Daftar berita terlampir:
* Bapedal Malang Larang PT SAM Beroperasi
* Masyarakat Adat Jadi Kambing Hitam Kerusakan Lingkungan
* Tiga Pilar Lingkungan Belum Terintegrasi
* Pembangunan dan Lingkungan
* PrepCom di Bali untuk KTT Pembangunan Berkelanjutan
* Menuju Sistem Transportasi Berkelanjutan
* Pengelolaan Air Belum Integratif
* Danau Toba Dapat Rp 49 Milyar dari Inalum
* Olah SDA agar Jadi Milik Sendiri
* Pembangunan Indonesia Tidak Berkelanjutan
* Taman Nasional Jambi Rusak Parah


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Bapedal Malang Larang PT SAM Beroperasi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4042
Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapeldal) Kabupaten Malang melarang operasi PT 
Singkong Arta Mas (SAM) untuk beroperasi. Larangan itu, menyusul dicurigainya 
perusahaan tersebut sebagai pencemar Sungai Brantas di Karangkates, Sumberpucung, 
Kabupaten Malang.

''Sebab, setelah tim khusus bentukan bapeldal melakukan sidak ke enam perusahaan, 
ternyata yang paling parah menjadi penyebab pencemaran itu adalah PT SAM di 
Kepanjen,'' tutur Kepala Bapeldal Kabupaten Malang, Abdul Rochim kepada wartawan, 
kemarin.
(Republika, 2002-05-24)



Masyarakat Adat Jadi Kambing Hitam Kerusakan Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4044
MASYARAKAT adat masih sering dijadikan kambing hitam kerusakan lingkungan, padahal 
mereka justru merupakan kelompok marginal yang berkepedulian luar biasa terhadap 
kelestarian lingkungan. Seharusnya kita sebagai orang yang mengaku berpendidikan dan 
hidup serba modern ini merasa malu karena kita tidak arif dalam melestarikan 
lingkungan seperti yang masyarakat adat lakukan selama ini.

Masalah itu dikemukakan pakar hukum lingkungan hidup dari Universitas Gadjah Mada 
(UGM) Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri SH di Jakarta, Kamis (23/5), dalam diskusi 
berkaitan dengan pertemuan persiapan atau Preparatory Committee (PrepCom) IV di Bali 
dan World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Afrika Selatan.
(Suara Pembaruan, 2002-05-24)



Tiga Pilar Lingkungan Belum Terintegrasi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4045
Tiga pilar akses dalam pengelolaan lingkungan hidup, yaitu akses informasi, 
partisipasi, dan keadilan, yang diamanatkan dalam Deklarasi Rio, ternyata belum 
terintegrasi maksimal dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, dan belum 
dianggap sebagai bagian dari kebutuhan strategis pembangunan nasional. Ketiga akses 
itu juga belum mendorong adanya kontrol publik yang efektif terhadap penyelenggaraan 
negara sehingga tidak muncul upaya untuk mengalokasikan sumber daya yang memadai.

Demikian kesimpulan temuan sementara tentang pengaktualisasian tiga pilar akses di 
Indonesia, yang disampaikan oleh Mas Achmad Santosa SH LLM, Koordinator koalisi global 
The Access Initiative Program untuk Indonesia, dalam seminar sehari yang berlangsung 
di Jakarta, Kamis (23/5).
(Kompas, 2002-05-24)



Pembangunan dan Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4050
Akhir-akhir ini terlalu banyak persoalan bertubi-tubi yang mengundang perhatian. Mulai 
dari jibaku WTO, isu teror, perang Afghanistan, dan di dalam negeri sendiri masalah 
banjir, persoalan Ambon, peradilan korupsi dan kejahatan lain, dan sebagainya. Salah 
satu yang cukup menarik perhatian adalah akan diselenggarakannya acara besar-besaran 
Rio + 10 yang akan digelar bulan depan di Bali untuk menyongsong pertemuan puncak di 
Johannesburg bulan September mendatang.

Apa yang dikemukakan ini akan berbeda, bahkan mungkin ada yang menilai bahwa penulis 
menolak atau menentang pendapat beberapa tokoh penting di negara ini. Sejak 
bertahun-tahun yang lampau, penulis mencoba berpikir kritis dan menyampaikan "second 
opinion'' yang kebetulan sesuai benar dengan tugas Dewan Riset Nasional (DRN) dalam 
mengembangkan "sounding board'' yang artinya memberi gema (lain) terhadap berbagai 
kebijakan maupun perilaku kita sebagai pelaku pembangunan. Penulis mengharap agar 
tidak semena-mena dituduh menolak atau menentang pendapat pihak lain, tetapi penulis 
hanya bermaksud melengkapi pendapat. Kalau dianggap cocok sebagai pelengkap, 
alhamdulillah, kalau tidak sesuai ya disimpan saja.
(Suara Pembaruan, 2002-05-23)



PrepCom di Bali untuk KTT Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4051
PERSIAPAN Penyelenggaraan atau Preparatory Committee (PrepCom) IV yang digelar di Bali 
mulai 27 Mei hingga 7 Juni 2002 akan diikuti sekitar 7.000 peserta, termasuk para 
menteri, ilmuwan, konsultan, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan kalangan 
media massa dari 170 lebih negara anggota PBB. 

Menurut staf Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Hening Parlan, sejumlah LSM 
dari dalam dan luar negeri sudah berdatangan di Bali. Hotel-hotel di kawasan Nusa Dua 
sudah habis dipesan.

