Title: Arsitektur dan Budaya Bugis Makassar dalam Konteks Postmodernism
Dear Bung Johnny,
Apa ada seminar seperti ini (arsitektur) di Envorum?
 
salam,
nadjip
 
----- Original Message -----
To: LEADers
Sent: Sunday, May 05, 2002 2:56 PM
Subject: [Envorum] Bhn-seminar

Arsitektur dan Budaya Bugis Makassar dalam Konteks Post-Modern

 

Tinjauan Sistem Struktur dan Konstruksi Tata Laksana Pembangunan

 

Oleh: Johnny Anwar

 

Pendahuluan

Tujuan Pembahasan ini adalah memberikan pemahaman dan memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang Arsitektur dan Budaya spesifik Bugis Makassar dalam Konteks Post Modernism bagi arsitek muda dan masyarakat sebagai upaya pelestariannya, yang kecendrungannya terlihat semakin memudar dan menurun akibat dominasi sosial ekonomi yang sudah menghantar kebanyakan masyarakat kearah pemikiran materialisme.

Diakui bahwa pemaparan ini bersifat kajian literature, dimana pemapar/penutur tidak memiliki otorisasi dan kemampuan untuk menyampaikan theses mengenai hal tersebut; karena untuk dapatnya menyampaikan suatu theses dibutuhkan penelitian dan pengkajian lebih dalam. Sementara penutur asli (Panrita Bola/Balla) sendiri kurang mampu menyampaikan secara tersistematis dan juga sudah mulai uzur dan pupus; yang apabila tidak di regenerasikan maka sudah dapat dipastikan kita akan kehilangan identitas arsitektur dan budaya kita. Di lain pihak, lebarnya kesenjangan pemahaman dan persepsi tentang arsitektur dan budaya bagi para pelaku pambangunan yang ditambah dengan kurangnya etika profesionalisme.

Kondisi diatas diperburuk dengan kurangnya minat dan motivasi para pakar di bidang disiplin ilmu ini (termasuk saya) untuk mengekplorasinya sebagai bukti besarnya pengaruh pemikiran materialisme yang melanda masyarakat kita.

Melalui seminar ini diharapkan, muncul minat dan motivasi meneliti guna memperkaya khasanah arsitektur dan budaya khususnya Bugis Makassar.

 

Batasan dan Pengertian.

Dengan pertimbangan peserta seminar ini kebanyakan mahasiswa arsitektur dan agar supaya pembahasan ini tidak kehilangan makna yang perlu dipahami, maka pembahasan ini diarahkan pada fenomena yang nampak, karena berbicara arsitektur dan budaya merupakan suatu fenomena yang kompleks dalam hal mana tidaklah cukup dengan hanya suatu penjelasan tunggal. Alasan lain sehingga pembahasan ini dibatasi, dikarenakan sangat philosofis dan sangat sulit untuk dipahami dalam waktu yang singkat.

Pembahasan ini dibatasi pada system struktur dan konstruksi tata laksana pembangunan Arsitektur traditional Bugis Makassar dalam konteks Post-Modern, dengan pengertian sebagai berikut:

v     Arsitektur Tradisional adalah suatu karya arsitektur yang disebut juga sebagai vernacular architecture, oleh Rapoport 1969, dibedakan dengan : Primitive, Preindustrial Vernacular dan High-style and modern (p.8); dalam hal mana pemahaman lebih jauh tentang:

v     Budaya adalah sebagai berikut, sebagaimana yang disampaikan oleh Herkovits (1952) dalam Altman, I. (1980) Culture and Environment: �culture is the man-made part of the human environment� (p.3). 

v     Sistem struktur dan konstruksi tata laksana pembangunannya sangat berbeda antara satu dengan lainnya, hal ini disebabkan bahwa manusia sangat berbeda dalam menyikapi lingkungan phisik hidupnya yang juga berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya, yang mana perbedaan sosial, budaya, ritual, ekonomi dan faktor-faktor  phisiknya sangat berperan. Faktor dan sikap terhadap perbedaan ini sendiri berubah sejalan dengan waktu (ibid p.46), dalam istilah ilmiahnya disebut: Matrix N X N. Perjalanan proses ini telah sampai pada era:

v     Post-Modern, dimana untuk menjelaskan era ini masih belum banyak yang dapat disampaikan seperti yang dikatakan oleh Charles Jencks (1977) dalam bukunya: The Language of Post-Modern Architecture. Padahal dalam masyarakat yang sadar budaya hal-hal semacam ini sudah dibahas; apalagi bagi masyarakat yang belum sadar budaya. Christopher Alexander (1964) Notes on the Synthesis of Form. Ditambah lagi dengan,

v     Kontekstual suatu obyek membuat pembahasan ini semakin sulit dan kurang diminati ditambah kondisi yang telah disebut pada pendahuluan. Di lain pihak, kontekstual adalah pembicaraan mengenai keberadaan (existence) suatu obyek pada suatu tempat dan waktu serta kondisi yang berbeda.

 

Disini dapat terlihat, membahas paradigma Arsitektur dan Budaya dalam konteks Post-modern hanyalah merupakan pemanis bibir � Lip-Service saja! (W. Pena, 1987. Problem Seeking an Architectural Programming Primer, p.98 ).

 

Pembahasan

Sebagaimana yang telah disebut diatas membahas pokok bahasan ini bukanlah suatu hal yang mudah karena perlu didukung oleh pernyataan yang kuat, olehnya pembahasan ini kebanyakan bersifat teoritis dan bersifat kajian literature tanpa adanya pendapat (intervensi) dari pihak penulis.

Pembahasan ini mengenai Sistem Struktur dan Kostruksi Tata Laksana Pembangunan sebagai factor modifikasi (modifying factors) pada Arsitektur dan Budaya Bugis Makassar dalam konteks Post-Modern yang meliputi:

      Proses konstruki

      Pemilihan dasar material

      Kemampuan dapat diubah-ubah (portability)

      Kemampuan fabrikrasi.

      Pengaruh gaya lateral

      Pengaruh Cuaca

      Pengaruh Gravitasi

Dalam upaya melindungi dirinya, sejak jaman dulu manusia telah mengusahakan tempat berlindung dari musuh-musuhnya dan pengaruh lingkungan alam, dalam sejarahnya dimulai dari berkelana, berlindung di gua-gua; di atas pohon dan lain sebagainya. Sehingga pada suatu masa manusia tersebut memahami makna konsep bermukim.

Konsep bermukim, yang oleh Norberg-Schulz, C. (1985) dalam bukunya The Concept of Dwelling, on a way to figurative meaning, membagi 4 moda bermukim yakni: natural dwelling, collective dwelling, public dwelling dan private dwelling (p.13). Saat ini sudah sangat jarang ditemukan yang disebut natural dwelling bahkan bagi masyarakat yang disebut sebagai masyarakat terasing, contohnya: Masyarakat Badui, Kajang, Papua. Hal ini dikarenakan mereka telah mengenal yang disebut sebagai collective dwelling dalam suatu norma tatanan yang sudah terbentuk. Hanya sayangnya kajian lebih dalam tentang hal ini masih sangat kurang terakibat hal-hal yang sudah dikemukakan terlebih dahulu, sehingga untuk memahami lebih jauh konsep ini sangatlah sulit.

Secara umum dalam usaha memahami bahasa Arsitektur, diperlukan pemahaman Orientasi dan Identifikasi dalam hal mengenal jati diri Arsitektur serta aspek-aspek : Morphologis, Topologis dan Typologisnya.

Jadi dalam usaha membentuk jati diri arsitektur, keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan sosial-budaya � tata cara hidup, nilai kehidupan yang dipahami bersama dan lingkungan hidup yang ideal. Dari pernyataan ini sangatlah jelas hubungan antara jati diri arsitektur dangan kondisi sosial-budaya lingkungan tempatnya berada.

Dalam usaha melindungi dirinya pada setiap tipe tempat (place), ruang harus ditutupi, sehingga struktur dan konstruksi bangunan, material serta lingkungannya sangatlah besar pengaruhnya dalam memodifikasi bentuk bangunannya.

Secara umum Arsitektur Budaya Bugis Makassar, tidak lepas dari hal-hal tersebut diatas dengan penambahan makna yaitu: secara vertikal dibagi dalam tiga tingkatan sebagai lambang alam bawah, alam tengah dan alam atas, dimana lambang tadi bermaknakan neraka, dunia dan surga. Di alam tengah atau dunia manusia bermukim sebagai suatu makna topologis atau organisasi spatial tempat kehidupan manusia. Selain itu dapat juga diartikan sebagai kaki, badan dan kepala sebagai suatu makna morphologisnya.

Dikarenakan lingkungan yang menjanjikan membuat sumber bahan baku bangunan sangat mendukung seperti kayu dan bambu. Sehingga banyak kemudahan yang diperoleh dalam tata laksana pembangunannya. Sekalipun dalam proses pelaksanaannya masih ada hal-hal sakral dan ritual yang perlu diperhatikan, karena aspek ini sangat berpengaruh langsung pada sipemilik bangunan: contohnya posisi ujung pangkal pada kayu dan bambu, baik secara vertikal maupun horizontal, karena dapat menyebabkan sakit sampai kekematian yang bermukim didalamnya. Selain dari itu, budaya menyediakan sesaji yang memiliki unsur beras, gula merah dan kelapa yang dimaksudkan agar kehidupan sipemilik rumah, murah rejeki senang dan bahagia.

Dari pembahasan ini jelas terlihat hubungan yang erat antara arsitektur dan budaya Bugis Makassar. Akan tetapi bila diarahkan ke paradigma post-modern, maka banyak aspek arsitektur dan budaya Bugis Makassar yang akan terabaikan. Hal ini disebabkan oleh perubahan yang sangat cepat yang terjadi pada sikap/prilaku dan nilai-nilai kehidupan yang terjadi pada masyarakat Bugis Makassar, terlebih lagi apabila sinyalemen tersebut telah memiliki banyak uang dan jabatan, menganggap bertempat tinggal di rumah adat adalah rendah dan miskin, selain adanya anggapan rumah adat merupakan rumah semi-permanen dan tidak bergengsi. Padahal, secara simbolis rumah adat tersebut telah memberikan symbol stratifikasi masyarakat dengan adanya Timpa Laja, besarnya rumah, identifikasi dan orientasi rumah dan banyak lagi, selain itu rumah adat tersebut banyak menjanjikan kenyamanan hunian dari aspek penghawaan yang tidak membutuhkan penghawaan buatan (artificial), melalui celah-celah dinding dan lantai. Karena dari hasil penelitian dikatakan bahwa dari hembusan angin yang sepoi-sepoi yang melanda permukaan kulit akan terasa lebih nyaman dibandingkan dengan angin yang kencang.

Padahal, bermukim di rumah atau bangunan modern dan sekarang sudah disebut sebagai Post-Modern dengan matinya modern arsitektur tepatnya tanggal 15 Juli 1972 jam 3:32 sore di Pruitt-Igoe, St Louis, Missouri. (Jencks, C. 1984. p. 9), kurang begitu menjanjikan disebabkan oleh kebanyakan bangunan tersebut tidak sadar lingkungan, terbuat dari batu dan beton sehingga dibutuhkan penghawaan buatan yang membuat pemborosan energy sumber daya alam. Di lain pihak bangunan-bangunan tersebut secara typologies merupakan warisan penjajah, (baca: barat). Bagi mereka (orang Barat) adalah wajar dengan membuat dinding kedap udara, karena mereka memiliki empat musim dimana pada saat musim dingin maka udara sangat dingin, sementara pada saat musim panas udara sangat panas, sehingga mereka membutuhkan pemisahan antara udara luar dan dalam. Padahal kita harus mensyukuri alam dan lingkungan kita, dimana kita tidak perlu memisahkan udara luar dan dalam sepanjang tahun dan alangkah baiknya bilamana dinding rumah kita dibuat bernafas, sehingga sirkulasi udara dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di lain pihak, banyak karya Arsitektur yang ada sekarang ini telah menghancurkan arsitektur budaya Bugis Makassar, antara lain dengan model Spanyol sementara di Spanyol sendiri tipe seperti itu tidak ada, ditambah lagi dengan pengaruh materialisme seperti yang sudah dipaparkan diatas, dengan munculnya RUKO (baca RUsak KOta), menambah perbendaharaan dan memperparah sirnanya Arsitektur dan Budaya Bugis Makassar, sungguh menyedihkan. Entah dibutuhkan berapa lama untuk menyadari hal ini, agar supaya Arsitektur dan Budaya kita tidak kehilangan jati diri.

Padahal yang dimaksud dengan Post-Modern itu sendiri adalah bagaimana mengembalikan prilaku dan nilai kehidupan masa lalu dengan segala kebaikannya ke masa kini. Akan tetapi kondisi ini akan sangatlah sulit terjadi melihat pola kehidupan dan nilai yang terjadi pada masyarakat Bugis Makassar itu sendiri.

 

Kesimpulan

Secara obyek materi paradigma Arsitektur dan Budaya Bugis Makassar, ditinjau dari aspek sistem konstruksi dan tata laksana pembangunannya sangat bagus, karena memiliki elemen-elemen Identifikasi, Orientasi, Morphology, Topology dan Typology. Akan tetapi diakibatkan karena kurangnya pemahaman makna dan nilai tentang arsitektur dan Budaya Bugis Makassar maka dikhawatirkan Arsitektur dan Budaya ini akan sirna dan pupus terakibat kehilangan jati dirinya.

Olehnya dibutuhkan upaya untuk melestarikannya. Semoga.

 

Kepustakaan

1.      Christopher Alexander (1964). Notes on the Synthesis of Form.

2.      Irwin Altman & Martin Chemers (1980). Culture and Environment.

3.      Jencks, Charles (1984). The Language of Post-Modern Architecture.

4.      Pena, Willian (1987). Problem Seeking, an Architectural Programming Primer.

5.      Norberg-Schulz, C. (1985). The Concept of Dwelling, on the way to figurative Architecture.

6.      Rapoport, Amos (1969). House Form and Culture.

Kirim email ke