Dear all,
Kesalahan yang paling mendasar , tentang pengelolaan sampah saat ini adalah ditangani secara sentralistik, dimana sampah di kumpulkan menjadi satu(TPA).
Kita bisa belajar dari keraipan tradisional, bagaimana mereka mengelola sampah.
Adanya motip bisnis untuk mengelola sampah sehingga mengakibatkan kacau balau, apalagi di Jakarta yang satu propinsi di jadikan satu pusat.
Saya kira yang perlu dirubah adalah paradikmanya dari paradikma sentralistik ke plularisitik
Y. Sismanto
Jl. Teboselatan 78 Malang 65147- T. 586541
Agung-Budhi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam juga,l
Perkenankan untuk menanggapi masalah sampah.
Tidak ada jeleknya berbicara dan berdiskusi pada tataran
"persepsi dan konsepsi" spt. teknologi dan policy
(pemerintah). Sementara Sdr. Christ Ch. berbicara pada
tataran "operasi", beserta contoh teladannya.
Hanya saja yang (sering) terjadi masing-masing berkutat dan
(maaf) "ber-onani" pada tatarannya sendiri-sendiri,
sepertinya kamar-kamar yang terpisah. Bukannya bejana
berhubungan. Atau malah ada (barangkali) yang merasa
tatarannya lebih hebat.
Mudah-mudahan kita sama-sama menyadari pentingnya
keseragaman persepsi, konsepsi dan operasi dalam suatu
perumusan penyelesaian masalah.
Karakter dan perilaku warga sangat erat terkait dengan
persepsi atau tingkat 'keimanan ekologis' seseorang disertai
dengan kejelasan konsepsi atau 'syariat ekologis'nya,
termasuk didalamnya konsekuensi perilaku, berupa 'pahala dan
dosa ekologis' yang riil, pasti dan sekaligus.
Tanpa 'iman', rasanya menjadi percuma, seperti badan tanpa
ruh (mayat hidup). Hanya 'iman' saja, ya juga percuma,
seperti ruh gentayangan...
tanpa bentuk, hanya semangat doang, tanpa action
apa-apa.....
Demikian sekelumit tanggapan. Mudah-mudahan diskusi kita
tidak hanya sempit berhenti pada "intellectual orgasm"
belaka.
Terima kasih.
agung_sb
_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum
Do You Yahoo!?
Yahoo! Tax Center - online filing with TurboTax
