*Penderitaan : Memperlengkapi Sebuah Tugas*

oleh Made Teddy Artiana, S. Kom







Cerita mengejutkan ini kami dengar langsung dari Sang Pemilik kisah. Ketika
kami -aku, istriku dan client kami- bertemu disebuah kafe disalah satu mall
di Jakarta. Percakapan sedemikian intens sehingga Melani (bukan nama
sebenarnya) entah mengapa akhirnya menceritakan sebuah tragedi rumah tangga
yang amat sangat menyedihkan dimana ia adalah pemeran utama didalamnya.
Sebuah tragedi yang tidak pernah kami sangka sebelumnya pernah dijalani
Melani bertahun-tahun. Jika melihat kekuatan yang terpancar dari mata dan
wajahnya, siapapun tidak akan pernah menyangka bahwa Psikolog berputri
tunggal ini mendapatkan seluruh kekuatan itu justru dengan membayar lunas
semuanya lewat keringat, air mata dan darah. Terusir dari rumah dan
teraniaya oleh suami dan seluruh keluarga besar suami. Lalu bertahun-tahun
setelah itu, berjuang habis-habisan mati-matian untuk membesarkan dan
membiayai kehidupannya sendiri dan buah hati tercinta. Melani melupakan
pertanyaan “Mengapa harus aku ya TUHAN ??” yang sudah ribuan kali
dipertanyakan tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban. Ia memutuskan untuk
berhenti bertanya, lalu memusatkan seluruh tenaganya untuk bertahan. Hingga
jam pasir milik TUHAN menunjukkan : waktunya sudah genap. Pemulihan
besar-besaranpun terjadi. Trauma kejiwaan Melani disembuhkan. Rumah tangga
Melani dipulihkan : ia dan suami, suami dan anak. Tidak hanya itu, TUHAN pun
mendekatkan hati seluruh keluarga besar dari sang suami kepadanya. Pemulihan
besar-besaran yang tidak akan pernah disangka-sangka sebelumnya. Tidak
berhenti disana, maka Tangan Yang Tak Terlihat itu pun menghantarkan seorang
demi seorang pasien –ibu rumah tangga- yang mengalami gangguan kejiwaan
karena masalah rumah tangga yang nyaris sama dengan Melani, untuk mendapat
therapy darinya. “Saya pernah mengalaminya. Segalanya akan berlalu jika Anda
tak menyerah”, bisik Melani haru dengan mata berkaca-kaca, sambil memeluk
erat pasien-pasiennya.



“Kalian tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan !!!”, teriak Imelda
(bukan nama sebenarnya) histeris. Wajahnya merah padam, sementara matanya
bengkak karena menangis. Ibu muda dengan dua orang anak kecil, ini baru saja
ditinggal oleh suami tercinta untuk selama-lamanya. Kehilangan orang yang
sangat dikasihi, ketakutan akan masa depan dan kekecewaan terhadap TUHAN,
sakit yang sangat sulit dicarikan obatnya dengan segera. Kami yang kebetulan
sedang melayat, hanya bisa terpaku dan tak berdaya. Imelda benar, kami
memang tidak bisa merasakan apa yang ia rasakan. Suasana rumah yang penuh
sesak dijejali pelayat itupun menjadi lebih sepi dari kuburan. Hampir semua
orang tertunduk, sementara Imelda meneruskan tangisnya dilantai pojok
ruangan. “Saya pernah merasakannya Mel…”. Tiba-tiba sapaan lembut dari
seorang ibu yang berusia separuh baya mengusir keheningan itu. Sebagian
besar dari kami, termasuk Imelda, mengenal wanita itu. Ia adalah ibu dua
anak yang ditinggal wafat oleh sang suami yang adalah pilot dalam sebuah
tugas, tiga puluh tahun yang lalu. Wanita biasa yang hanya berpendidikan
sekolah menengah atas, yang akhirnya sukses membesarkan putra-putrinya.
Wanita sederhana, dengan daya juang luar biasa yang menolak untuk dikalahkan
oleh tantangan hidup. Satu-satunya wanita dalam ruangan itu yang diperlukan
oleh Imelda, disaat-saat seperti sekarang ini.



Memang kadangkala, hidup tidak menyisakan pilihan untuk menang. Untuk
episode tertentu, ia menempatkan kita pada ketidaktahuan dan
ketidakberdayaan yang begitu luar biasa, sehingga hanya ada dua pilihan yang
mungkin : bertahan ataukah menyerah. Jadi jika ada seseorang dengan
mengacungkan kepalan ke langit dan mengkalim bahwa ia selalu dengan gagah
perkasa berhasil mengalahkan semua rintangan hidup, kita segera tahu bahwa
orang itu sedang membual.



Bahkan orang-orang sucipun, para nabi, pernah dalam kehidupannya dihadapkan
pada sebuah persoalan yang seakan tak memiliki jalan keluar. Masalah
kehidupan yang seolah-olah lebih besar dari kemampuan kita untuk
menyelesaikannya. Berhadapan dengan segala macam kerumitan yang demikian
kompleks yang berada diluar otoritas kita. Namun disaat-saat seperti itu,
mereka justru berpegangan erat pada iman. Persoalan raksasa yang bukan
menghasilkan trauma kejiwaan, namun justru memperbesarkan cinta dan
kepercayaan mereka terhadap Sang Junjungan.



Orang-orang yang telah lulus dari ujian seperti itu, disadari atau tidak,
adalah ‘orang pilihan’ yang sedang dipersiapkan untuk sebuah misi khusus
oleh Sang Pencipta. Misi khusus ? ya, sesuai dengan penderitaan yang telah
‘dianugerahkan-Nya’ kepada kita. Sebuah tugas terhormat, walaupun kadang
dalam hal-hal yang sangat *simple*, yakni menjadi perpanjangan tangan dari
TUHAN untuk menguatkan orang lain yang sedang dilanda keputusasaan.



Dengan kata lain “Jika kau dengan tuntunan tangan-Ku mampu menyeberangi
segala rintangan itu, beritahu mereka, asalkan mereka bertahan percaya dan
tetap berada didekat-Ku, Aku akan menyeberangkan mereka juga !”



Kini saatnya mengoreksi diri dan melihat daftar penderitaan dahsyat apa saja
yang sudah kita lalui, kemudian mulai mensyukuri semua itu, sepahit apapun
dan setrauma apapun itu dan kini memandangnya sebagai anugerah yang
terselubung. Setelah itu maka TUHAN akan mengaruniakan Anda sebuah kepekaan
sehingga Anda bisa memahami kapan dan kepada siapa IA mengirimkan Anda untuk
tugas itu.



Sebagai penutup, ijinkan saya menceritakan sebuah kesaksian yang terjadi
dihidup kami sendiri, dimana setelah sepuluh tahun menikah, TUHAN belum
berkenan mengaruniakan seorang anakpun dalam kehidupan kami. Mulanya ini
terasa agak menyakitkan, sebelum akhirnya keiklashan membuat segalanya
menjadi lebih ringan. Jadi jika kebetulan Anda atau kenalan Anda baru
menikah selama beberapa tahun dan belum mendapat momongan. Anda tidak
sendirian. Bersabarlah, kami mengalaminya. Kami tahu rasanya. Dalam masa
penantian ini, kami tetap percaya bahwa TUHAN itu berkuasa memberikan kami
keturunan. Bahwa IA yang berkuasa membuka segala yang tertutup dan menutup
segala yang terbuka. Dan bahwa IA akan membuat segalanya indah pada
waktunya. Pasti dan selalu seperti itu !! (*)

Kirim email ke