http://www.infobanknews.com/index.php?mib=mib_news.detail&id=1837
Perbankan Nasional Masih Rajin Tempatkan Dana di SBI
Tanggal:  09 Maret 2010 - 15:46 WIB
Sumber: infobanknews.com

Kepemilikan asing di SBI masih tinggi. Sesungguhnya, makin tinggi SBI, anggaran 
BI juga akan makin berdarah-darah. Itu karena anggaran BI akan terbebani biaya 
moneter yang tinggi karena bunga SBI mengacu pula pada BI Rate. Paul Sutaryono 

Sekalipun kredit hanya tumbuh 9,96%, bank nasional mampu meningkatkan 
pencapaian laba bersih 47,73% dari Rp30,61 triliun menjadi Rp45,22 triliun.

Kinerja jitu ini telah membuat return on assets (ROA) meningkat dari 2,33% 
menjadi 2,60%. Rasio ini jauh di atas ambang batas 1,5%.

Ini menunjukkan bahwa bank nasional tetap memiliki daya tahan yang tinggi di 
tengah badai finansial. Pertanyaannya, apa yang membuat bank nasional mampu 
meningkatkan laba bersih setinggi itu?

Pertama, penempatan dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank nasional 
ternyata masih rajin menempatkan dananya di SBI. Per Desember 2008 dana bank 
nasional di SBI sebesar Rp166,52 triliun, namun per Desember 2009 sudah 
meningkat menjadi Rp212,12 triliun.

Sebuah kenaikan yang cukup signifikan, yakni 27,38% atau Rp45,6 triliun. 
Sungguh ini pendapatan nan gurih karena penempatan di SBI dapat disebut tanpa 
risiko (risk free). Data teranyar ini sekaligus menggambarkan bahwa bank 
nasional tetap tekun bermain aman (safety player).

Kepemilikan asing di SBI masih tinggi. Sesungguhnya, makin tinggi SBI, anggaran 
BI juga akan makin berdarah-darah. Itu karena anggaran BI akan terbebani biaya 
moneter yang tinggi karena bunga SBI mengacu pula pada BI Rate yang kini 
mencapai level 6,5%.

Sebenarnya, wacana untuk membatasi SBI sudah membahana sejak tiga tahun lalu 
mengingat SBI akan meninabobokan bank nasional dan kelompok asing. Sayangnya, 
wacana tinggal wacana karena BI tetap mempertahankannya. Padahal, sangat jelas 
SBI itu asli bukan alat investasi! SBI itu merupakan alat moneter!

Kedua, margin bunga bersih (net interest margin atau NIM). SPI menggambarkan 
bahwa NIM bank nasional masih tinggi, 5,56%, per Desember 2009 atau naik dari 
5,54% pada bulan sebelumnya, November 2009.

 Padahal, Bank Indonesia berulang-ulang menyampaikan imbauan agar bank nasional 
mau mengempiskan NIM. Fakta itu menunjukkan bahwa penurunan bunga deposito 
masih belum diikuti oleh penurunan bunga kredit secara signifikan. Mana datanya?

 Lihat saja, dua kelompok bank masih menikmati NIM tinggi. NIM kelompok BUSN 
nondevisa malah melaju dari 7,86% per November 2009 menjadi 7,97% per Desember 
2009, sementara NIM BPD dari 7,82% menjadi 7,88%. (*)

Penulis adalah pengamat perbankan



      

Kirim email ke