Rabu, 04/08/2010 15:52 WIB
Anwar Nasution: Redenominasi Biar Rupiah Gagah
Suhendra - detikFinance 


 
<a   
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a3db6179&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE'
  target='_blank'><img  
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=31&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3db6179'
  border='0' alt='' /></a> Jakarta -    Redenominasi atau penyederhanaan rupiah 
hanya sebagai simbol bahwa  ekonomi Indonesia sudah pulih. Redenominasi rupiah 
juga untuk memberi  kesan rupiah bisa lebih 'gagah' nominalnya dengan mata uang 
asing.

"Ini  hanya politik dari 9000 (kurs dolar)  menjadi 9 (rupiah), biar gagah  lah 
kelihatannya kalau satu dolar," ujar Mantan Deputi Gubernur Senior  Bank 
Indonesia (BI) Anwar Nasution saat ditemui di kantor kementerian  perdagangan, 
Jakarta, Rabu (4/8/2010).

Anwar menambahkan,  redenominasi uang rupiah sebagai simbol untuk menggambarkan 
perekonomian  Indonesia yang sempat kena dampak krisis beberapa waktu lalu 
sudah  
lewat dan siap menyongsong masa depan.

"Sudah tujuh tahun kita  selesai program IMF, sejak tujuh tahun. Laju inflasi 
tetap satu digit  sudah bagus. Maka memberikan perlambang bahwa ekonomi sudah 
tak krisis  bahwa kita serius mempertahankan," jelas Anwar.

Terkait sanering  yang pernah terjadi di masa lalu, Anwar mengatakan hal itu 
sekarang  sangat jauh berbeda dengan redenominasi. Menurut Anwar, sanering  
dilakukan karena krisis ekonomi, sementara redenominasi untuk  menggambarkan 
bahwa krisis itu sudah lewat.

"Redenominasi bahasa  Inggris senering bahasa Belanda sama saja. Kalau selalu 
dikatakan oleh  BI berbeda, tapi tak dijelaskan apa bedanya. Kamu tanya dong, 
jangan  tanya sama saya, satu bahasa Belanda satu bahasa Inggris," katanya.

Meski  ia mengakui dampak dari redenominasi jika ada masalah pada perubahan  
harga relatif, khususnya bagi orang-orang miskin akan terasa, karena  orang 
miskin memegang kekayaannya melalui uang tunai.

"Kalau  orang kaya bisa lewat emas, kalau tukang ojek bagaimana bisa dia beli  
emas. Beli dolar mana tahu tukang ojek beli dolar," katanya.

Seperti  diketahui, Bank Indonesia kini sedang menggodok redenominasi atau  
penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp  
1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang.  
Redenominasi ini berbeda dengan sanering yang merupakan perubahan  nominal 
namun 
ada perubahan nilainya.

BI memperkirakan proses  redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. 
Tahapan pertama  yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai 
dari 
tahun  2011 dan tuntas pada di 2022.

(hen/qom) 


Kirim email ke