Daftar berita terlampir:
* Memahami Alam Indonesia dari Antartika 
* Gerakan Lingkungan Baru Sebatas Iklan
* Kelola Hutan bersama Masyarakat 
* Reformasi, Otonomi Daerah, dan Degradasi Hutan 
* Asap Timbulkan Berbagai Penyakit
* Etika Lingkungan Antroposentrik
* Pengelolaan SDA Makin Kacau
* Perlu Kekuatan Politik Hentikan Perdagangan Satwa Dilindungi
* Dephut Keluarkan Kebijakan Baru 
* Tiga Gubernur Terbitkan SKB tentang Lingkungan 
* Sertifikat Ekolabel Ancam Ekspor Indonesia


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Memahami Alam Indonesia dari Antartika 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3554
MESKI terentang jarak ribuan kilometer, antara Indonesia yang berada di garis 
khatulistiwa dan Benua Antartika di kutub selatan bumi ternyata memiliki keterkaitan 
erat dan saling mempengaruhi.Antartika yang berputar di poros bumi merupakan mesin 
dunia yang menghidupi biota laut di seluruh Bumi, tak terkecuali di wilayah Nusantara. 
Bongkahan es yang membawa nutrien dari kutub akan hanyut terbawa arus mengarungi 
perairan luas dan mencair di wilayah tropis. Dengan begitu biota laut di Bumi dapat 
melangsungkan kehidupannya. Itu berarti pula menghidupi satwa di darat, termasuk 
manusia yang tergantung pada sumber hayati kelautan.
(Kompas, 2002-03-17)



Gerakan Lingkungan Baru Sebatas Iklan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3565
Masalah lingkungan hidup barangkali akan selalu menjadi pekerjaan rumah Indonesia. Hal 
itu karena gerakan lingkungan hidup yang dilakukan organisasi massa (ormas) dan 
lembaga swadaya masyarakat (LSM) belum bisa mengubah realitas adanya perusakan 
lingkungan hidup.

Demikian Koordinator Sekretariat Pelestarian Hutan Indonesia (Skephi), Ir Indro 
Tjahjono, pada suatu lokakarya lingkungan hidup yang diikuti ormas dan LSM baru-baru 
ini di Jakarta. Menurutnya, gerakan lingkungan hidup di Indonesia masih sebatas iklan 
dan imbauan. Hal itu bisa dilihat dari iklan layanan masyarakat yang biasanya ada di 
majalah dan surat kabar. 
(Suara Pembaruan, 2002-03-17)



Kelola Hutan bersama Masyarakat 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3557
DEGRADASI potensi hutan dan kualitas sumber daya hutan akibat pengelolaan yang 
sentralistis ternyata tidak menjamin prinsip-prinsip kelestarian hasil. Ini sudah 
dialami PT Perhutani (Persero) sebagai pengelola hutan di Pulau Jawa. 
BUMN di lingkup Departemen Kehutanan ini tidak berdaya menghadapi penjarahan/pencurian 
kayu di hutan-hutan Pulau Jawa yang marak seiring dengan bergulirnya reformasi. Ini 
merupakan buah dari manajemen pengelolaan hutan selama ini yang tidak melibatkan 
secara penuh masyarakat di sekitar hutan.
(Kompas, 2002-03-16)



Reformasi, Otonomi Daerah, dan Degradasi Hutan 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3559
MASIH adakah Departemen Kehutanan (Dephut)? Begitulah pertanyaan sindiran yang sering 
dilontarkan ke departemen ini sehubungan dengan carut-marutnya pengelolaan hutan 
terutama pascareformasi. Dalam rangka Hari Bhakti ke-19 Dephut yang jatuh hari ini, 
Sabtu 16 Maret 2002, Wartawan Kompas Dedi Muhtadi mencoba memaparkan persoalan hutan 
itu di halaman ini, dan 26, ditambah satu tulisan Surya Makmur Nasution di halaman 27.

KISRUHNYA pengelolaan sumber daya hutan sampai Departemen Kehutanan Indonesia berusia 
19 tahun, 16 Maret 2002 ini, belum memperlihatkan tanda-tanda berakhir. Keterpurukan 
dipercaya berawal dari sistem pengelolaan yang sentralistik, monopolistik, dan 
menegasikan keberadaan komunitas-komunitas lokal yang sebenarnya memiliki ikatan 
emosional sangat kuat dengan hutan.
(Kompas, 2002-03-16)



Asap Timbulkan Berbagai Penyakit
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3561
Kebakaran hutan yang menimbulkan asap biomassa mengakibatkan berbagai penyakit. Asap 
itu mengandung sejumlah bahan kimia berupa partikel dan komponen gas seperti karbon 
monoksida, formaldehid, akrolein, benzen, nitrogen dioksida, dan ozon.

Hal itu dikemukakan spesialis penyakit paru-paru dari Rumah Sakit Persahabatan dr 
Tjandra Yoga Aditama SpP(K) kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat (15/3), berkaitan 
dengan makin pekatnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah. 
(Suara Pembaruan, 2002-03-16)



Etika Lingkungan Antroposentrik
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3562
Kelihatannya Sonny Keraf termasuk dalam barisan pendukung etika lingkungan ekosentrik 
meskipun sekarang masih dalam tahap menuju ke sana melalui etika lingkungan 
biosentrik. Baginya, tahap akhir itulah nanti yang menghadirkan ekologi dalam. Menurut 
Sonny Keraf, antroposentrisme melekat pada ekologi dangkal. 

