--- Pada Sel, 19/5/09, Djati Kusumo <[email protected]> menulis:

Dari: Djati Kusumo <[email protected]>
Topik: [smunsabogor01] Boediono dan Ekonomi Syariah
Kepada: [email protected], "Smunsa01 Milis" 
<[email protected]>
Tanggal: Selasa, 19 Mei, 2009, 7:44 PM



BOEDIONO DAN EKONOMI SYARIAH







oleh: Asro Kamal Rokan




Tepuk
tangan bergema di Gedung Chandra, Bank Indonesia, Selasa, 23 Desember
2008. Malam itu, dalam pelantikan Masyarakat Ekonomi Syariah, Gubernur
Bank Indonesia, Boediono, memberikan pernyataan melegakan. ‘’Jangan ada
keraguan, BI akan mendukung perkembangan ekonomi syariah.’‘




Untuk
memperkuat pernyataannya, Pak Boed kemudian menyebut dua nama Deputi
Gubernur BI yang duduk sebagai pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah
(MES) 2008-2011. Pertama, Siti Halimah Fadjrijah, sebagai wakil ketua
Dewan Penasihat dan Muliaman D Hadad sebagai ketua umum MES. Tepuk
tangan para tokoh ekonomi syariah dan pengurus MUI yang hadir malam
itu, kembali bergemuruh.



Pak Boed tidak
sedang menyenangkan hati tokoh-tokoh Islam yang hadir ketika itu. Ia
paham soal ekonomi syariah. Ketika memberikan sambutan pada Festival
Ekonomi Syariah yang dibuka Presiden SBY, Februari lalu, Pak Boed
bahkan menyerukan perbankan konvensional meneladani perbankan syariah
dan mengajak mereka kembali ke khittah.



Alasannya, krisis
keuangan yang melanda dunia saat ini, antara lain disebabkan munculnya
produk-produk keuangan spekulatif yang berisiko tinggi. Produk-produk
ini tidak memiliki pijakan, instrumen keuangan semakin terlepas dari
underlying transaction. Akibatnya, menjadi gelembung, membesar, dan
akhirnya pecah. Krisis keuangan pun terjadi menghantam semua negara.



Ini
berbeda dengan perbankan syariah. Menurutnya, sejak awal sistem ekonomi
syariah, terutama perbankan syariah, tidak memperkenankan produk
bersifat spekulatif. Prinsip syariah memberikan landasan bagi
pengelolaan ekonomi yang sehat, yang didasari nilai-nilai universal,
yaitu wajar, adil, dan transparan dalam mencapai kesejahteraan bersama.
Sistem ini pun sangat tahan krisis.



BI memang serius mendorong
ekonomi syariah. Selama 2008, dua undang-undang disahkan, yakni UU
tentang Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN) dan UU Perbankan
Syariah. Landasan hukum ini, menurut Boediono, memberikan basis yang
kuat dan ruang lebih jelas bagi penyusunan konsep pengaturan yang
sesuai karakteristik perbankan syariah.



Kini, Pak Boed—menteri
masa Pak Habibie, Megawati, dan SBY— dipilih bakal calon presiden
Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon wakil presiden. Banyak harapan
padanya, terutama meningkatkan perekonomian nasional dan menjadikan
Indonesia lebih sanggup dan bermartabat.



Seperti, ketika ia
berkata pada Juli 2003 lalu: ‘’Siapa pun yang dipilih pada pemerintahan
mendatang, kita berharap mendapatkan estafet dalam bentuk ekonomi yang on going,
ekonomi yang berjalan baik. Jangan ekonomi bobrok yang diserahkan. Ini
adalah kepentingan kita semua untuk menjadi referensi, meskipun kita
bersilang pendapat.’‘



Kamis malam, 27 April 2006, di Tanah Suci
Makkah, setelah thawaf, Presiden dan Ibu Ani SBY, sejumlah menteri,
termasuk Pak Boed, dan semua rombongan secara bergantian,
Alhamdulillah, memasuki Ka’bah. Entah apa doa Pak Boed ketika itu, tapi
ia kelihatan khusuk.



Di Madinah, setelah umrah, rombongan
diperkenankan pula masuk ke dalam makam Rasulullah SAW. Alhamdulillah.... Di 
Abu Dhabi, dalam rangkaian lawatan Presiden di lima negara Timur
Tengah itu, kami bertemu Pak Boed di kompleks pertokoan Marina. Ia
tidak terlihat seperti seorang menteri dengan pengawalan ajudan. Di
sini, Pak Boed, yang dikenal sederhana, membeli tiga baju obralan
seharga 80 dirham (sekitar Rp 198 ribu).



Ketika kami bertanya,
Menko Perekonomian yang berprinsip ‘jangan mengambil yang bukan hak’
itu menjawab enteng, ‘’Nggak apa-apa dong menteri pakai baju obral.
Dapat tiga baju seharga 80 dirham, murah kan,’‘ katanya berlalu, sambil
menenteng tas plastik.



Pak Boed apa adanya dan kita berharap jika nanti terpilih, ia tidak berubah, 
termasuk komitmennya terhadap ekonomi syariah. ■



sumber: Harian Republika (20/5/09)








      Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke