----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, May 29, 2002 9:54 AM Subject: [mpcbda] Fw: Soeharto kagak sakit!
> > > > Yth. rekan-rekan sekalian, > Sudah berbulan-bulan yang lalu saya bertemua dengan seseorang yang > menyatakan bahwa Soeharto hanya pura-pura sakit, supaya terhindar dari > pengadilan. Cara pura-puranya, menurut informan saya, adalah dengan > mengkonsumsi obat tradisional Cina yang mampu membuat tubuh seseorang > dideteksi sedang sakit oleh ilmu kedokteran Barat. Kalo tidak hendak > diperiksa, Soeharto tidak mengkonsumsi itu. Informasi lainnya, Soeharto > sakit diserang musuh-musuhnya secara metafisika, tetapi hanya beberapa kali > saja sampai KO beneran. Sebagian besar waktu, dia cukup sehat. Tapi, > terserahlah mau percaya atau tidak, yang jelas di bawah ini saya sertakan > sebuah kesaksian dari wartawan Bali Post yang kebetulan bisa nylonong masuk > ke pesta kawinan Danty Rukmana bahwa SOEHARTO ITU SEHAT WALAFIAT. Kapan > nih > mau bikin dia.... > > Jalal > > > Laporan ''Bali Post'' Langsung dari Cendana > > Soeharto Ditemani Wiranto dan Hartono > > Hingga saat ini, keluarga Cendana amat tertutup. Banyak kisah di dalamnya > tak bisa terpantau publik. Termasuk Kamis (23/5) kemarin, cucu Soeharto, > Danty Rukmana, melangsungkan perkawinannya yang kedua. Tidak ada pers yang > meliput acara ini dari dalam karena memang dilarang. Namun, Bali Post > berhasil mengikuti prosesi sakral, perkawinan tersebut detik demi detik. > ----------------------- > LANGIT di kediaman Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Mbak Tutut) tampak teduh. > Sayup-sayup alunan gending terdengar. Tenda biru menutup separo jalan di > rumah putri sulung Soeharto itu. Tenda biru berselempang putih. Lengkap > dengan janur kuning yang dirajut seperti penjor. Diikatkan di kedua sisi > tenda. Beberapa laki-laki berpakaian beskap (pakaian adat Jawa) lengkap > dengan blangkon dan keris. Mereka penerima tamu. > Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB, sedan-sedan mewah memadati jalanan. > Berhenti sejenak di depan rumah Mbak Tutut, menurunkan sang majikan > berpakaian jas dan gaun-gaun mewah. Mobil meluncur kembali mencari tempat > parkir. Maka, Jalan Yusuf Adiwinata, Jl. Rasamala, dan Jl. Tanjung macet. > Mobil berjajar di kanan kiri jalan. > Siang itu sedang berlangsung acara akad nikah Danty Rukmana dengan > Adrianto > Supoyo. Danty adalah anak kedua pasangan Mbak Tutut dan Indra Rukmana. > Sementara Adrianto merupakan teman Dandy Rukmana (kakak Danty). Dia seorang > pengusaha sarang burung walet, putra keluarga Supoyo. > Bali Post sengaja datang sedikit terlambat. Tidak ada undangan untuk pers. > Sejumlah media cetak tidak diperkenankan masuk. Mereka menunggu di luar. > Namun, Bali Post menyelinap mengikuti rombongan keluarga asal Bogor. > Untungnya petugas absensi tidak menanyakan kartu undangan. Setelah > membubuhkan nama dan tanda tangan, sebuah suvenir pun diberikan. Bentuk > suvenirnya cukup cantik. Sebuah kotak perhiasan yang dimasukkan dalam > kantong kain warna krem keemasan, diikat pernik-pernik bunga. > Undangan sudah penuh. Rumah Mbak Tutut disulap bak hotel bintang lima. > Halaman teras depan dibuatkan panggung. Lantainya dilapisi karpet abu-abu > keperakan. Kursi-kursi berlapis kain putih perak berjajar. Seluruh kursi > dipenuhi oleh muda-mudi yang berdandan cantik dan bapak-ibu yang berpakaian > mahal. Semuanya wangi oleh parfum bermerek. Agar suasananya nyaman, lima AC > berkekuatan besar dipasang melingkar. Udara pun langsung sejuk. > Pun demikian di ruang garasi. Ruangan ini disulap menjadi ruang tamu yang > istimewa. Sebuah layar datar ukuran 29 inci menampilkan detik-detik prosesi > kedua mempelai yang ditempatkan di ruang utama. Sebuah pengeras suara yang > memperdengarkan alunan pembawa acara bersuara merdu. Pengunjung tak perlu > bersusah payah melihat secara langsung wajah kedua mempelai karena dari > layar datar ini semua acara bisa ter-cover. > Bali Post diminta memasuki ruang utama kedua. Di kanan-kiri berjajar pagar > ayu. Sebelah kiri laki-laki berpakaian beskap. Di sebelah kanan > perempuan-perempuan cantik berpakaian Jawa yang tampak ketat dan ramping. > Semuanya serba ungu. Dari deretan penerima tamu ini ada desainer M Rusli > yang tampak mungil memakai beskap dan menyelipkan keris di bagian belakang. > Artis Camelia Malik dan Siti Hediyati alias Titiek (bekas istri mantan > Danjen Kopassus Prabowo) pun tampak ikut mengatur tamu. > Ruang utama terletak di samping garasi. Lantainya berkarpet merah bercorak > ala Mesir. Tebal dan empuk. Ruangan ini memiliki sejumlah foto dalam pigura > ukuran besar. Di antaranya foto mantan Presiden Soeharto berpakaian militer > lengkap dengan tanda jasa dan penghargaan serta bintang lima. Soeharto > tampak gagah dengan memegang tongkat komando. Foto ini diletakkan di dekat > pintu masuk. > Juga ada foto Ibu Tien dengan kebaya hitam. Tubuhnya masih tampak seksi > dengan rambut dikonde dan kedua tangannya memegang ujung kebaya. Foto itu > tampak hidup. Wajahnya tersenyum seperti mengingatkan kita saat Ibu Tien > mendampingi Pak Harto dalam menjalankan tugas. Kaca mata putih > memperlihatkan korneanya. Dinding sebelah kanan yang luas dengan warna krem > terang seolah menjadi tempat tidurnya yang sejuk. Tak luput foto tuan > rumah, > Indra Rukmana dan Siti Hardiyanti, yang dipasang di dinding sebelah kiri. > Cukup apik dan eksotik. > Ruangan cukup luas hanya diberi beberapa kursi tamu undangan. Tampak di > ruangan VIP ini adik Pak Harto, Probosutedjo dan istri, mantan Panglima > ABRI > Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Kasad/Menpen Jenderal R Hartono. > Semuanya > beserta istri. Selebihnya sejumlah kerabat dua mempelai. Tidak terlihat > Mamiek dan istri Tommy, Ardhia Pramesti Regita Cahyani dalam deretan kursi > VIP ini. > Ruang depan dipakai untuk kedua mempelai. Dekorasi bunga melati dengan > daun-daun hijau tertata apik di atas dinding papan kayu berukir. Terkesan > sederhana dan natural. Danty duduk berdampingan dengan Adri. Keduanya cukup > mesra bersanding. Meski Danty -- janda tanpa anak ini -- terlihat cukup > berbobot. Gemuk mirip Tika Panggabean. Kontras dengan Adri yang tampan dan > gagah dengan bodi ideal. Sesekali keduanya terlihat memiringkan badannya > dan > saling mengobrol. Lantas tersipu mengumbar senyum. > Danty tidak memakai pakaian pengantin Eropa. Tubuhnya yang kelebihan lemak > itu dibalut dengan kebaya putih gading dipadu jarik warna sepadan dan > berkonde besar. Agar tampak lebih eksotik, rambutnya dibalut bunga-bunga > melati yang sudah dirajut menjadi untaian panjang hingga ke dadanya yang > besar. Gincunya cukup merah dengan bedak tebal menempel pipinya. Danty dan > Adri duduk di tengah menempati kursi besar warna gading dengan sandaran > busa. Sesekali tangan Danty memegang tangan Adri yang dingin karena > kelebihan AC. > Di sebelah kanan duduk dengan tenang orangtua Adrianto, Bapak dan Ibu > Supoyo. Tidak dikenal siapa mereka. Sengaja tuan rumah tidak menyediakan > biodata mempelai, berikut latar belakang keturunannya. Sementara di sebelah > kiri, duduk orangtua Danty, yakni Mbak Tutut dan Indra Rukmana. Supoyo dan > Indra memakai pakaian beskap, adat Jawa, dengan selempang merah dan keris > di > pinggang. Sementara Mbak Tutut dan Ibu Supoyo memakai kebaya warna ungu. > Warna yang menunjukkan bahwa perkawinan ini bukan antara gadis dan perjaka. > Danty menikah kali pertama pada 28 Maret 2000 lalu di TMII. Hadir pada > kesempatan itu mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Pak Harto > (yang saat itu dikabarkan sedang sakit). Pesta yang meriah itu hanya > bertahan kurang dua tahun. Suami pertama, Triyono, diceraikan. Akhir tahun > 2001 ini, Danty merajut cinta dengan Adri melalui kakaknya, Dandy. > Dikabarkan pertemuan dijalin di negeri Paman Sam. Sebab, Dandy hingga kini > masih berada di sana. Adri dan Danty dulu teman semasa TK dan SD di > Menteng. > Tidak jelas kepastiannya karena memang amat rahasia. > Lalu di mana Soeharto? Pak Harto duduk amat manis dan tenang di samping > kursi Indra dan Tutut. Ada kursi kecil warna putih cat dengan busa menonjol > dan empuk. Pak Harto memakai beskap hitam, blankon coklat tua, dengan > selendang coklat halus. Kakinya disilangkan dengan mengenakan sepatu slop. > Di dadanya dipasang rangkaian melati yang dibuat melingkar seukuran pin. > Wajah Pak Harto tampak tenang dan gagah. Tubuhnya tetap gemuk ideal persis > seperti empat tahun lalu, saat dia mengumumkan pengunduran dirinya. Tidak > pucat. Tidak loyo. Dia duduk dengan punggung tegak. Kedua tangannya > memegang > tangan kursi yang kecil berpelitur coklat mengkilap. Pandangannya teduh. > Hanya matanya yang kelihatan menyipit. Beberapa kali wajah Pak Harto > dimunculkan di layar datar ukuran 24 inci ini. > Ketika melihat Pak Harto dalam kondisi segar bugar itu, konsentrasi Bali > Post pun hanya tertuju pada orang nomor satu di era orba itu. Mengapa? > Selama ini publik mengetahui bahwa Pak Harto dalam kondisi sakit permanen > sesuai hasil medical record. Itu sebabnya, pengadilan tidak bisa > menjangkaunya. > Pak Harto menyaksikan dengan seksama jalannya akad nikah. Setelah akad > nikah telah usai dilanjutkan dengan khotbah akad nikah yang dibacakan KH M > Ikhsan. Pak Harto menyimak khotbah ini dengan sedikit manggut-manggut. > Sesekali tersenyum ketika KH Ikhsan menyebutkan bahwa cinta kedua mempelai > itu harus diperjuangkan. ''Perjuangan ini harus serius, sampai jatuh bangun > pun harus mencintai,'' kata Ikhsan, mengutip sebuah judul sebuah lagu. Pak > Harto tampak tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Shoot kamera > menampilkan wajah Pak Harto di layar datar yang sengaja dipasang di tiap > ruangan. Demikian pula Danty dan Adri. Kedua mempelai ini kemudian berbisik > dan membuka bibirnya, malu-malu bahagia. Pengunjung pun serentak gerr pelan > ditingkahi dua fotografer dengan lensa besar sepanjang setengah meter yang > sibuk membidik momen-momen penting dan unik. > Selesai khotbah nikah dilanjutkan dengan doa. Sejumlah pagar ayu laki-laki > mulai bergerak merapat ke samping ruang utama. Bali Post kebetulan hanya > dua > meter dari pintu utama, yang menghubungkan ruang utama dan ruang kedua. > Sengaja berdiri di pinggir jalan agar bisa melihat gerak-gerik Pak Harto. > Doa dipanjatkan amat khusyuk. KH Ikhsan meminta agar kedua mempelai diberi > kekuatan dan rukun sejahtera hingga kaken-kaken dan ninen-ninek > (kakek-nenek). Tampak Danty menumpuk tangannya dipangkuan. Adri mengangkat > tangannya. Indra dan Tutut menengadahkan tangan sambil komat-kamit mengucap > ''amin...amin''. Pun demikian keluarga Puspoyo. Pak Harto juga > menengadahkan > tangan dengan posisi punggung tegak. Selesai doa, telapak tangan Pak Harto > diusapkan ke muka. Demikian pula Danty, Adri, Indra, Tutut, dan Bapak-Ibu > Puspoyo serta hadirin. > Suara pembawa acara bergema lagi. Kali ini, keluarga diminta memberi > ucapan > selamat kepada kedua mempelai. Diikuti undangan. Kesempatan pertama > diberikan kepada Pak Harto. Penguasa orba ini mendengar dengan baik suara > permintaan pembawa acara itu. Dalam posisi duduk, Pak Harto langsung > meletakkan kakinya di lantai dan mengangkat badannya dengan ringan. Kedua > tangannya sedikit disandarkan ke tangan kursi. > Selanjutnya, sambil menata jariknya, Pak Harto yang berdiri dengan cukup > tegak itu melangkahkan kakinya. Tidak ada yang menuntun, tidak ada tongkat > penyanggah, atau kursi roda. Pak Harto berjalan dengan santai. Tidak > terhuyung-huyung, apalagi terbongkok-bongkok. Ia melangkah dengan tenang > menuju kedua mempelai. Tangannya yang besar memegang tangan Danty. Lantas > badannya didekapkan ke kepala Danty yang merunduk. Lalu, pipi Pak Harto > mengecup pipi Danty kiri, kanan, dan kening. Selanjutnya, Adri. Pak Harto > mencium pipi kiri, kanan, dan kening. Juga demikian kepada Indra dan Tutut. > Setelah itu Bapak dan Ibu Puspoyo. Kali ini tanpa cium pipi. > Lalu, Pak Harto menuju ruang jamuan makan VIP. Persis di belakang ruang > utama. Pak Harto berjalan persis di depan Bali Post yang berdiri mematung, > sendirian. Sulaeman, bodyguard, yang mengawal keluarga Cendana, sempat > melirik ke arah Bali Post. Untung, Bali Post memalingkan muka sehingga tak > dapat dikenali. Pak Harto berjalan dengan langkah santai tanpa ada yang > menuntun atau memegangi tangannya. Sejumlah pagar ayu berjalan beriring di > belakangnya. Jalannya pun sedikit cepat seperti langkah pria seusianya yang > sehat. > Di ruang makan VIP itu, Pak Harto langsung menuju hidangan. Melihat > sebentar kemudian meminta diambilkan menu hidangan. Kakinya sempat memilah > jalan, melewati kursi yang berderet melingkari meja bundar. Kebetulan ada > eyang Adri. Pak Harto pun bersalaman dan sempat bercakap-cakap sejenak. > Lalu, dia duduk di kursi pojok sebelah kanan, di belakang dekorasi > pengantin. > Terlihat Wiranto dan Hartono menemani Pak Harto. Selanjutnya, Pak Harto > terlihat akrab mengobrol dan tersenyum-senyum. Sejumlah tamu undangan, > kerabat justru minta foto bersama. Pak Harto seperti biasa hanya tersenyum > dan melayani permintaan itu. Cukup lama Pak Harto di ruang ini. Sebab, > ketika Bali Post ikut antre memberi ucapan selamat kepada pengantin, makan > masakan Italia, dan antre pulang, Pak Harto masih di ruang makan VIP. Tetap > dengan Wiranto, Hartono dan kerabat lainnya. Pak Harto tampak senang dengan > pesta di rumahnya itu. Siapa bilang Soeharto sakit? > * Heru B. Arifin > --- Outgoing mail is certified Virus Free. Checked by AVG anti-virus system (http://www.grisoft.com). Version: 6.0.350 / Virus Database: 196 - Release Date: 4/17/02 _______________________________________________ Envorum mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum
