Semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran kepada para mujahid kita. Kapal 
Mavi Marmara telah ditembaki helikopter Israel la'natullahi alaih.
 
Allahumanshuril Islaama wal muslimiina wal mujahidiina fi falesthin wa fii 
kulli makaan. Amiin
 
Wassalaam
ISB


Irfan Syauqi Beik
 
 
Dept of Economics, Bogor Agricultural University, Indonesia (www.ipb.ac.id)
www.irfansb.blogdetik.com 
twitter account: @irfan_beik
 
Rubrik Bisnis Syariah - Klinik Syariah Republika Online
(http://www.republika.co.id/kanal/bisnis-syariah/klinik-syariah)
 
 
 
 

--- On Sun, 30/5/10, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [mgombak] Fw: Just sharıng - Gaza Tidak Membutuhkanmu
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Received: Sunday, 30 May, 2010, 2:05 PM


  



Mari kita doakan keselamatan armada freedom flotilla to Gaza yg mendapat 
ancaman Israel la'natullah. Brikut cuplikan imel dari kawan (suami istri) 
wartawan yg ikut romb tsb.

Wslm
ISB

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Irfan Syauqi Beik <qibeiktop_iiu@ yahoo.com> 
Date: Sun, 30 May 2010 15:00:46 +0800 (SGT)
To: Irfan Beik<qibeik...@yahoo. com>
Subject: Fw: Just sharıng - Gaza Tidak Membutuhkanmu






--- On Sun, 5/30/10, Santi Soekanto <santi.soekanto@ gmail.com> wrote:


From: Santi Soekanto <santi.soekanto@ gmail.com>
Subject: Just sharıng - Gaza Tidak Membutuhkanmu
To: Santi.Soekanto@ gmail.com
Date: Sunday, May 30, 2010, 1:44 AM



Gaza Tidak Membutuhkanmu!                      
 
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena 
sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan 
datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam 
kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, 
sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran. 
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca 
Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza 
Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah 
Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama 
Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat 
dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat. 
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalan an 
ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang 
media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang 
pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.
 
Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada seorang peserta kafilah 
yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” 
alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya 
menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala. 
Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus 
berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. 
Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau 
pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar 
terhadap Gaza. 
Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua 
kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang 
terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber 
amarah Allah Ta’ala.
 
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan 
menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku 
untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk 
apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari 
ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang 
menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah 
penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, 
to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s 
anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, 
sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di  sini. 
Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda 
pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar 
kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para 
‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa 
banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, 
di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena 
ketenaran mereka. 
Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya 
memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.
 
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak 
membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya 
butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah 
bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. 
Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di 
sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar 
hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. 
Menolong membebaskan Al-Quds. 
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… 
Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
 
Cara Allah Mengingatkan 
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik 
untuk mengingatkan aku. 
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak 
mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan 
bau asemnya tubuhku. 
Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan 
dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena 
ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? 
Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, 
alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada 
anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii 
sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang 
waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg 
bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan  air 
sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta 
kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram…
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. 
Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang 
toilet…
Blus! 
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin 
sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. 
Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku. 
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku 
ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila 
kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina 
daripada mendorong kotoran ndableg tadi. 
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
 
29 Mei 2010, 22:20
Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza 
Mei 2010.



 



-- 
Allah be with the patient...









      

Kirim email ke