Untuk menjadi renungan kita... Wass, KM.
Selasa, 08/06/2010 19:53:58 WIB
'Studi ekonomi syariah hanya ajarkan teori'
Oleh: Fajar Sidik
JAKARTA (Bisnis.com): Bank Indonesia mengungkapkan dari 72 perguruan
tinggi nasional yang telah menyajikan bidang studi ekonomi syariah
sebagian besar lulusannya hanya menguasai teori tanpa pemahaman yang
lebih aplikatif tentang perbankan syariah sehingga tidak bisa memenuhi
kebutuhan bankir di industri tersebut.
Ketua Peneliti Bank Eksekutif Direktorat Perbankan Syariah BI Dhani
Gunawan Idat mengatakan saat ini terdapat 72 universitas di Indonesia
yang sudah menerapkan mata kuliah ekonomi syariah, tapi lulusannya
hanya menguasai teori tanpa penguasaan keilmuan yang aplikatif tentang
perbankan syariah.
"Walaupun lulusannya banyak, tapi itu tidak bisa memenuhi kebutuhan
bankir di perbankan syariah terutama karena sistem dan kurikulum
ekonomi syariah yang hanya bersifat teoritis kesyariahan dan tidak
dikombinasikan dengan perkembangan di industri keuangan dan perbankan,"
katanya hari ini.
Dhani menuturkan persoalan kurangnya sumber daya manusia di perbankan
syariah sampai saat ini menjadi faktor utama yang menghambat
perkembangan industri syariah jauh dibandingkan dengan Singapura yang
baru 3 tahun telah berkembang dengan pangsa pasar sudah bisa 6%
terhadap perbankan konvensional dan di Malaysia mencapai 20%.
Menurut dia, rendahnya kapabilitas bankir di perbankan syariah secara
otomatis berimplikasi terhadap perkembangan industri yang sampai saat
ini asetnya masih di level 2,5% terhadap perbankan konvensional.
"Kalau persoalan kapabilitas dan kompetensi sumber daya manusia itu
tentu akan berpengaruh. Pola ekspansi industri dalam menggarap pasar
selama ini hanya menggarap pasar konvensional seperti pesantren.
Pengembangan produk juga menjadi kurang inovatif sehingga kurang
berdaya saing."
Untuk itu, katanya, dalam rangka meningkatkan kebutuhan SDM perbankan
syariah diperlukan pembenahan dalam sistem kurikulum ekonomi syariah
menjadi lebih aplikatif, agar lulusannya bisa siap pakai sesuai dengan
kebutuhan perbankan syariah yang siap tumbuh lebih cepat.
Saat ini, katanya, terdapat 10 bank umum syariah di Indonesia yang
telah beroperasi yang diharapkan mampu menciptakan sumber daya bankir
syariah yang lebih besar dan mendorong inovasi produk yang lebih cepat.
Perbankan syariah, lanjutnya, seharusnya bisa menguasi 30% terhadap
pasar perbankan karena keunggulannya dalam mendukung sektor riil sangat
besar yang didukung dengan beberapa alternatif dalam mekanisme
pembiayaannya.
"Kami dari BI memberikan kebebasan bagi perbankan untuk menciptakan
berbagai macam produk syariah tidak terbatas pada murabahah, selama
sesuai dengan prinsip syariah. Namun, tidak pula terlalu liberal
seperti di Malaysia." (msw)