Umum masyarakat Indonesia belum terlalu siap "berinvestasi" di bank, yang 
artinya siap berbagi untung ataupun berbagi rugi, bila rugi. Masyarakat umum 
masih terkondisi bahwa bank adalah tempat menyimpan dana-dana idle, dan HARUS 
memberikan HASIL. 

Kecuali beberapa yang sudah mulai "melek" perencanaan keuangan, dan membagi 
sisa dana idlenya ke beberapa jenis investasi. Yang artinya sudah siap rugi dan 
siap untung.

Jangankan berbagi rugi, terpotong biaya administrasi bulanan saja sudah protes, 
belum tentu juga nambah saldo tiap bulan, udah kepotong biaya administrasi, 
hehehe... : )

Bank syariah di Indonesia menerapkan sistem Revenue Sharing dan belum 
Profit/Loss Sharing. 
Revenue Sharing berarti berbagi pendapatan sebelum diperhitungkan dengan 
biaya-biaya lain, sedangkan 

Profit and Loss Sharing berarti berbagi laba/berbagi rugi setelah mengurangkan 
jumlah pendapatan dengan sejumlah biaya.


Kemungkinan beberapa penyebab pilihan penerapan tersebut diantaranya :
1. kondisi psikologis masyarakat yang masih membutuhkan proses edukasi dalam 
waktu yang tidak singkat
2. penerapan profit/loss sharing akan menimbulkan perdebatan panjang tentang 
biaya-biaya yang akan menjadi faktor pengurang laba, (ribut-ribut diskusi 
panjang yang kadangkala menimbulkan "kenikmatan" tersendiri sehingga malah 
"lupa" untuk "do something" )

Pergerakan bagi hasil setiap bulan yang diterima investor sebetulnya cukup 
menggambarkan naik turunnya pendapatan yang diterima bank. Besarannya pasti 
tidak akan sama, ibaratnya, pendapatan warung tiap bulan pun juga pasti akan 
berbeda. Kadang warung rame, kadang warung sepi. Pendapatan inilah yang akan 
dibagikan terlebih dulu sesuai dengan porsi nisbah di awal akad yang telah 
disepakati.. Kalau pendapatan warung besar, maka berbaginya pun besar, demikian 
sebaliknya. Inilah yang akan berbanding lurus dengan bagi hasil yang diterima 
investor. 

Selanjutnya, tinggal bagaimana "dapur manajemen" mengelola sisa pendapatan 
(setelah dikurangi hak para investor) agar bisa menghasilkan laba yang baik. 
Entah dengan efisiensi, menjaga kesehatan agar tidak sakit-sakitan, dsb. 
Laba yang baik tentunya juga akan menjadi modal bagi bank syariah untuk 
berbenah ke arah lebih baik ke depannya, insya Allah. 


Mari tetap berbenah : ) 

CMIIW, rgrd .


-aNa- 

(karyawan biasa, bukan karyawan BSM loh ; ) )





To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 14 Apr 2010 17:14:54 -0700
Subject: [ekonomi-syariah] laba bersih BSM naik 48,5%, kok bisa ???

Membaca berita bahwa laba bersih Bank Syariah Mandiri tahun 2009
melonjak 48,5% membawa berita gembira yang menunjukkan bahwa peran bank
syariah semakin besar untuk perekonomian...namun yang jadi
pertanyaan kok BAGI HASIL yg saya terima di tabungan justru tidak
banyak perubahan ya...kalau dihitung tidak jauh berbada dgn bunga bank
konvensional...apa ini yg namanya BAGI HASIL versi bank syariah di 
Indonesia...seharusnya-kan
hasil yg sy terima berbanding lurus dgn hasil yg diterima bank
(setelah memperhatikan adanya pertumbuhan modal+dpk tentunya)...padahal
perhitungan laba bersih itu kan sudah nett, artinya semua biaya sudah
masuk kedalam komponen pengurang laba, makanya disebut laba
bersih...atau ada metode perhitungan lain yg sy tidak tau...???...Mohon 
penjelasan pihak yg berkompeten, ALASANNYA bagi hasil yang sy terima tidak naik
 sebesar kenaikan laba bersih yg diterima bank...terima kasih, mohon maaf kalau 
ada kesalahan...


                                          
_________________________________________________________________
Windows Live: Friends get your Flickr, Yelp, and Digg updates when they e-mail 
you.
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/see-it-in-action/social-network-basics.aspx?ocid=PID23461::T:WLMTAGL:ON:WL:en-id:SI_SB_3:092010

Kirim email ke