Assalamu'alaikum, Barusan saya ngobrol-ngobrol ama kolig saya. Secara usia dia sebaya dengan saya. Dia pandai berhemat dan rajin menabung, dan karena dia tidak banyak menghadapi pengeluaran tiba-tiba maupun pengeluaran untuk membantu keperluan orang lain, maka bisa dibilang penghasilannya utuh dan maksimal ditabungnya. Recently dia membeli mobil BMW (second hand) dan saat ini dia sedang berancang-ancang untuk membeli rumah yang konon lagi banyak orang mau jual alhasil harga ditaksir turun.
Terlintas dalam benak saya, hal-hal seperti "wah masak saya kalah", "wah aku mesti bisa punya lebih darinya", "wah mesti disalib (dibalap) nih orang", dst dsb. Lalu saya teringat, olala inilah hembusan godaan yang telah diperingatkan dalam seuntai ayat pendek nan tajam : "Alha-kum-ut takatsur". Alha --> telah melenakan, kum --> kalian semua, at-takatsur --> banyak-banyakan (maksudnya berlomba mengumpul-kumpulkan harta kepemilikan). Kurang lebih maksudnya bahwa kecenderungan untuk berlomba-lomba bersaing banyak-banyakan posesi harta telah melenakan kita dari tujuan hidup yang sesungguhnya. Waks ! Mesti stop nih train of thought seperti itu. Mari kembali ke konsep tujuan dari harta. Yaitu setelah kita manfaatkan untuk diri kita (basic needs : sandang pangan papan, lalu kesehatan, ketentraman, dignity dst) maka kita manfaatkan untuk keluarga kita (bagi yang beristri anak tentunya menafkahi mereka, mendidik mereka, membahagiakan mereka; dan bagi yang belum tentu untuk orang tua di rumah, kakek nenek bila ada, paman bibi, sepupu dst), lalu setelah itu kita manfaatkan buat kaum lemah di sekitar kita (fakir miskin yatim melalui zakat, shodaqoh, beasiswa, santunan, anak asuh dst), kemudian kita manfaatkan untuk perjuangan umat (pembangunan masjid, pendanaan dakwah, sumbangan sosial, dst) selebihnya baru dipersilahkan untuk dipergunakan sesuai akal pikiran yang rasional dan hati yang jernih dan bijak. Berat juga teorinya, doakan agar saya tidak menjadi orang yang gagal dan rugi, karena telah mengucapkan sesuatu yang tidak berhasil dipenuhinya sendiri. Regardless of bagaimana keberhasilan saya menetapi kalimat ini, anggap saja Allah telah meminjam jari saya dan email gmail saya ini untuk menyampaikan hal ini kepada anda semua di hari nan penuh hujan ini yang merupakan momen turunnya berkah dari langit. Tampaknya ini merupakan suatu godaan yang umum (commonly happen) dalam hidup kita semua. Wallahu musta'an ainun najib qıɾɐu unuıɐ
