Komitmen Muslim terhadap Dakwah dalam Rekayasa Masa Depan Umat (Studi Strategic 
Planning) 


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ
إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ(24)

“Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu
kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan
sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

(QS. 8 al-Anfal, 24).

إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ
يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ(36)

Sesungguhnya
orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi
(orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian
menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam
neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, (al-Anfal 36)

وَيَا
قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ
وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ(52)

Dan (dia berkata): "Hai
kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya,
niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan
menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling
dengan berbuat dosa." (Huud, 52)

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو
إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ
اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(108)

Katakanlah: "Inilah
jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik". (Yusuf, 108)

ادْعُ إِلَى
سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ
سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)

Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(an-Nahl, 125)

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ
وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ(60)

Dan siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan
pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu
tidak akan dianiaya (dirugikan). (al-Anfal, 60).

Da’wah secara
bahasa berarti ajakan. Dan menurut istilah didefinisikan dengan
“mengajak manusia ke jalan Allah untuk mengeluarkan mereka dari
kegelapan kekufuran kepada cahaya Islam, dan dari kezaliman kepada
keadilan.”

Ayat dan Pengertian da’wah di atas menggambarkan
bahwa da’wah memiliki peran yang demikian strategis dalam pembinaan
ummat manusia. Yaitu melepas manusia dari segala bentuk dan penyebab
kehinaan, kebodohan, penindasan dan kezaliman. Maka sangat logis dan
wajar jika orang-orang termulia di sisi Allah dan tentu saja terhormat
di kalangan manusia seperti para nabi, Rasul, syuhada dan ‘ulama,
memiliki peran utamanya adalah sebagai da’i. Jasa mereka terus dikenang
sepanjang sejarah hidup manusia karena mampuh mengantarkan mereka
kepada hakikat hidup yang sesungguhnya.

Dengan demikian da’wah
dapat dipahami sebagai suatu sistem yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Bahkan da’wah dengan seluruh ma’na, pemahaman dan penerapannya
sebagaimana yang pernah dicontohkan Rasulullah, shallallahu ‘alaihi wa
sallam, telah berhasil membangun dan memberi kehidupan kepada setiap
sektor kehidupan manusia, baik pemikiran (intelektual), mental
(spiritual), maupun prilaku (moral) lengkap dengan wujud peradabannya
yang agung dan mulia. (lihat kembali ayat di atas).

Peran Da’wah dalam Pembinaan Masyarakat:

Pertama: Da’wah berperan menghidupkan masyarakat pada sektor pemikiran 
(intelektual).

Peran
ini demikian penting karena pemikiran adalah gerbang dan dasar
perbaikan suatu masyarakat dan bangsa. Hanya bangsa yang memiliki
pemikiranlah yang dapat menentukan masa depan generasinya secara baik.
Karena pemikiran akan membentuk dalam jiwa generasi bangsa itu
prinsip-prinsip yang sangat diperlukan dalam membangun kehidupan dan
peradabannya. Prinsip inilah yang akan membawa mereka kepada sikap
teguh pendirian dan kepercayaan diri yang sangat diperlukan dalam
menguasai percaturan hidup dengan bangsa-bangsa lain.

Dalam
peran ini da’wah selalu mewariskan gagasan dan ide yang mulia dan
agung. Ide untuk selalu hidup terhormat dan mulia. Orang-orang yang
hidup dengan da’wah sepanjang sejarahnya selalu mewariskan cara pandang
dan cara hidup yang kaya dengan nilai positif. Ini terjadi karena
sumber pemikiran dan gagasan tersebut berasal dari Islam. Dinul Fithrah
yang sesuai dengan watak dan karakter manusia sepanjang masa.
Sebagaimana firman Allah:

“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (QS. 30 Ar-Ruum, 30).

Ke dua: Da’wah berperan membangun mental (Spiritual) masyarakat dengan benar , 
kokoh dan terarah.

Peran
ini juga sangat penting dalam mengarahkan masyarakat dan bangsa
sehingga memiliki spiritualitas yang luhur dan kokoh. Karena kekuatan
spiritual adalah kekuatan mendasar dari kecerdasan emosional yang
sangat signifikan dan inti dari seluruh kekuatan yang dimiliki manusia.
Oleh karena itu tiada satu bagsa atau masyarakat manapun yang
mengabaikan pembinaan sisi spiritual ini melainkan ia akan terancam
keruntuhan. Sejarah membuktikan hal ini, di mana bangsa yang lebih
memiliki perhatian dan kekuatan spiritual yang lebih tinggi dan kuatlah
yang selalu mampuh melestarikan dirinya dalam sejarah.

Sisi
inilah yang ternyata kurang diperhatikan masyarakat. Sekalipun ada,
tetapi spiritualitas dan mental yang dibangun bukan atas dasar konsep
dan ajaran hidup yang terjamin kebenarannya. Berbagai paham kehidupan
abad ini memang banyak dipelajari di bangku sekolah atau kuliah. Tetapi
kesalahan dalam memilih ajaran dan paham hidup justeru awal dan muara
keasalahan lainnya. Oleh karena itu da’wah dengan Islam sebagai
objeknya menawarkan spiritualitas yang telah teruji keberhasilannya
dalam membawa bangsa-bangsa di dunia ke jenjang peradabannya yang mulia
dan dicita-citakannya.

Ke tiga: Da’wah berperan membangun moralitas (akhlaq) masyarakat yang agung dan 
mulia.

Sisi
akhlaq adalah sisi terluar dan paling dirasakan langsung hasil dan
pengaruhnya dalam kehidupan. Sedikit cacat yang terdapat dalam moral
akan langsung memberikan dampak nilai buruk dalam diri seseorang dan
masyarakat. Dengan demikian sisi ini sangat diperhatikan oleh da’wah
dan para pelakunya. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
seakan-akan tidak diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang
mulia (al-Hadits).

Dengan ketiga sisi pembinaan ini, da’wah
telah menempatkan dirinya sebagai sistem dan mekanisme yang paling
efektif dan baik. Karena dengan kekuatan di ketiga sisi ini suatu
masyarakat dan bangsa akan selalu eksis dan dihormati bangsa-bangsa
lain.

PERENCANAAN STRATEGIS DA’WAH DALAM PENGEMBANGAN UMMAT


“Sesungguhnya
amal-amal perbuatan (berbagai aktifitas) itu (tergantung) kepada niat
(visi, misi, motivasi dan perencanaan strategisnya)”. (al-Hadits)

Strategi
merupakan seni untuk membawa musuh ke dalam suatu pertempuran pada satu
waktu dan tempat yang anda inginkan. “the art of bringing the enemy
into battle at a time and place of your own choosing”. Atau seni
membawa suatu produk dan pasar secara bersama-sama di bawah
kondisi-kondisi yang kondusif dengan keuntungan ”the art of bringing
the product and the market together under conditions which are
conducive to profit”. (Personal/Humen Resource Management in Australia,
Randall S. Schuler dkk, hal. 4).

Da’wah, seperti dikemukakan di
atas, adalah ajakan ke jalan Allah dengan hikmah dan mau’idzoh hasanah
(pelajaran atau nasehat yang baik) serta debat yang baik, agar beriman
kepada-Nya dan kufur terhadap segala bentuk thoghut, supaya keluar dari
segala bentuk kezaliman akibat kebodohan menuju keadilan Islam.

Strategi
da’wah dalam pengembangan ummat adalah seni membawa dan mengajak ummat
ke dalam suatu kondisi kehidupan yang adil sebagaimana yang diinginkan
Islam dan sumbangan rahmatnya dalam menata dunia.

Dalam cara
pandang seorang “military strategist” bahwa strategi harus mencerminkan
suatu etos perang untuk memenangkan pertempuran. Sementara dalam
perspektif seorang bisnismen yang juga mengadaptasi pemikiran ahli
strategi militer di atas bahwa strategi bisnis harus merefleksikan etos
kerja atau seni mengantarkan suatu produk dan pasar sekaligus ke
gerbang keuntungan.

Dari kedua cara pandang ini strategi adalah
sistem yang memiliki kepentingan dan tujuan untuk membawa segala
komponennya ke suatu kemenangan dan keuntungan. Untuk mendukung sistem
ini diperlukan suatu seni atau kemampuan yang dapat diperlihatkan dalam
dua jenis etos, yaitu etos kerja dan etos perang (jihad).

Demikian
halnya dengan da’wah, yang juga merupakan suatu sistem dengan seluruh
komponennya mulai dari tujuan, tahapan, target, objek, metode dan
mekanismenya, diarahkan untuk memberikan kemenangan dan keuntungan bagi
ummat khususnya dalam bidang ekonomi, politik, budaya dan pendidikan.

Da’wah
sering diilustrasikan dalam al-Qur’an dengan sistem transaksi jual beli
atau perdagangan. Dua ayat di atas menunjukkan hal ini, yang pertama
(Surah at-Taubah 111) menyatakan adanya transaksi antara Allah dan
hamba-Nya. Yang kedua (Surah Shaff: 10-11) menegaskan suatu transaksi
perdagangan.

Kedua ilustrasi tersebut menggambarkan adanya
tuntutan etos kerja yang optimal. Lebih jauh kedua ilustrasi itu
menggambarkan implementasi kongkrit dari etos kerja seorang mu’min (
apalagi da’i) yang optimal yaitu etos jihad (perang di jalan Allah).
Dalam konteks kehidupan nyata dapat diwujudkan dalam jihad (perjuangan
atau perang) menuju kemenangan di segala bidang.

Sebagai suatu
sistem, strategi da’wah ini harus didesain dalam suatu perencanaan
(planning) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, shallallahu ‘alaihi
wa sallam sebagai da’i pertama paling berhasil.

Dalam merencanakan suatu strategi diperlukan komponen-komponen dengan 
langkah-langkah sebagai berikut:


        1. Penguasaan nilai berbagai aspek wawasan teoritik tentang
segala permasalahan kehidupan dalam pandangan Islam dan konvensonal.
Hal ini dapat dilakukan secara simultan dengan pengembangan wawasan
ummat mulai dari kalangan ulama, da’i, kaum intelektual sampai kalangan
masyarakatnya.
        2. Penguasaan nilai data dan informasi tentang berbagai kondisi ummat 
baik yang positif atau yang negatif
sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan oleh kalangan
pengambil keputusan seperti pemerintah, anggota legislatif sampai ke
tingkat direktur dan manajer perusahaan dan perdagangan.
        3. Perumusan visi dan misi tentang pemberdayaan ummat dan 
kepentingannya dalam upaya mengubah
kondisi ummat menuju kesejahteraan dan keamanan yang memadai.
        4. Penumbuhan etos kerja sekaligus etos jihad yang terbentuk dari 
refleksi visi dan misinya dalam konteks kehidupan
nyata, etos kerja diperlukan untuk meningkatkan kemampuan hidup di
kalangan ummat, sehingga mampuh menduduki posisi-posisi strategis dalam
penentuan kebijakan yang menguntungkan. Sementara etos jihad (juang dan
perang) sangat diperlukan dalam pertahanan, perlindungan dan
pengembangan karena pihak “musuh” sangat berkepentingan untuk menguasai
aspek-aspek yang cukup menentukan nasib bangsanya.
        5. Perencanaan operasional dengan mengaudit, menghitung dan menganalisa 
seluruh variabel yang
mempengaruhi kondisi ummat baik kekuatan internal atau eksternal ummat.
Seperti jumlah para pelaku bisnis, ekonom dan politik di setiap
tingkatan, jumlah dan perbandingan potensi yang dikuasai intern dan
ekstern ummat.
        6. Menentukan pilihan skenario (Fiqh Prioritas) untuk mengantisipasi 
setiap perkembangan kondisi baik
lokal, nasional maupun internasional. Perkembangan ini akan
mempengaruhi kebijakan atau sikap da’i dan ulama misalnya dalam
keterlibatan mereka dalam dunia ekonomi, politik dan pendidikan.
        7. Pelaksanaan (Implementation) dari setiap perencanaan menuju masa 
depan ummat yang berdaya dan mencerminkan kehidupan penuh rahmat bagi semesta 
alam.
Penutup:

Semoga
masyarakat dan umat kita dapat mewujudkan peran da’wah dengan strategic
planning-nya yang efektif dan efisien. Sehingga umat dan peranannya
sebagai guru dunia dapat hidup dengan ma’na yang sesungguhnya. Amin.


Langkah-langkah Perencanaan Strategi Da’wah dalam Pengembangan Ummat:

Kontinuum Perencanaan (Perspektif Islam)

Amang Syafrudin



      

Kirim email ke