Sebagian tamu terpaksa memesan hotel di luar Nusa Dua seperti di Sanur dan Kuta. 
Panitia berjanji menyediakan angkutan khusus ke lokasi PrepCom.
(Suara Pembaruan, 2002-05-23)



Menuju Sistem Transportasi Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4034
MASALAH lalu lintas di Jakarta seperti benang kusut yang menimbulkan berjuta 
permasalahan. Berawal dari kesalahan kebijakan dalam membangun sistem transportasi 
kota, berbagai masalah di sektor ini terus bermunculan. Mulai dari masalah kemacetan 
lalu lintas, pemborosan konsumsi bahan bakar, buruknya kualitas udara yang melahirkan 
banyak penyakit kronis, kematian, hingga permasalahan kesetaraan hak dalam penggunaan 
ruang jalan yang terampas dari tangan pengguna kendaraan tidak bermotor dan pejalan 
kaki.

Ironisnya, permasalahan ini tidak akan pernah selesai walaupun trilyunan rupiah telah 
dihabiskan untuk melakukan studi ataupun proyek percontohan untuk membenahi sistem 
transportasi kota, jika keadaan stakeholders-nya tetap seperti ini. Pemerintah 
Provinsi DKI Jakarta tidak punya visi, sementara sebagian besar aparatnya adalah oknum 
yang hanya melihat dari sisi proyek untuk kepentingan pribadi.
(Kompas, 2002-05-22)



Pengelolaan Air Belum Integratif
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4036
Kebijakan pengelolaan sumber daya air di Indonesia sering terhadang perundang-undangan 
yang tidak komprehensif. Perundangan di bidang konservasi air dan air tanah serta 
permukaan diterapkan secara terpisah oleh lembaga berbeda. Seharusnya, untuk 
mengamankan sumber daya air yang telah mengalami krisis di Indonesia, dibutuhkan 
perundang-undangan yang integratif dalam satuan hidrologis.

Demikian pakar hidrologi ITB Arwin Sabar kepada Kompas, di Bandung, Selasa (21/5), 
menanggapi rencana pelestarian air dengan pendekatan One River Basin One Management. 
Masalah pelestarian air merupakan kesimpulan dari lokakarya di Bandung belum lama ini.
(Kompas, 2002-05-22)



Danau Toba Dapat Rp 49 Milyar dari Inalum
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4069
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengeluarkan dana sebesar Rp 49 milyar yang 
akan digunakan untuk menutupi biaya konservasi alam Danau Toba selama tahun 2002. Dana 
yang dikeluarkan oleh produsen aluminium yang berkedudukan di Kuala Tanjung, Asahan, 
Sumutera Utara (Sumut) itu akan digunakan untuk menata kembali lahan kritis di sekitar 
Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut Budi Sinulingga, 
mengungkapkan hal tersebut usai mengikuti rapat koordinasi Badan Pengendalian 
Ekosistem Danau Toba di Medan, Senin (20/5).
(Kompas, 2002-05-21)



Olah SDA agar Jadi Milik Sendiri
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4065
Presiden Megawati Soekarnoputri mengajak semua pihak untuk mengolah sumber daya alam 
(SDA) di bumi Indonesia secara maksimal sehingga menghasilkan satu produk yang bisa 
disebut sebagai milik bangsa Indonesia. Ajakan Presiden itu disampaikan ketika membuka 
acara "Research, Innovation and Technology 2002" dan Techno-Business Community Expo 
2002 di Jakarta, baru-baru ini.

"Tanah air kita demikian kaya raya. Mari kita mulai lagi mengolah apa yang kita miliki 
sehingga produk itu bisa dikatakan sebagai milik kita sendiri," katanya. Presiden 
mengaku selama ini terus mendorong agar masyarakat memiliki kemauan untuk menjadi 
orang yang bukan hanya berpikir secara teoretis, tetapi juga menjadi pemikir yang 
hasilnya dapat dirasakan secara konkret di masyarakat.
(Suara Pembaruan, 2002-05-18)



Pembangunan Indonesia Tidak Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4024
Pembangunan adalah perilaku manusia dalam memberdayakan diri untuk mencapai kualitas 
hidup secara keseluruhan. Hal ini tercermin dalam pengertian yang kita sepakati ,baik 
dalam UU No 4 tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup maupun UU No 23 tahun 1997 tentang 
Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahwa lingkungan hidup adalah sistem yang 
merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, 
termasuk manusia dengan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan 
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan 
Universitas Padjadjaran pada bulan Mei, 1972 atas prakarsa Profesor Soemarwoto sudah 
merupakan tonggak bahwa pembangunan itu melibatkan dan menyangkut seluruh unsur 
kehidupan dalam lingkungan hidup. Pelakunya adalah manusia dengan perilakunya dan yang 
menjadi sasaran tidak hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup serta yang nirhidup, 
mulai dari ruang, benda, (air, udara, tanah), daya (energi), keadaan (tatanan alam). 
Perilaku manusia itu menentukan kelangsungan peri kehidupan, artinya, kecuali harus 
berorientasi dan peduli pada lingkungan hidup juga harus berkelanjutan, 
berkesinambungan.
(Suara Pembaruan, 2002-05-17)



Taman Nasional Jambi Rusak Parah
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4026
Otda Justru Persulit Upaya Penegakan Hukum "Illegal Logging"

Perambahan hutan dan perdagangan kayu liar (illegal logging) kian merajalela sehingga 
kerusakan hutan dan lingkungan tidak bisa diatasi. 

Kawasan konservasi dan taman nasional (TN) juga tidak luput dari incaran para perusak 
hutan. 

Namun, masih banyak gubernur yang lamban bereaksi, bahkan tidak peduli dengan masalah 
itu. 

Hal itu dikemukakan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) Nabiel Makarim di 
Jakarta, Kamis (16/5), berkaitan dengan laporan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin 
mengenai ribuan batang kayu hasil illegal logging yang ditemukan di Provinsi Jambi, 
Rabu (15/5) lalu. 
(Suara Pembaruan, 2002-05-17)



_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke