Assalamu'alaikum wr.wb.,

Ada pembaca blog yang bertanya kenapa saya sendiri tidak
membantu orang ini. Saya jelaskan bahwa belum sanggup bantu orang dalam kondisi
seperti ini. Saya masih belum kerja lagi dengan alasan masih selesaikan buku
yang membandingkan Islam dan Kristen. Jadi, untuk tahan hidup, saya juga pinjam
uang dan minta sumbangan dari teman2. 

Untuk menampung satu orang, saya belum sanggup membantu. 

 

… TETAPI… karena saya pasang artikel itu di blog dan
email kepada semua teman, ada pembaca blog di luar negeri yang hubungi saya. 
Dia tawarkan tempat tinggal di kampung
(dengan saudaranya) untuk Ibu Ida itu (yang tinggal di kandang). 

Tadi saya sudah dapat nomor HP untuk 2 wartawan Kompas,
dan sudah kasih infonya, dan minta tolong untuk hubungi ibu Ida itu. 

 

Saya menggunggu hasilnya pada hari Jumat besok. Insya Allah
bisa dapat solusi. 

Mohon doa dari semua biar bisa berhasil dengan solusi
yang baik dan tepat, dan penuh dengan rahmat Allah. 

 

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Gene 











Negara yang luar biasa! Coba bayangkan Ibu anda harus
tidur di sini…

 

Sehari-hari Ida Tidur di
Kandang Kambing

 

Menanti Keadilan

Selasa,
18 Mei 2010 | 10:21 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Nasib Ida (72)
sungguh memprihatinkan. Di usia senja, hidupnya justru makin pedih. Ibu tiga
anak itu adalah salah satu korban kebijakan Pemerintah Kota Tangerang. Nenek
beberapa cucu itu kini terpaksa harus tidur di kandang kambing karena rumah
gubuknya sudah rata dengan tanah, dibuldoser Pemkot Tangerang dua pekan setelah
Lebaran 2009.

 

"Saya memang bukan orang asli Tangerang. Saya dari
Pemalang, tapi saya tinggal di Kampung Sewan Bedeng ini sejak tahun 1975
sewaktu masih hutan," ucap Ida ketika ditemui, Senin (17/5/2010). Ida
tercatat sebagai warga Kampung Sewan Bedeng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan
Neglasari. Dia digusur karena tinggal di bantaran Sungai Cisadane. Nasib Ida
tiba-tiba menjadi sorotan seiring dengan rencana penggusuran warga China
Benteng di Kampung Tangga Asam, Lebakwangi, dan Kokun.

 

Menurut Ida, ketika rumahnya digusur oleh Satpol PP Kota
Tangerang, ada ratusan rumah bilik dan semipermanen yang memadati Kampung Sewan
Bedeng. Mereka umumnya adalah warga yang terpinggirkan karena ketidakadilan. 
"Kebanyakan
bermata pencaharian tukang asongan," ujar buruh pengupas kacang dengan
upah Rp 2.000/kg itu. "Saya tak bisa berbuat apa-apa. Rumah sudah tidak
punya, mau tinggal di mana lagi? Ya, terpaksa tinggal di kandang kambing milik
tetangga, meskipun bau," ujar Ida seraya menyeka air mata.

 

Tiga anaknya memang tinggal di Sewan Bedeng. Namun, nasib
mereka juga tidak jauh beda. Hidup miskin dengan rumah kecil berdinding anyaman
bambu. Nasib Ida yang memprihatinkan itu sempat membuat anggota Komisi II DPR
dari Fraksi PDI-P, Budiman Sudjatmiko, terenyak. Mantan aktivis itu seolah
tidak percaya, di era reformasi ini masih ada rakyat Indonesia yang hidup tidak
lazim. 

 

"Bangsa ini sudah 65 tahun merdeka. Tapi ternyata
masih ada yang hidup di kandang kambing. Ini sungguh tidak manusiawi. Negara
harus bertanggung jawab!" ujar Budiman ketika berkunjung pekan lalu. Camat
Neglasari H Habibullah mengaku tidak tahu ada warganya yang tinggal di kandang
kambing. "Tak ada laporan bahwa ada yang tinggal di kandang kambing. Pak
Lurah juga tidak lapor," ucapnya.

 

Menurut Habibullah, di Kecamatan Neglasari ada tujuh
kelurahan. Empat di antaranya bersinggungan langsung dengan bantaran Sungai
Cisadane, yakni Kelurahan Mekarsari, Kedaung Wetan, Kedaung Baru, dan
Selapajang. "Jumlah keluarganya ada sekitar 250," katanya.

Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan
Neglasari, kawasan bantaran Sungai Cisadane akan dijadikan ruang terbuka hijau.
"Sangat berbahaya jika ada warga yang tinggal di situ," kata
Habibullah. (Valentino Verry)

 

Sumber: megapolitan. kompas.com

http://megapolitan. kompas.com/ read/2010/ 05/18/10213327/ Sehari.hari. 
Ida.Tidur. di.Kandang. Kambing


 







    
     

    
    


 



  










Kirim email ke