Ia juga menganggap diskriminasi terhadap budak, perempuan dan ras kulit berwarna 
sebagai androsentrisme dan rasisme, sedang diskriminasi terhadap makhluk bukan-manusia 
sebagai spesiesisme. Baik rasisme/androsentrisme, maupun spesiesisme dia tentang.

Dalam hal sikap "anti" terhadap rasisme, andosentrisme dan spesiesisme, saya adalah 
pendukung Sonny Keraf. Tetapi, ada masalah dalam sikap "pro" Sonny Keraf terhadap 
biosentrisme/ekosentrisme dan sikap "anti"nya terhadap antroposentrisme.
(Suara Pembaruan, 2002-03-16)



Pengelolaan SDA Makin Kacau
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3538
Pelaksanaan otonomi daerah bukannya menciptakan pengelolaan sumber daya alam (SDA) 
secara adil dan lestari, melainkan malah bertambah kacau. Dampaknya, dalam 5-10 tahun 
mendatang Indonesia akan menghadapi krisis SDA, terutama sumber daya hutan, yang terus 
dieksploitasi. Tidak tertutup kemungkinan, Indonesia akan bernasib seperti Filipina 
yang dulu sebagai produsen kayu tetapi kini menjadi pengimpor kayu.
Demikian dikatakan Emmy Hafiedz dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta 
di Sintang, Kalimantan Barat, seusai menghadiri lokakarya bertema "Mencari Pola-pola 
SDA yang Adil dan Lestari". Lokakarya itu diselenggarakan oleh Walhi Kalbar.
(Kompas, 2002-03-14)



Perlu Kekuatan Politik Hentikan Perdagangan Satwa Dilindungi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3539
Perlu kekuatan politik untuk menghentikan perdagangan satwa liar yang dilindungi, 
karena banyak pelanggaran justru dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuatan politik. 
Demikian diungkapkan Ketua Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) 
Regional Bali, NTB, NTT I Ketut Muliartha dan Kepala Dinas Kehutanan NTB HE Suherdie, 
Selasa (12/3), di Denpasar.
(Kompas, 2002-03-14)



Dephut Keluarkan Kebijakan Baru 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3542
Keputusan Menteri Kehutanan no. 541/KPTS-II/2002 yang mencabut keputusan Menhut nomor 
05.1/KPTS-II/2000 tentang kriteria dan standar perizinan usaha pemanfaatan hasil hutan 
dan perizinan pemungutan hasil hutan pada hutan produksi, tidak dimaksudkan bagi upaya 
resentralisasi kegiatan kehutanan yang telah dilimpahkan kepada daerah. Akan tetapi 
kebijakan baru tersebut sebagai upaya menghentikan terjadinya proses perusakan hutan 
yang semakin cepat dan tidak terkendali.
�Salah satu penyebabnya adalah banyaknya diterbitkan izin HPH skala kecil oleh 
pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten,� kata Kepala Pusat Informasi 
Kehutanan, Koes Saparjadi di Jakarta Selasa (12/3).
(Sinar Harapan, 2002-03-13)



Tiga Gubernur Terbitkan SKB tentang Lingkungan 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3530
Gubernur Bali Drs Dewa Made Beratha, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Harun Al 
Rasyid, dan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Piet A Tallo sepakat menerbitkan surat 
keputusan bersama (SKB) untuk menangani masalah lingkungan. SKB nomor 2, 6, dan 20 
tahun 2002 itu ditandatangani di Kantor Gubernur Bali, Senin (11/3), disaksikan 
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim.

Menteri Nabiel Makarim mengatakan, SKB yang disepakati ketiga gubernur ini sangat 
tepat dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan di Bali, NTB, dan NTT. Terutama 
dalam sektor pariwisata global bahwa daerah yang tidak memperhatikan lingkungan akan 
kalah bersaing dengan daerah yang memperhatikannya.
(Suara Pembaruan, 2002-03-12)



Sertifikat Ekolabel Ancam Ekspor Indonesia
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3532
Hingga kini, masih banyak kalangan, terutama para eksportir mebel beranggapan, bahwa 
penerapan ekolabel akan mengancam ekspor Indonesia. Ekolabel dianggap sebagai hambatan 
perdagangan terselubung yang bersifat diskriminatif, karena hanya produk hutan tropis 
saja yang terkena. Sebagai akibatnya, ekspor garden furniture dari jati ke Eropa dan 
Amerika Serikat menjadi terhambat. Bukan hanya itu, sertifikasi ekolabel juga dianggap 
mahal, dan kondisi di Indonesia belum mendukung upaya sertifikasi.
�Harus diakui, dalam jangka pendek, kinerja ekspor Indonesia, terutama yang berbasis 
SDA (sumber daya alam � Red.), bisa terganggu, kalau industri ekspornya tidak memenuhi 
syarat ekolabel. Ini karena ekolabel semakin lama telah menjadi sebuah keniscayaan 
global,� ujar Direktur Eksekutif Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) Dradjad Wibowo dalam 
Workshop Chain of Custody, pekan lalu, di Bogor.
(Sinar Harapan, 2002-03-12)



_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke