. 
Berdasarkan kesepakatan Bretton Woods seharusnya US$ 35 setara dengan 1 troy 
ons emas, sekarang   atau
37 tahun kemudian perlu US$ 815 untuk mendapatkan 1 troy ons emas.
Artinya Dollar Amerika saat artikel ini ditulis hanya bernilai 4.3  % dari 
nilai yang seharusnya apabila Amerika Serikat memenuhi janjinya dalam 
kesepakatan Bretton Woodsyang diprakarsainya.
Dengan kegagalan  Bretton Woodstersebut seharusnya badan-badan pelaksana konsep 
ini yaitu IMF dan Bank
Dunia juga harus ditutup karena mereka telah gagal menjalankan
fungsinya.
Ironisnya bukan ini yang terjadi, kurang lebih empat bulan setelah 
terang-terangan Amerika mengingkari janjinya di Bretton Woods, tepatnya tanggal 
18 Desember 1971 mereka melahirkan apa yang disebut Smithsonian Agreement. 
Perjanjian yang diteken di Smitsonian Institute bersama negara negara industri 
yang disebut G 10 ini lah yang menandai berakhirnya era fixed exchange rate 
dengan back up emas, menjadi rejim floating exchange rate yang diikuti oleh 
seluruh negara anggota IMF termasuk Indonesia sampai sekarang.
Sejak
tahun 1971 tersebut praktis seluruh otoritas moneter dunia menggunakan
kembali uang fiat murni yaitu uang yang tidak didukung oleh adanya
cadangan emas. Uang fiat (dari bahasa latin yang artinya let it be done!, 
terjemahan bebas ke bahasa anak Jakarta-nya kurang lebih “emangnye gue 
pikirin…”)
adalah uang yang dibuat dari barang yang tidak senilai dengan uang
tersebut, bisa berupa kertas, catatan pembukuan semata (accounting
entry) di bank, atau bahkan hanya bit binari dalam memori computer.  Karena
asalnya tidak bernilai, kemudian dipaksakan harus diakui nilainya –
maka uang fiat ini nilai dan keabsahannya ditentukan oleh pihak yang
berwenang dalam suatu negara – oleh karenanya juga menjadi pembayaran
yang syah (legal tender) dalam perdagangan, pembayaran hutang dlsb.
System yang gagal ini yang mau dihidupkan kembali oleh para ekonom dan beberapa 
pemimpin negara. Saya sendiri pesimis kalau Bretton Wood IIakan bisa terwujud.  
Seandainya toh ini terwujud, saya yakin Bretton WoodII akan mengulangi 
kegagalannya persis seperti yang dulu.
Mengapa saya demikian yakin, bahwa kalau toh ada Bretton Woods IIpasti gagalnya 
?. Keyakinan ini timbul tidak lain karena kita punya
sumber berita yang valid sepanjang zaman. Yang memberitakan-pun adalah
Yang Maha Tahu. Yang ditetapaknNya pasti terjadi.
Kita
diberitahu oleh Yang Maha Mengetahui; agar kita hati-hati mempercayakan
urusan keuangan kita pada Yahudi karena lebih besar kemungkinan mereka
yang berkianat dibandingkan yang tidak, bahkan mereka menganggap kita
sebagi orang-orang umi yang harta kita bisa diambil mereka secara
sepihak. Ayatnya  sebagai berikut :
”Di antara Ahli Kitab ada
orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak,
dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu
mempercayakan kepadanya satu Dinar,
tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang
demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami
terhadap orang-orang umi”. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal
mereka mengetahui” (QS 3 : 75).
Nixon Shock1971 adalah salah satu bukti pengkhianatan mereka atas kepercayaan 
Dunia terhadap mereka.
Berita
lainnya yang sudah sering sekali saya kutip adalah berita bahwa ekonomi
yang dibangun atas dasar Riba, pasti dimusnahkanNya (QS 2 :276).
Mungkin timbul dibenak Anda bahwa bukankah Bretton Woodsmenggunakan emas 
sebagai dasar untuk pencetakan uang; Dinar juga menggunakan emas sebagai uang. 
Lantas apanya yang berbeda ?.
Dalam
Islam, uang hanya sebagai alat atau timbangan agar muamalah bisa
berjalan secara adil – Dinar memerankan sebagai timbangan yang adil
tersebut.
Agar
timbangan tersebut tetap selalu ada di masyarakat yang membutuhkannya –
agar muamalah selalu bisa berjalan secara adil; maka serangkaian aturan
syariah yang ketat harus ditaati oleh umat ini; antara lain :
·       Larangan menimbun.
·       Larangan riba.
·       Larangan menggunakan emas sebagai tempat makan dan sejenisnya.
·       Larangan laki-laki menggunakan perhiasan emas.
·       Dorongan agar harta selalu berputar – tidak hanya pada golongan yang 
kaya.
Jadi
yang memungkinkan system Dinar berjaya dulu (dan juga insyaallah kelak)
bukan semata-mata Dinarnya saja, tetapi seluruh system keadilan
berjalan.
Apabila
sekarang yang akan dilakukan hanya menggunakan Emasnya saja sebagai
referensi; tetapi system penunjangnya secara keseluruhan masih sangat
mungkar – riba dan spekulasi masih meraja lela – maka emas sendirian –
tidak akan banyak membawa perubahan. 
Terlepas
bahwa kecil kemungkinan Bretton Woods II bisa terwujud apalagi bisa
sukses, sebenarnya ada hikmah lain yang bisa kita ambil dari mulai
dibicarakannya Bretton Woods oleh para ekonom dan pemimpin dunia.
Hikmah ini adalah pengakuan mereka dalam tindak - bahwa emas-lah
sesungguhnya uang yang seharusnya selalu menjadi rujukan. Wallhu A’lam. 
Last Updated on Monday, 24 November 2008 22:56 


      

Kirim email ke