semoga jadi hikmah bagi semua..

--- On Fri, 3/6/09, yudanto <[email protected]> wrote:
From: yudanto <[email protected]>
Subject: [iaitb-my] An hour from home, thousand years from heart
Date: Friday, March 6, 2009, 9:21 AM

Curhat seorang mahasiswa NTU setelah peristiwa mahasiswa Indonesia
berprestasi yang bunuh diri setelah melukai professornya.

........................
http://margarittta.multiply.com/journal/item/75/An_hour_from_home_thousand_years_from_heart


Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya
sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3
pembunuhan sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran
Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.



Sontak gue mendapat telpon sana-sini dari rekan satu sekolah yang kini
telah jadi jurnalis di negeri Singa. Apakah gue kenal David? Seperti
apa orangnya? Menurut loe motifnya apa? Gue ga kenal David. Punya
fotonya juga tidak. Tapi gue akan bilang, I was David.



Gue mungkin tidak tahu penyebab kelakuan nekadnya. Mungkin saja
alasannya sedangkal pacarnya direbut profesor. Tapi sebagai David, gue
gak heran, mengapa seorang mahasiswa bermasa depan cemerlang bisa
berpikiran pendek seperti pengangguran kekepet hutang. Gue merasa
wajar ketika seorang peraih beasiswa bernasib seperti anak SD yang gak
lulus UAN.



Bayangkan satu pesawat di pagi hari penuh dengan anak-anak tercerdas
dari seluruh Indonesia. Kepala kami mendongak ke atas, penuh percaya
diri dan harapan. Orang-orang yang mengantar kami punya senyum bangga
di bibirnya.



We are the chosen ones. Juara satu dari antara juara-juara satu
lainnya di tiap sekolah. Jika bukan pemenang Olympiade matematika,
mungkin Olympiade Fisika, atau Kimia, atau biologi, atau juara lomba
debat internasional. Mayoritas punya foto bersama Pak Menteri.



Itulah sebabnya kami dipersatukan dalam pesawat itu. Bakat menjanjikan
telah menarik perhatian Pemerintah Singapura. Tidak seperti pembantu
dan kuli yang kelasnya adalah Foreign Worker, kami diundang sebagai
Foreign Talent.



Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama yang *meski Oknum R rasa
kurang memadai* sangat-lengkap. Kami mendapatkan kamar yang bersih,
air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100mbps. Fasilitas
sekolah sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji
untuk belajar dan riset dengan materi tercukupi.



Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang
manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan,
bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan?
Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah
penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?



Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orang tua gue
tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika
gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk ‘membayar’
lebih dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan
mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.



Dan karena kami bukan manusia, kegagalan bukanlah hal yang bisa
diterima. Hanya manusia yang bisa gagal, bakat tidak pernah gagal. Gue
cukup beruntung tidak pernah dikejar-kejar 40 email menuntut
diselesaikannya tugas yang tak masuk akal untuk bisa selesai. Profesor
gue cukup manusiawi untuk tidak menyebut gue orang tak berguna, yang
tergoblok yang pernah ia temui, yang menyia-nyiakan beasiswa.



Tapi gue sungguh mempertanyakan hakikat gue sebagai manusia ketika gue
terpaksa menggelandang karena gue tidak ikut cukup banyak kegiatan di
kampus. Saat gue mengadukan nasib gue, kesan pertama yang gue terima
adalah: sebodo-wae sebatang kara di Singapur, ga punya temen pula,
salah sendiri ga ikut banyak kegiatan! Kalau ikut kegiatan kan dapat
poin bisa tinggal di kampus!



Ketika gue bilang gue kan mahasiswa asing, sekolah disini aja udah
susa, masa harus ikut kegiatan banyak-banyak, kesan berikutnya adalah:
sebodo wae! Sudah tahu posisi jadi mahasiswa asing, bakal susah kalau
gak dapat akomodasi, harusnya semakin rajin ikut kegiatan!

Ketika akhirnya gue berkeras bahwa gue sudah diterima di NTU berarti
kesejahteraan gue harus dijamin dong, kesan terakhir adalah:
sebodoh-wae! Sudah bagus diterima disini, dapat pendidikan bagus
murah, bisa masuk NTU berarti bisa bertahan hidup disini, dong!



Begitulah the chosen ones jadi gelandangan, dibuang-buang dan
diragukan kemampuannya. Berada dalam tekanan konstan untuk berprestasi
karena itulah satu-satunya nilai kami, menjadikan gue juga kurang
mampu melihat harga gue sebagai makluk hidup. Terhitung 3x gue
berpikir bahwa mati itu mungkin ga jelek-jelek amat, habis apa gunanya
hidup kalau tidak berprestasi?



Tapi ini kan Singapura, satu jam seperempat dari Jakarta! Sama anak
Bandung lebih cepet sampai rumah! Telpon juga murah, apa gak bisa
mencari kesejukan dari keluarga?



Yang gue rasakan, jarak satu jam seperempat itu menjadi ribuan tahun
ke hati orang-orang terdekat kami. Di mata mereka gue bukan lagi
seseorang yang bisa (dan boleh) menangis. Ada segudang harapan dan
impian yang tersusun di bahu kami. Kami kini dilarang gagal.  Maka
ketika telepon, hanya kisah sukses dan keberhasilan yang tega dibagi.



Jangankan dengan keluarga yang tak melihat langsung, tetanggapun belum
tentu bisa dijangkau. Setiap orang punya tuntutan yang sama untuk
berprestasi, sehingga sulit untuk tidak bersaing, sulit untuk tidak
sibuk menyelamatkan diri sendiri. Tidak setiap hari sahabat bisa punya
waktu untuk mencegah pikiran nekad. Lihatlah bangku-bangku taman yang
selalu kosong di asrama sekolah. Sosialisasi itu kadang bisa
buang-buang waktu!



Gue tidak menyesali 4 tahun kebelakang, karena memang benar, tanpa apa
yang ada 4 tahun itu, tidak ada gue yang sekarang. Tapi gue juga tidak
menyangkal bahwa hal sama yang telah gue lewati telah membuat kakak
temen gue melompat ke rel kereta api dalam percobaan bunuh diri yang
gagal. Mengirim anak dokter ternama masuk Rumah sakit jiwa. Membawa
seorang kawan memecahkan kaca ruang kuliah dengan kepalanya sendiri.



Bertahun-tahun gue berusaha mengatakan pada orang-orang di sekitar gue
betapa masuk akalnya seorang mahasiswa NTU yang cerdas, hidup nyaman
di Singapura, dengan takdir meyakinkan, berakhir naas di rel kereta
api atau di rumah sakit jiwa.



Tapi gue mungkin bukan narator yang baik, karena ga ada orang yang
percaya. Tanpa pernah tahu apa yang ada sebenarnya David maksudkan,
tanpa sengaja ia telah mewakili apa yang selama ini gue, dan
teman-teman gue ingin ungkapkan. Bahwa di permukaan, hidup kami tak
kurang satu apapun. Tapi apa perlunya mempertahankan hidup jika
seseorang hanya dilihat sebagai mesin dan benda mati?
DISCLAIMER:
"This e-mail (including any attachments) is intended solely for use of the
individual or entity whom it addressed and others authorized to receive it.
It may contain confidential or legally privileged information. If you are
not the intended recipient you are hereby notified that any disclosure,
copying, distribution or taking any action in reliance on the contents of
this information is strictly prohibited and may be unlawful. Unless
otherwise specifically stated by sender, any documents or views presented
are solely those of the sender and do not constitute official documents or
views of PT Bank Ekspor Indonesia (Persero). If you have received this
communication error, please notify us immediately by responding to
[email protected] and then delete the original message from your
system. PT Bank Ekspor Indonesia (Persero) is neither liable for the proper
and complete transmission of this e-mail (including any attachments) nor
for any delay in its receipt. Although this e-mail has been checked for
computer viruses, PT Bank Ekspor Indonesia (Persero) accepts no liability
for any damage caused by any viruses and any malicious code transmitted by
the e-mail. Therefore the recipient should check again for the risk of
viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through
Internet."

Kirim email ke